Cinta Berjuta Rasa

Cinta Berjuta Rasa
Cinta Rasa Timun #32


__ADS_3

Tinah baru saja sampai di hadapan Udin dengan wajah sangat murung, hal itu yang membuat Udin heran.


"Kamu kenapa lagi Tin? Tadi udah seneng malah sekarang murung lagi?" tanya Udin.


"Mas Reza udah sadar mas," ungkap Tinah yang membuat Udin kaget.


"Jadi mas Cipluk itu mas Reza beneran Tin?" selidik Udin tak percaya, Tinah pun mengangguk pelan.


"Terus kenapa sedih? Bukannya ini harapan kamu kan, Tin?" tanya Udin heran.


"Tinah bukan sedih mas, tapi bingung." sangkalnya.


"Bingung kenapa coba? mas Reza kan udah kembali dari hilang ingatannya , terus apa lagi yang di permasalahkan?"


"Dengan kembalinya mas Reza, bukan berarti non Sella balik sama dia karena mas Baim pasti gak akan balikin non Sella buat mas Reza." terang Tinah yang mana Udin pun mengerti dengan yang di pikirkannya itu.


"Kenapa Tinah gak kepikiran soal itu ya?"


"Itu karena kamu terlalu berambisi memisahkan mas Baim sama non Sella, jadi lupa kalo mas Baim gak akan mungkin pisah sama istrinya."


"Tinah harus segera cari cara buat mas Reza dan non Sella balik lagi!" kata Tinah tegas.


"Tapi Tinah.. Apa gak kasian sama mas Baim nantinya?" sergah Udin yang membuat Tinah mengeryit saat mendengar itu.


"Kasian apa nya? Malah kasian non Sella dan mas Reza yang terhalang cintanya karena orang arogan itu." pekik Tinah emosi.


"Ya jangan marah sama mas toh Tin, mas kan cuma ngingetin aja." kata Udin menenangkan.


"Lagian mas Baim jahat sama Tinah, dia gak sayang sama Tinah seperti mas Reza yang sayang sama Tinah." tukas Tinah.


"Lah ada mas Udin yang olwes sayang dan cinta sama kamu, kan?" goda Udin dengan menoel dagu Tinah yang mana ia pun tersipu geli dan menoleh kearah gerbang pintu dan tercengang saat melihat mobil milik Baim.


"Mas! Itukan mobil mas Baim?" tunjuk Tinah .


"Walah, iya Tin!" seru yang langsung menuju gerbang pintu dan membuka lebar untuk mobil Baim masuk ke dalam.


"Enggak boleh biarin dia masuk dan merusak rencana nanti" kata Tinah yang mendekat pada mobilnya, Baim pun turun dari mobil dan tercengang melihat mantan pembantunya itu.


"Kamu kok di sini?" pekik Baim kaget.


"Kenapa, mas Baim gak suka? Lagian ini bukan rumah mas Biam kan, jadi Tinah di terima kapan aja di sini" sindir Tinah yang membuat Baim menatap sengit padanya.


"Kalo tau ada kamu, aku gak mau titipkan Sella. Pantes aja aku ingin cepat pulang, taunya karena kamu ada di sini, cih!" ucap Baim balik menyindir.


"Dan gak penting ribut sama kamu, yang jelas aku mau jemput Sella sekarang." kata Baim yang melangkah pergi namun langsung ditahan oleh Tinah.

__ADS_1


Bersuara lembut, "Jangan sekarang deh mas, non Sella lagi tidur besok aja jemputnya yah?" bujuk Tinah memelas.


"Loh kok jadi kamu yang ngatur, suka-suka aku dong mau jemput dia kapan aja?" bentak Baim yang mendorong Tinah hingga ia tersungkur jatuh.


"Awh, sial" pekik Tinah geram, Baim pun berlalu meninggalkan Tinah yang masih meringis kesakitan.


"Aku gak bisa sama kamu lagi Za." tolak Sella pelan.


"Kenapa Sel! Jangan bilang kamu udah terlanjur cinta sama dia?" tanya Reza miris, Sella mendekat padanya dan menatap tajam ke matanya.


"Sekali pun nggak pernah ada cinta selain kamu di hati aku, cinta kamu masih tersimpan rapat di sini." sangkal Sella.


"Terus kenapa kamu gak mau kita bersatu lagi?" selidik Reza heran.


"Karena ini Za," tunjuk Sella pada kandungannya.


"Ini darah daging aku sama Baim, jadi mana mungkin aku tinggalin Baim dan menyakiti anakku hanya karena ke egoisan aku yang ingin kembali sama kamu." tutur Sella menerangkan.


Baim sudah berada tak jauh dari keduanya matanya pun tercengang saat melihat sosok Reza yang tak mungkin baginya dapat melihat kembali di dunia ini.


"Reza?" pekik Baim yang mana keduanya menoleh ke arah Baim.


"Enggak mungkin elo Reza, dia udah mati dan gak mungkin hidup lagi." ucap Baim tak percaya, ia mendekat pada keduanya dan menatap penuh tajam saat ia melihat benar-benar Reza yang ada di hadapanya.


"Gue memang Reza, suami dari Sella yang lo ambil!" sahut Reza sinis.


"Im sakit tangan ku." ringis Sella yang mana pegangan tangannya pada Reza terlepas begitu saja saat tarikan Baim terus kencang membawanya pergi.


"Reza, maafin aku." gumam Sella pasrah dalam hatinya.


...*****...


Sejak itu Sella tak lagi datang ke rumah ibunya, Reza pun tak pernah bertemu dengan Sella lagi. Dia tak dapat memaksa Sella untuk kembali padanya karena memang apa yang di katakan Sella benar, semuanya tak semudah membalikkan telapak tangan. Sella telah menjadi istri Baim, bahkan sedang mengandung anak mereka.


Walau begitu, Reza tak terima semua itu karena ia tak rela melepaskan Sella pada siapa pun. Dan masih tak terima pada takdir yang memisahkan sang istri darinya.


"Mas Reza kok ngelamun, kangen non Sella yah?" tanya Tinah menegurnya.


"Iya Tin! Gue kangen sama dia, sangat kangen. Gak tau kenapa semuanya jadi gini? Kek lagi mimpi gue sekarang, kehilangan Sella yang diambil sama temen sendiri." aku Reza lirih.


"Mas kenapa gak cegah mas Baim waktu itu?" tanya Tinah heran, "Kalo mas cegah kejadiannya gak seperti ini kan?" keluh Tinah.


"Gak Tin, Sella udah jadi milik Baim dan gue gak bisa rebut dia kembali" kata Reza mengingatkan.


"Lah kan mas Reza duluan suami non Sella, jadi mas berhak ambil kembali non Sella, kan?" protes Tinah.

__ADS_1


"Entahlah, berapa kali pun gue gak terima nasib ini, tapi udah takdir yang di atas Tin! Mungkin Sella yang terbaik sama Baim bukan gue." tutur Reza pelan.


"Mas kok ngomong gitu? Non Sella tuh bahagia sama mas Reza bukan mas Baim, Tinah aja setujunya sama mas kok makanya Tinah lakuin apa aja untuk mas kembali ke sisi non Sella!" terang Tinah yang membuat Reza bangga padanya.


"Makasih yah Tin! Elo udah buat gue kembali sadar. Dan kalo aja kecelakaan itu gak terjadi pasti saat ini gue lagi bahagia sama Sella dan anak kita yang mungkin udah besar dan berumur 3 tahun." ringis Reza yang kini berlinang air mata.


"Udah mas, jangan sedih nanti Tinah ikut nangis nih!" pinta Tinah.


"Oh yah mas.. Tinah masih bingung nih soal kecelakkan itu, dan bukan cuma Tinah saja yang penasaran yang baca cerita juga kan?" 😝


"Kalo mas Reza masih hidup terus yang di kuburan itu siapa dong mas?" tanya Tinah.


"Gue gak tau siapa dia, termasuk Lia juga gak tau siapa yang didalem kuburan itu πŸ˜†. Saat kecelakkan itu gue lagi telponan sama Sella karena dia nyidam minta mangga. Di lawan arah ada mobil oleng jadi gue coba menghindar bersamaan rem mobil tiba-tiba blong dan malah tabrakan beruntun terjadi. Gue inget banget, kejadian itu buat gue terpental jauh karena gak pake sabuk pengaman. Dan waktu bangun dari dari koma gue udah di rawat dan di jaga baik oleh supir bus yang menolong gue, dia yang tanggung semua perawatan medis sampe gue pulih seperti ini." beber Reza yang menceritakan kejadian yang telah di ingatnya.


"Syukurlah kalo emang bukan mas Reza yang di dalam kubur sana, karena Tinah gak rela kalo mas Baim jadi milik non Sella selamanya" tegas Tinah.


"Tapi Tin.. Semua udah berubah, elo harus terima dia sama Baim karena dia yang rela menyembuhkan Sella saat hampir gila atas musibah 3 tahun silam." ucap Reza, mencoba bijak.


"Terserah mas Reza aja, yang jelas Tinah siang ini mau ke rumah mas Baim." kata Tinah.


"Ngapain?" tanya Reza.


"Kangen non Sella, mas juga harus ikut yah?" ajak Tinah.


"Nggak Tin, gue nanti buat masalah lagi kalo ikut ke sana." tolak Reza.


"Mas gak sayang yah sama non Sella, kalo sayang mas harus ikut Tinah." desaknya.


"Senggaknya gue di sana cuma mau berusaha relain Sella buat Baim, jadi gak apa deh." gumam Reza pun menyetujui.


Di rumah Baim..


Sella merasakan sakit di perutnya, ia meringis sakit di atas kasur sementara Baim sibuk merapihkan kopernya sendiri.


"Pokoknya aku gak mau nitipin kamu di rumah ibu kamu, jadi tetap di sini sampai orang tuaku datang." ucap Baim ketus.


"Tapi Im, perut ku sakit banget." rintihnya.


"Alesan kamu aja kan? Aku gak akan percaya kali ini Sel, kamu meminta untuk tinggal di sana karena Reza, kan?" cetus Baim berang.


"Sumpah, gak Im! Sampe kapan kita bahas soal ini? Aku beneran gak tau kalo Reza ada di sana." tegas Sella.


"Sekarang aku pergi dan kamar aku kunci sampe orang tuaku tiba." pamit Baim seraya meninggalkan Sella yang masih merintih kesakitan.


"Baim.. Jangan di kunci Im.." pinta Sella yang bangkit dari baringannya dan menuju pintu, langkahnya gontai saat menggapi hendle pintu, tiba-tiba saja Sella terjatuh ke lantai.

__ADS_1


Brukk..


"Akhh..." rintih Sella dengan kaki bersimbah darah yang keluar dari pangkal kakinya.


__ADS_2