
Hiks... Hiks... Hiks... Hiks...
"Reza.. Hiks.."
Tangisan Sella begitu nyaring saat dirinya baru saja terbangun dari mimpi masa silam, saat di mana Reza mengalami sebuah kecelakaan hingga menyebabkan kematian yang tak bisa di tolak lagi. Yah walau pun Sella tak rela dengan kepergian Reza, tetapi dia tidak bisa menghalangi kepergian sosok suami nya itu.
"Kamu baik-baik aja kan, sayang?" tanya Biam yang terbangun saat mendengar tangisan Sella. Hanya gelengan kepala Sella untuk menjawab pertanyaan itu.
Yah! Biam adalah suami Sella kini, setelah kepergian Reza yang mengisahkan kepiluan di hidup Sella yang sangat-sangat terpuruk atas kepergian mendiang suaminya itu, membuat keluarga Sella meminta Baim menggantikan sosok Reza untuknya. Karena bagaimana pun Baim begitu telaten menjaga dan menghibur Sella selama kehilangan Reza.
Baim mengelus pundak Sella, mencoba menenangkan perasaan istrinya yang baru saja bermimpi buruk.
"Aku... Aku mimpi kecelakkan Reza lagi Im!" sahut Sella yang kembali membuat Baim kecewa mendengar pengakuannya itu, karena sudah terlalu sering sekali Sella mengingat Reza padahal kepergian Reza sudah masuk tahun ketiga, dan sampai saat itu juga Sella tidak pernah melupakkan mendiang Reza sekali pun telah menikah dengannya.
"Sel! Kenapa kamu selalu memikirkan dia? semua itu udah berlalu sejak tiga tahun lalu. Aku tau semua itu sulit, tapi ini semua demi rumah tangga kita Sella!" tutur Baim, sedih.
Sella menyadari bahwa dirinya sudah tidak adil pada sang suami, Baim. Tetapi hati dan rasa cinta pada Reza tak pernah dapat ia hindari walau pun sang mantan suami telah tiada.
"Maaf Im, aku gak bermaksud untuk mengingat Reza hanya aja mimpi itu hadir terus dalam tidur ku. Tapi gimana pun juga wajar kan kalo dia hadir di mimpi?" lirih Sella meyakinkan, namun dalam hati ia merasa bersalah karena masih tidak mampu menghapus bayang-bayang sosok Reza.
"Sella! Mimpi hadir saat kamu selalu memikirkan dia, hingga sosok itu terbawa dalam mimpi kita. Aku pernah di posisi kamu, tapi aku bisa bangkit dari kesedihan saat kehilangan Dila dan kamu pun pasti bisa menerima kepergian Reza, bukan?" terang Reza bijak.
"Aku ingin kamu belajar untuk melupakan masa lalu, agar kamu gak sedih lagi mengingat kejadian waktu itu, yah?" pinta Baim.
__ADS_1
"Aku janji akan melupakkan dengan sepenuh hati Im, karena kamu adalah suami aku dan bakal jadi ayah calon anak kita" ucap Sella meyakinkan, namun Sella masih bimbang dengan keputusannya itu.
Dalam hati Sella, "Mampukah, aku melupakan Reza? Sementara cinta di hati masih jadi pemiliknya."
"Sel! bukan aku bermaksud jahat, tapi ini sudah waktunya kamu bangkit dan menata masa depan bersama ku, lupakan Reza yang sudah tenang di alam sana. Bukan nya kamu selalu bilang gitu waktu aku sedang terpuruk?" pinta Baim, seraya mengingatkan.
"Aku janji Im, aku akan berusaha semampu aku." Sella meyakinkan dan langsung memeluk tubuh Baim.
"Terimakasih kamu mau mengerti dengan keinginanku, bukan demi aku Sella, tapi demi kita semuanya." bisik Baim seraya mengelus rambut Sella dengan kelembutan.
Esok hari ..
Sella dan Baim menuruni tangga dengan sangat pelan. Sella berusaha menjalankan setatus nya sebagai istri, ya itu dengan menggandeng mesra tangan Baim menuju meja makan yang mana sarapan telah tersedia di sana dan keduanya memulai sarapan dengan tenang.
Baim merasakan bahagia saat kini Sella mengerti dengan keingin dirinya untuk dapat melupakkan Reza, yang mana sudah di inginkan Baim sejak awal menikah dengan Sella.
Setelah keduanya selesai sarapan, Sella pun mengantar Baim kedepan rumah, dengan kecupan mesra Baim pun berpamitan pada istrinya itu.
"Aku pergi kerja dulu, jaga kandungan mu yah sayang?" pinta Baim.
"Mmh.. Cepat pulang, karena aku gak mau tidur sendirian!" kata Sella memelas, Baim pun berlalu meninggalkan Sella yang mengendus pasrah ketika harus di tinggal suami bekerja.
"Jaga dan lindungi dia tuhan, jangan sampai kejadian Reza terjadi pada Baim. Sesungguh nya aku tidak ingin kehilangan untuk kedua kali nya" gumam Sella dalam doa, ia pun kembali kedalam dan melihat Tinah yang sedang merapihkan meja. perlahan ia pun mendekat dan membantu membereskan bersama Tinah.
__ADS_1
"Nggak usah non, Tinah bisa beresin sendiri. Mending non Sella duduk aja!" pinta Tinah.
"Lumayan bantu gerak, kan kata dokter harus banyak gerak biar lancar pas persalinan nanti." Sella mengungkapkan.
"Tapi yang ringan aja, kalo sampe kenapa-napa sama non Sella? Abis Tinah di kulitin sama suami non itu." kata Tinah, Sella hanya tersenyum mendengar itu darinya.
"Tin! Nanti ini mau masak apa?" tanya Sella
"Maunya sih semur timun non, abis semenjak non Sella nikah sama mas Baim, Tinah gak pernah buat masakan itu." keluh Tinah, "Non, boleh yah Tinah bikin itu? Sekali aja!" rengek Tinah, memohon.
Tinah tau, kerinduan terpendam Sella pada mendiang suaminya. Namun semua itu terhalang karena Baim yang terus melarang Sella untuk mengingat sosoknya.
"Jangan Tin! Gue gak mau mengungkit masa lalu lagi, karena gue harus ngelupain Reza dari sekarang untuk selamanya, demi Baim!" terang Sella, berlapang diri.
"Kenapa begitu? Biar pun mas Reza udah gak ada tapi tetep aja dia cinta sejati non Sella, mana bisa di lupain gitu aja?" protes Tinah.
Tentu lah Tinah adalah tim Reza bukan Baim, karena itu sejak Sella menikah lagi dirinya tidak suka pada Baim bahkan sebelum mereka menikah Tinah sudah tidak senang akan sosok Baim.
"Tapi Baim? Gue gak mau dia gak nyaman karena hal itu Tin. Hidup untuk sekarang dan kedepan, bukan kebelakang." Sella berusaha bijak.
"Bagai mana pun juga mas Reza pernah mengisi hati non Sella, masa mau di lupain gitu aja? kan gak adil non, sementara cinta non Sella sama mas Reza masih ada bahkan sampai detik ini pun." Tinah tak terima.
"Yang lo bilang emang bener, tapi ngeliat dia sedih karena gue belum bisa lupain Reza, itu buat gue kasian sama dia Tin. Gimana pun juga udah keputusan gue, dan elo harus bantuin gue loh Tin bukan malah terus-terusan bikin gue sama Baim ribut karena sikap lo ini." pinta Sella, mengingatkan.
__ADS_1
"Emang yakin bisa?" sindir Tinah yang berlalu meninggalkan Sella yang terdiam kaku.
Sesaat terdiam, lalu bergumam dalam hati, "Apa aku bisa melupakan Reza? Bisa.. Harus bisa tentunya, kamu bantu mamah ya nak?!" gumam Sella yang meminta dukungan pada calon anaknya.