Cinta Berjuta Rasa

Cinta Berjuta Rasa
Cinta Rasa Timun #29


__ADS_3

Cipluk menatap kearah Tinah yang duduk di bangku dekat terminal yang biasa ia menunggu penumpang. Perlahan Cipluk mendekat, bola matanya memicing pada apa yang di bawa oleh Tinah.


"Itu apa Tin?" tanya Cipluk.


"Tas saya mas!" sahut Tinah yang berdiri di hadapanya.


"Kamu pergi kemana bawa tas segala, pulang kampung?" selidik Cipluk.


"Saya di pecat oleh non Sella." ungkapnya, memasang wajah sedih.


"Terus rencana kita gagal?" tanya Cipluk, dengan perasaan senang karena tidak perlu untuk pura-pura menjadi Reza.


"Rencana tetap berjalanlah mas, makanya mas Cipluk ikut saya sekarang juga ya?" ajak Tinah yang menyeret tangannya pergi namun dengan cepat Cipluk menaha.


"Kamu kan udah gak kerja di sana, gimana bisa melanjutkan lagi?" tanya Cipluk, curiga.


"Tinah emang udah gak kerja di sana, tapi bukan berarti rencana harus batal. Jadi itu makanya mas nurut aja deh sama saya, ya?" pinta Tinah yang kembali menarik Cipluk.


"Inget yah! Aku gak suka main kotor, cuma begini karena mirip Reza." ucap Cipluk mengingatkan.


Setelah membujuk Cipluk akhirnya Tinah membawanya kesebuah rumah mewah yang sangat membuat Cipluk terkesima melihat kemegahan di sana.


Krekkk..


pintu dibuka oleh Tinah yang menarik Cipluk ke dalam rumah.


"Waaah.. Kayak istana yah rumahnya?!" seru Cipluk yang membuat Tinah mengeryit di buatnya.


"Ini rumah siapa Tin? Orang kaya banget yang punya rumah!" polosnya.


"Sebenernya dia itu mas Reza atau bukan sih? Liat rumah gini aja takjup, gimana kalo liat rumah sultan andara? Bisa pingsan kali ya?" gumam Tinah heran.


"Rumah siapa Tin ?" tanya Cipluk saat Tinah belum menjawab.


"Rumah saya mas!" aku Tinah yang membuat Cipluk tercengang kaget.


"Serius kamu? Kalo kamu punya rumah sebesar ini kenapa kamu jadi pembantu mbak Sella?" tanya Cipluk tak percaya.


"Ya nggaklah mas! Rumah ini punya orang tuanya non Sella!" terang Tinah.


"Terus kenapa kita ke sini? Kalo mbak Sella tau pasti usir kita." kata Cipluk bingung.


"Non Sella gak bakal tau dan orang tuanya gak ada di rumah untuk sementara. Jadi walau pun saya di pecat sana bukan berarti saya gak kerja di sini!"" tutur Tinah menerangkan.


"Udah yuk masuk!" ajak Tinah yang langsung menuju dapur yang mana terdapat Asih berada di sana.


"Tinah.. Kenapa kamu datang?" pekiknya heran.


"Kenapa gak boleh?" cetus Tinah.


"Emang non Sella gak butuh kamu sampe bawa tas segala, pasti di usir yah kamu?" selidik Asih.

__ADS_1


"Iya! Mas Baim gak suka saya kerja di sana" ungkapnya.


"Kamu sih pacaran mulu sama Udin jadi kena pecat, kan?" cibir Asih.


"Udah gak usah banyak ngomong siapin kamar buat tamu kita." suruh Tinah yang mana Asih meneliti kearah Cipluk dengan bergidik.


"Siapin aja kamu, aku sih gak mau." tolak Asih.


"Kamu ini gimana sih, di suruh malah balik nyuruh. dia itu tamu di sini, tau?" bentak Tinah.


"Tamu tampangnya kucel gitu? Tamu dari mana coba?" gerutu Asih dalam hati yang langsung berlalu meninggalkan dapur.


"Mas sini makan dulu!" ajak Tinah.


"Gak usah Tin, nanti aja!" tolak Cipluk, sungkan.


"Jangan malu-malu mas, saya tau kalo mas lagi laper, ayo sini!" bujuk Tinah yang langsung Cipluk mendekat pada meja makan yang telah terhidang bermacam masakan.


"Gak usah malu-malu ya mas, anggap rumah sendiri di sini!" kata Tinah yang membuat Cipluk mengangguk pelan.


Saat Cipluk asik menyantap dengan lahap, Tinah menatap iba padanya karena mungkin Cipluk tak pernah merasakan makanan enak seperti yang di makannya sekarang selama 3 tahun belakangan ini.


"Kok kamu liatin aku begitu sih Tin?" tanya Cipluk malu, ketika dirinya sadar makan begitu bersemangat.


"Maaf mas! Tinah hanya senang melihat lahapnya mas Reza makan." kata Tinah.


"Aku jarang makan enak seperti ini, jadi maklum kalo makan lahap." ungkap Cipluk, menunduk malu.


"Gak apa kok mas. Kalo mau tambah silahkan aja semua buat mas makan kok." ujar Tinah yang di timpali senyum Cipluk.


Lantang, "APA?"


"Kenapa sih?" ringis Asih ketika kaget mendengar suara lantang Tinah.


"Saya kan bilang kalo dia ini tamu, kenapa kamu tempatkan di kamar pembantu?" pekik Tinah geram.


"Dia tamu? Tamu kamu bukan tamu tuan sama nyonya, tampang dia aja gembel begitu" sindir Asih yang membuat Cipluk menunduk malu, Tinah langsung menyeret Asih menjauh dari Cipluk dan langsung berbisik padanya.


"Kamu gak tau siapa dia?" bisik Tinah dengan suara menekan, kesel.


"Emang siapa dia? Gak penting jugakan kalo saya tau." angkuhnya.


"Dia itu mas Reza, kamu lupa?"


"Hah.. Mas Reza? Dia udah di kuburan kali masa bangun lagi?" ringis Asih tak percaya.


"Nanti saya ceritain sama kamu, tapi sekarang kamu harus siapin kamar di samping kamar non Sella buat mas Reza!" printahnya.


"Iya siap bos!" seru Asih mengalah.


Sejak kepergian Tinah hidup Sella semakin sepi dan ia pun semakin jenuh di rumah sendirian bila tak ada suami bersamanya. Bahkan Baim pun jarang berada di rumah hingga menambah semakin kesepian Sella di dalam rumah.

__ADS_1


Sejak tadi pun Baim tak juga pulang, membuat Sella kesal dan tak minat untuk menonton televisi di hadapanya.


"Hay sayang? Maaf yah aku telat!" ucap Baim menyesal.


"Kemana aja sih bete tau sendirian" keluh Sella manja.


"Aku kan harus beli makan dulu buat kita, jadi telat deh!" terangnya.


"Kita makan yuk?" ajak Baim.


"Gak laper" cetus Sella yang berlalu meninggalkannya.


"Hufh.. Salah lagi" dengus Baim pasrah.


Perlahan Baim menuju kamar di mana Sella berada, ia membuka pintu dan melihat punggung Sella yang telah berbaring membelakanginya. Baim pun berbaring di belakang Sella seraya memeluknya.


"Kamu masih marah?" tanya Baim.


"Kenapa sih, kamu harus pecat Tinah? Aku kan jadi bosen di sini tampa temen." tanya Sella kecewa.


"Itu buat kebaikan kita sayang!" terang Baim yang buat Sella bangun dan menatapnya tajam.


"Kita? Aku rasa itu kamu, aku kesepian tanpa kamu dan sekarang dia gak ada di sini itu membuat aku tambah jenuh di rumah ini." pekik Sella kesal.


"Aku tau perasaan kamu, karena itu nanti aku akan cari pengganti Tinah secepatnya." ucap Baim menenangkan.


"Gak usah, aku mau ke rumah mamah aja!" tolak Sella, ketus.


"Jangan dong, besok lusakan kita harus pergi keluar kota!" larang Baim.


"Kok mendadak?" tanya Sella, yang mana dirinya enggan untuk ikut pergi.


"Kan dulu aku udah bilang nanti aku mau keluar kota dan kamu harus ikut, pasti kamu lupa karena si Tinah itu" ringis Baim mengingatkan, ada kekecewaan di wajah Sella seketika.


"Aku gak ikut boleh gak?" tanya Sella lembut. Berusaha membujuk sang suami.


"Tapi aku udah janji sama temen akan bawa kamu" cegahnya.


"Itukan urusan kamu dan mereka, kenapa aku harus di bawa-bawa?" Sella mencari cara untuk terbebas.


"Mereka akan bawa para istri, kita kan waktu nikah gak undang mereka jadi sekalian kenalin kamu. Kalo kamu gak ikut, aku sendirian di sana dan sekalian buat liburan bareng kamu juga sayang!" tutur Baim, membujuk.


"Pokoknya aku gak mau." tolak Sella dengan membelakanginya dan bermuka masam.


"Ayolah sayang, nanti kamu siapa yang jaga di sini?" rajuknya.


"Aku akan tinggal di rumah mamah untuk sementara sampe kamu datang, yah? Please Im?!" bujuk Sella, memanja saat sudah berbalik badan menatap bola mata sang suami.


"Tapi orang tua kamu lagi diluar kota kan? Gimana kalo di rumah orang tua ku?" saran Baim yang membuat Sella memanyun kesal.


"Im! Kamu kan tau mamah kamu gak suka sama aku, masa kamu mau aku tinggal di sana?" ucap Sella mengingatkan, "Lagiankan ada Asih yang akan jaga aku, dan Udin akan antar kemana pun aku mau, yah yah yah?" bujuk Sella.

__ADS_1


"Iya udah!" Baim mengalah, "Aku izinin kamu tinggal di sana, tapi inget jaga kandungan kamu buat aku ya?" pinta Baim menyarankan seraya memeluk Sella hingga senyum mengembang terlukis di wajah Sella ketika Baim luluh pada keinginannya.


"Makasih sayangku!" seru Sella senang.


__ADS_2