
Reza dan Tinah baru saja sampai di depan rumah Baim, keduanya mendekat ke pintu dan siap berniat memencet bel namun tertahan saat Baim membuka pintu dan tercengang atas kedatangan keduanya.
Sinis, "Ngapain kalian ke sini?" tanya Baim.
"Kita mau ketemu non Sella!" sahut Tinah tak kalah sengit.
"Sella gak ada di rumah, dia ada di rumah orang tua gue. Karena gue akan keluar kota jadi jangan harap kalian bisa ketemu dia lagi, apa lagi elo Za." kata Baim, menegaskan.
"Baim jangan bohong, please kasih gue kesempatan untuk ketemu dia, untuk terakhir kalinya, gue janji!" pinta Reza memelas.
"Elo pikir gue percaya? Gue tau lo mau ambil Sella dari gue kan, hah? Gue bukan orang bodoh yang bisa elo bodohi Za." tolak Baim tegas.
"Im, percaya sama gue. Gue udah rela lo sama Sella, tapi please izinin gue ketemu untuk terakhir kalinya!" bujuk Reza.
"Oke gue pegang janji lo tapi inget cuma 5 menit, gak lebih." cetus Baim mengingatkan.
"Pelit banget sih, yang punya lebih awal aja gak sepelit itu sama kamu, sampe 3 tahun coba." gerutu Tinah yang mana Baim melotot tajam ke arahnya.
Ke tiganya langsung menuju kamar di mana Sella berada, langkah mereka terhenti saat melihat darah yang mengalir dari balik pintu.
"Darah apa itu Im?" tanya Reza kaget.
"Gak tau, perasaan tadi gak ada darah apa pun" sahut Baim yang juga heran, "Sella.. Ada apa sama dia?"
"Aduh kok malah diem sih mas? Cepet buka pintunya, pasti terjadi sesuatu sama non Sella." bentak Tinah yang mana Reza langsung membuka handle pintu namun terkunci.
"Wah parah lo Im, elo kunci Sella di dalam?" pekik Reza tak menyangka, Baim membuka pintu kamarnya dan saat terbuka lebar ke tiganya tercengang kaget melihat Sella terkulai lemah di atas lantai.
"SELLA.." jerit mereka yang mana Reza dan Baim langsung mengangkat Sella untuk di bawa ke rumah sakit.
"Ini semua karena mas." cetus Tinah pada Baim.
"Kamu siapa sih, hah? Kamu tuh cuma seorang pembatu yang gak pantes berkata kasar ke majikannya." betak Baim.
"Cukup.. Gue mohon jangan ada keributan sekarang yang terpenting sekarang Sella cepat di rawat" pinta Reza melerai keduanya yang mana ia sangat panik pada Sella yang tak berdaya telah berada di pangkuannya.
"Bertahan demi aku Sel!" gumam Reza yang menggenggam tangan Sella.
Sampainya di rumah sakit, Sella langsung di bawa untuk oprasi hingga ketiganya menunggu dengan tegang. Sesekali Baim meneteskan air mata penyesalannya saat tak mempercayai rintihan Sella pagi tadi.
"Maafkan aku Sel! Aku menyesal telah mengabaikan keluhan mu" sesal Baim.
Tak lama dokter pun keluar, yang langsung di buru oleh ketiganya, semakin tegang dengan keputusan yang akan di dengar dari sang dokter.
"Untunglah! Kalian membawanya tepat waktu, hanya saja____" ucapnya tertahan dan Baim langsung bertanya dengan ketakutan.
"Kenapa dok? Dia baik-baik ajakan dok?" ringis Baim.
__ADS_1
"Siapa di antara kalian yang sebagai suaminya?" tanya dokter.
"Saya!" Baim dan Reza menjawab secara bersamaan.
"Maksudnya gimana ini?" tanya dokter bingung saat keduanya mengaku sebagai suami Sella.
"Gini loh dok! Mas Reza suami pertama non Sella dan yang ini__" tujuk Tinah pada Baim, "Mas Baim suami non Sella yang sekarang." tambah Tinah, menjelaskan.
Dokter mengangguk pelan, "Sella dan bayinya di antara hidup dan mati, kita hanya bisa menyelamatkan satu di antara keduanya. Sebagi orang yang berhak menentukan adalah suami dari pasien sendiri." tutur dokter menerangkan.
"Kalo gue pilih Sella! Dia akan kembali bersama Reza karena gak ada lagi anak di antara gue dan dia. Gue gak mau Reza menang, jadi lebih baik gue pilih anak agar gak ada yang menang di antara kita. Yah! Gue harus pilih anak gue." gumam Baim dalam hati.
"Dok selamatkan Sella!" pinta Reza.
"Enggak.. Anak gue yang harus hidup.." tolak Baim yang membuat tercengang Reza dan juga Tinah.
"Im, apa-apaan kamu? Sella lebih penting saat ini." ucap Reza mengingatkan.
"Bagi gue anak segalanya." tegas Baim, angkuh.
"Dokter! Saya ayah dari anak yang di kandungnya jadi tolong selamatkan anak saya dok." pinta Baim yang mana dokter pun kembali kedalam.
"Dok jangan dok!" teriak Reza yang tak di dengar olehnya.
"Sialan.." pekik Reza yang langsung menonjok Baim karena marah besar.
Brukk..
"Kenapa Im, kenapa lo egois begitu?" tanya Reza kecewa.
"Elo tanya gue kenapa? Karena gue gak rela kalo Sella balik sama lo. Lebih baik Sella pergi untuk selamanya dari pada dia kembali sama elo." ungkap Baim sinis.
"Tega lo Im? Tega merelakan Sella cuma karena berpikir picik kayak gitu?" pekik Reza yang mengangkat kerah baju Baim yang mana ia pun terangkat olehnya.
"Ini rasa cinta elo ke Sella? Dengan merelakan dia pergi hanya karena keegoisan lo, hah?" gertak Reza lantang.
"Cinta? Hahaha... Gak ada cinta Reza. Hahaha.." cibir Baim dengan tawa yang mana Reza terperangah kaget mendengar itu.
"Semenjak Sella nolak gue, dan saat kalian menikah, gak ada lagi rasa cinta sama dia. Yang ada gue benci sama kalian berdua." ungkap Baim yang membuat Reza mengeryitkan dahi heran.
"Bukannya lo udah rela waktu itu?" selidik Reza, mengingatkan.
"Gue emang rela, tapi itu cuma pura-pura karena untuk membalaskan dendam yang udah gue rancang buat kalian berdua." aku Baim yang lagi-lagi membuat Reza kaget begitu pun dengan Tinah yang terus mendengarkan.
"Pelan-pelan gue biarkan kalian nikah dan merasakan indahnya cinta, setelah itu baru gue melancarkan rencana selanjutnya. Elo tau dengan apa gue memisahkan kalian?" tanya Baim yang mana Reza tak menjawab karena masih tak percaya kata-kata yang keluar dari mulut Baim.
"Elo gak lupakan kecelakaan tiga tahun silam? Di
__ADS_1
mana elo tabrakan, dulu?" kata Baim.
"Sebenernya gue yang merencakan kecelakaan itu, gue sengaja merusak rem mobil lo dengan harapan elo akan kecelakkan. Kesempurnaan pun bertambah saat ternyata kecelakaan beruntun terjadi. Karena dengan itu jejak kematian lo gak ada sangkut pautnya dengan gue. Tapi sial Sella yang gue nikahi tetep aja gak bisa ngelupain lo, dia hanya bisa mengingat lo seorang." ungkap Baim kesal, sementara Reza dan Tinah sangat-sangat tercengang dengan pengakuan Baim.
"Dari dulu gue cuma mau anak gue dari Sella, gue hanya perduli dengan bayi yang di kandungnya karena apa? Dia hanya ingin hidup sama lo, Reza" ringis Baim.
"Ini keputusan gue, keputusan di mana gue rela kehilangan dia di banding harus merelakan Sella dengan lo." tunjuk Baim sengit ke wajah Reza.
"Bajingaan.." teriak Reza yang sudah panas dan geram mendengar itu, hingga akhirnya ia pun membogem Baim dengan sangat kuat.
Bhuaaakk..
Dhukk..
"Cuma segitu nyali lo, hah?" sindir Baim tak takut.
"Elo udah merusak semuanya, elo udah merusak kebahagian kami." ucap Reza lantang penuh emosi dan hendak membogemnya lagi, namun sial Baim keburu mengeluarkan pisau kecil dari sakunya yang langsung di tusukkan kearah Reza.
Jleb..
"Mas Rezaa.." teriak Tinah yang kaget saat Baim menusukkan berkali-kali ke tubuh Reza yang kini terkulai lemas.
Bruuukk..
Tubuh Reza ambruk, ia merasakan lemas karena darah segar yang keluar dari tubuhnya.
Melihat semua itu Baim merasa senang dan membuat Baim langsung berniat kabur namun dengan cepat Tinah menahannya, Baim mendorong tubuh Tinah hingga terpental jatuh.
"Awh.." ringis Tinah kesakitan, Baim menatap sengit padanya.
"Makanya jangan suka ikut campur urusan yang bukan jadi urusan lo, dasar pembantu gak guna." maki Baim.
"Urusan non Sella dan mas Reza jadi urusan Tinah juga mas, karena Tinah yakin mas Baim bukan orang baik tapi orang jahat dan terbukti kalo emang bener bukan orang baik." sindir Tinah lantang.
"Lo tuh kurang ajar yah? Udah untung gue gak bunuh lo kayak dia." tunjuk Baim pada Reza.
Baim pun berniatย pergi namun dengan cepat Tinah menendang kaki Baim hingga tertekuk dan terjatuh dengan posisi tengkurap hingga kepalanya terbentur lantai dengan sangat kencang dan tidak berkutik lagi.
Dua hari kemudian..
Sella perlahan membuka matanya dengan mengerjap-ngerjap pelan dan mencoba menyempurnakan penglihatannya, cahaya pun menembus mata saat dua hari lamanya ia tak sadarkan diri.
"Non udah sadar? Syukurlah non baik-baik saja!" ucap Tinah bersyukur.
"Tin.. Reza mana?" tanya Sella dengan nada pelan.
"Baim juga mana?"
__ADS_1
Sella kembali bertanya, "Dan bayi aku mana Tin?" ringis Sella yang panik saat Tinah tak mengatakan sepatah kata pun dari pertanyaannya.
"Emm_______"