
"Enggak, πΊππ gak mau melakukan hal itu." tolak Cipluk, tegas.
"Tapi mas Cipluk harus mau, Tinah mohon mas mau!" bujuk Tinah memelas, "Lagian π³πππΊπ yakin mas itu emang mas Reza." tegas Tinah, penuh yakin.
"Mungkin πΊππ emang mirip sama dia tapi πΊππ sama dia beda orang, πΊππ bukan Reza." tutur kata Cipluk, semakin menegaskan pada Tinah.
"Sekarang emang beda, karena mas terlihat kumal tapi ada satu yang gak bisa luput dari perubahan kalian? Yaitu mata!" ungkap Tinah dengan menatap tajam bola mata Cipluk.
Cipluk tidak perduli dengan pengakuan Tinah, dia terus menolak untuk menjadi sosok Reza yang tidak di kenalnya.
"Pokoknya πΊππ gak mau, karena bagai mana pun πΊππ bukan Reza, kalo pun harus berpura-pura menjadi dia, πΊππ tetap akan menolak." tegas Cipluk, dengan berlalu dari hadapan Tinah.
"Mas..!"
"MaπΊs.. "
Panggilan Tinah di abaikan oleh Cipluk yang terus berjalan pergi.
"Ufh..."
"Tinah gak akan nyerah, pokoknya mas Cipluk harus mau balik jadi mas Reza." gumam Tinah dalam hatinya yang terganggu oleh deringan handphone dari Sella.
"Tin! Elo di mana? Dari tadi ke pasar kok gak balik-balik?" tanya Sella.
"Sebentar lagi pulang kok non!" jawab Tinah.
"Emang ngapin aja di pasar?" selidik Sella.
"Tinah mau beli sesuatu tapi susah dapetin, jadi bentar lagi pulang non Sella." tutup Tinah yang membuat Sella kesal di π»uatnya.
"Yang jadi majikan dia apa gue sih? Kok main tutup telpon dari gue gitu aja."gerutu Sella kesal.
Tinah kembali bersemangat dengan ide lainnya yang dapat meluluhkan hati Cipluk agar mau ikut bersama dengannya.
"Harus, mas Cipluk harus mau ikut rencana Tinah untuk membebaskan non Marsella dari jeratan mas Baim." tegas Tinah yang melangkah mendekat pada supir bus yang sedang beristirahat di depan setir.
"Bang! Boleh tanya-tanya gak bang?" tanya Tinah dengan duduk di sebelahnya.
"Apaan neng?" tanya supir itu.
"Abang udah kenal Cipluk lama?" selidik Tinah.
"Udah dua tahun neng, emang kenapa?" supir itu balik tanya.
__ADS_1
"Abang percaya kalo dia itu sebenernya orang kaya?" ucapan Tinah langsung membuat supir itu pun tertawa terbahak.
"Hahahahaa.."
"Kok malah ketawa sih bang?" cetus Tinah kesal.
"Kaya dari mana neng, kaya orang jalanan sih iya banget!" serunya.
"Begini yah bang! Dulu ada cowok yang namanya Reza, dia itu kecelakaan. Mayatnya itu udah di kubur tiga tahun lalu tapi yang sebenernya, mayatnya masih hidup yaitu Cipluk." terang Tinah mengungkapkan.
"Akh! Neng ada-ada aja, masa iya ada mayat hidup lagi? Emangnya ini dunia sinetron?" sangkalnya tak percaya.
"Lah si abang, emang mayatnya belum mati bang! Nah tuh Cipluk masih hidup jadi Reza masih hidup selama ini." kata Tinah penuh yakin.
"Cuma mirip kali neng" sahut sang sopir, ragu.
"Aduh, abang gimana sih! Saya kesini minta bantuan abang buat mas Cipluk mau ikut saya, malah abang bikin saya kesel karena gak percaya saya." cetus Tinah seraya berakting kesal, agar lebih mudah mendapat bantuannya.
"Terus saya mesti gimana neng?" tanya supir itu bingung.
"Ya gimana pun caranya, abang harus buat mas Cipluk mau ikut saya. Kasian non Sella bang dia udah lama nunggu suaminya itu mana hamil lagi bang, hiks.." bujuk Tinah memelas.
"Ehemm.." deheman Cipluk membuat mereka menoleh padanya.
"Apa masih mau bujuk? Tapi maaf, πΊππtetap gak mau kamu suruh menipu dengan menyamar jadi Reza." tolak Cipluk, menekankan suaranya.
"Tapi bang! π π»πΊππ ππΊπ ππΊπ πΊππ π’πππ ππ bukan Reza jadi mana mungkin bisa buat dia bahagia?" Cipluk berang.
"Mohon mas Cipluk di coba dulu aja, kalo gak bisa saya janji gak akan maksa mas lagi buat jalanin rencana ini!" ucap Tinah memohon dengan sangat, "Demi non Sella yang lagi hamil mas, mau yah?!" bujuk Tinah yang akhirnya membuat Cipluk mengalah dan mengikuti kemauannya.
"Inget ini cuma sesaat aja." tegas Cipluk, mengingatkan.
"Iyah!" seru Tinah antusias.
"Gak mungkin sesaat mas, karena selamanya kamu akan bersama non Sella!" gumam Tinah dalam hati.
Sella sudah siap marah pada Tinah yang baru saja datang, namun Baim telah lebih dulu menegur pembantunya itu.
"Kamu pikir bisa seenaknya pergi datang ke rumah ini?" bentak Baim yang di tanggapi santai oleh Tinah
"Emang gak boleh yah? Tinah cuma belanja kebutuhan rumah ini, apa berlama-lama di luar sana pun di larang?" sindir Tinah yang membuat Baim semakin geram ππΊπ½πΊnya.
"Kamu itu ππΊππ bayar di sini, jadi tau waktu kalo kamu pergi keluar." Baim meradang.
__ADS_1
Tinah meletakkan belanjaan yang di bawanya dan mulai berkata, "Kalo mas Baim gak suka, Tinah akan keluar dari rumah ini sekarang juga." ucap Tinah lantang yang membuat Sella tercengang kaget.
"Tin! Elo ngomong apa sih?" tegur Sella.
Bagaimana pun Tinah telah mengabdi lama pada keluarganya, karena itu Sella kecewa mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Tinah.
"Kalo banyak kekangan seperti ini, buat apa Tinah bertahan non?" sengitnya, "Kali aja masih banyak pembantu yang mungkin tahan dengan sikap suami non ini. πͺπΊlo Tinah angkat tangan non, lebih baik keluar aja." tutur Tinah meluapkan kebenciannya selama ini terhadap Baim.
"Udahlah Sel! Benar kata Tinah, masih banyak pembantu yang bisa kita percaya selain dia yang kurang sopan ini." ucap Baim menenangkan sang istri.
"Im! Tinah itu udah jadi tangan kanan aku, jadi gak begitu mudah bagi aku menggantinya." tolak Sella.
"Maaf non, Tinah udah gak sanggup lagi, dan udah punya majikan baru untuk Tinah kerja nanti. Jadi non Sella gak usah pertahanin Tinah lagπ." jelas Tinah yang berlalu dari keduanya.
"Tinah, tunggu Tin" panggil Sella yang berniat mengejar, namun di tahan oleh Baim.
"Kamu kenapa sih Im, selalu ketus terhadap Tinah? Kurang apa dia sama kita?" tanya Sell heran.
"Aku tau Tinah gak suka sama aku, karena dia lebih suka sama Reza. Tapi sayangnya, dia udah gak ada karena itu aku gak mau ada satu pun yang mengingatkan kita pada Reza yang sudah meninggal." tutur Baim mengingatkan π½πΊπ ππΊπ πΊπ membuat Sella terluka mendengar hal itu.
π¬πΎππΎπππ, "Kamu keterlaluan." kesal dan dengan berlalu pergi.
Tinah bersusah payah meyakinkan kekasihnya, Udin saat ia berpamitan pergi untuk keluar dari rumah majikannya itu. Air mata sudah mengalir deras ke pipi Udin yang membuat Tinah menggeleng heran di buatnya.
"Mas Udin lebay deh, pake nangis segala." cetus Tinah.
"Kenapa sih Tin! Kamu harus keluar dari sini, nanti mas gimana kalo gak ada kamu, hiks.." ringisnya.
"Mas! Tinah kan masih di Jakarta, jadi gak usah panik, toh nantikan kita telponan mas." tutur Tinah menenangkan.
"Tapi gak enak Tin, gak bisa liat kamu langsung." ringis Udin.
"Mas! Tinah punya misi yang gak bisa bilang sama kamu mas, karena itu mas Udin harus bisa bantu Tinah kalo sewaktu-waktu minta tolong." kata Tinah yang langsung menyodorkan sesuatu dari dalam tas.
"Apa ini Tin? Jangan bilang kamu suruh racunin ππΊπ Baim?" tuduhnya yang langsung Tinah menutup mulut dan berbisik ke telinga kekasihnya itu.
"Gimana?" tanya Tinah sesaat kemudian.
"Sip! Pokoknya besok lusa beres deh Tin!" seru Udin meyakinkan.
"Kalo gitu Tinah pergi dulu mas?!" pamitnya.
"Hati-hati yah Tin, jaga diri baik-baik yah? inget jangan selingkuh yah Tin!" ucap Udin mewanti-wanti.
__ADS_1
"Iya mas Udin sayang" sahut Tinah yang menggeleng geli dengan kekhawatiranya.
Tinah π»πΎπππππΊπ dalam hati, "Ini saatnya permainan di mulai mas Baim, jangan panggil Tinah kalo gak bisa nyingkirin mas Baim dari non Sella. Ha..Ha.." tertawa sinis.