Cinta Berjuta Rasa

Cinta Berjuta Rasa
Cinta Rasa Timun #7


__ADS_3

Pertengkaran Marsella dan Reza terus berlanjut bahkan setelah Dila memutuskan pulang lebih dulu, hingga kini keduanya telah berada di rumah.


Reza menarik tangan Sella ketika sang gadis hendak masuk kedalam kamar. Mereka pun saling bertatapan tajam, dan memasang wajah penuh emosi.


"Apa?" sungut Sella.


"Gue gak suka lo buat hati Dila sedih." cetus Reza membuat Sella menyipitkan bola matanya.


"Apa urusannya sama gue?"


"Tadi Dila itu sedih makannya dia mutusin buat pulang lebih dulu, karena lo Sella" protes Reza.


"Gue juga gak suka lo paksa gue tadi" balas Sella dengan mencibirnya.


"Tapi senggaknya gak harus buat dia sedih, kan?"


Dalam hati Sella, "Cih.. Padahal yang harusnya marah gue, kenapa dia malah marah cuma karena si Dila sedih?"


"Gue kan cuma tolak tawaran dia, kok diperbesar sih? Jadi orang baperan amat" ketus Sella yang menghempaskan napas.


"Nolak ya udah nolak aja, gak harus buat dia sedih juga"


"Nggak jelas lo. Heran deh gue sama lo, harusnya elo seneng gue gak ikut gabung kalian biar bisa leluasa. Tapi tadi lo malah sempet nuduh gue nipu kalian, apa coba maksudnya?"


"Gue cuma mastiin apa bener yang telpon tadi pacar lo apa bukan" Reza mengakui.


"Apa hak lo mau tau urusan orang? Urus aja urusan lo sendiri tanpa ganggu hidup gue, paham lo?" saran Sella, sinis.


"Oke kalo itu mau lo dan gue juga mau elo berbuat sesuatu, karena gue cinta sama Dila jadi gue saranin sama lo buat jaga sikap ke dia." pinta Reza dengan tegas.


"Kalo gak suka kenapa masih disini? Dari awal gue juga gak suka elo ada di sini, kenapa gak masing-masing aja?" sungut Sella penuh amarah.


Sontak Reza menatap sedih ketika Sella mengutarakan kalimat itu. Dengan segera Reza pergi masuk kedalam kamarnya dengan termenung di depan cermin.


Sella membuka pintu kamar dan masuk kedalam dengan seribu kata yang mulai terkunci. Dan mulai menyesali atas apa yang telah terucap untuk Reza. Sejak tadi Sella terus terngiang pertengkaran beberapa menit yang lalu, hingga akhirnya ia baru tersadar bahwa kata-kata terakhirnya itu bisa saja di salah artikan oleh Reza karena mengira telah mengusir dari rumah.

__ADS_1


Bruk..


Marsella mendengar suara pintu terbuka dan tertutup kembali dengan sangat kencang. Lalu terdengar suara roda koper yang ditarik oleh seseorang yang Sella yakini bahwa itu adalah Reza.


Terlihat kepanikan dari Sella yang tak tau harus bagai mana dengan kekacuan yang telah dibuat oleh dirinya sendiri. Sella mengintip dari balik jendela dan langsung mendapati Reza yang juga mengarahkan pandangan menuju jendela dimana Sella berdiri. Dengan cepat Sella menarik diri agar tak terlihat oleh Reza, dan akhirnya air mata mulai jatuh perlahan ke pipi Marsella.


"Bukannya ini keinginan gue, kenapa gue harus nangis kayak gini? Hiks.. hiks.." isak tangis Sella, yang menjatuhkan tubuh lemahnya di sisi tempat tidur.


...*****...


Beberapa hari berikutnya.


Sella melangkah menuju kolam renang ia berbaring di kursi santai dengan asik mendengarkan musik lewat handset terpasang di telinganya.


Untuk melengkapi kenyaman hati yang sempat sedih karena Reza, perlahan Sella meletakkan timun ke mata hingga ia pun dapat merasakan kesegarannya.


Beberapa hari ini Sella sudah merasa baikan dan kembali pada tujuan awalnya, berlibur dengan tenang tanpa gangguan.


Tetapi ketenangan sesaat terganggu saat Sella merasakan ada seseorang yang telah berdiri dihadapannya dan hendak mengambil timun dari kelopak mata, reflek Sella memegang tangan orang itu dengan memanggil nama Reza.


"Reza!" seru Sella senang, yang bergegas bangkit dari posisinya namun wajah sedih terukir saat ternyata Tinah yang berada dihadapannya.


Sella meraih dengan tatapan kosong dan sesaat melamun, mengingat kembali kejadian dimana Reza mengambil timun darinya yang langsung di makan tanpa rasa jijik.


"Lo gak boleh inget dia lagi Sella, apus dia dari otak lo segera mungkin." tegasnya, berusaha.


...*****...


Hari lainnya..


Sella menuruni anak tangga dengan langkah pelan, tetiba saja menghentikan langkahnya saat Tinah memanggil.


Tinah mendekat dengan sekantong plastik berisikan timun, " Non.. Mas Reza kan udah gak ada, terus timun-timun ini mau digimanain?" tanya Tinah, bingung.


"Kalo lo gak suka ya elo buang aja, bereskan?" tukas Sella dengan sikap tak perduli.

__ADS_1


"Sayang kalo dibuang, kan?" ringis Tinah.


Marsella berjalan melangkah di sekitaran rumah, mencari sesuatu yang dapat mendamaikan perasaannya.


Karena bagi Sella, kini dirinya harus bisa melupakkan Reza yang bukan hanya telah menganggu liburan dan hidupnya. Bahkan semakin Sella berniat melupakan semakin keras ingatan sosok Reza datang mengganggu.


Saat berjalan santai pun Sella mendadak kembali terngiang saat awal pertama dirinya bertemu dengan Reza hingga membuat pertengkaran kecil. Pertengkaran-pertengkaran selama bersamanya telah membuat rasa rindu mengusik jiwa dan raga Sella. Yang akhirnya lagi dan lagi air mata pun jatuh ke pipi tanpa Sella sadari.


"Kenapa lo? Inget mantan yah?" tegur seseorang yang sedang berjalan tak jauh darinya.


Sella menoleh sengit, "Jangan sok tau dengan apa yang bukan urusan elo." cetus Sella yang segera pergi kembali kearah rumahnya.


"Cantik-cantik kok jutek.. Pantes aja ditinggal cowoknya pergi, huh!" ejek lelaki tadi.


Sekembalinya..


Sella membanting pintu dan langsung menuju keatas kamar. Tinah yang mendengar Sella menangis, bergegas mengejar dan ingin mengetahui apa yang telah terjadi.


"Non kenapa, sakit?" tanya Tinah panik.


"Gue gak apa-apa kok! Hiks.." sahut Sella dengan sesenggukan.


"Apa non mau saya buatin sesuatu?" tanya Tinah menawarkan.


"Nggak, makasih." tolak Sella.


Tinah meninggalkan Sella dalam kamar dan membiarkannya berlarut kesedihan.


"Kasian non Sella, dulu ceria sekarang malah menderita." gumam Tinah penuh iba.


Malem hari..


Setelah menangis terlalu lama, Sella ketiduran dan mulai membuka mata ketika haus mendera. Dia tak melihat air sedikit pun didalam gelas diatas mejanya, karena itu Sella berniat pergi ke dapur.


Namun sayang, langkah kaki Sella terpaku dihadapan pintu kamar Reza. Kesedihan Sella yang belum pulih harus kembali terkoyak hanya dengan menatap pintu kamar Reza. Dirinya pun heran dan bertanya-tanya akan sosok Reza yang seolah tak mau pergi dari pikirannya.

__ADS_1


"Kenapa sih bahkan cuma liat kamar lo aja gue bisa nangis gini?" gerutunya.


Sella membuka pintu kamar itu yang kini rapih tak berpenghuni lagi. Perlahan Sella menjatuhkan tubuh keatas kasur dan mulai menumpahkan tangisan sejadi-jadinya, menumpahkan segala kesedihan atas kehilangan sosok Reza yang telah dirindukan.


__ADS_2