Cinta Berjuta Rasa

Cinta Berjuta Rasa
Cinta Rasa Timun #30


__ADS_3

Setelah Cipluk setuju untuk di bawa pergi oleh Tinah, kini pria yang berparas bak Reza ini telah berada di kediaman keluarga Marsella.


Saat ini Tinah sedang kebingungan untuk membuat Reza segera kembali mengingat jati dirinya. Keluh kesahnya itu, ia tuangkan di hadapan teman seperjuangannya, Asih.


"Emm, gimana caranya buat mas Reza sadar yah?" keluh Tinah.


"Iya kalo dia mas Reza, kalo bukan?" ringis Asih.


"Saya tuh yakin kalo dia mas Reza." tegas Tinah.


"Masa iya orang mati bisa hidup lagi? Mustahil banget lah Tin." kata Asih menggelengkan kepala, tak percaya.


"Saya yakin, dia itu mas Reza. Titik gak pake debat." tegas Tinah.


"Iya iya, kita liat aja nanti kebenaran soal orang itu mas Reza apa bukan" sindir Asih seraya meninggalkan Tinah yang mengendus kesal di buatnya.


"Kenapa sih, pada gak percaya sama Tinah? Harus cepet buktiin kalo mas Cipluk itu emang beneran mas Reza!" gumam Tinah dalam hati.


"Ngelamun apa Tin?" tanya Cipluk yang datang dengan gunting rumput di tangannya.


"Mas apa-apaan sih pegang itu?" ringis Tinah yang merebut gunting itu darinya.


"Emang kenapa Tin?" tanya Cipluk, polos.


"Benda ini gak pantes mas pegang. Pasti ini Asih kan yang nyuruh?" duga Tinah, kesal.


"Enggak kok Tin! Aku yang mau, abis gak ada kerjaan sih di rumah ini. Yang bisa aku kerjain ya guntingin sesuatu di taman depan." Cipluk mengungkapkan.


"Mas gak boleh lakuin kerjaan bersih-bersih, mas itu majikan di sini jadi gak boleh lakuin hal ini lagi, paham?" pinta Tinah, mengingatkan.


"Tapikan aku bukan Reza!" Cipluk keberatan.


"Mas itu dia jadi mas gak boleh lakuin tugas ini pokoknya, atau tuan rumah akan marah sama kami semua." tegas Tinah.


"Tapi Tinah, belum tentu aku itu Reza jadi gak masalah ngelakuin tugas bantu-bantu. Abis jenuh kalo cuma duduk-duduk doang, apa perlu aku balik ke terminal lagi?" Cipluk menyarankan.


"Nggak boleh.." Tinah menolak, "Mas percaya sama saya kalo kamu itu mas Reza, jadi jangan pernah buat keluar dari rumah ini." lanjutnya.


"Gak mungkin." bantah Cipluk.


"Mungkin." tegas Tinah yang mana ia langsung menghantamkan gunting rumput ke kepala Cipluk dengan keras.


"Aaaww.. " jerit Cipluk, kesakitan.


"Apa-apaan kamu Tinah, untung gak berdarah tapi sakit tau." rintih Cipluk.


"Mas.. Mas Reza udah inget, kan?" tanya Tinah penuh harap.


"Aku itu Cipluk! kamu gila yah, mau bunuh aku karena menolak jadi Reza?" cetus Cipluk yang langsung di bantu Tinah dengan mengobati lukanya.


"Maaf Mas! Tinah gak maksud buat celakain tadi, Tinah berharap kalo mas Cipluk akan sadar setelah benturan tadi, tau nya gagal." lirih Tinah, menyesal.


" Tin! Aku gak pernah berharap kalo aku itu Reza karena memang bukan dia, aku terima ini karena kasian sama mbak Sella aja, gak lebih dari itu." terang Cipluk menegaskan.


"Tapi mas itu..." ucap Tinah yang dipotong Cipluk.


"Tin! Aku mau pura-pura jadi Reza tapi bukan berarti beneran dia, kan?" Cipluk mengingatkan.


"Maafin saya mas Cipluk!" sesal Tinah.


Dalam hati Tinah, "Tapi kenapa Tinah masih begitu yakin kalo Cipluk itu mas Reza? Tapi... Tapi kenapa keyakinan itu gak terbukti yah?" keluh Tinah kecewa.


"Apa pukulan tadi kurang kenceng ya?" ringis Tinah berlalu pergi dengan menenteng gunting di tangan.


Ide Tinah tak sampai di situ, dia berniat merubah semua dari tubuh Cipluk yang sangat tak terurus menjadi sosok Reza yang tampan menawan. Tinah mengajak Cipluk kesalah satu mall untuk merubah penampilan, yang mana kini Cipluk telah sempurna dan 100% mirip dengan mendiang Reza.


"Waaaahhh, mas Reza! Mas bener-beber mirip banget sama mas Reza!" seru Tinah terpesona.


"Sempurna!" gumam Tinah sumringah.


"Gimana Tin ?" tanya Cipluk, yang kurang nyaman dengan perubahannya sendiri.


"Mantep jiwa deh mas, percaya sama Tinah!" seru Tinah dengan ngarahkan kedua jempol pada Cipluk.

__ADS_1


Kini Tinah yakin sudah tak ada satu pun yang mengelak bahwa Cipluk adalah Reza, karena kini memang benar-benar mirip.


"Ternyata aku setampan ini?!" gumam Cipluk.


"Kenapa? Baru sadar kalo ganteng mas?"


"Hehehe.."


"Pulang yuk, kalo telat pulang bisa macet di jalan!"


...*****...


Esok harinya.


Mobil hitam milik Baim terhenti di depan rumah orang tua Sella. Saat di minta turun Baim menolak karena ia harus cepat pergi agar tepat waktu ketempat tujuannya.


"Hati-hati yah sayang?!" pinta Sella


"Kamu juga yah! Jaga anak kita selalu!" sahut Baim yang langsung pergi meninggalkan rumah Sella dengan lajuan kencang.


"Asih.. Asih.." teriak Sella saat tiba di dalam rumah.


"Hay non!" sapa suara yang tak asing lagi di telinga Sella.


"Tinah!" seru Sella membalikkan badan dan langsung memeluknya.


"Gue kangen lo Tin!" aku Sella.


"Tinah juga kangen sama non Marsella!" kata Tinah yang membalas pelukan.


"Non kok bawa koper! Kenapa? Apa mas Baim ngusir non dari rumah?" tanya Tinah.


"Ngaco lo Tin.. Baim keluar kota beberapa hari ini, jadi gue balik kesini. Bagus lah ada lo di sini, jadi gue bisa suruh-suruh elo deh. Hehehe.." canda Sella.


"Oh yah papah mamah masih di luar kota kan? Kalo gitu gue mau istirahat Tin! Cape, ngantuk lagi." pamit Sella.


"Ya elah non Sella! Kayak dari perjalanan jauh aja deh, pake istirahat segala." keluh Tinah.


"Etss! Jangan salah, ini bawaan anak!" kilah Sella yang mengelus-ngelus perutnya.


Langkah kaki Sella menuju kamar, terhenti saat melihat kamar tamu yang bersebelahan dengan kamarnya. Aroma wangi yang sudah lama tak di ciumnya kembali merebak dari dalam kamar tamu yang membuat hati Sella dag dig dug, ia mendekat ke pintu kamar itu.


Krekkk...


Pintu kamar terbuka lebar yang membuat mata Sella memlotot tajam pada sosok yang di dapati dari dalam kamar.


"Reza?" pekik Sella yang langsung memeluk tubuh suami masa lalunya itu.


Ada kerisihan di rasakan Cipluk yang terus meringiskan wajah saat Sella terus menyeru-nyeru nama Reza padanya.


"Aduh mbak! Aku bukan Reza, Cipluk, mbak Sella!" sangkalnya dengan melepas pelukan Sella yang mengeryit saat mendengar nama Cipluk terucap.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Sella, segera menahan diri.


"Saya non, yang ajak dia kesini!" jawab Tinah yang baru saja sampai di antara mereka.


Perlahan Sella mendekat pada Tinah dan berbisik kecil, "Elo apa-apaan bawa dia kesini, kalo Baim tau gimana?" cetus Sella.


"Kenapa mesti takut non, inikan bukan rumah dia!" jawab Tinah santai, Sella kembali melirik kearah Cipluk dengan mata lekat hingga akhirnya ia langsung menepis pandangan itu dan meninggalkan mereka berdua.


"Gila.. Kenapa semakin mirip Reza kalo dia rapih begitu?" gumam Sella, girang.


Makan malam yang sangat canggung di rasakan keduanya, siapa lagi kalo bukan Sella dan Cipluk. Duduk di kursi dengan berhadapan membuat suasana semakin mendukung kencangungan mereka.


"Ayo di makan? Kok malah diem-diem aja" tegur Tinah yang meletakkan spagetti ke atas meja.


"Dia bener-bener Reza, maksud gue mirip." sangkal Sella dalam hati, "Tapi kenapa gue masih merasa dia itu Reza? Enggak! Dia bukan Reza. Inget Sel! Baim suami elo." tekannya dalam hati.


"Kenapa mbak Sella gak makan?" tegur Cipluk, ramah.


"I iya ini mau makan kok!" ucap Sella gugup.


...*****...

__ADS_1


Pagi hari.


Sella terbangun dari tidur saat deringan handphone menganggu, hingga akhirnya dia membuka mata yang ternyata dari Baim, sang suami.


"Kenapa Im! Kok pagi-pagi gini sih telponnya?" cetus Sella.


"Pagi apanya? Ini udah siang sayangku!" sangkal Baim.


"Masa sih?" ucap Sella yang langsung mengarahkan mata pada jam yang menunjukan pukul 10.


"Eh iya.. Hehehe.." kekeh Sella.


"Udah sana, mandi terus makan buat anak kita!" pinta Baim.


"Anak kita doang nih yang di suruh makan, nah aku?" keluh Sella, manja.


"Iya, kamu juga dong sayang!" ralat Baim, menimpali kemanjaan Sella.


"Aku mandi dulu yah? Bye sayang!" tutup Sella yang menghela dan beranjak menuju kamar mandi.


Setelah beberapa menit berdandan Sella turun menuju kebawah, ia tak melihat siapa pun hingga dengan cepat menuju dapur yang terdapat Tinah dan juga Asih di sana.


"Pagi semua?" sapa Sella.


"Siang juga non!" sahut Asih.


"Mmm, Reza mana?" tanya Sella menyelidik.


"Reza? Gak ada mas Reza di sini, yang ada Cipluk non!" sangkal Asih yang membuat Tinah melotot tajam padanya.


"Iya, maksud gue Cipluk, mana?" ringis Sella pelan.


"Dia lagi ke terminal non, kangen sama bang supir di sana" jawab Tinah.


"Tin! Kenapa sih elo bawa dia kesini?" tanya Sella heran.


"Itu karena.." ucap Tinah yang langsung di potong oleh Sella.


"Mau buat Baim marah? Gue tau lo gak suka sama Baim, tapi gak seharusnya elo lakuin ini juga. Cipluk memang mirip Reza, tapi dia bukan..." kata Sella yang juga dipotong oleh Tinah


"Dia mas Reza.. Non Sella dia itu mas Reza." tegas Tinah yang meninggalkan Sella dengan kesal.


"Ufh.. Kenapa sih dengan Tinah itu." gerutu Sella geram atas kekeras kepalaannya.


Akhirnya Cipluk pun pulang ke rumah, dia melihat wajah kusam Tinah di depan pos jaga bersama Udin.


"Kenapa Tin?" tanya Cipluk.


"Lagi sebel mas" jawab Udin mewakili.


"Oh! Saya gak mau ganggu kalian kalo gitu!" pamit Cipluk yang masuk kedalam rumah, saat ingin menaiki tangga, langkah Cipluk tertahan oleh Sella yang memintanya duduk di atas sofa.


"Aku mau tanya sebentar sama kamu, boleh?" kata Sella.


"Silahkan mbak Sella!" sahut Cipluk, ramah.


"Kamu merencanakan sesuatu sama Tinah, kan?" tanya Sella yang di angguki kepala dari Cipluk, polos.


"Kamu kenapa mau? Kamu itu bukan Reza jadi aku gak mungkin sama kamu untuk meninggalkan Baim!" Sella kesal.


"Baim? Siapa dia mbak?" tanya Cipluk bingung.


"Dia suami aku setelah kepergian Reza" Sella mengakui.


"Aku gak tau, dan Tinah gak bilang soal itu, aku minta maaf." Cipluk bersalah.


"Pokoknya kamu harus kembali keasal kamu, dan jangan lupa kembali juga dengan wajah kusam kamu itu." pinta Sella yang berpaling wajah darinya.


"Baik! Kalo itu mau mbak. Karena memang sejak awal aku kurang setuju untuk melakukan semua ini." ucap Cipluk mengingatkan.


Dalam hati Sella, "Maaf Cipluk, aku memang berharap kamu Reza! Tapi aku tau kamu bukan dia, sebesar apa pun keyakinan aku gak akan bisa merubah takdir kalo kamu bukan Reza." meringis pedih.


"Tunggu " tahan Sella.

__ADS_1


"Apa lagi mbak?" heran Cipluk.


Sella meraih tangan Cipluk, menggenggam dan perlahan mendekat dengan menatap pekat padanya. Semakin dekat tatapan Sella hingga keduanya pun akan saling berciuman, namun sayang di tahan dulu ya πŸ˜‚


__ADS_2