
Ketakutan Sella akan ada nya wanita lain membuat dirinya mencari sosok Tinah, karena itu ia melangkah menuju dapur yang melihat Tinah sedang memasak sesuatu.
"Tinah! Reza kenapa sih?" tanya Sella mencari tau.
"Mmmm, mana Tinah tau non! Tanya aja langsung sama orangnya, biar gak repot" sahut Tinah acuh.
"Jadi udah main rahasia-rahasiaan yah sama gue? Dibayar berapa sama Reza buat tutup mulut?"
"Nggak non"
"Dia punya cewek lain disana?"
"Mana ada non, bukan sebaliknya?"
"Gue? Aneh deh, ya nggak mungkin lah." elak Sella.
"Lah terus tadi, peluk-pelukan sama siapa tuh?"
"Baim? Ya elah elo kan tau dia temen gue, mana ada gue sama dia"
"Mending non tanya sendiri sama orangnya deh, Tinah gak mau ikut-ikut." saran Tinah.
"Oke gue bakal cari tau sendiri, puas lo? " ucap Sella sengit.
Reza menuruni tangga yang langsung menuju meja makan namun langkahnya tertahan saat melihat Sella yang sedang makan di sana.
"Makan siang udah siap mas!" ucap Tinah pada Reza yang hendak kembali keatas.
"Gue mau makan di luar, gak selera gue di sini" sindir Reza yang berlalu meninggalkan Sella yang memanyun kesal, sementara Tinah terkekeh dengan sindiran itu.
"Ketawa lagi lo?" cetus Sella kesal.
"Maaf non, gak sengaja Tinah, hehe.."
"Elo kalo gak ada kerjaan di sini pergi deh sono ke dapur" bentak Sella geram.
"Yeh non Sella, kalo marah sama mas Reza jangan marah sama Tinah juga dong non, kan Tinah gak tau apa-apa!" tukasnya yang berlalu meninggalkan Sella yang semakin geram.
"Kenapa sih Reza? Dan apa maksudnya datang ke sini tapi niatnya cuma nyuekin gue doang? Mending gak usah dateng sekalian kalo tau cuma gini akhirnya" gerutu Sella yang juga berlalu meninggalkan makananya.
...*****...
__ADS_1
Hari lain..
Sella duduk di samping Baim yang sedang duduk di anak tangga kampus, wajahnya terlihat murung hingga membuat Baim bertanya ada apa dengan Sella.
"Kenapa sama lo?" tanya Baim.
"Gue kesel sama Reza! Dia itu cuek baget sama gue sampe sekarang, kenapa coba?" keluh Sella.
"Apa karena soal kemaren dia liat gue meluk elo?" selidik Baim.
"Nggak mungkin, soalnya sebelum dia datang juga dia udah marah sama gue, yang gue heran gak tau kenapa dia kayak gitu? Gak mungkin dia punya cewek lain kan?" ringis Sella, khawatir.
"Percaya sama gue, dia bukan tipe yang gak setia Sel" Baim menyakinkan.
"Apa mungkin soal masak timun buat lo waktu itu?" ucap Sella mengingat-ingat.
Baim mengeryitkan dahi, "Emang lo bilang soal itu ke dia?"
"Iya.. Dan waktu itu dia sempet marah banget ke gue, tapi kan gue pikir itu marah sesaat aja gak harus sampe hari ini, kan?" terang Sella, bingung.
"Biar dia gak marah, lo harus masakin juga buat dia, pasti dia bakal seneng." saran Baim.
"Bener juga kata lo, pasti gue masak buat dia!" seru Sella dengan tersenyum ceria yang membuat Baim merasakan kedamaian melihat senyum itu.
Menggertak, "Gue kan udah suruh lo masuk, jadi masuk aja gak usah terus-terusan ketuk pintu gak jelas" Reza kesal.
"Elo gak liat tangan gue pegang apa? Gimana gue mau buka pintunya coba?" sungut Sella.
"Apa itu?" tanya Reza, acuh.
"Racun.. Ya makanan lah, ini gue masakin buat lo, tau!" kata Sella yang menyodorkan kehadapan Reza.
"Gue gak laper." tolak Reza yang membuat Sella kesal hingga menjatuhkan makanan yang sia-sia ia buat dari tangannya.
Craaang..
"Tega lo gak ngehargai gue. Capek gue masak tapi lo malah nolak gitu aja, nyesel gue lakuin itu buat orang gak punya hati kayak lo." cetus Sella yang berlalu meninggalkan Reza yang hanya mematung didepan kamar dengan menatap makanan yang bercecaran di lantai.
"Gue benci sama lo Reza. Apa susah nya sih hargain gue sedikit aja usaha gue? Elo pikir gue gak punya hati apa yang bisa lo perlakuin gue seenaknya aja, hika.. hiks.." isak tangis Sella yang menumpahkan kekesalan di atas kasur.
Malam hari nya..
__ADS_1
Sella yang berpakaian rapih, mencoba mencari ketenangan diluar rumah dengan menuju keparkiran. Disana ia melihat Reza yang baru saja datang dan bergegas keluar dari mobil setelah melihat Sella hendak masuk kedalam mobil.
"Lo mau kemana?" tanya Reza.
"Kemana pun gue pergi yang pasti nyenengin hati gue, bukan nyakitin kayak elo" cetus Sella, sengit.
"Jangan bilang lo mau ke Baim, iyakan?" bentak Reza.
"Iya! Emang kenapa, gak boleh?" cibir Sella yang melajukan mobil begitu cepat, meninggalkan Reza yang sempat menahan agar tidak pergi.
"Aaakh.. Sial.." pekik Reza geram.
...*****...
Hari berganti hari..
Hubungan Sella dengan Reza semakin tidak jelas, sementara lebih dekat dengan Baim yang membuat Reza geram dan semakin marah pada Sella.
Baim pun terlihat begitu membuka hati untuk Sella yang meminta menenangkan di setiap keluhan atas tindasan Reza yang membuat dirinya makin kesal dan geram. Pertengkaran besar pun akan selalu terjadi pada keduanya yang mana Reza terus melarang Sella menemui Baim lagi.
"Elo kenapa sih sama Baim?" cetus Sella geram
"Gue gak suka dan gak akan suka sama dia kalo elo masih deket sama dia, titik." tegas Reza.
"Dia kan temen gue, jadi gak masalah gue mau deket sama dia atau gue mau jalan sama dia itu bukan hak lo larang gue" ucap Sella lantang.
"Tapi gue cowok lo dan gue berhak larang siapa pun yang deket sama lo" Reza menekankan.
"Pacar apa kalo cuma nindas gue dan larang-larang gue? Elo itu bukan Reza yang gue kenal, lo itu orang lain, lo udah berubah asal lo tau." cetus Sella yang berlalu meninggalkan Reza yang menggeram padanya.
Lain hal bila Sella di dekat Baim, setianya dia menenangkan Sella yang masih beramarah karena percekcokan yang di alami tadi dengan Reza.
"Reza itu udah berubah, dia bagaikan orang asing yang gak pernah gue kenal" keluh Sella.
"Gimana kalo gue yang gantiin dia?" celetuk Baim yang membuat Sella mendelik heran padanya.
"Maksud lo?" tanya Sella, dirinya tidak ingin salah paham karena mungkin Baim hanya sedang bergurau saja.
"Maksud gue yang nenangin lo" kilah Baim, gugup.
"Lo emang baik Im, coba aja Reza seperti elo bukan kayak sekarang yang suka marah-marah gak jelas dan bikin gue muak liat mukanya" aku Sella yang menyender di bahu, Baim tersenyum saat Sella melakukan itu.
__ADS_1
"Gue jatuh cinta sama lo Sella!" ungkap Baim yang membuat Sella kaget dan bukan hanya Sella tapi Reza yang mengintip mereka dari semak-semak teriris sakit saat ucapan itu terlontar dari mulut Baim. Dengan sangat marah Reza meninggalkan taman dengan penuh kekecewaan.