Cinta Berjuta Rasa

Cinta Berjuta Rasa
Cinta Rasa Timun #9


__ADS_3

Dila menyadari bahwa Reza sedang mengingat kesalahannya, karena itu Dila tak ingin belarut membiarkannya terus merasa bersalah pada Sella.


Menegur, "Kan ngelamun lagi? Ayo deh pergi!" ajak Dila.


"Kemana?" tanya Reza, bingung.


"Ya elah.. Ini anak malah bilang kemana, ke mall yuk cuci idung, mau? Ya ke rumah Marsella dong, terus lo minta maaf sama dia lah" sungut Dila, kesal.


"Tapi__"


"Nggak ada tapi-tapian, kita harus pergi temuin dia sekarang juga." bentak Dila dengan mendorong tubuhnya agar beranjak dari tempat.


Tak butuh waktu lama, keduanya pun sampai di depan rumah Marsella.


Tok.. Tok.. Tok..


Pintu diketuk sangat pelan oleh Reza, hingga akhirnya Dila menghela kesal saat Reza melupakan tombol bel samping pintu.


"Pake otak, bukan pake dengkul" caci Dila.


Ting.. Tong..


"Lupa kali" ringis Reza.


Tinah yang mendengar bel langsung bergegas mendekat. Saat pintu terbuka, Reza hanya menunduk lemah karena rasa bersalahnya.


"Mas Reza! Kemana aja baru datang sekarang?" Tinah antusias.


"Hay Tinah! Sella ada?" tanya Reza.


"Wah.. Kayaknya mas Reza gak di kasih tau toh sama non Marsella, dia kan udah balik ke Jakarta dari kemarin" ungkap Tinah membuat Reza kaget.


"Kenapa, kok secepet itu?" tanya Reza heran.


"Karena non Sella kecewa mas, makanya dia gak mau di sini lagi dan mutusin buat pulang ke Jakarta. Kasian deh mas, dua hari yang lalu non Sella nangis terus-terusan, mana kamarnya dia acak-acak karena terlalu marah. Tinah nggak tau kenapa dan ada apa sama non Sella tapi sebelum non pulang dia titip salam buat mas Reza," ungkap Tinah membuat Reza makin merasa bersalah telah membuat Sella pergi.


"Kenalin, ini Dila!"


"Pacarnya ya?" tanya Tinah yang mana Dila hanya tersenyum simpul.


Reza melangkahkan kaki dengan gontai menaiki setahap demi setahap anak tangga. Langkahnya terhenti tepat di depan kamar Sella yang langsung membuka lebar kamar itu. Aroma kamar begitu terasa harum di hidung Reza yang kini rasa rindu pun datang merasuki ketika kenangan bersama Sella hadir.


"Apa iya elo serius suka sama gue? Sementara gue tau elo sejak awal gak suka sama keberadaan gue." gumam Reza, yang masih ragu membuatnya masih menyepelekan perasaan Sella.


Reza pun keluar dari rumah itu dengan otak yang terus berusaha mencerna keseriusan pengakuan Sella yang saat itu terabaikan begitu saja.


"Tapi gue serius suka sama lo."

__ADS_1


Kalimat itu terus terngiang-ngiang di kepala Reza.


Dilain tempat..


Sella melangkah menuju dapur karena rasa lapar semakin menyerang dan sudah tak tertahan lagi hingga membuat dirinya mengharuskan untuk segera mengisi sang perut. Sella memang belum makan selama pulang dari Bali, ia hanya menangis dan menangis saja tanpa kenal lelah.


Saat Sella sudah meminta disediakan makanan, dia mendengar Udin sedang bertelpon ria.


Sella mendekat dan menyelidiki, "Telpon siapa?" tanya Sella.


"Tinah non!" jawabnya.


"Boleh pinjem?" pinta Sella.


"Boleh, silahkan non! Tapi bentar aja yah, cuma dikit pulsa nya. hehehe.." katanya dengan cengengesan.


"Iya deh gue ganti, perhitungan banget sih" ketus Sella.


Maklum, emosi Sella masih naik hingga tak dapat tahan bila ada yang menyinggung perasaannya.


"Bercanda non!"


"Halo Tinah!"


"Eh non Sella! Gimana keadaan non sekarang, udah baikan?"


Walau tidak akan bertemu, tetapi usaha itu seakan meluluhkan kekecewaan Sella terhadap Reza. Namun sayang Sella malah mendapat rasa sedih dengan jawaban Tinah.


"Enggak non, mas Reza gak kesini" jawab Tinah membuat Sella kecewa dan langsung menyodorkan handphoe kembali pada Udin.


"Makasih" ucap Sella lemah dengan kembali melangkah pergi.


"Loh non, makanan udah siap nih, apa mau di bawa keatas?" panggil Asih.


"Gue udah kenyang" tolak Sella.


"Makan apa non?" tanya sang pembantu, heran.


"Makan ati" pekik Sella, lantang.


"Lah si Non, perasaan Asih gak masak ati kok bilang kenyang makan ati?" bingungnya.


"Kamu beli makanan di luar ya, Din?" tanya Asih.


"Enggak.. Kan tadi aku makan masakan kamu, ayam goreng sambel teri."


Asih menggaruk kepala bingung, "Ati dari mana ya?"

__ADS_1


"Pacaran mulu, sana kerja Din." tegur Asih saat dirinya kesal memikirkan soal ati yang di makan Sella, ditambah melihat Udin yang asik pacaran dengan Tinah.


Brukkk..


Pintu kamar tertutup kencang.


Sella menjatuhkan tubuhnya keatas kasur karena kesal pada Reza yang memang tak pernah perduli padanya.


"Pasti lo lagi berduaan sama Dila, kan? Gue sakit hati pun elo gak nggak ngerasa bersalah sama sekali, emang dasar timun busuk lo Reza." maki Sella dengan linangan air mata kesedihanan.


...*****...


Marsella masih meringkuk di atas kasurnya, setelah semalaman tidak berhenti menangis. Matahari pagi sudah terbit namun ia masih saja bergelut dalam balutan selimut.


Lagi dan lagi sang ibu lah yang mesti naik keatas kamar untuk membangunkan anak perawannya itu.


"Sella! Ayo bangun sayang, bentar lagi mau ada yang datang dari Bali!" serunya membuat Sella langsung terbangun.


Kesegaran merasuki bola mata yang sebelumnya masih ngantuk, kini telah terbuka lebar.


"Bali? Siapa mah?" tanya Sella, penasaran.


"Emmm.. Ada deh! Nanti juga kamu tau" tutur ibunya dengan berlalu pergi meninggalkan Sella yang mati penasaran.


"Bali.. Siapa sih?" gumam Sella penasaran, "Apa maksud mamah, itu Reza?!" seru Sella yang langsung bersemangat.


"Kalo bener Reza, gue harus cepet-cepet mandi buat sambut kedatangan dia," katanya yang bergegas meninggalkan kasur dengan beranjak ke kamar mandi.


Setelah siap dengan berdandan cantik, Marsella berharap Reza akan terpikat ketika melihatnya yang tampak menawan hati.


Tetapi sayangnya bola mata Sella harus membulat dan langkahnya terhenti saat yang dilihat bukan sosok Reza melainkan Tinah pembantunya yang datang dari Bali.


"Tinah?" pekik Sella dengan mengeryitkan kedua alisnya.


"Halo non Sella yang cantik!" sapa Tinah.


"Ngapain lo ke sini?" tanya Sella heran.


"Ikh.. Non kok gitu sih, emangnya gak boleh? Tinah kan kangen sama situ non!" ringis Tinah, bernada kecewa.


"Hah.. Sejak kapan lo kangen sama gue? Yang ada lo kangen sama Udin di rumah ini." sindir Sella yang diiringi senyum malu di wajah Tinah.


Terlanjur kecewa saat yang diharapkan bukanlah Reza, akhirnya Sella kembali arah menuju kamar hingga membuat Tinah heran.


"Non, kok balik lagi sih. Sambut Tinah kenapa non." rajuk Tinah.


"Males gue, biar si Udin aja yang sambut kehadiran lo sana!" seru Marsella ketus.

__ADS_1


"Ya elah ini majikan ketus amat yah? Tinah lempar mas Reza baru tau nyaho tuh si non Sella, hihihi.." Tinah tertawa gemas karenanya.


__ADS_2