Cinta Mas Sepupu

Cinta Mas Sepupu
Vivian dan Fiona


__ADS_3

***


Esok paginya, Larisa bangun seperti biasa langsung mandi, turun, dan membuat sarapan.


Larisa mengira Bassta belum turun, padahal pria itu sudah pergi sejak subuh tanpa ia tahu.


Melihat Larisa yang hendak memasak sarapan cukup banyak. Asih mendekat, bertekad untuk menegurnya.


“Mbak,” panggil Asih.


“Iya, Bi,” balas Larisa.


“Mas Bassta dari tadi udah pergi, nggak tahu tuh mau ke mana. Mbak nggak perlu masak sarapan capek-capek, biar Bibi aja,” ujar Asih.


Tangan Larisa yang sedang sibuk mencincang bawang Bombay pun langsung terhenti.


Larisa menoleh, ia tatap Asih lekat.


“Dia nggak ngomong apa-apa, Bi?” tanyanya, Asih pun menggeleng kepala.


Larisa termenung, memikirkan ke mana perginya pria itu. Ia cukup senang dengan semalam, ketika Bassta memikirkan perihal kenangan masa kecilnya sampai rela memberikan makanannya. Itu sebuah hal yang mustahil bagi Larisa bisa dia dapatkan dari Bassta. Ia tahu pria itu baik, sepupunya yang sangat dia kenali, tapi Larisa lupa bukan Bassta namanya jika ia bisa menetap pada sosok baiknya apalagi ketika ingat kejadian itu.


“Mbak Larisa, kan, tahu. Mas Bassta nggak pernah makan masakan Mbak Larisa, kenapa Mbak Larisa tetep aja repot-repot bikinin mas Bassta sarapan juga kadang makanan buat makan malam.” Asih menyeletuk, karena jika ia yang berada di posisi Larisa, rasanya ia tidak akan sanggup menghadapi sikap kasar Bassta.


Larisa tersenyum mendengarnya.


“Cuman ini yang bisa saya lakukan untuk menebus kesalahan,” ungkapnya dan Asih mengernyit.


“Kesalahan apa, Mbak?” Asih sangat penasaran.


Larisa tersenyum, mengangkat bahu, ia tak mungkin membocorkan rahasianya dengan Bassta ke sembarang orang. Larisa takut, semakin banyak yang tahu, semakin banyak pula masalah yang akan ia hadapi.


***


Siang harinya, Larisa sedang duduk terpekur di atas sofa. Televisi menyala tetapi ia mengabaikannya. Tetapi sekejap kemudian, matanya beralih dan begitu fokus saat nama seorang model ternama Jema Sisilia akan kembali ke tanah air dan ditunggu banyak penggemarnya.


Larisa menaikkan satu alis, meneguk ludahnya kasar saat melihat potret Jema di layar. Tubuh tinggi nan ramping, kulit bersih juga dengan wajahnya yang anggun menawan. Jema yang memiliki wajah tirus dengan dagu lancip benar-benar membuat Larisa terpana melihatnya.


Itukah Jema yang dimaksud Bassta? Mengapa ia tidak tahu jika di tanah air ada sosok model bak bidadari semacam itu?


Sebelumnya, Larisa memang tidak terlalu tertarik dengan dunia hiburan tanah air apalagi jika tahu satu-persatu publik figur di tanah air ini. Yang ia tahu hanya kartun dua bocah dengan kepala plontos di salah satu Channel.

__ADS_1


Larisa sangat awam dengan yang begituan.


“Pantesan,” ucap Larisa dan langsung merasa tidak percaya diri.


Jika memikirkan untuk bersaing dengan sosok Jema, itu malah membuatnya jatuh ke dalam jurang sebelum memulai apa-apa. Jelas Bassta akan lebih memilih perempuan itu ketimbang dirinya yang mengurus diri saja tidak terlalu mahir.


Larisa hanya perempuan yang sederhana, apa adanya, jangankan tampil kekinian. Berias saja ia hanya mampu ala kadarnya.


Larisa terus menonton, sembari memeluk bantal sofa. Ia yang perempuan saja terpana melihat Jema, apalagi mereka laki-laki termasuk Bassta.


Kandas, apa itu adalah tujuan rumah tangganya sekarang?


Tak kuasa melihat lebih lama, lekas ia matikan televisinya.


Seketika lamunannya buyar saat suara bel pintu berbunyi. Larisa lekas mengedarkan pandangan, Asih tidak terlihat, ia sedang keluar untuk belanja ke minimarket di seberang.


Larisa pun bangkit, melangkah dengan rasa penasaran. Biasanya Nenden dan Nayla yang datang, tapi mana mungkin mendadak begini? Keduanya akan memberi kabar, dan jika tamu untuk Bassta pun, pasti Bassta akan memberitahunya.


“Sebentar,” seru Larisa kemudian membuka pintu.


Matanya membulat ketika melihat wajah jutek Vivian di hadapan, gadis ini adalah adik dari suaminya.


“Larisa!” seru Fiona dengan antusias.


“Mbak,” balas Larisa kemudian maju ke hadapan Vivian.


“Aduuuh, berat.” Fiona langsung meletakkan semua belanjaannya, ia berpelukan dengan Larisa sementara Vivian juga melakukannya dengan ekspresi datar.


“Kenapa kalian nggak bilang dulu mau ke sini? Pasti aku bakalan siap-siap menyambut kalian berdua.” Larisa tersenyum ramah.


“Eeeh sengaja, biar kamu nggak usah repot-repot. Nanti kamu kecapean,” balas Fiona dengan riang. Ia memang selalu begitu, ramah dan riang kepada siapa pun. Dan Larisa merasa hanya Fiona yang menerima kehadirannya di tengah-tengah keluarga mereka.


“Ayo, masuk,” ajak Larisa dan Fiona mengangguk.


Fiona menoleh saat Vivian hanya diam, sembari mendelik berulang kali. Gadis itu jengkel karena dibohongi. Fiona bilang akan mengajaknya belanja, tetapi ternyata seusai belanja Fiona malah mendesak untuk mampir ke rumah Bassta. Fiona ingin tahu kabar Larisa secara langsung.


Sekarang, Vivian dan Fiona sudah duduk. Larisa berlalu untuk membuatkan minuman, tak lama dia kembali juga dilengkapi dengan kudapan ringan.


“Terima kasih, Larisa.” Fiona tersenyum.


“Nggak masalah, Mbak. Ayo silakan, dinikmati, cuman ada ini.” Larisa tersenyum miring, sedikit gugup karena ada Vivian yang terus menunjukkan ketidaksukaan padanya.

__ADS_1


Fiona mengangguk, mengambil segelas sirop dingin, menyesapnya perlahan lalu ia melontarkan tanya.


“Bassta kerja?”


Larisa mengangguk.


“Kamu sendirian, dong, kalau dia nggak ada? Kenapa, sih, nggak pernah main ke rumah? Mbak juga sendirian aja loh di rumah apalagi sekarang mas Sultan sering banget pulang malam.” Fiona berbicara panjang lebar sembari menyenggol siku Vivian, anak itu hanya diam saja dan membuatnya kesal.


Fiona ingin Larisa dan Vivian dekat, tetapi ternyata tidak semudah yang ia bayangkan.


“Kehamilan aku semakin besar, semakin capek juga. Males buat ke mana-mana, Mbak. Mungkin lain kali ya, aku nyempetin buat main ke rumah Mbak Fiona,” kata Larisa dan Fiona tersenyum mendengarnya.


Sekarang, Fiona melirik Vivian.


“Ayo minum,” titah Fiona dan Vivian menggeleng.


“Aku lebih baik minum buatan seorang pembantu ketimbang mencicipi apa pun yang dibawakan oleh wanita ini.” Tunjuk Vivian dengan mata sipitnya ke arah Larisa.


Fiona melotot mendengarnya. Ia berbisik tepat di samping telinga bocah itu, “Yang sopan kamu...dia itu istri abangmu.”


Vivian tetap tidak mau dan Larisa mengusap rambutnya ke belakang. Gugup juga tak nyaman dengan ungkapan blak-blakan Vivian.


“Biar aku minta Bi Asih untuk membuat apa pun yang kamu mau, ya, Vivian.” Larisa menawari dan Vivian langsung berdiri.


“Ini rumah mas Bassta. Tanpa perlu kamu tawari, aku bisa mengambil dan membuat apa pun sendiri,” ungkapnya dengan angkuh.


Larisa menghela napas, sabar, sabar. Ia terus menenangkan dirinya sekuat tenaga.


“Vivian,” tegur Fiona dengan suara keras. Vivian malah pergi dan Larisa langsung menangkap bahu Fiona.


“Nggak apa-apa, kok, Mbak. Nggak mudah memang menerima sosok seperti aku ini sebagai kakak ipar. Bukan aku yang Vivian mau,” kata Larisa dan Fiona menggeleng, menggenggam tangannya.


“Kamu yang dipilih Bassta. Semua keluarganya juga harus menerima dan menghargai itu. Aku yakin nanti Vivian bakalan bisa menerima kamu,” ujar Fiona menenangkan dan Larisa tersenyum dengan lega. “Sudah, daripada menggubris sikap konyol Vivian. Mending kamu lihat baju bayi yang aku beli tadi.”


“Hah! Baju bayi, Mbak? Aku juga belum beli apa-apa, baru lima bulan juga. Masih lama.”


“Nggak apa-apa,” kata Fiona bersikeras, ia mengambil dua tas belanjaan. Berisi pakaian bayi dengan motif dan model juga warna yang bisa dipakai untuk bayi laki-laki maupun perempuan.


Larisa begitu senang melihat semua pakaian tersebut, apalagi sepatu bayinya. Itu menggemaskan dan Fiona juga tidak sabar ingin melihat bayi Larisa dan Bassta memakai pakaian yang dia beli.


Dari dapur, Vivian yang melihat kedekatan keduanya pun merasa tidak suka. Vivian langsung membuka ponsel, mengambil foto momen tersebut dan mengirimkannya kepada Novia. Dia yakin ibunya akan memarahi Fiona jika tahu Fiona dekat-dekat dengan Larisa, karena Novia sudah memperingatkan semua orang untuk menjauhi Larisa. Novia masih tidak percaya bahwa anaknya menghamili Larisa, ia tetap bersikukuh dengan pemikirannya sendiri bahwa Larisa menjebak anaknya.

__ADS_1


__ADS_2