
Azka baru saja memarkirkan mobilnya, lalu menekan tombol kunci sebelum pergi menuju kelasnya.
"Woi bro, tumben lo telat?"
"Lo sendiri?"
"Udah biasa gue, kek gak tau gue aja lo hehe.."
"Tadi gue anter adek ke sekolahan dia, jadi baru nyampe gue." terang Azka.
"Tumben lo yang anter, supirnya sakit?" herannya.
"Lo kalo denger alasan dia pasti ngakak" kata Azka.
"Emang selucu apa?"
"Ini bukan lucu lagi, tapi kocak parah adek gue"
"Ceritanya?"
"Sambil jalan kita!"
Keduanya jalan bersampingan di mana Azka mulai menceritakan kejadian 20 menit yang lalu di alaminya.
"Adek gue minta gue anter karena para sahabatnya penasaran sama kegantengan gue" ungkap Azka.
"Terus?"
"Ternyata ada pisang dibalik batu, dia jadiin gue alat tuker buat dapet pisang dari mereka. Gila, kan?"
"Lah kocaknya di mana?" memasang wajah datar.
Azka menggaruk rambut atas respon dingin sahabatnya itu.
"Tinggal ketawa aja apa susahnya sih bro?" ringis Azka.
"Hah.. Tuh udah, kan?"
"Gak iklas amat Met lo ketawa,"
"Bayar gue seratus ribu baru gue ketawa niat, mau?"
"Nggak.. Makasih!"
Saat ke duanya sampai di dalam kelas, seseorang menyeru nama Azka.
"Azka?!"
"Yang di sapa cuma Azka doang nih Na?"
"Pagi Met?"
"Buset.. Kirana sayang, jangan suka ikutan Azka manggil gue Met, nama gue Rahmat." ralatnya.
"Nih gegara elo Ka!" protesnya.
"Emang gue ngapain?" heran Azka yang duduk di bangku miliknya.
"Kan lo yang selalu panggil Met? Emangnya nama gue Memet apa?" kesalnya.
Dengan muka polos, "Emang bukan ya Met?"
"Tuh tuh tuh.. Serah lo dah ah Ka." memasang wajah kesal.
__ADS_1
Azka pun gemas untuk menggoda sahabatnya itu, "Ya udah Mat maaf ya?"
"100 ribu baru gue gak marah?" pinta Rahmat.
"Ogah, mending gue beliin Amel pisang duit 100 ribu."
"Hahaha.." Kirana tertawa melihat keduanya.
"Mau kemana?" tanya Kirana saat Azka beranjak dari tempat duduk.
"Toilet, ikut?" tanya Azka yang mengedipkan bola mata kiri pada Kirana.
"Mesum!" ringis Kirana yang tak bisa menahan pipi yang mendadak cubby saat di goda oleh Azka.
"Mulai dah mulai" Rahmat memecah kebahagiaan Kirana.
"Sirik lu" cetusnya.
"Kenapa gak lo ungkap aja sih ke Azka?"
Bukan lagi jadi rahasia bila Kirana naksir berat pada Azka. Hanya saja kendala Kirana untuk bersama lelaki pujaannya itu karena Azka yang tidak merespon perasaannya.
Entah Azka yang memang tidak suka Kirana atau memang dia buta terhadap sinyal cinta Kirana.
"Gila lo. Bisa rusak hubungan baik gue sama dia, Met."
"Rusak gimana?"
"Kalo dia suka balik sama gue, kalo enggak? Bisa malu tujuh turunan gue." terang Kirana.
"Gue juga heran sama Azka, dari dulu gak pernah ada tanda-tanda dia naksir cewek. Apa jangan-jangan dia naksir__"
"Elo? Idih, najis lo. Bisa patah hati seumur hidup gue kalo tau Azka naksir pisang bukan jeruk."
"Terus maksud lo apa?"
"Naksir cowok!" bisik Rahmat, agar yang tak mendengar hal itu.
Tapi sialnya bisikan itu membuat telinga Kirana tertusuk hingga dengan kesal melayangkan buku ke kepala Rahmat.
Brukk..
"Salah gue apa?" meringis kesakitan.
"Otak lu kudu di cuci," sinis Kirana, "Jangan bikin gue jantungan kenapa sih Met." pinta Kirana.
"Itukan seumpama aja Na!"
Dalam hati Kirana, "Masa iya sih Azka suka pisang?"
Azka yang baru kembali dari toilet merasa heran di tatap mencurigakan oleh Kirana.
"Kenapa sama gue?"
"Lo suka pisang?" tanya Kirana tanpa basa basi.
Azka memang selalu menggoda sang adik bila makan pisang, dan selalu tidak banyak makan buah berwarna kuning itu, tapi bukan berarti Azka tidak suka.
"Suka!" aku Azka, seraya duduk di bangkunya.
Mendapat jawaban itu, Kirana memasang wajah sedih. Sesuatu yang tajam seolah menusuk hatinya hingga serasa terbelah menjadi dua bagian.
"Emang kenapa?" tanya Azka yang heran dengan tanggapan wajah Kirana sangat aneh baginya.
__ADS_1
Kirana yang sedang sedih tak menanggapi pertanyaan itu hingga akhirnya Azka menoleh ke samping yang mana Rahmat membulatkan bola mata.
"Kenapa sama Kirana?" tanya Azka.
"Mana gue tau, tanya aja sama diri lo sendiri" saran Rahmat.
"Lah kalo gue tanya diri gue terus gue jawab apa?" Azka kebingungan.
"Ya lo kenapa suka pisang?" akhirnya Rahmat bertanya.
"Emang harus ada alesan buat suka pisang?"
"Ya harus." tegas Rahmat.
"Ya karena emang pisang itu enak, kan?" ungkap Azka yang melirik pada Kirana di sebelah kirinya.
Tampak wajah Kirana menahan tangis saat mendengar kata-kata itu.
"Emang lo gak suka pisang, Na?" tanya Azka.
"Justru karena dia cewek makanya suka pisang, gimana sih lo Ka?" Rahmat angkat bicara ketika Kirana tak kunjung menjawab.
"Terus letak salahnya cowok suka pisang di mana?" Azka berang.
Pertanyaan itu harus tertahan ketika guru telah tiba di dalam kelas sehingga tak ada lagi keributan yang ada hanya fokus belajar.
Tersiksa rasanya saat ini di rasakan oleh Azka pada kedua sosok yang duduk di samping kiri dan kanannya.
Entah apa yang salah dengan pisang? Itulah yang membuat Azka sejak tadi bukan fokus mendengarkan pelajaran, melainkan berkutat dengan buah pisang yang menari-nari di otaknya.
"Azka coba perjelas apa yang saya sudah jelaskan tadi?" perintah sang guru yang memang tau bila Azka sedang tidak fokus mendengarkan.
"Azka?" panggil guru ketika Azka masih tidak mendengar.
Guru itu mendekat dan menghentak meja Azka hingga sang empunya tersadar.
BRAKK..
"Pisang!" itulah yang keluar dari mulut Azka ketika sadar.
"Hahaha.."
Riuh tawa satu kelas mendengar jawaban Azka itu.
"Pisang?" heran sang guru.
"Anu pak, mm.. Itu, bukan.. Maksudnya__" Azka gelagapan.
"Maksudnya itu kamu keluar dari sini dan berdiri sampai pelajaran saya selesai, paham?" perintahnya dengan lantang.
"Baik, pak!" ringis Azka yang mana sebelum pergi ia menoleh ke arah Rahmat dan Kirana, "Gegara kalian berdua." dumal Azka.
Kirana sebenarnya pun tidak fokus mendengarkan gurunya, karena dia masih tidak percaya dengan pengakuan Azka yang suka dengan pisang.
"Selama hampir 3 tahun gue suka sama lo, kenapa baru sekarang gue tau kalo elo suka pisang?"
"Kenapa gak dari awal aja, senggaknya gue gak akan suka sama lo selama ini"
"Sakit Ka, kenapa lo buat gue patah hati sebelum gue bilang cinta sama lo?"
"Gue kecewa sama lo.. Apa enaknya suka pisang? Apa jeruk kurang memikat?"
Itulah gemuruh hati Kirana yang menyesali bahkan kecewa pada kenyataan selama tiga tahun memendam cinta pada Azka.
__ADS_1
Azka yang merasa lelah berdiri di luar, kini terus mendumal pada kedua sahabatnya itu, "Kalo elo berdua gak jelasin soal kenapa dengan suka pisang? Abis lo berdua gue jadiin keripik."