Cinta Mas Sepupu

Cinta Mas Sepupu
Pertengkaran


__ADS_3

“Mas, aku mendengar hari ini kamu bertengkar sama tetangga kita. Apa ini yang membuat kamu nggak datang buat menjemput?” ucap Fitria, dia letakkan secangkir kopi di hadapan Sadi kemudian Sadi menatapnya.


“Ini sudah malam, aku ingin istirahat. Jangan merusak suasana hatiku dengan membahas tetangga kita yang sok’ suci itu,” sahut Sadi menegur.


Fitria diam kemudian menundukkan wajahnya yang tersaput kesedihan.


“Apa Seruni membahas tentang anak kita lagi?” kata Fitria dan Sadi menatapnya kesal.


“Mustahil kalau dia membicarakan hal baik sementara suamimu ini marah,” tegasnya menjawab dan Fitria langsung mengurungkan niat untuk menimpali. Sadi sudah sangat kesal, tidak akan baik melanjutkan obrolan.


Dari kamar, Ganta diam mendengarkan obrolan keduanya sembari berpikir keras apakah ia perlu untuk mengecek keadaan adiknya supaya ibunya tenang?


Lalu Ganta melayangkan sebuah panggilan pada Nurani di kamar sebelah yang sedang mengerjakan tugas sekolah. Nurani mengangkat walaupun malas.


“Halo, apa sih, Mas? Serumah iseng banget telepon-telepon, aku lagi ngerjain tugas sekolah. Hpnya lagi dipake,” gerutu Nurani dan Ganta bersuara.


“Shuuuuuttt! Diem, ibu sama ayah di luar lagi ribut.”


Nurani terdiam sejenak.


“Kenapa lagi?” Suara Nurani berubah, penasaran.


“Ibu kepingin banget tahu kabar tentang kakakmu,” kata Ganta dan dengusan yang dia dapat.


“Mas Ganta selalu menutup mata untuk apa pun yang dilakukan mbak Larisa, kayak ibu. Udah jelas dia salah, biarin aja kenapa, sih! Ibu juga ngajak ayah ribut melulu, udah tahu ayah nggak suka Larisa disebut lagi di rumah ini.”


“Kebangetan kamu! Gimana pun juga Larisa itu kakakmu, Nurani. Mau salah mau bener, saudara ya tetep saudara.”


Ganta emosi, Nurani langsung diam.

__ADS_1


Tak lama, Ganta berbicara lagi.


“Mas mau nengokin mbakmu. Kamu mau ikut atau enggak? Kalau kamu mau, besok Mas jemput di ujung gang. Jangan sampai ayah ngelihat.”


“Nggak, nggak! Males aku kalau kena marah ayah.”


“Nggak bakalan kalau nggak ketahuan.”


“Kalau ketahuan?” sambung Nurani cepat.


“Ya gimana nanti aja,” kata Ganta terdengar tidak meyakinkan.


Tuuuuut! Nurani mematikan sambungan dan Ganta misuh-misuh sambil menatap layar ponselnya.


***


Asih tersentak melihat Larisa dihempaskan begitu saja oleh Bassta. Larisa langsung terduduk di sofa, memegang perutnya. Larisa sudah sangat ketakutan dan Bassta terus menatapnya tajam.


“Bass, aku udah jawab jujur. Kamu mau jawaban apalagi?” balas Larisa dengan lirih.


Pergelangan tangannya merah dan ngilu. Bassta tidak sadar bahwa dia sudah menyakitimu Larisa.


“Kamu aku nikahi, aku tampung, aku jamin segalanya tapi kamu malah keluyuran sama laki-laki lain sampai malam begini! Nggak tahu diri banget kamu, Ris!” Bassta berteriak-teriak, berkacak pinggang, matanya mengilat penuh emosi juga kebencian.


Larisa hanya bisa menggeleng sebagai bentuk bantahan.


“Yang begini, nih. Ini yang menyebabkan bayi itu ada di perut kamu! Kamu terlalu bermurah-murah, benar kata mamaku kalau sikap kamu nggak sepolos wajah kamu. Dasar murahan.”


Larisa bungkam, wajahnya tertekuk dan tertutupi oleh rambutnya yang kusut.

__ADS_1


“Capek aku ngadepin kamu, Ris!” bentak Bassta kemudian ia menendang meja dengan begitu kasar.


Larisa mengangkat wajahnya lalu berteriak, “Memangnya kamu kira aku nggak capek ngadepin sikap kamu, Bass? Kadang biasa aja, kadang cuek, kadang sok peduli tapi kemudian kamu marah-marah kayak orang kesetanan. Aku keluyuran di luar untuk menghilangkan penat, aku cuman bosan di rumah, aku nggak ada maksud sama sekali buat mengganggu kamu sama model seksi itu!”


Bassta membulatkan mata mendengarnya.


“Jangan alasan kamu dan jangan bawa-bawa Jema ke dalam pertengkaran kita!” Bassta berteriak keras.


Larisa bangkit dan membalas.


“Jangan juga bawa-bawa bayi aku setiap aku bikin kamu kesel, Bass. Aku nggak RELAAAA!!!”


Bassta berdecak mendengarnya.


“Kamu nggak suka aku bawa-bawa bayi kamu sama laki-laki itu? Sementara anak yang ada di rahim kamu yang menimbulkan kesengsaraan dalam hidup aku, Larisa!”


“BASSTA!!!!!” jerit Larisa tak terima, matanya merah, matanya menyalak murka.


Bassta terdiam, dadanya bergemuruh  diliputi emosi.


Sementara Larisa, ia terus menatap dengan tatapan yang belum pernah Bassta lihat sebelumnya.


“Bagaimana pun rendahnya aku. Jangan pernah kamu pandang sama kepada bayi ini.” Ia pegang perutnya dan Bassta langsung memalingkan muka. “Aku nggak pernah maksa kamu buat nikahin aku. Kamu yang menimbulkan kesalahpahaman dengan masuk sembarangan ke kamar aku waktu itu. Tapi kamu timpakan semuanya sama aku seolah cuman aku yang salah. Kita berdua salah dan lebih salah lagi karena kita bersama sekarang!”


Bassta membeku, ia merapatkan bibirnya.


Larisa mendengus, kemudian dengan tertatih-tatih dia duduk kembali. Dadanya megap-megap, ia merasa sesak juga sakit hati.


Tak peduli walaupun melihat Larisa menangis histeris dengan air mata yang berlelehan. Bassta memilih pergi menaiki tangga, ia menuju ke kamarnya, setelah masuk pun ia langsung membanting pintu sampai bergemuruh membuat Larisa di lantai satu terenyak mendengarnya.

__ADS_1


Setelah memastikan Bassta tidak akan turun lagi. Asih terburu-buru mendekati Larisa. Tanpa bersuara, dia memeluk Larisa erat dan Larisa menangis meraung-raung di dadanya.


Tak sanggup melihat Larisa, Asih juga ikut menangis kemudian berusaha menenangkan Larisa dan mengajaknya ke kamar untuk lekas beristirahat.


__ADS_2