Cinta Berjuta Rasa

Cinta Berjuta Rasa
Cinta Rasa Timun #31


__ADS_3

Bibir keduanya semakin dekat, dekat dan sudah dekat bahkan kulit bibir Cipluk sudah terasa oleh Sella yang telah memejamkan mata saat deruan napasย  Cipluk membuatnya terbawa suasana namun deringan handphone Sella membuat keduanya sontak kaget dan tersadar.


Tit... Tit...


"I.. Iya sayang?" sahut Sella yang gugup dan berlalu dari hadapan Cipluk.


Tinah baru saja masuk langsung di seret oleh Cipluk yang tak kalah gugup dari Sella, kini Tinah mendapatkan tatapan tajam darinya.


"Mas kenapa liat saya begitu?" tanya Tinah dengan sedikit menelan ludah karena tatapan sinis itu.


"Kenapa kamu bohong sama aku?" pekik Cipluk marah.


"Bohong apa mas?" tanya Tinah tak mengerti.


"Kamu bilang mbak Sella suaminya meninggal, tapi apa? Dia ada bersama suaminya." Cipluk beramarah.


"Baik mas! Saya akan cerita sama mas Cipluk tapi gak di sini, ayo ikut saya!" pinta Tinah dengan menarik tangan Cipluk yang keluar dari rumah.


Baim merasakan heran dengan nada suara Sella, yang tidak biasanya.


"Kamu kenapa?" tanya Baim heran.


"Nggak apa-apa kok Im!" jawab Sella dengan garuk kepala.


"Kamu sakit?" selidik Baim yang mulai cemas.


"Baim! Aku nggak apa-apa, beneran deh!" sangkal Sella menenangkan.


"Udah makannya? Kok gak telpon aku?" tanya Baim penuh perhatian.


"Belum, Lupa, hehe.." kata Sella pelan, namun jawaban itu telah membuat Baim marah padanya.


"Belum? kenapa Sel! Kamu lupa kalo kamu hamil? Kamu kok egois sih Sel, kalo kamu males makan dampaknya itu ke anak kita" cetus Baim, emosi.


"Kok kamu marah gitu sih? Kenapa cuma anak kita yang kamu perduliin? Kenapa gak aku juga Im?" ucap Sella tak kalah emosi.


"Aku perduli sama kamu dan anak kita Sel! Aku cuma gak mau anak kita akan kenapa-kenapa karena kelalaian kamu dalam soal gizi untuknya." kata Baim menjelaskan.


"Aku tau soal itu, tapi bukan berarti aku harus makan walaupun aku gak mau, toh nanti juga aku akan makan walau pun gak tepat waktu." kata Sella, mereda.


"Maafin aku yah? Aku tau aku salah, aku begitu karena sayang kamu dan anak kita!" ungkap Baim tulus.


"Iya aku maafin" sahut Sella, lirih.


Disisi lain..


"Cepat bicara Tinah" bentak Cipluk tak sabar mendengar penjelasan darinya namun Tinah tidak kunjung bersuara.


"Non Sella memang bersuamikan mas Baim, tapi sebenernya mas Reza yang lebih dulu miliki non Sella." ungkap Tinah.


"Reza udah meninggal, jadi Biam berhak sama Sella, lagian untuk apa aku ikuti rencana kalo Sella bersetatus suami orang?" ringis Cipluk, menyesal.


"Mas! Mohon bantu yah, saya yakin semua akan berjalan seperti semula." bujuk Tinah.


"Enggak! Aku gak mau balik pura-pura, dan jangan temuiku lagi, paham?" cetus Cipluk tegas yang berlalu meninggalkan Tinah menuju kedalam dengan perasaan kesal, Cipluk terdiam sesaat di atas kasur dengan pandangan kebawah dan pikirannya yang berkecamuk.


"Di sini emang enak, rumah mewah, hidup bersih gak seperti di terminal. Tapi ini semua bukan milikku dan gak semestinya aku berada sini." gumam Cipluk dalam hati yang mana dia langsung berkemas untuk meninggalkan rumah itu dengan segera.


Sella akhirnya minat untuk makan, setelah di mana bujukan demi bujukan Baim telah di pertimbangkan olehnya.


"Non! Mas Cipluk mau keluar dari rumah ini." adu Tinah, bernada sedih.

__ADS_1


"Baguslah!" sahut Sella santai menanggapinya, Tinah memanyun kesal saat ucapan itu terlontar dari bibir Sella.


"Nih makan non" cetus Tinah yang menyodorkan semur timun yang di pesan Sella.


Cipluk telah siap dengan tas yang gendongnya. Langkah Cipluk terhenti saat hendak berpamitan pada Sella dan Tinah, ia menunduk lemah saat tatapan tajam di dapat dari Sella.


"Saya pamit mbak Sella, Tinah!" ucap Cipluk pelan.


"Mas! Gak mau makan dulu?" ajak Tinah.


"Gak usah Tin, saya bisa makan di terminal nanti" tolak Cipluk.


"Ini makanan kesukaan mas Reza, mas Cipluk harus coba yah?" bujuk Tinah yang mendekat dan mengarahkan sendok ke mulutnya.


"Gak usah Tin" tolak Cipluk enggan.


"Dikit mas" desak Tinah, berharap masih ada harapan akan ingatan Reza kembali.


Lantang, "Stop.." bentak Sella geram mendengar keduanya, "Bisa gak sih! Cepet pergi sebelum gue marah besar sama kalian berdua?" tambahnya.


"Aku, pergi" pamit Cipluk yang mulai melangkah, namun Tinah masih mengikutinya.


"Tinah mohon, mas coba dikit ya?" pinta Tinah memelas.


"Oke! Dikit yah?" ucap Cipluk mengalah, ia pun langsung menyendok sedikit semur Timun buatannya itu.


"Gimana enak, kan?" tanya Tinah yang heran dengan expresi Cipluk.


"Kenapa mas?"


Cipluk mulai pusing dan terus memegang kepalanya sendiri karena denyutan yang tiba-tiba menghantam kepalanya.


"Mas Cipluk?" pekik Tinah yang membuat Sella langsung mendekat dan bersimpuh menatap wajah pucat Cipluk.


"Kenapa dengan dia Tin?" tanya Sella, panik.


"Tinah .. Gak tau.. Non Sella.." jawab Tinah gugup.


"Ayo bantu dia ke kursi!" pinta Sella yang mana keduanya langsung menuntun Cipluk dan membaringkannya di sofa.


"Sekarang kamu telpon dokter untuk datang" suruh Sella yang cemas dengan keadaannya.


"Maafin aku yah Cipluk!" gumam Sella yang merasa bersalah atas kondisi Cipluk.


Beberapa jam kemudian, mata Cipluk pun mengerjap-ngerjap dengan pelan yang mana ia telah sadar, ia pun melihat wajah Tinah dengan samar-samar hingga akhirnya ia dapat melihat jelas sosoknya.


"Tinah!" panggil Cipluk lemas.


"Mas gak apa-apa, kan?" tanya Tinah.


Berteriak, "Non Sella.. Mas Cipluk udah sadar non." panggil Tinah yang membuat Sella bergegas menuju mereka.


Cipluk pun terbangun saat melihat wajah Sella denganย  perlahan ia mendekat dan langsung memeluk Sella erat.


"Sella sayangku!" seru Cipluk yang membuat Sella dengan cepat menepis pelukkannya.


"Kamu jangan macam-macam sama aku, pergi kamu dari sini sekarang sebelum suamiku datang menghajar kamu." bentak Sella, berang.


"Suami?" pekik Cipluk kaget, "Apa yang kamu maksud Sel?" tanya Cipluk heran.


"Mas Cipluk gimana sih, kan mas Baim suaminya non Sella, tadi kita udah bahas itu, kan?" timpal Tinah mengingatkan.

__ADS_1


"Baim?" pekik Cipluk yang kini tercengang kaget, begitu pun dengan Sella dan Tinah yang mengeryit atas expresi Cipluk yang seolah tak tau apa pun.


"Tapi aku, kan suami kamu Sel" aku Cipluk, tak percaya.


"Heh Cipluk!" sinis Sella, "Denger ya, aku tau kamu mirip sama Reza tapi kamu bukan dia, dan jangan berakting seolah kamu itu dia." tegas Sella lantang.


"Aku ini Reza, bukan Cipluk." ungkapan itu sontak membuat Sella dan Tinah melotot tajam.


"Jadi kamu beneran mas Reza?" tanya Tinah meyakinkan.


"Kamu lupa sama aku Tin?" ringis Reza yang kini telah kembali sadar dari hilang ingatan panjangnya.


"Gak mungkin, gak mungkin kamu Reza"


"Sayang, sumpah demi tuhan!"


"Ka.. kamu beneran Reza?" tanya Sella kurang yakin.


"Iya sayang, kamu lupa sama suami kamu sendiri?" kata Reza yang memeluk tubuh buncit Sella.


"Anak papah sayang!" seru Reza yang mengelus perutnya namun dengan cepat ditepis oleh Sella dan berbarlik badan membelakangi Reza.


"Sella?" ringis Reza, kecewa.


"Ada apa dengan semua ini Reza?" tanya Sella, bingung.


Reza tak kalah bingung, "Maksud kamu apa? Emangnya ada apa? Tadi Tinah bilang, Baim suami kamu? Lalu aku ini apa?" Reza mencerca dengan banyak pertanyaan.


"Sejak kepergian kamu, aku stres dan mungkin bisa di bilang aku gila karena kehilangan kamu. Kamu segalanya bagi aku, kepergian kamu buat tubuhku lemah dan kondisi fisik aku gak memungkinkan untuk menjaga kandungan, dan akhirnya aku keguguran saat itu juga." beber Sella yang mana Reza membelai rambut Sella lembut.


"Gak apa-apa, soal anak itu masih ada waktunya!" ucap Reza menenangkan.


"Tapi, perut kamu? Dan apa tadi, aku pergi? Mustahil aku pergi ninggalin kamu dan anak kita Sel." tegas Reza.


"Mas ceritanya panjang, lebih baik non Sella mengatakan semuanya dulu."


"Tapi Tinah, ini gak masuk akal bagi aku"


"Bagi non Sella pun mas, Tinah mohon!" pinta Tinah.


Sella kembali melanjutkan..


"Dan sejak kepergian kamu juga___" tutur Sella terhenti sesaat, "Aku telah menikah dengan Baim." lanjut Sella yang membuat Reza kaget bak tersengat listrik yang mengantam tubuh.


"Kenapa Sel? Kenapa kamu lakukan itu?" pekik Reza yang berlinang air mata.


"Asal kamu tau Za! Baim yang telah membuat aku kembali normal, Baim yang tulus menjaga aku dan rela menikahi aku hanya karena ingin aku sembuh dari gila, karena dia, aku kembali hidup seperti ini Reza." kenang Sella yang juga bercucurkan air mata saat ingatanya kembali kemasa suram saat peninggalan Reza sejak 3 tahun lalu.


"Tapi apa harus kamu melakukan itu? Apa kamu gak cinta aku lagi?" tanya Reza miris, Tinah yang sejak tadi mendengarkan keduanya langsung berlalu agar Reza dan Sella dapat berbicara lebih luas lagi.


"Aku pikir kamu udah gak hidup lagi, karena itu aku terima Baim walau pun tanpa cinta." ringis Sella.


"Terus apa sekarang kamu cinta sama dia?" selidik Reza dengan menatap mata Sella.


"Kamu tatap mata aku sekarang, apa ada cinta di mata aku untuk dia?" Sella balik tanya.


"Cinta itu di hati bukan di mata" sangkal Reza.


"Aku emang sayang sama Baim, karena dia udah berjasa di hidup aku. Tapi sumpah demi tuhan, aku masih tetep cinta sama kamu dan sampai detik ini cinta ku masih buat kamu, Reza!" terang Sella meyakinkan.


"Terus.. Apa yang akan kamu lakukan saat ini untuk masa depan kamu?" tanya Reza yang mana Sella tak menjawab langsung pertanyaan itu.

__ADS_1


__ADS_2