Cinta Berjuta Rasa

Cinta Berjuta Rasa
Cinta Rasa Pisang #3


__ADS_3

Jam pelajaran berakhir, di mana kini Azka duduk lelah di bangku kantin dengan Rahmat yang duduk di hadapanya sementara Kirana lebih memilih duduk bersampingan dengan Rahmat.


"Sial.. Baru jam pertama gue udah lelah, ini berkat kalian, tau?"


"Iya maaf! Makanya kita di sini buat istirahat dan mengisi tenaga lo lagi dengan makan." kata Rahmat menenangkan.


"Sekarang lo berdua jelasin soal suka pisang tadi." Azka memasang wajah menyelidik.


"Pesen makan dulu kali Ka, laper nih tadi gak sempet sarapan di rumah" rengek Rahmat.


"Itu salah lo, ibu lo bikin sarapan malah lo bangun telat, pasti begadang lagi?" selidik Azka.


"Hehehe.." hanya tawa Rahmat yang menimpalinya.


"Pacar gak ada buat apaan gadang? Gak berguna begadang kalo gak ada faedahnya." tutur Azka bijak.


"Eh buset pak haji, kapan pesen makan kalo ceramah mulu?" protes Rahmat.


"Gih sono pesen gue yang traktir!" kata Kirana yang akhirnya mengeluarkan suara indahnya.


"Lo mau pesen apa, Na?"


"Samain sama lo aja Met!"


"Okey! Lo apa?" kini Rahmat berbalik pada Azka.


"Pisang goreng sama teh manis anget ya!"


Mendengar kata pisang, Kirana lagi-lagi memasang wajah geli pada Azka. Sementara Rahmat berlalu pergi meninggalkan keduanya.


"Lo kenapa sih Na hari ini?"


"Biasa aja." jawab Kirana acuh.


"Biasa gimana? Biasanya tuh elo tebar pesona ke gue, lah sekarang berasa jijik liat gue, kenapa sama gue?" selidik Azka yang kini mengedus kedua ketiaknya untuk memastikan sang gadis di hadapan bukan jijik karena dirinya bau.


"Wangi Na, gak bau." Azka memastikan.


Kirana yang kesal pun di buat tersenyum akan tingkahnya, "Bukan itu Ka!" meringis.


"Terus apa?"


"Itu soal pisang yang elo sukain!" seru Rahmat yang baru saja kembali dan duduk di tempat.


"Emang apa salahnya kalo gue suka pisang? Biar pun gue gak begitu menikmati tiap harinya, tapi emang gue suka pisang dan itu enak." jujurnya.


Kirana yang sudah tercemar otaknya kini semakin membayangkan yang bukan-bukan atas ucapan Azka itu.


"Huekk.."

__ADS_1


Kirana mendadak mual saat terlalu lama membayangkan Azka sedang mengemut pisang.


"Hamil lo, Na?" celetuk Rahmat.


"Ngaco lo kalo ngomong, masuk angin Na?" tanya Azka panik.


Kirana menggeleng kepala dengan berusaha membuka botol air mineral dan langsung di teguk.


Gluk.. Gluk..


"Pelan-pelan Kirana.. Kalo sakit yuk kita anter ke UKS?" ajak Azka.


"Hari ini lo ultah, kok malah sakit sih?" Rahmat dengan baiknya memijat tengkuk leher Kirana.


"Apaan sih, gue gak sakit" Aku Kirana yang berusaha menolak di pijat.


"Terus lo kenapa mual tadi?"


"Itu karena lo bilang menikmati pisang itu enak, kan gue jadi mual dengernya." Kirana kembali meneguk air dalam botol.


"Gue bingung sama lo, gue ngaku suka pisang kenapa lo mual?"


Kini Azka makin stres dengan perubahan sikap Kirana, karena tak biasanya sang gadis bersikap aneh seperti hari ini.


"Ya terang aja dia mual, gimana pun juga gue ikut mual karena pengakuan lo itu." Rahmat ikut mengakui.


"Letak salahnya di mana coba?" tanya Azka. Kini menatap serius pada kedua sahabatnya itu yang hanya saling pandanga tanpa buka suara untuk menjelaskan, "Ayo, kok malah pandang-pandangan gaje?" imbuhnya.


Tapi sebelum bicara lebih lanjut, Rahmat menarik nafas panjang dan membuat Azka menggeleng kepala karena berpikir dia terlalu berlebihan.


"Jadi gini Ka," Rahmat mulai berbicara yang mana Azka sudah serius mendengarkan, begitu pun Kirana yang akan siap mendengar kejelasan dari Azka.


"Elo.. Beneran suka__?" Rahmat tersedat, "Apa?" tanya Azka, "Pisang?!" lanjut Rahmat yang mana mendengar itu Azka tentunya langsung kesal dan berniat untuk pergi dari keduanya.


"Weh tahan dulu Ka!" pinta Rahmat, menahan tangan Azka dan langsung di tepis oleh Kirana dengan kasar.


"Kasar lo Na" ringis Rahmat.


"Gue gak mau Azka jadi naksir sama lo ya Met! Mending gue liat Azka sama cowok lain di banding dia jadi suka sama elo, gak ikhlas lahir batin gue." kata Kirana.


"Emang kenapa? Gue juga cowok, kan?" heran Rahmat.


"Iya! Tapi masa gue jadi obat nyamuk sih kalo kita lagi bersama gini?" ringis Kirana, memasang wajah sedih.


"Tunggu tunggu!" tahan Azka saat mendengar ucapan Kirana yang menggelitik di telinganya.


"Kalian kok jadi ngelantur sih ngomongnya? Perkara suka pisang tadi aja gue masih bingung sama kalian, terus kenapa sekarang kalian berdua mikir gue bakal jatuh cinta sama cowok sih?" ringis Azka dengan menatap tajam keduanya.


"Kan tadi lo sendiri yang bilang kalo elo suka sama pisang!" ucap Kirana.

__ADS_1


"Terus masalahnya di mana? Dan hubungannya sama suka cowok itu apa?" Azka kembali duduk dan bener-bener ingin kejelasan lebih detail lagi.


Kirana menatap serius mata Azka sebelum akhirnya bertanya, "Elo gay?"


Sontak saja Azka membulatkan mata dan kini mulutnya menganga lebar saat Kirana bertanya hal tak wajar itu darinya.


"Kita bakal maklumi hal itu kok, Ka! Dan kita bakal masih jadi sahabat selamanya kok." tutur Rahmat.


"Tapi lo jangan suka dia, Ka. Please!" Kirana memohon dalam kondisi hati yang masih patah hati.


"Emang kenapa sih sama gue, Na? Kan gue juga cowok tampan, kali aja di hati Azka ada gue selama ini." ringis Rahmat, kesal.


"Tampan dari mana lu? Di liat dengan kasat mata pun lo gak ada ganteng-gantengnya, Met." ungkap Kirana.


"Sirik lu gak di suka Azka, makanya lo marah sama gue karena Azka doyan cowok bukan cewek, haha.." ejek Rahmat.


"Wuek.." Kirana menjulurkan lidah membalas ejekan Rahmat.


Keduanya terus saling membalas ejekan tanpa perduli sosok Azka yang sudah menahan amarah dengan kalimat-kalimat yang terlontar dari mulut keduanya.


Brakk...


Gebrakan meja mengagetkan Rahmat dan Kirana. Keduanya pun diam tak bersuara dan bahkan tak berani mengedipkan bola mata ketika melihat raut wajah Azka yang siap menerkam siapa pun yang bergerak.


"Masih mau buka mulut?" tanya Azka. Dimana keduanya menggelengkan kepala, takut.


"Kabar dari mana kalo gue suka cowok?" tanya Azka.


Tidak ada yang berani bicara sehingga pertanyaan itu terabaikan selama 2 menit.


Bentak Azka, "Ayo jawab?"


"Kan tadi lo bilang kita gak boleh ngomong, Ka!" ringis Kirana dengan polos.


"Sekarang kalian boleh jawab,"


"Kan udah gue bilang itu elo sendiri yang mengakui, sekarang malah tanya kita." Rahmat mengingatkan.


"Gue?" menunjuk diri Azka sendiri.


"Iya kan elo bilang suka pisang sejak di dalam kelas tadi?" Kirana ikut mengingatkan.


"Hahahaha.." hanya tawa yang Azka lontarkan di hadapan keduanya.


Rahmat dan Kirana saling pandang bingung di buatnya.


"Kenapa dia Met?" tanya Kirana, cemas.


"Kesambet jelmaan Ragil kali, Na!" ringis Rahmat yang panik karena Azka tak kunjung berhenti tertawa.

__ADS_1


"Hahahaha.. Hahahaha.."


__ADS_2