Cinta Berjuta Rasa

Cinta Berjuta Rasa
Cinta Rasa Pisang #1


__ADS_3

Sejak kecil Amel sangat suka makan buah yang berwarna kuning bila sudah matang, tak lain tak bukan adalah pisang. Segala jenis pisang sangat di sukai oleh Amel si anak bungsu.


Amel mempunyai seorang kakak laki-laki bernama Azka. Umur keduanya berjarak 7 tahun, karena itu Azka selalu mengusili si adik satu-satunya itu.


"Mah nanti aku pulang telat ya?"


"Kemarin begitu? Kalo papah pulang tau kamu suka nongkrong setelah pulang sekolah bisa marah besar ka." sang ibu memperingatkan.


"Amel ayo turun, sarapan dulu sebelum pergi sekolah" panggilnya saat Amel tidak kunjung tiba.


"Ini bukan soal main mah, ada temen mau rayain ultah dengan berbagi sesama, jadi Azka harus ikut bantu bagiin. Bolehkan mah?" bujuk Azka seraya menyodorkan piring pada ibunya untuk meminta tambah nasi goreng buatan sang mamah tercinta.


"Awas kalo bohong ya?"


"Sumpah mah!"


Amel yang baru tiba langsung heran karena mendengar kata sumpah keluar dari mulut Azka.


"Bohong itu dosa loh ka, apa lagi pake sumpah segala. Bisa berlipat ganda dosanya tuh." celetuk Amel yang tanpa tau apa pun malah sibuk menasehati.


"Emang bener yang kamu bilang tadi adikku sayang, tapi lebih baik kamu diem kalo gak tau apa pun." titah Azka dengan mencubit pipi gembul Amel yang baru duduk di kelas 5 SD.


"Sakit ka, hiks."


"Dasar manja, huh." goda Azka lagi.


Baru dua suapan Amel menyantap makanannya, harus terhenti ketika Azka beranjak berdiri.


"Tunggu ka!"


"Kenapa?"


Nada manja, "Ikut!"


"Kakak telat, mending kamu di anter pak Agus ya?"


"Nggak aku mau ikut kakak. Lagian kemarin Amel udah janji buat kenalin kakak ke sahabat-sahabatnya Amel."


"Ngapain?"


"Pamer kakak capek gak dosa, kan?"


"Iya.. Tapi kamu berdosa buat kakak malu punya adek doyan pisang seperti kamu itu." canda Azka.


"Ish.."


"Ya udah ayuk jalan?"


"Tunggu adikmu bereskan sarapannya ka!" tahan sang ibu.


"Gak usah mah! Amel pergi bawa ini, hehe.." tolak Amel yang menenteng sesisir pisang.


"Mau sekolah apa jualan bu?" goda Azka dengan tawa kecil.


"Ini juga gara-gara kakak, kalo Amel kelaperan gimana?"


"Emang doyan bukan laper"


"Hehe.."

__ADS_1


Di sepanjang perjalanan Amel sibuk menikmati satu persatu pisang yang di bawanya. Tentunya ia menyisihkan 2 buah pisang dan di masukan kedalam ransel miliknya.


"Kebanyakan makan pisang jadi moyet nanti kamu." Azka mulai menggoda kembali sang adik.


"Kalo aku monyet, kakak juga dong? Hahaha.."


"Tapi kakak gak makan pisang, weh."


"Oh yah ka, kapan papah pulang?" tanya Amel.


Sudah hampir 1 bulan ayah dari mereka berdua pergi dinas ke keluar negri.


"Mana kakak tau, kan yang selalu ngobrol sama papah itu kamu. Kenapa gak tanya langsung sama papah?" jawabnya yang terus fokus menyetir.


"Papah selalu bilang minggu depan, ini udah seminggu berlalu dari papah bilang begitu ka" ringis Amel kecil, yang sangat di landa rindu akan sosok ayahnya.


"Kenapa, kangen?" tanya Azka.


"Iyalah, cuma papah yang perhatian sama Amel"


"Yeh.. Emang kakak enggak?"


"Iya tuh!"


"Utuk utuk.. Sini kakak perhatiin adik tersayang satu ini.." goda Azka yang menggelitiki perut Amel hingga tak sengaja pisang yang di pegang terjatuh.


"Hahaha.. Geli ka, ampun ka!"


Akhirnya telah sampai di depan gerbang sekolah sang adik. Amel menahan Azka untuk menghentikan mobil segera, saat melihat beberapa kelompok temannya berkumpul di depan gerbang sekolah.


"Turun ka!" perintah Amel.


"Mereka temen-temen kamu?" tanya Azka sebelum turun dari mobil.


Dalam hati Azka, "Nih adek gue stres apa ya? Maksud dia mau jodohin gue sama salah satu dari mereka? Secara masih bocah gitu mereka."


"Halo ka! Kakaknya pisang ya?"


"Hah?" seketika Azka bengong.


"Iya ini kakak aku, puas kan kalian udah liat kakakku? Jadi aku gak bohong soal punya kakak cakep." kata Amel yang mana Azka hanya mengulas senyum miris mendengarnya.


"Mana sini?" tanya Amel seraya mengulurkan tangan pada teman-temannya.


Azka membulatkan mata ketika mereka semua mengeluarkan pisang dari tas yang langsung di serahkan pada Amel.


"Astaga, adek gue mafia pisang cuy!" dalam hati Azka yang berusaha menahan tawa.


"Udah kakak pergi sana." usir Amel.


"Lah.. Udah dapet pisang malah ngusir, adik gak tau di untung ya kamu ini" ringis Azka dengan menarik kedua pipi gembul Amel.


"Hahaha.." tawa teman-teman Amel.


Azka melihat jam di tangan sebelum undur diri, "Papay semuanya!" pamit Azka pada mereka dengan melajukan mobil kencang agar dapat sampai tepat waktu.


"Kok kakakmu langsung pergi, Mel?"


"Iya.. Jangan bilang itu kakak bayaran ya?"

__ADS_1


"Nanti kita tarik lagi pisang-pisang itu!"


Begitulah celoteh mereka saat Amel baru saja membuka kulit pisang untuk di makannya.


"Kalian masih gak percaya?"


"Abis kamu sama kakakmu beda Mel"


"Ya jelas beda, dia laki-laki dan aku perempuan, kan?" kata Amel yang berlalu pergi dan diikuti oleh mereka.


"Kita gak percaya sebelum nanti minggu kamu ajak kita main ke rumahmu, iyakan?"


"Setuju!" sahut yang lain.


Amel mendelik sinis, "Bilang aja kalian emang belum puas liat ka Azka?"


"Hehe.." cengir mereka semua.


Kini Amel dan para sahabatnya telah duduk di bangku masing-masing. Mereka heran saat Amel tak hentinya makan pisang yang jadi bahan taruhan tadi.


"Aku tau kamu suka pisang Mel, tapi apa gak kenyang pagi-pagi udah ngabisin 5 pisang?"


"Salah.. 10 pisang yang bener, hehe.." ralat Amel yang kini kembali mengupas kulit pisang.


"Gila kamu Mel, emang gak sakit perut?"


"Perutku bakal sakit kalo gak makan ini pisang, tau?"


Mereka semua menggeleng kepala, polos.


"Karena aku gak sarapan, dan itu karena kalian semua loh" ungkap Amel.


"Loh kok salah kita?"


"Kalo gak kalian minta liat ka Azka, aku gak akan datang sebelum sarapan. Jadi kalian harus bayar masing-masing 3 pisang, besok inget ya?" Amel memerintah.


"Pemerasan kamu Mel" ringis salah satu dari mereka.


"Emang dasar pisang" canda yang lain.


"Lama-lama kamu jadi Onyet loh Mel, mau?" goda seseorang siswa yang tak jauh dari bangku Amel.


"Biarin, wuek" balas Amel.


Seorang guru cantik masuk kedalam kelas hingga keheningan terjadi di dalam sana.


"Selamat pagi anak-anak?" sapa sang guru dengan senyum ramah.


"Pagi bu guru!" serentak seluruh siswa siswi dalam kelas 5a mengucapkan.


"Sebelum kita mulai belajar, ibu minta Dastan untuk maju kedepan dan bagikan buku-buku milik teman-teman kamu"


"Baik bu!"


"Beberapa orang dengan nilai buruk, ibu harap kalian belajar dengan giat lagi, mengerti?"


"Baik bu!"


Dastan membagikan buku-buku PR teman-temannya. Ketika di depan bangku Amel, ia tak langsung memberikan buku itu.

__ADS_1


"Banyakin belajar bukan banyakin makan pisang, Onyet!"


"Wah minta di rujak ini orang." gerutu Amel yang menatap sinis pada Dastan yang telah duduk di bangkunya.


__ADS_2