
Marsella menunduk kaku saat mendapat tatapan tajam dari Baim, yang membuat Sella beberapa kali harus menelan ludah π½π π»ππΊππππΊ.
"Kenapa baru pulang Sel, bahkan kamu susah di hubungin?" ππΊπππΊ π‘πΊππ, "Aku khawatir kamu kenapa-napa, bahkan aku keliling mencari kamu π ππ." π πΊπππππππΊ π½πΎπππΊπ ππΎπππ.
"Aku, aku ketemu temen lama di mall jadi ngobrol sama mereka dan kebablasan deh." tutur Sella gugup.
"Beneran?" tanya Baim menyelidik.
"Serius Im, emangnya aku akan sama siapa lagi?" ringis Sella menegaskan.
"Seπ lπΊ aku mohon lain kali kalo mau pergi bilang aku dan senggaknya kamu pergi sama Udin, biar aku gak panik sama kamu ππΊππΊπ ππΊπ½π. πΈπΊ?" tutur Baim memelas.
Melihat itu, Sella semakin merasa bersalah pada suamiπya. Bagaimana pun juga π²πΎπ π πΊ memang salah, telah berbohong demi melihat sosok yang telah di rindukan selama 3 tahun ini.
"Maafin aku ya sayang! Aku hanya gak mau ganggu kamu aja, maafin yah?" bujuk Sella, perlahan Baim mendekat dan meraih tangannya dengan penuh tulus.
"Sel! aku suami kamu, gak mungkin aku akan merasa terganggu karena kamu. Aku senang dan akan senang kalo kamu selalu bilang yang kamu inginkan ke suamimu ini. Jadi gak perlu sungkan Sel, karena aku cinta kamu. Paham?" tukas Baim dengan memeluk Sella sangat erat.
Dalam hati, "Aku hanya nggak mau kamu tau kalo aku terus mencari tau kebenaran akan sosok pria yang mirip Reza itu, jadi aku gak mau kamu marah saat tau kalo aku masih berharap kehidupan atas Reza." gumam Sella.
Perlahan Baim melepaskan pelukkan dan menatap lekat pada istrinya itu, hingga Baim berniat untuk mencium namun Sella menahan.
"Anak kita kelaperan, baiknya kita makan malem yuk?" ajak Sella yang tak melihat wajah kecewa Biam atas penolakan itu.
"Sel! Apa kamu masih menganggap πΊku orang asing di hidupmu? Harus bagai mana lagi aku memperlakukan ππΊmu, Sella?" gumam Baim kesal.
Baim tidak menyantap makanan dengan semangat, lain hal dengan Sella begitu lahap menyantap menu makan yang terhidang atas meja.
"Selπ πΊ! Pelan-pelan dong sayang makannya, gak akan aku minta kok!" tegur Baim yang mana Sella tersipu.
"Maaf.. Abis aku laper banget soalπya, apa lagi anak kamu ini udah marah minta makan, hehe.." ucap Sella yang kembali melahap makanan nya.
"Laper atau emang kangen sama masakan πππ?" sindir Baim yang membuat Sella menghentikan ππΎπππΊππΊππππΊ.
Yah! Sella begitu antusias menyantap semur timun, yang mana itu adalah makanan kesukaan Reza yang telah 3 tahun lamanya Sella tak pernah ππΎππΊππΊπ πππ½πΊπππΊπ πππ. π²πΎπ»πΊπ» Baim tak suka bila Sella memakan makanan kesukaan mendiang Reza, bahkan dirinya akan kembali ingat sosok Dila yang pernah mengisi hati.
Karena tak ingin berdebat π½πΎπππΊπ ππΊππ πππΊππ, akhirnya Sella beranjak berdiri, "Aku udah kenyang!" ucap Sella yang berlalu meninggalkan Baim yang mengendus pasrah.
"Kenapa mas?" tanya Tinah menegur ketika melihat wajah sedih Baim.
"Kenapa kamu masak ini?" Baim balik tanya dengan nada geram.
"Tinah hanya masak apa yang di πuka, bukannya mas dan non Sella sangat suka semur timun? Toh udah lama kita gak makan ini, kan?" tutur Tinah, yang memang sengaja menyidir.
"Pokoknya aku gak mau makanan ini ada kedua kalinya di meja makan ini, inget itu selalu." ucap Baim lantang dan berlalu pergi meninggalkan Tinah yang menatap sengit pada suami majikanπya itu.
"Kalo aja mas Reza masih hidup, pasti mas Baim tuh bakal gigit jari karena cinta non Sella cuma punya mas Reza bukan π½πππππ, hem.." gerutu Tinah dalam hati penuh kebengisan.
Esok hari nya..
"Boleh yah?"
__ADS_1
"Ke rumah mamah papah, kan?"
"Iya!"
"Ya boleh, emang aku bakal larang kamu ketemu mereka?"
"Takutnya, setelah kejadian kemarin kamu gak bolehin aku keluar rumah!"
Baim menoleh kearah ππΊππ πππππ, meπatap dan menyentuh dagu Sella lembut.
"Maafin aku soal kemarin ya?" sesal Baim yang mana Sella mengangguk pelan.
"Jadi boleh aku keluar rumah?" tanya Sella lagi, antusias.
"Iya sayang, boleh!" tegas Baim.
Sella menyuruh Udin menghentikan mobil saat tempat di terminal bus. Karena π½ππΊ meminta Udin kesana, bukan ke rumah orang tua. Udin heran karena tujuannya telah beralih, dan ia semakin bertanya-tanya saat π²πΎπ π πΊ menyuruπnya tetap di dalam mobil sementara ππΊππ ππΊππππΊπ sendiri keluar dari mobil dan melangkah mendekati sebuah bus yang sudah di penuhi penumpang.
"Ngapain coba non Sella kesini?" gumam Udin.
Perlahan Sella masuk kedalam dan melihat pria yang mirip Reza tak jauh darinya. Dia tersenyum pada Sella yang mana Sella membalas senyuman pria itu.
"Kemana tujuan mbak? Apa udah yakin buat naik?" tanya pria itu karena dirinya yakin Sella tidak memiliki tujuan kesuatu tempat.
"Aku menuju kamu, Reza!" sahut Sella sepontan, yang membuat pria itu mengeryit pada jawaban Sella.
"Maksud mbak ini apa?" tanya pria itu bingung.
Tatapan keduanya saling bertemu terasa kerinduan yang terpendam selama ini terobati bagi Sella. Ada air mata yang mulai jatuh, ketika Sella mengelus pipi lelaki tersebut.
"Reza!" panggil Sella lirih.
"Maaf mbak, aku bukan Reza. Udah aku tegaskan berapa kali aku bukan dia, mbak" sangkalnya dengan melepaskan pegangan Sella.
Dalam hati, "Mungkin, kah bukan Reza? Tapi kenapa aku yakin dia itu Reza?" gumam Sella yang terus memperhatikan.
Sella memang melihatπππΊ berbeda, tapi perbedaan itu hanya dari segi kebersihan saja. Lelaki di hadapannya sangat kucel dan tidak terawat, lain dengan Reza yang bersih dan harum. Jadi itu lah sebabnya Sella tetap yakin kalo dia emang Reza yang masih hidup.
Air mata masih jatuh membasahi pipi Sella hingga pria itu mendekat dengan menyodorkan sebungkus tππππ ππΎππΊπ½πΊnya. Sella merπΊih pemberian itu, dengan mengucapkan terima kasih.
"Makasih Za!"
"Mbak! Kalo boleh tau kenapa mbak memanggil aku Reza?" tanya pria itu, yang mulai terusik terus π½ππanggil Reza.
"Karena memang kamu dia" jawab Sella tegas.
"Nama ku Cipluk mbak, bukan Reza kok!" bebernya yang membuat Sella tertawa mendengar nama itu.
"Hahahaaaa..."
"Kenapa, jelek?" tanya pria, yang terlihat tersinggung atas tawa yang keluar dari Sella.
__ADS_1
"Bukan jelek tapi lucu, maaf kalo kesinggung" sangkal Sella, seraya meminta maaf.
"Oh yah mbak kalo boleh tau, kenapa bisa mikir aku ini Reza?" tanya Cipluk.
"Ya karena emang kamu mirip sama dia, mirip banget" jelas Sella, "Kalo kamu gak percaya ini buktinya!" tunjuk Sella pada foto yang di keluarkan dari tas, untuk meyakinkan lelaki bernama Cipluk.
"Yakin mbak? Mirip dari mana coba mbak? Kasian kalo mas ganteng ini tau, dia bakal marah karena di πamain sama pria jelek ini!" ringis Cipluk.
"Sekarang memang berbeda, tapi nanti kamu akan terlihat sama dengannya!" tutur Sella yakin.
"Tapi tetep aja aku bukan dia mbak, biar pun rupa emang sama." tegas Cipluk yang berlalu meninggalkan Sella.
"Kalo memang Cipluk bukan Reza! Kenapa aku di πertemukan dengan dia?" gumam Sella yang ingin tau arti dari tadkir pertemuannya dengan Cipluk.
"Ya tuhan, apa maksud di balik ini semua? Aku butuh jawaban dari ini semua!" harap Sella.
Sepulang dari perjalanan tadi, Sella memilih menyendiri di dalam kamar dengan terus memikirkan Cipluk yang masih membuatnya yakin kalo memang dia adalah Reza.
Tok... Tok.. Tok..
"Masuk!" Sella mempersilahkan.
"Non! Makan malem udah siap, mau turun atau di bawa sini?" tanya Sella.
"Tin! Gue mau tanya sama π π, boleh?" ucap Sella pelan yang membuat Tinah mendekat.
"Mungkin gak yah kalo Reza itu masih hidup?" tanya Sella.
Tinah senang bila Sella masih memikirkan sosok Reza, "Kenapa emang non?" Tinah balik tanya.
"Baru-baru ini gue πakin kalo dia masih hidup Tin!" aku Sella.
"Mungkin cuma perasaan non aja kali, dia kan udah di kubur non" sangkal Tinah mengingatkan.
"Tapi gue liat cowok mirip Reza dan gue yakin itu dia" tegas Marsella.
"Kebetulan aja kali non, cuma mirip" Tinah tak percaya.
"Gue yakin itu dia, dan perasaan gue sama kayak saat di dekat Reza π½πΎπππΊπ orang itu Tin." Sella bersikukuh.
"Emang non ketemu di mana?" tanya Tinah penasaran.
"Di terminal bus" terang Sella.
"Hah?"
"Iya dia itu kerja nya jadi kenek bus!"
"Kalo gitu besok kita kesana, gimana?" ajak Tinah yang langsung Sella mengangguk semangat.
Dalam hati, "Mmmm... Mudah-mudahan aja dia emang mas Reza!" gumam Tinah penuh harap.
__ADS_1