Cinta Berjuta Rasa

Cinta Berjuta Rasa
Conta Rasa Timun #25


__ADS_3

Sejak tadi Sella memperhatikan satu persatu penumpang di dalam sana, namun masih belum menemukan sosok yang di cari. Bola mata Sella mencari dan terus mencari sosok yang telah lama tak di lihatnya dan bahkan di nantinya, namun sosok itu tak kunjung di temukan Sella juga.


Betapa kecewanya Sella saat ternyata dirinya kini meyakini bahwa yang di lihat hanya hayalan saja. Dia pun terus melangkah ke pintu depan dengan badan yang lesu dan dengan penuh kekecewaan di wajah.


"Gue kira itu memang dia, tapi ternyata hanya ilusi belaka gue doang" keluh Sella yang berjalan keluar kearah pintu tapi langkah Sella terhenti saat sosok itu begitu jelas di lihatnya.


Dengan cepat Sella mendekat dan menatap lekat pada sosok pria yang kucal dan tampang acak-acakan, namun masih terlihat jelas sosok itu oleh Sella.


"Reza?" pekik Sella yang membuat pria itu menoleh kearah Sella.


"Kamu masih hidup Za?" tanya Sella yang langsung memeluknya dengan tangisan air mata bahagia.


Hiks.. Hiks..


"Kamu masih hidup ternyata sayang!" Sella tak dapat menahan kebahagiaan hingga tangisan semakin kencang keluar dari mulutnya.


"Eh.. Kamu itu siapa?" ringis orang yang di peluk Sella seraya melepaskan pelukkan.


"Kamu gak kenal aku, Za?" tanya Sella kaget.


"Aku bukan Reza dan aku gak kenal kamu, maaf yah mbak!" sangkalnya yang langsung meninggalkan Sella yang terdiam kaku di tempat.


Ingin Sella mengejar namun dia harus segera kembali karena mobil-mobil sudah mulai bergerak. Sakit hati Sella, karena masih tak percaya pada apa yang di alami hari adalah sebuah kesalah paham.


Malem nya..


Sella sedang berdiam diri di dalam kamar, dengan pikiran masih mengiang pertemuannya dengan sosok yang mirip sekali dengan mendiang Reza dalam bus itu. Tapi entah kenapa pria itu tak mengenalinya, tapi dia itu Reza kah, atau hanya pria yang kebetulan mirip saja? begitulah isi dalam otak Marsella saat ini.


Krekk..


Marsella menoleh pada Baim yang langsung mendekat padanya.


"Kamu baik-baik ajakan?" tanya Baim yang di sambut anggukan dari Sella, pelan.


"Apa kamu sedang memikirkan sesuatu?" selidik Baim karena ia tau kalo Sella sedang murung pasti ada hal berat yang sedang di pikirkan oleh istrinya.


"Nggak ada kok Im!" sangkal Sella.


"Kita makan yuk? Kata Tinah kamu belum makan, maaf yah aku telat lagi" ajak Baim.


"Aku gak laper, boleh yah aku gak makan dulu?" tolak Sella sembari meminta izin.


"Tapi bayi kita perlu makan Sella sayang!" bujuk Baim bijak.


"Kamu duluan deh nanti aku nyusul bentaran" sahut Sella yang mana Baim pun mengalah dan berlalu meninggalkan kamar.


...*****...

__ADS_1


Saat Baim memakai dasi, ia mengajak ngobrol istrinya itu.


"Oh yah Sella! Aku malam ini ada acara kantor jadi harus pergi dan kayaknya pulang agak malem. Kamu makan sendiri gak apa, kan?" tanya Baim, Sella pun mendekat dan memeluk erat.


"Maafin aku yah Im?" kata Sella, lirih.


"Maaf untuk apa sayang?" tanya Baim heran.


"Karena aku gak bisa di dekat kamu saat kayak gini!" sahut Sella yang membuat Baim membelai pipi Sella lembut.


"Kamu ngomong apa sih, kamu kan hamil jadi aku gak harus nuntut kamu ikut aku. Yang aku mau kamu cukup jaga kandungan kamu yah?" pinta Baim yang di sanggupi anggukan Sella tegas.


"Aku pergi yah?!" pamit Baim yang berlalu pergi.


"Hah! Kalo kamu tau aku masih mikirin Reza, pasti kamu marah sama aku lagi." gumam Sella.


"Tapi gue gak bisa buat lupain Reza, bahkan orang lain pun gue anggep Reza. Ada apa sama otak gue?" ringis Sella pelan.


Ehem..


Sebuah deheman membuat Sella kaget karena takut Baim mendengar apa yang di ucapkannya barusan.


Lantang, "Tinah" kaget Sella saat melihat ternyata pembantunya dan bukan lah Baim.


"Ciyeeh! Non ini ngaku juga kalo masih belum bisa lupain mas Reza!" seru Tinah senang.


"Tinah lebih suka mas Reza di banding mas Baim, non!" mantap Tinah yang juga telah duduk di samping Sella.


"Baim kan udah baik sama lo, kok elo gak suka sama dia?" tanya Sella heran.


"Maaf non! Mas Baim emang baik, tapi Tinah lebih memilih mas Reza dan selamanya tim mas Reza." aku Tinah, meyakinkan.


"Emm.. Kalo misalkan Reza masih hidup apa lo bakal percaya?" tanya Sella, yang ingin tau reaksi dari Tinah.


"Gimana yah non, Tinah sih mau banget mas Reza ada tapi kalo masih hidup kayak nya gak mungkin deh, secara mas Reza kan udah di kuburan sejak tiga tahun lalu." lirih Tinah.


Dalam hati, "Bener kata Tinah, kalo Reza itu emang udah meninggal dan yang disana itu emang bukan Reza, jadi gue gak boleh temuin dia lagi." tegasnya memantapkan hati.


"Non! Kok diem sih?" tegur Tinah.


"Gue laper Tin, ambilin makan dong" ringis Sella, merajuk.


"Yeh! Tadi mas Baim bilang, kalo non gak mau makan" keluh Tinah.


"Udah sana ambilin makan!" rengek Sella memanja.


"Iya non iya, Tinah panasin dulu yah?!" pamitnya.

__ADS_1


Esok hari yang cerah disambut Marsella dengan keluar rumah tanpa izin dari Baim, Sella pun tak menyuruh Udin untuk mengantar dirinya. Dia hanya pergi dengan taksi menuju terminal untuk mencari sosok mirip Reza yang berharap dapat bertemu di sana.


Sejak semalem Sella sudah bertekad untuk melupakan sosok yang mirip mendiang suaminya. Tetapi setelah Sella mendapatkan sebuah mimpi, di mana Reza datang kedalam mimpinya dengan senyuman cerah. Itu lah untuk pertama kalinya Sella memimpikan Reza yang terseyum, karena biasanya Sella hanya mimpi kecelakaan yang di alami oleh Reza.


"Apa dia ada?" gumam Sella yang mencari-cari sosoknya.


"Itu dia!" seru Sella yang berlari mengejar bus yang akan siap melaju pergi.


Marsella benar-benar tak memperdulikan kandungan nya lagi, yang di inginkan Sella adalah bertemu pria itu dan mencari tau siapa kah sebenarnya dia?


Supir bus menghentikan mobilnya saat pria yang mirip dengan Reza meminta menghentikan kemudi ketika melihat Sella yang berlarian mengejar bus mereka.


Akhirnya Sella masuk dalam bus tapi sialnya ia harus berdiri karena kursi sudah penuh oleh penumpang. Karena berlarian tadi, Sella pun mulai merasakan kesakitan pada perut, hingga ia hanya dapat memegangi perut untuk menahan sakit yang mendera.


"Maaf pak! Saya tau ini kurang sopan, tapi sebaiknya bapak berdiri, kasian wanita ini kelelahan dan sedang hamil pula!" pinta pria itu yang membuat mata Sella berbinar saat melihat pria mirip Reza mau membantu mencarikan tempat duduk untuknya.


Bapak itu pun merelakan kursi untuk Sella duduki, dengan mengucapkan makasih Sella pun mulai duduk dengan menatap kepergian pria yang sangat-sangat mirip Reza itu.


"Kalo aja dia Reza, pasti gue bahagia bersamanya lagi!" gumam Sella yang mulai membayangkan hari-hari bahagia bersama Reza, tetapi lamunan itu langsung buyar karena deringan handphone yang ternyata dari Baim.


"Sel! Dimana kamu, Tinah bilang kamu gak di rumah?" tanya Baim panik.


"Maaf Im, aku gak bilang sama kamu kalo aku mau ke mall" Sella bersalah, dengan sengaja merancang kebohongan.


"Tapi kenapa gak sama Udin, aku khawatir sayang" kata Baim, mengutarakan keresahannya.


"Aku pake taksi, jadi gak usah takut yah!" terang Sella menenangkan.


"Ya udah kamu gak boleh lama yah?" pinta Baim.


"Iya sayang!" tutup Sella yang menghela napas lega.


Pandangan Sella terus menuju sosok lelaki itu, kerinduan akan sosok Reza terbalaskan dengan memandangi lelaki itu yang sedang menagih uang ongkos para penumpang. Hingga kini tepat di hadapan Sella yang menyerahkan uang selembaran 100ribu padanya.


"Ini sisa kembalian mbak!" ramahnya, Sella membalas dengan senyum.


Perjalanan jauh membuat Sella tertidur di bus, lelah membuat dirinya tidak sadar akan keberadaannya sekarang.


"Mbak! Bangun mbak" tegur lelaki itu.


Sella mengerjap, membuka matanya.


"Di mana kita sekarang Za?" tanya Sella yang setengah sadar.


"Kita udah kembali ketempat semula mbak, emang tujuan mbak kemana? Kita udah bulak balik bogor Jakarta tapi mbak gak turun-turun juga" tanyanya heran.


"Ya ampun! Jam 6 sore, pasti Baim marah karena pulang telat. Mana handphone mati lagi" pekik Sella yang langsung melangkah meninggalkan lelaki itu yang sangat terbingung dengan tingkah Sella.

__ADS_1


__ADS_2