
Hal yang tak di inginkan dan di takutkan Reza kini terjadi saat Baim mengungkapkan atas perasaan cintanya untuk Sella. Bagaimana pun Sella telah menjadi kekasih Reza, dan tak mungkin bagi orang lain untuk memiliki lagi.
Reza sudah semakin geram dan penuh amarah setelah mendengar pernayataan cinta yang terlontar dari mulut Baim.
Sementara Baim begitu berharap pada Sella, walaupun salah dengan mengungkapkan perasaan itu, tetapi ia sudah siap menerima apa pun yang terjadi. Entah Sella akan membenci dirinya, menjauhi dirinya, bahkan tak akan pernah menganggapnya ada lagi pun Baim sudah pasrah.
Tentunya Sella sempat kaget bukan main saat tak di duga Biam mengucapkan kata cinta, namun kini Sella tertawa nyaring mencairkan rasa kagetnya dan menduga bahwa Baim hanya sedang bergurau saja.
"Elo bercandakan?" tanya Sella tak percaya.
"Gue serius cinta sama lo, sejak kepergian Dila gak ada sosok lain yang dapat mengisi kekosongan gue. Sampe akhirnya elo yang selalu di samping gue dan mulai buat gue merasakan jatuh cinta lagi." tutur Baim yang membuat Sella bagkit dan bersiap pergi melangkahkan kaki, namun Baim menahan pelan tangan Sella.
"Elo boleh marah dan benci sama gue Sel, tapi gue gak minta lo buat bales perasaan gue ini. Gue cuma mau elo tau perasaan yang mengganjal ini, karena seberapa pun gue paksa untuk gak ngaku sama lo tapi hati gue gak tenang Sella. Makanya sekarang gue bilang ke elo, biar gue pun bisa secepetnya hapus perasaan ini sebelum makin dalam." jelas Baim yang perlahan Sella melepaskan pegangannya dan berlalu tanpa sepatah kata pun.
Dalam hati Sella, "Kenapa bisa jadi gini?" ringisnya tak percaya.
Didalam kamar Reza terus mengurung diri tanpa berkata sepatah pun keluar dari mulut. Dia terus mengingat ucapan Baim yang menyatakan cinta pada Sella, perasaan Reza berkecamuk marah, mengepal geram saat di mana ia tak tau apa yang akan di jawab Sella pada perasaan Baim.
"Apa dia terima cintanya?" duga Reza.
"Tapi gimana pun juga kita belum putus Sel, gak mungkin kan elo terima dia?"
Ketukan pintu di hiraukan Reza yang tau yang di ambang pintu adalah Sella, dia sudah berapa kali mencoba mengetuk namun Reza tak menyahut dan tidak membiarkannya masuk.
Lelah, akhirnya Sella meninggalkan pintu kamar Reza dan melangkah gontai menuju ke dapur untuk mencari sosok Tinah yang ternyata tak ada di sana.
Sella pun berbalik arah menuju pos Udin yang sudah yakin Tinah pasti sedang berada di sana, duduk berduaan saling bercanda ria.
"Tinah!" panggil Sella pelan.
"Kenapa non?" tanya Tinah yang menghela napas kesal, karena merasa terganggu.
"Reza pergi kemana?" tanya Sella.
"Nggak kemana-kemana non, tuh mobilnya ada!" tunjuk Tinah kearah mobil Reza.
"Tapi kok di kamarnya gak ada?" tanya Sella heran.
"Ada non.. Buka aja pake kunci cadangan kamar mas Reza, gampang kan?" saran Tinah yang langsung membuat Sella kembali menuju kamar Reza dengan membawa kunci cadangan itu.
__ADS_1
Ceklak..
Pintu kamar Reza terbuka oleh Sella. Reza menoleh saat pintu kamarnya terbuka, ia pun bangkit dan menatap tajam pada kekasihnya itu.
"Gue gak suka lo masuk kamar gue tanpa izin" cetus Reza, protes.
"Gue udah ketuk pintu Reza, tapi lo gak pernah mau buka, kenapa? Jadi bukan salah gue kan?" terang Sella.
"Itu artinya gue gak mau lo ganggu, gue mau sendirian. Sana lo keluar sekarang." usir Reza yang membuat Sella geram dan dengan cepat Sella menutup pintu rapat dan mendekat pada Reza yang langsung membuang muka dari hadapan Sella.
"Elo marah sama gue?" tanya Sella menyelidik.
"Kalo iya kenapa?" cetus Reza sengit.
"Gue minta maaf.. Tapi gue heran sama lo, apa salah gue sampe lo marah banget dan gak mungkin lo benci ke gue gitu aja?" ungkap Sella yang ingin tau kebenaran.
"Salah lo aja gak tau, gimana dengan perasaan lo ke gue? Jangan-jangan udah ilang lagi karena Biam." sindir Reza, sinis.
"Maksud lo apa sih Za? Gue bingung sama lo, kenapa lo selalu sangkut pautin gue sama Baim?" ucap Sella kesal.
"Udah deh jangangan pura-pura bego, gue udah tau semua. Baim suka sama lo kan? Dia nembak elo kan?" beber Reza yang membuat Sella terkejut dengan ucapan itu.
"Ternyata cinta lo masih dangkal, gue gak nyangka lo nyuruh Tinah jaga gue sementara lo di sini enak-enakkan sama Baim, hah.." sindir Reza yang langsung mendapat tamparan dari Sella.
Plakk..
Menekan suara, "Gue gak suka lo nuduh gue yang nggak-nggak" kata Sella yang membuat Reza langsung pergi meninggalkan Sella yang kini menjatuhkan tubuhnya di lantai.
"Kenapa lo mikir gue kayak gitu Reza?" ringis Sella dengan menitikan air mata.
Hiks.. Hiks..
Malam sudah semakin larut, tetapi Reza masih berada di sebuah club malam yang mana kondisinya telah mabuk berat. Dia pun berniat pulang namun tak memungkinkan dirinya untuk mengendarai mobil, hingga akhirnya si pelayan memesankan taksi untuk mengantar pulang.
Sesampainya di rumah, Reza berjalan dengan sempoyongan. Saat menaiki tangga, dirinya hampir saja terjatuh namun dengan cepat ia memegang penyanggah agar dapat tegap lagi.
"Hehehe..." hanya suara tawa yang keluar dari Reza yang hampir kehilangan nyawa bila terjatuh.
Reza kesusahan membuka pintu kamarnya, setelah berhasil masuk dia membulatkan bola mata saat di mana sosok Sella yang sangat khawatir akan dirinya karena telat pulang, berada di kamarnya.
__ADS_1
Sella kini harus bernapas lega karena sudah melihat sosok Reza kembali pulang. Walau pun dengan keadaan mabuk, setidaknya Sella cukup tenang dan hendak meninggalkan kamarnya. Tetapi dengan cepat Reza menahan dan mendekap tubuh Sella erat.
"Reza lepasin." bentak Sella.
Bernada mabuk, "Gue gak akan lepasin lo Sel, lo cuma milik gue jadi paham? Jadi Baim gak boleh ambil lo dari hidup gue, titik." tegas Reza, merancau.
"Elo mabok Reza, jadi lepasin gue dulu dan kita bicara besok setelah elo sadar" ronta Sella yang mana perlahan Reza melepaskan pelukan dan menatap tajam pada Sella. Kedua tangannya mencekram bahu Sella, bahkan pandangannya pun menakutkan, hingga tak di duga Reza mendorong tubuh Sella keatas kasur dan akhirnya malam itu pun terjadi tanpa kesadaran Reza.
Esok hari nya..
Sella terus memaki Reza, melemparkan semua benda kearah sang pria yang telah menodai kesuciannya. Dengan sangat terpukul Sella keluar kamar yang langsung di kejar, karena rasa bersalah Reza.
"Sella tunggu" pinta Reza.
"Gue benci sama lo" pekik Sella yang menaiki mobil dan melajukan kencang menuju siapa lagi kalo bukan, Baim.
Sampainya di rumah Baim, Sella langsung menumpahkan semua kesedihan pada Baim yang setia mendengarkan keluh kesahnya.
"Gue yakin, Reza gak maksud begitu. Lagian dia kan terpicu alkohol, makannya tanpa sadar ngelakuin itu." Baim berusaha bijak, walau pun dirinya terluka mendengar pengaduan Sella atas Reza.
"Tapi kenapa dia tega, bukannya kalo dia tulus cinta sama gue gak akan dia lukain semua itu?" ringis Sella yang terus menangis deras.
Bagai mana pun Sella sangat wajar sedih sesedih sedihnya. Keperwanan yang dia jaga untuk di malam pertamanya, harus di rusak oleh Reza begitu saja.
Kini Sella kembali ke rumah, setelah keadaanya sedikit membaik. Dia pun begegas ke kamar dengan harapan dirinya tak terlihat oleh Reza namun sayangnya, Sella harus kembali dongkol saat Reza menarik tangan.
Bersalah, "Gue minta maaf soal semalem" pinta Reza menyesal.
"Hidup gue udah hancur, musnah. Rasanya gak pantes lagi gue hidup, semua karena lo Za, karena elo." ringis Sella, yang kembali menitikan air mata.
"Please maafin gue, kasih gue kesempatan buat bayar keasalahan gue?" pinta Reza memelas.
Hiks.. Hiks.. Hiks..
"Gue cinta sama lo Sella!" ucap Reza tulus.
Hiks... Hiks..
"Apa lo mau nikah sama gue? Membiarkan gue bertanggung jawab atas kesalahan yang udah gue perbuat sama lo, yah?" bujuk Reza yang menunggu kepastian dari jawaban Sella.
__ADS_1