Cinta Berjuta Rasa

Cinta Berjuta Rasa
Cinta Rasa Timun #12


__ADS_3

Reza memasuki gerbang rumah Sella dan langsung turun dari mobil, kedua mata Reza terpaku saat melihat mobil putih berhenti dan keluarlah sosok Marsella dari dalam mobil.


"Makasih ya Baim, sampe ketemu besok!" ucap Sella yang melambaikan tangan ke Baim yang kembali melajukan mobil meninggalkan Sella yang masih berdiri mematung menatap kepergiannya.


"Siapa tuh?" tanya Reza, menyelidik.


"Mau tauuuuuu aja!" seru Sella dengan menatap sengit dan berlalu meninggalkan Reza.


"Cewek kan, bukan cowok?" tanya Reza menyelidik dan mengikuti arah langkah Sella yang telah masuk kedalam rumah.


"Kenapa sih, lo mau tau banget?" bentak Sella dengan menepis tangan Reza yang hendak menggandeng padanya.


"Emang gak boleh kalo gue tau?" cetus Reza membalas bentakkan nya, "Kali aja itu cewek, dan sekarang lo malah jadi Males" sindir Reza.


"Males? Apaan males?" tanya Sella tak mengerti.


"Manusia lesbi!" tutur Reza yang langsung merintih sakit saat dengan geram Sella menginjak kakinya.


"Awh.. Sakit tau.." rintih Reza ,meringis kesakitan.


Bernada lantang, "Rasain tuh.. Jadi orang jangan asal tuduh, enak aja bilang gue jadi les biola. Kayak gak ada cowok lain aja, emang nya cowok di dunia ini cuma elo? Heh, ngaca dong ngaca.. Masih banyak kali cowok di dunia ini yang bisa gantiin lo di hati gue, cuwih.." sindir Marsella.


Menghela napas sesaat dan kembali melanjutkan ucapan nya, "Lagian dia itu cowok dan nama dia Baim. Dan elo harus catet, bentar lagi gue pacaran sama dia, jadi jaga mulut lo buat bilang gue, apa tadi, Males? Hahaha, paham?" bentak Sella seraya berlalu meninggalkan Reza yang masih merintih sakit.


"Gitu aja marah, gak bisa diajak bercanda banget sih lo" ringis Reza.


"Ya ampun! Mas Reza kenapa?" tanya Tinah, berusaha membantu mentatih Reza saat masuk kedalam.


"Itu tuh, si jutek yang udah buat kaki gue sakit. Mana dia pake hak tinggi, alamat memar kaki gue pasti" ringis Reza.


"Kenapa emangnya, pasti nih mas Reza duluan yang buat non Sella marah, kan?" tanya Tinah, menduga-duga.


"Udah deh, lo jangan banyak tanya. Siapin gue timun 5 biji biar kaki gue sembuh, sekarang gak pake lama." gertak Reza membuat Tinah langsung bergegas menuju dapur.


"Orang aneh.. Mentang-mentang doyan timun, sampe kaki sakit aja sembuhnya pake timun" gumam Tinah, geleng-geleng kepala.


Didalam kamar, Reza merenung dengan siasat yang akan digunakan untuk menghadang kisah asmara Sella dan Baim terjalin.


"Gue harus bisa buat Sella gak jadian sama Baim, gue harus buat mereka jauh yang akhirnya gue bakal dapetin hati Sella dan buat dia jadi milik gue seutuhnya." guamam Reza dengan tersenyum bangga.


Krekk..


Suara pintu terbuka dengan cepat Reza menoleh dan menatap wajah Sella yang tersenyum untuknya.

__ADS_1


"Tumben lo senyumin gue?" tanya Reza heran.


Suara lembut, "Kenapa, gak boleh?" tanya Sella dengan mendekat pada Reza.


Sepontan, "Gue suka banget liat senyum lo!" ungkap Reza, memalu.


Penuh kelembutan, "Owh yah? Mengandung gula ya senyuman gue? Kalo gitu gue kasih lo hadiah, mau?" tanya Sella yang ditanggapi anggukan kepala antusias Reza.


Namun dengan kesal Sella langsung melempar puntungan timun kearah nya, "Makan nih hadiah dari gue" ketus Sella.


"Iiikkhhh, apa-apaan sih lo?" pekik Reza kecewa, yang terlanjur berharap lebih.


"Elo tuh yang apa-apaan? Sampe buang puntungan timun ke kamar gue dengan sesuka hati, emangnya kamar gue tempat sampah?" bentak Sella, geram.


"Ye.. Siapa juga yang lakuin? Jangan asal tuduh gue gitu aja tanpa bukti dong." pinta Reza, memanyunkan bibir tanda kesal.


"Hah.. Siapa lagi yang suka sama timun di rumah ini selain lo?" tuduh Sella.


"Bukan gue ya bukan gue, gimana sih lo!" sungut Reza makin kesal.


"Awas lo yah, kalo sekali lagi buang timun-timun lo di kamar gue, gue cincang abis tuh tubuh lo biar gue semur sekalian sama sisa timun lo." ancam Sella yang membuat Reza mengeryitkan wajah mendengarnya.


"Lagian siapa sih? Kan bukan gue yang lakuin hal itu, mentang-mentang gue suka makan timun jadi gue yang disalahin sama si Sella" gerutu Reza, bingung.


...*****...


Bahkan Reza telah berusaha mendekati Sella dengan segala cara apa pun telah di lakukan, namun tetap saja Sella selalu tidak menanggapi.


Keusilan Reza yang lain, membuat Sella gerah bila Baim sedang berkunjung ke rumah, karena dia akan berusaha mengganggu. Sehingga Sella pun terus mengusir keberadaan sosok Reza diantara dirinya dan Baim.


"Heh.. Ngapain sih lo di sini?" bentak Sella saat tiba-tiba saja Reza datang mendekat, dimana Baim baru saja tiba.


"Kenapa gak boleh?" cetus Reza mencibir.


"Dia tamu gue, jadi gak ada urusan buat elo ikut nimbrung di sini, kan?"


"Tapi inikan tempat buat umum, jadi gue mau duduk di sini atau nggak itu bukan hak lo?" sindir Reza.


"Tapi kewajiban buat gue untuk ngusir lo" sungut Sella, geram.


"Udah udah jangan berantem, kayak anak kecil aja deh kalian!" tegur Baim melerai.


"Itu karena Reza doyan ganggu mulu, gimana kalo kita pergi keluar aja?" ajak Sella pada Baim.

__ADS_1


"Nggak usah, gue harus cepet pulang lain kali aja deh" tolak Baim yang membuat Sella kecewa.


"Kan baru dateng, kok mau pulang gitu aja?"


"Niat gue cuma mampir liat elo doang, sekarang gue udah liat lo jadi saatnya gue pulang"


"Sampe ketemu lagi Baim!" ucap Reza girang karena Baim akhirnya pergi juga.


"Semua karena lo, timun busuk." cetus Sella dengan melempar bantal kecil ke muka Reza.


Dalam hati Reza, "Sorry Sella! Gue harus lakuin itu agar lo gak jadian sama dia." guman Reza yang menatap Sella pergi.


Esok hari nya..


"Non mau pergi ke mall yah?" tanya Tinah yang membuka pintu tanpa mengetuk.


"Iya, kenapa?" Sella balik bertanya yang sudah siap menenteng tas.


"Tinah mau titip dong" pinta Tinah memelas.


"Boleh, lo mau apa?" tanya Sella.


"Parfum kayak punya non itu, enak wanginya nampol di idung!" kata Tinah.


"Mahal kalo elo mau beli!" seru Sella dengan berjalan keluar kamar.


"Berapa non mahalnya itu?" tanya Tinah mengikuti langkah kaki Sella.


"Jutaan perbotolnya tau" jawab Sella.


"Gila! Mahal amat non, gak bisa di tawar gitu?" polosnya.


"Lo kira beli sayur di pasar yang bisa di tawar sama lo. Udahlah jangan sok-sokan beli deh, biasa pake menyan juga lo." sindir Sella membuat Tinah memanyun kesal.


"Kalo gitu punya non buat Tinah aja yah non, trus non Sella beli lagi yang baru." pintanya.


"Enak aja kalo ngomong" tolak Sella.


"Ya elah non pelit amat sama Tinah ini non" ringis Tinah kecewa.


"Gue tuh gak pelit, tapi penulisnya aja yang jadiin gue pelit Tinah" sungut Sella mencibirnya.


"Plis non!"

__ADS_1


"Ya udah sana ambil aja" ucap Sella mengalah.


"Asiiikkk... Makasih non Sella yang baik hati dan tidak pelit!" seru Tinah yang berlalu pergi menuju ke kamar Sella.


__ADS_2