Cinta Berjuta Rasa

Cinta Berjuta Rasa
Cinta Rasa Timun #27


__ADS_3

Bola mata Tinah terbelalak lebar saat Sella menunjukan sosok Cipluk yang memang benar sangatlah mirip dengan mendiang Reza, hanya saja kucal dan tak terurus yang membedakan di antara π—„π–Ύπ–½π—Žπ–Ίπ—‡π—’π–Ί.


Ya! Sesuai janji Sella mengajak Tinah untuk bertemu pria yang mirip dengan Reza namun dengan s𝗒arat kalo Tinah tidak memberitaukan apa pun pada Baim soal keberadaan Cipluk yang selama beberapa hari ini selalu Sella temui dengan diam-diam tanpa di ketahui oleh π—Œπ–Ίπ—‡π—€ suami.


Sosok Cipluk me𝗇𝗀𝖾𝗋𝗒𝗂𝗍kan kening saat mendapat tatapan Tinah yang begitu tajam hingga dirinya hanya tersenyum simpul pada kedatangan mereka.


"Maaf.. Kenapa melihatku seperti itu?" tegur Cipluk yang masih tak membuat Tinah mengedipkan bola mata darinya. Sella tidak ingin Cipluk merasa risih, oleh karena itu langsung menyenggol pinggang Tinah hingga tersadar kembali.


celetuk Tinah, "Mas Reza beneran masih hidup!" sepontan berucap saat tersadar.


"Maaf banget.. Aku sudah bilang kalo aku bukan Reza." sangkal Cipluk tegas untuk kesekian kalinya dan kali ini wajah Cipluk tampak kesal karena Sella masih urung menyerah dan malah membawa orang lain untuk meyakinkan bahwa dirinya adalah sosok Reza yang di cari.


Tidak ingin terus berlanjut, akhirnya Cipluk pergi dari hadapan keduanya yang telah menempati kursi kosong dalam bus.


Tinah berbisik pelan, "Non, Tinah Yakin kalo dia itu mas Reza." katanya menegaskan di telinga Sella.


"Tapi mana mungkin kalo Reza gak ngenalin kita?" keluh Sella, yang mulai ragu.


"Non ini gimana sih, gak pernah liat sinetron yah?" cetus Tinah kesal.


Dengan polos, "Apa hubungannya coba Reza sama sinteron?" pekik Sella yang memanyunkan bibir mungilnya.


"Makanya gaul 𝗇on, nonton sinetron biar tau kisah-π—„π—‚π—Œπ–Ίπ— π—Œπ–Ύπ—‰π–Ύπ—‹π—π—‚ π—†π–Ίπ—Œ 𝖱𝖾𝗓𝖺 𝗂𝗇𝗂!" saran Tinah.


"Ogah! Terus hubungannya sama Reza apa? Jangan buat penasaran deh." bentak Sella yang membuat beberapa orang mengarahkan pandangan padanya, Sella pun meminta maaf dengan melontar senyum pada mereka.


"Jadi gini 𝗇on, di π—Œetiap sinetronkan tuh yah, selalu pemeran utama kalo mati kecelakaan pasti tau-taunya masih hidup, dan pastinya ilang ingatan. Tuh non jadi intinya mungkin si Cipluk itu mas Reza yang lagi ilang ingatan." terang Tinah menjelaskan.


"Masa sih?" tanya Sella yakin tak yakin, karena bagaimana pun dirinya tidak ingin salah dalam bertindak.


"Percaya deh non Sella sayang!" bujuk Tinah meyakinkan.


"Tapi ini bukan sinetron Tinah, kalo kita salah gimana?" Sella mengingatkan, namun tidak mematahkan keyakinan Tinah akan sosok Reza.


"Emang ini bukan sinetron, cuma cerita yang di buat sama si Lia yang entah kenapa jalan cerita jadi kaya𝗄 gini non!" keluh Tinah 🀣.


"U𝗀h.. Terus kita harus gimana?" tanya Sella yang terus memperhatikan kearah Cipluk yang sedang memintai uang pada para penumpang 𝖻us.

__ADS_1


"Pokoknya non Sella serahin semua sama Tinah, non cukup tau beres aja deh!" seru Tinah meyakinkan.


"Emang gimana?" tanya Sella penasaran.


"Kasih tau sekarang gak yah?" π—€π—ˆπ–½π–Ί Tinah yang membuat Sella me𝗆𝗂𝖼𝗂𝗇𝗀𝗄𝖺𝗇 π–»π—ˆπ—…π–Ί 𝗆𝖺𝗍𝖺 di buatnya.


Dalam hati Tinah, "Harus! Bagaimana pun mas Cipluk itu adalah mas Reza, dan mas Baim harus keluar dari kehidupan non Sella cepat atau lambat. 𝖳𝖺pi gimana caranya yah?" gumam Tinah yang berpikir keras untuk mendapatkan ide mutu yang akan menjadi misi terdepannya.


...*****...


Beberapa hari ini, Tinah nampak sibuk dengan rencananya. Sella yang uring-uringan saat Tinah enggan memberitaukan apa rencana yang akan di 𝗅akukannya pada Cipluk. Sella selalu ngotot dan meminta Tinah untuk memberitaukan apa yang akan direncakannya nanti, karena π—Œπ—Žπ–½π–Ίπ— sangat penasaran.


"Tin! Kasih tau dong!" pinta Sella.


"Nanti aja deh non Sella, kalo udah lengkap idenya!" tolak Tinah yang terus acuh tak acuh dan tidak memperdulikan Sella yang terus memelas dan merajuk padanya.


"Tapi lo gak niat culik dia, kan?" selidik Sella, ketika hendak pergi namun tertahan saat memikirkan hal yang di pertanyakan pada Tinah.


"Kita liat aja nanti!" sahut Tinah yang santai menanggapi rasa penasaran Sella.


"Yak.. Yang boneng aja lo." pekik Sella.


Sella panik bukan main saat Baim ada di ambang pintu sana hingga ia pun tak dapat berkutik sedikit pun.


"Mm.. Kita lagi ngomongin makan malam nanti mas Baim!" sahut Tinah yang santai menjawab agar Sella tak merasa panik lagi.


"Oh, di kira kenapa.. Sella! Minggu depan aku harus keluar kota, dan kamu harus ikut sama aku 𝗒𝖺 π—Œπ–Ίπ—’π–Ίπ—‡π—€!" kata Baim yang mana wajah Sella murung.


"Loh kenapa non Sella harus ikut mas? Kan non Sella gak boleh kemana-mana karena hamil" protes Tinah yang membuat Baim melotot tajam padanya, namun Tinah tak takut dengan tatapan itu.


Dengan ketus, "Aku gak mau jauh dari istriku, jadi gak masalahkan?" tutur Baim.


"Udah Tin, jangan begitu sama mas Baim. Walau bagai mana pun dia suami gue dan berhak meminta gue pergi bersamanya kapan pun." ucap Sella mengingatkan dan penuh kepasrahan diri.


Sella mengajak Baim keluar dari dapur agar pertengkaran tak terjadi antara mereka, dirinya tau Tinah sangat jelas tak suka dengan kehadiran Baim dalam hidup Sella.


"𝖧em! Liat aja nanti, kalo mas Reza udah balik ke hidup non Sella pasti situ langsung di usir jauh-jauh dari hidup mereka." gerutu Tinah sengit.

__ADS_1


Di 𝗄emudian hari..


Diam-diam Tinah menyambangi Cipluk, saat ia beralasan pergi kepasar. Tinah sudah merencanakan sesuatu yang sudah di rancangnya. Perlahan Tinah mendekat pada Cipluk yang seperti biasa sedang menagih uang pada penumpang yang sangat penuh di dalam bus.


"Mas Re__" ucap Tinah yang langsung terhenti kar𝖾na pria di hadapannya sekarang bukan Reza melainkan Cipluk yang hanya seorang penagih uang dalam bus.


"Maaf mas Cipluk saya hampir lupa!" seru Tinah bersalah.


Cipluk mengangguk santai, "Apa butuh bantuan?"


Akhirnya dia menyerah diri untuk maksud dari kedatangan Tinah, karena sejak mengenal sosok Sella, dirinya tidak tenang dan seolah di bayang-bayangi sesuatu yang tidak 𝗂𝖺 mengerti.


"Yah! Saya dan non Sella sangat butuh kehadiran kamu mas Cipluk!" ungkap Tinah, antusias.


"Apa yang bisa aku bantu buat kalian?" tanya Cipluk yang berjalan dengan terus menarik uang dari penumpang yang di ikuti Tinah 𝖽𝖺𝗋𝗂 belakang.


"Saya gak bisa cerita di sini mas, karena ini sangat penting dan panjang untuk di bahas" kata Tinah yang membuat Cipluk menatap heran.


"Penting bagai mana?" selidik Cipluk.


"Lebih baik kita ke pojok sana mas?" saran Tinah yang langsung pergi dengan di kuti Cipluk yang semakin bingung.


Setelah duduk Tinah langsung menyiapkan segala rencana yang telah di siapkan sebelum menemui Cipluk, dengan menghela nafas panjang Tinah mulai berbicara.


"Mas Cipluk kan tau kalo kamu itu sangat mirip sama mas Reza__" ucap Tinah perlahan, dan menghentikan kalimatnya.


"Itu kan kata kalian berdua!"


"Ya karena itu kita yakin, jadi__" lagi lagi terhenti.


"Terus?" tanya Cipluk yang penasaran.


"Saya mau mas ikut saya kesuatu tempat, mau ya?" pinta Tinah yang membuat Cipluk membulatkan mata.


"Maaf mbak, ini waktunya kerja jadi gak bisa." tolak Cipluk yang berdiri kembali.


"Bukan begitu, tapi ikut ke rumah non Sella." ralat Tinah.

__ADS_1


Cipluk memekik lantang, "Maksud mbak ini, nyamar jadi Reza?"


Tinah mengangguk pelan, yang berharap-harap cemas akan 𝖽𝗂 tolak olehnya.


__ADS_2