
Dalam kebimbangannya itu, Sella memutuskan ingin keluar rumah untuk menghilangkan penat. Sekarang Sella sedang menghubungi Baim, untuk meminta izin dari sang suami.
"Boleh?"
"Besok aku temenin yah?" Baim menyarankan dalam penolakan halus.
"Mm.. Bentaran aja, mau sekalian liat-liat baju bayi!"
"Tapi harus hati-hati yah? Kamu kan lagi hamil besar, jadi harus inget?"
"Baik sayang ku!" manja Sella.
Setelah mendapatkan izin dari suaminya Sella pun pergi dengan di temani Udin yang menyetir mobil. Di sepanjang jalan entah kenapa sosok Reza kembali mengusik pikiran Sella.
Dirinya sengaja keluar rumah karena ingin menghilangkan sosok Reza dari pikiran, namun entah kenapa semakin mencoba menepis sosok Reza dari otak, semakin muncul bayangan mendiang suaminya itu.
"Kenapa lo gak bisa hilangin Reza dari otak lo sih Sella?" keluh Sella dengan berlinang air mata.
"Non Sella kok nangis? Mau balik ke rumah lagi?" tanya Udin, panik.
"Nggak usah terus aja jalan." tolak Sella.
Udin pun kembali fokus pada setir, tapi tiba-tiba mobil mendadak berhenti membuat Sella heran kenapa Udin menghentikan mobil.
"Kenapa Din?"
"Maaf non, mobil nya mogok!" ucap Udin yang membuat Sella kesal.
"Lain kali bawa ke bengkel Din, biar gak mogok lagi? Mas Baim tau pasti dia marah loh, kan elo tau marahnya dia kayak apa. Ya udah biar gue naik taksi aja, jadi lo urus semuanya di sini!" pinta Sella yang turun dari mobil.
Sella merogoh tas dan memencet tombol handphone yang di mana ia menghubungi Baim untuk memberitau keadaannya.
Menjadi suami Sella dan akan menjadi sosok ayah, membuat Baim lebih menjaga keduanya. Karena itu lah, tak boleh sekali pun Sella lupa untuk memberitaukan apa pun yang terjadi.
"Sayang! Mobil mogok, jadi aku naik taksi yah?" terang Sella.
"Gimana kalo aku jemput kamu?" saran Baim yang langsung di tolak Sella.
"Sayang! Kamu kan lagi kerja jadi gak usahlah, lagian nanti aku nunggu lama kamu lagi, mending naik taksi aja deh sekalian." jelas Sella.
"Ya udah! Hati-hati yah, inget jaga kandungan mu!" pinta Baim penuh perhatian.
"Iya bye!" tutup Sella yang langsung mencari taksi.
Tapi sayang, sejak tadi Sella tak mendapatkan taksi hingga ia pun melihat sebuah bus yang melintas di hadapan Sella yang mana dirinya tercengang kaget saat melihat sosok tak asing di dalam bus itu.
__ADS_1
"Tungguuu..." teriak Sella yang mengejar pelan bus itu.
Karena tak kuat untuk berlari, dia tak dapat mengejar cepatnya mobil bus itu. Sella terhenti saat merasakan sakit pada perut dan sudah lelah untuk melangkah.
"Nggak mungkin tadi itu dia, kan?" gumam Sella tak percaya.
Setelah pulang dari luar rumah. Kini Sella mendekam diri di dalam kamar, ia masih tak percaya dengan apa yang telah di lihatnya dalam bus.
"Kenapa sama gue ini, kenapa gue seolah liat dia sih?" ringis Sella, yang gusar.
Sella terus menepis pikiran itu dari dalam otak yang terus mengganggu dan takutnya akan membuat stres dan akhirnya berdampak pada si janin.
"Nggak.. Pokoknya gue harus ilangin pikiran ini. Maafin mamah yah nak, mamah udah mikirin hal-hal yang seharusnya mamah gak pikirin." Sella bersalah.
Malam hari..
Sella berdiri tegak dengan menyambut kedatangan Baim yang baru saja membuka pintu kamar.
"Malem sayang?" sapa Baim dengan mengecup kening Sella, dan mengelus perut buncit Sella.
"Malem juga anak papah?"
"Telat lagi, kenapa?"
"Hah.. Nggak kok, tadi cuma agak pusing aja tapi udah baikan" sangkal Sella, gugup.
"Kita makan malem yuk?" ajak Baim yang di setujui Sella.
Tinah melihat keduanya turun, tampak wajah Tinah yang tak suka pada kedekatan mereka berdua. Dia memang tak merestui pernikahan Sella dan Biam, namun apalah daya Tinah yang hanya dapat pasrah karena dirinya bukan lah siapa-siapa.
Tinah berharap suatu saat Reza akan kembali pada kehidupan dan pastinya kembali untuk Sella dan merajut kisah yang tertunda karena kecelakkan yang menyebabkan kematian pada Reza.
Dalam hati Tinah, "Apa mungkin kalo suatu saat mas Reza hidup kembali, tapi mana mungkin?"
"Makasih Tinah!" ucap Baim ramah, saat sudah duduk di hadapan meja.
"Sama-sama!" jawab Tinah datar yang berlalu meninggalkan keduanya.
Baim mulai menyendok hidangan kedalam piring untuk istrinya. Dimana Sella pun memberikan senyuman manis dan berkata, "Makasih yah sayang!"
"Gimana belanja tadi?" tanya Baim membuka percakapan di sela santapan.
"Cuma beli beberapa, gak nemu yang unik dan lucu!"
"Loh, yang pentingkan bisa dibutuhkan. Bukan harus liat unik dan lucu nya lah!"
__ADS_1
"Mmh.. Kamu kan seorang ayah bukan ibu, jadi gak akan tau sensasi nya memakaikan yang unik dan lucu-lucu ke anak bayi."
"Yah deh, aku ngalah sama istri ku ini!"
Dalam hati Sella, "Apa gue harus bilang soal itu yah?" gumam Sella saat kembali terbesit tentang apa yang telah terlihat di salah satu bus siang tadi.
"Sebaiknya nggak usah lah Baim tau, nanti dia malah marah dan mungkin aja itu hayalan dan ilusi gue aja" Sella pun mengurungkan niatan itu.
"Kok gak makan, kenapa? Gak selera?" tegur Baim yang menyadarkan lamunan Sella.
"Ah enggak.. Gak apa-apa kok, aku cuma kepikiran kalo besok aku mau ke rumah mamah papah, boleh yah?" izin Sella memelas.
"Boleh! Tapi setelah aku pulang kerja gimana?" saran Baim.
"Kelamaan dong aku kan bisa dianter Udin besok, yah?" bujuk Sella lembut.
"Kamu ini paling bisa buat hati aku luluh! Tapi inget harus selalu hati-hati yah?" pinta Baim yang tak jenuh untuk mengingatkan sang istri.
"Siap suami ku tercinta!" seru Sella yang tersenyum senang.
...*****...
Pagi yang cerah di sambut Sella yang entah kenapa hari ini dia sedang merasakan kesenangan yang belum pernah di rasakannya salam tiga tahun terakhir.
Setelah Baim pergi ke kantor, kini giliran Sella yang akan bersiap untuk pergi ke rumah orang tuanya.
"Non kalo mas Baim tau bisa abis Udin di kulitin"
"Ya makanya elo jangan bilang jadikan dia gak akan tau"
"Tapi kalo ada apa sama non dan kandungan non gimana?"
"Yeh elo sih pake ngarepin gitu, jangan dong, kalo kejadian gimana?"
"Ya bukan gitu maksud Udin non, tapi__"
"Gue nyetir pelan kok, tenang!" Dengan cepat ia menaiki mobil dan langsung melaju perlahan meninggalkan rumah.
Sepanjang perjalanan Sella terus menatap luar jendela mobil, melihat kepadatan kota Jakarta yang semakin ramai oleh mobil yang mengantri untuk bisa bebas dari kemacetan.
Pandangan Sella kembali tercengang saat ia harus melihat sosok yang di kenalnya lagi disebuah bus yang sama saat di liatnya kemarin siang.
Rasa penasaran Sella membuat dirinya keluar dari mobil yang sedang macet, ia melangkah meninggalkan mobil menuju bus itu dengan cepat tanpa memperdulikan kandungan yang akan bermasalah.
Antsuias, "Apaa itu dia?" gumam Sella yang langsung naik kedalam bus itu dan berjalan mendekat pada sosok yang membuat ia meninggalkan mobil dan berada di dalam bus itu dengan nekatnya.
__ADS_1