
"Kami sudah berusaha lakukan yang terbaik, hanya saja tenaga pasien sangat lemah sehingga kami tidak dapat menolongnya lagi" terang Dokter yang membuat mereka tercengang kaget.
Mereka pun langsung berlarian menuju kedalam, memastikan akan kebenaran ucapan sang dokter. Di dalam hati ketiganya mengharap bahwa ucapan itu hanyalah kesalah pahaman saja.
"Dila bangun" Sella memanggil.
Memekik, "Ini gak bercandakan Dila?" Reza tak percaya.
"Dilaaaaaaaa.." teriak Baim yang langsung memeluk tubuh lemah milik kekasihnya itu, saat dirinya meyakini bahwa Dila sudah benar-benar tak bernyawa lagi.
Sella mengalirkan air matanya dan masih tak percaya dengan kepergian Dila yang begitu mendadak.
Hiks.. Hiks.. Hiks..
SelIa memeluk tubuh Reza yang juga terdiam kaku melihat sahabat dan keluarga jauhnya itu tak lagi hidup di dunia bersamanya.
"Dilaa, jangan pergi Dila! Jangan tinggalin gue Dila" rengek Baim yang tak mau kehilangan kekasih hatinya.
...*****...
Hari berikutnya..
Dila telah di kebumikan, dan telah tenang di alam bawah tanah. Namun, kepergian Dila sangat meyakitkan dan nyisakan tangisan mendalam bagi yang menyayanginya.
Semua orang yang mengenal Dila, senang dan bahagia bila di dekatnya. Namun kini dia telah pergi untuk selamanya karena sebuah penyakit mematikan yang di derita Dila selama ini dan tidak pernah ia mengumbar akan sakitnya itu pada orang terdekatnya sekali pun.
Bukan hanya orang tua Dila yang di rundung duka, bahkan Baim terlihat lebih terluka atas kehilangannya. Kini Baim sedang tertunduk di hadapan kuburan Dila, sementara Sella dan Reza berdiri di sampingnya dengan posisi Sella menyender ke bahu Reza.
"Kenapa lo pergi tinggalin gue gitu aja sayang? Kenapa lo hancurin semua harapan gue atas elo? Kenapa lo tega Dila, kenapa.. Hiks.." tanya Baim penuh kekecewaan, dan kecewanya makin bertambah saat tak ada jawaban dari pertanyaannya itu.
Rancaunya lagi, "Gue gak mau kehilangan lo Dila__ Gue___ Hiks..." Baim tak dapat berkata-kata lagi yang langsung Reza membangunkan tubuh Baim dan menatap matanya yang sayu itu.
__ADS_1
"Baim.. Lo harus sabar, semua ada hikmah di balik kepergian Dila." tutur Reza menenangkan.
"Elo gampang bilang begitu, sementara gue yang kehilangan dia. Apa bisa semudah itu? Elo gak akan bisa ngerti apa yang gue rasain karena Sella masih ada di hadapan lo." lantangnya.
"Sorry.. Gue cuma mau elo gak terus berlarut, Dila pun pasti gak suka liat lo kayak gini." kata Reza mengingatkan.
"Sebaiknya kita pulang sekarang" ajak Sella ketika sudah tak ada lagi siapa pun di sana selain mereka bertiga. Mereka pun mengajak Baim pergi meninggalkan pemakaman setelah sebelumnya menolak untuk beranjak dari tempat peristirahatan Dila.
...*****...
Seminggu berlalu setelah kepergian Dila. Masih dalam suasana berkabung, Sella Reza dan Baim selalu datang di rumah duka, namun Reza terpaksa harus pergi karena dirinya tidak mungkin meninggalkan pekerjaannya lebih lama lagi.
Perlahan Reza mendekat pada Sella yang sedang mencoba menghibur keadaan Baim.
"Sayang! Gue harus pulang, jadi jagain Baim dan tenangkan hatinya. Gimana pun juga dia akan sulit melupakan mendiang Dila. Mau kan?" pinta Reza yang disambut anggukan Sella yang langsung memeluk kekasihnya itu.
"Soal Baim, gue akan berusaha buat dia gak larut dalam kesedihan. Elo tenang aja, kalo ada apa-apa kabarin gue yah?" Sella mengingatkan.
"Gue juga!" sahut Sella dengan perlahan melepas pelukannya.
"Baim.. Maaf yah gue gak bisa di samping lo, karena gue harus segera balik. Tapi Sella akan ada di samping lo, dia akan bantuin lo." tutur Reza yang ditanggapi anggukan pelan.
"Gue harap elo bisa tenangin hati lo, biar Dila tenang dialam sana" lanjut Reza yang masih ditanggapi anggukan kepala nya saja.
"Dan semua gue serahin ke Sella jadi kalo lo minta sesuatu tinggal bilang sama Sella buat bantu lo, gue pamit yah?" tambah Reza.
"Thanks!"
Hanya itu yang dapat keluar dari mulut Baim. Dan Reza pun memaklumi reaksinya itu.
"Hati-hati di jalan, jaga diri lo di sana baik-baik." pinta Sella yang membuat Reza kembali memeluknya dengan erat. Setelah puas, akhirnya ia pun dapat pergi meninggalkan Sella dan Baim walaupun dengan perasaan segan.
__ADS_1
"Baim.. Udah yah jangan sedih lagi, gue akan selalu ada buat lo. Sekarang elo harus istirahat setelah gue bawa lo makan, mau yah?" ucap Sella membujuk Baim yang masih merenung semu.
"Apa dengan itu Dila bisa kembali?" tanya Baim. Tentunya pertanyaan yang lumrah keluar saat seseorang sedang di landa kehilangan orang yang amat sangat di cintainya.
"Senggaknya elo bisa ada tenaga buat inget dia besok-besok" kata Sella yang mana dengan tiba-tiba Baim langsung memeluk erat Sella yang pasrah membiarkan Baim memeluk dirinya sangat erat.
Dalam hati Sella, "Gue pun akan melakukan hal yang sama seperti yang di alami Baim sekarang." seraya mengelus kepalanya lembut.
Hari-hari Sella kini selalu sibuk menenangkan Baim yang masih saja terpuruk dalam kesedihan karena kehilangan Dila. Dan ternyata ia mengidap sakit paru-paru yang selalu di tutupi dari Baim bahkan orang tuanya pun tak tau menau akan penyakit yang sudah bernaung di dalam hidup Dila, hingga kini ia telah pergi meninggalkan semua keceriaan yang selalu di buatnya bukan kesedihan atau keluhan dari sosok Dila selama hidupnya di dunia ini.
"Baim! Sampai kapan lo gak mau kuliah?" tanya Sella yang sedang duduk di taman bersama Baim yang hanya melamun dengan sebuah foto Dila di genggamannya.
"Sampai Dila kembali kesini." tutur Baim dengan pandangan semu.
"Baim, sadar dong Dila udah meninggal dan gak akan pernah bisa balik lagi ke dunia ini" ketus Sella, kesal.
Memekik lantang, "Dila gak mati, dia hidup, dia gak mungkin mati, karena dia udah janji buat kabulin permintaan gue yang ingin menikahi dia di tahun depan. Jadi dia gak mungkin pergi gitu aja Sella." Baim naik pitam pada ucapan Sella.
Hanya Sella yang dapat tahan dengan keadaan Baim saat ini. Orang tua dan keluarga besarnya sudah lepas tangan, juga mengharapkan kebesaran hati Sella untuk membimbing Baim kembali pada kenyataan hidupnya.
"Baim.. Elo harus bangkit bukannya terputuk kayak gini terus menerus, Dila pasti sedih liat lo kayak gini. Dia gak akan pernah pergi dengan tenang Baim." tutur Sella yang langsung tersungkur jatuh karena Baim mendorong tubuh nya dengan kasar.
"Awhh.."
Rintihan suara Sella yang membuat Baim sadar dan langsung menolong Sella untuk berdiri.
"Maafin gue Sel, gue gak sengaja. Lo gak apa-apa kan?" sesal Baim.
"Ya nggak apa-apa!" sahut Sella berusaha menyembunyikan baretan di tangannya.
"Tadi itu gak bisa di bandingan dengan luka hati lo, Im." kata Sella yang harus tercengang saat Baim memeluk dirinya dengan erat.
__ADS_1
"Gue belum bisa lupain dia, Dila gak akan mati di dalam hati gue Sel, gue sayang sama dia, gue kangen sama dia, hiks.. Hiks.." aku Baim yang kembali menangis.