
Karya pertama dari β‘Cinta Berjuta Rasaβ‘ adalah cinta rasa timun, semoga suka π
Tit... Tit... Tit....
Deringan jam membangunkan Marsella yang masih mengantuk, dia pun membuka mata hanya untuk mematikan jam diatas meja itu lalu kembali merebahkan tubuh, dengan berbalik kearah lain dan kembali memejamankan mata kantuknya.
Tak berapa lama, jam lain berbuyi namun lagi-lagi ia hanya mematikan dan tidak beranjak bangun dari tempat tidur.
Hingga suara handphone yang berdering pun tak digubris Sella, begitu biasa ia dipanggil, yang memang sangat mengantuk sehingga tak memperdulikan deringan apa pun yang menganggunya.
Krek..
Pintu kamar terbuka oleh sang ibu yang mana menggeleng heran pada anak gadis didalam balutan selimut itu.
"Sella bangun sayang, ini udah pagi!" ucap ibunya dengan mendekat pada Marsella yang mulai mencoba mengerjap-ngerjap bola mata.
"Ah mamah! Ini kan hari libur." cetusnya kesal.
"Emang ini hari libur, tapi kamu kan harus bangun pagi karena kamu mesti ada di bandra hari ini!" kata ibunya mengingatkan.
Marsella kaget dan langsung bangkit dari baringannya, "Sella lupa! Sekarang jam berapa mah?" tanya Marsella, panik.
"Delapan." jawabnya singkat.
Merengek kesal, "Mamah kok gak bangunin Sella sih?"
"Salah kamu, jam sana sini gak ada yang digubris juga." sindir sang ibu.
Dengan kesal Marsella langsung beranjak menuju kamar mandi.
"Udah gede masih dibangunin orang tua, huh"
Marsella sedang merapihkan rambut setelah ia selesai berdandan. Lalu bersiap untuk pergi keluar dengan mendorong koper, Marsella langsung turun dengan tergesa-gesa.
"Udiiiiinn.." teriak Marsella kencang.
"Iya non?" sahut nya saat mendekat pada Marsella yang langsung menyerahkan koper dan menuju ruang makan, yang mana sang ayah telah berada disana.
"Pagi pah!" sapa Marsella.
"Kamu gak sarapan dulu?" tanya ayahnya dengan lembut.
"Sella udah keburu telat pah. Bye bye mah pah!" pamit Sella dengan mencium kedua pipi orang tuanya.
"Sayang.. Jangan lupa pesan papah!" ucap sang ayah mengingatkan.
"Iya pah!" sahutnya dengan berlalu meninggalkan mereka.
Marsella pun langsung menaiki mobil dengan perasaan lega. Dan mobil pun melesat begitu cepat menuju bandara.
"Pah Sella mohon!" rajuk Sella memelas.
"Nggak.. Ya tetep enggak.." ucap sang ayah menolaknya.
__ADS_1
"Pah! Ini kan liburan, Sella kan pengen liburan ke Bali sendirian." membujuk.
"Oke! Tapi kamu harus ada yang nemenin disana." kata ayahnya mulai meluluh.
"Nggak." tolak Sella, tegas.
"Kalo gitu gak ada liburan ke Bali." timpal sang ibu membuat Sella memasang wajah kesal.
Mengalah, "Oke gak apa-apa! Sella terima tawaran papah, besok lusa dia harus udah siap pergi." ucap Marsella mewanti-wanti.
Hari berikutnya..
"Gimana? Apa dia jadi ikut?" tanya Marsella dengan harapan orang suruhan kedua orang tuanya itu tak akan bisa ikut berlibur bersamanya.
"Dia sibuk jadi gak bisa ikut, jadi kamu pergi sendiri kesana." terang ayahnya yang membuat hati Marsella bersorak sorai gembira.
"Asiikk! Sella bisa liburan sendiri tanpa diganggu siapa pun."
"Siapa bilang kamu lepas dari penjagaan, kamu akan tetap dijaga oleh dia disana." ungkap sang ayah sehingga membuat Sella tercengang kaget.
"Hah?" pekik Marsella.
"Kamu harus jemput dia nanti!" ujar ayahnya, membuat Marsella memanyun sengit.
Ingatan perjanjian dengan orang tuanya, membuat Marsella tak tenang ketika liburan yang akan dijalankan terhalang seorang penjaga.
"Gue harap dia gak datang nanti." gerutu Marsella saat didalam mobil.
"Kalo dia datang dia bakal buat liburan gue ancur pasti. Karena itu, tuhan! Buat dia gak datang." tambahnya dengan penuh harap.
Dalam perjalanan ke bandara Marsella masih merasakan kantuk karena sejak tadi ia terus menguap.
"Oke non! Oya non, jangan lupa titip salam saya buat Tinah." ucapnya dengan malu-malu.
"Tenang, pasti gue salamin deh!" seru Marsella yang langsung memejamkan mata kantuknya.
Sesampainya di Bali..
"Yey... Akhirnya nyampe juga di Bali!" ucap Marsella bahagia seraya menghirup udara pantai yang membentang luas dihadapan.
"Bali.. Gue udah datang!" gumam Sella yang merentangkan tangan dengan perasaan bahagia.
Dia berlarian ditepi pantai dengan perasaan yang tak bisa diungkap dalam hatinya.
"Tuhaaaaaannn! Mudah-mudahan aja anaknya temen papah gak ganggu liburan ku ini.." teriak Marsella kencang hingga semua orang disekitaran memperhatikan tingkah konyol Sella.
Saat Marsella meninggalkan pantai, seorang pria sejak tadi memperhatikan dengan terus menggengam foto Marsella di tangannya dan ia pun beranjak meninggalkan tempat.
Marsella menyantap makanan dengan sangat lahap hingga dia tak perduli pada Tinah yang sejak tadi memperhatikan.
"Gimana kabar bapak sama ibu non?" tanya Tinah berbasa basi.
"Bokap nyokap gue, apa si Udin?" sindir Sella dengan melirik padanya.
"Ah, non tau aja!" sahutnya memalu.
__ADS_1
Marsella merogoh saku dan menyodorkan amplop kepada Tinah yang langsung bengong.
"Apa ini non?" tanya Tinah yang ragu untuk mengambil.
"Baju gue." cetus Sella hingga membuat Tinah memanyun.
"Udah tau ini amplop, pake tanya lagi." ringis Sella.
"Buat saya non? Tapi dari siapa?" tanya Tinah heran, yang membulak balik amplop itu.
"Ya dari Udin lah, masa iya dari bokap gue." cetus Sella, gemas.
"Tapi kan non," ucapnya tertahan saat Sella membentaknya.
"Apa lagi?" gertak Sella yang tak tenang dengan makanan yang disantap.
"Isi nya apaan non? Saya kan gak bisa baca non." ringis Tinah memelas.
Sella pun membuka amplop berwarna merah muda dan langsung membaca dengan sangat pelan agar Tinah dapat mengerti isi surat itu.
"Tinah sayang! Udin kangen banget sama kamu. Apa Tinah juga kangen sama Udin? Udin juga gak bisa tidur kalo gak liat foto Tinah, setiap malam pasti Udin melamunkan Tinah. Dari Udin untuk yayank Tinah.." Tinah senyam seyum saat Sella membacakan sampai akhir.
Tinah beranjak pergi lalu membuang amplop dan surat didalamnya hingga membuat Sella heran melihat itu.
"Kenapa dibuang?" tanya Sella heran.
"Buat apa disimpen non, kan non udah bacain tadi." jelas Tinah seraya berlalu meninggalkan Sella dengan perasaan sumringah.
"Ya senggaknya lo hargai tulisan gue gitu, hem.." gerutu Sella yang mengerutkan wajah.
Malam yang dingin membuat Marsella ingin menghirup udara diluar villa. Saat hendak membuka pintu, Tinah langsung menegur.
"Non mau kemana malem-malem gini?" tanya Tinah.
"Gue mau keluar cari angin!" sahut Marsella.
"Jangan non! Bahaya kalo sendirian." cegah Tinah.
"Kalo gitu lo ikut gue!" pinta Sella.
"Nggak ah. Saya gak mau diculik!" serunya dengan menolak ajakkan Sella.
"Hahaha.. Siapa lagian yang mau nyulik lo?" sindir Marsella dengan berlalu meninggalkan Tinah yang memanyun kesal saat kepergian anak dari bos nya itu.
"Kali aja cowok ganteng yang culik saya non, hehe.." gumam Tinah dengan menutup pintu rumah.
Marsella berjalan santai dengan menikmati suasana malam. Namun tiba-tiba saja,
Bruk..
Seorang pria menabrak Marsella yang kini merintih kesakitan.
"Sorry!" ucap seorang pria yang menabrak.
Sella menoleh kearah suara itu dan melihat wajah si pria begitu seram menurutnya. Dengan sigap Marsella berlalu pergi meninggalkan tempat. Dia menoleh kebelakang namun tak melihat sosok pria itu lagi. Penuh ketakutan Marsella bergegas menuju keramaian disisi pantai.
__ADS_1
Sella berbaring di kursi santai dipingiran pesisir pantai dengan menikmati suasana sejuk yang dirasakannya. Seorang pria duduk di kursi santai sampingnya, sesaat Sella menoleh kearah pria itu yang sedang nemeguk jusnya. Sella pun tercengang saat pria itu mengeluarkan pisau dari saku, dengan cepat Marsella berbalik arah membelakangi lelaki itu dengan terus menggerutu takut.
"Kok ngeri yah?" ringis Marsella dalam hati.