Cinta Mas Sepupu

Cinta Mas Sepupu
BERITA VIRAL


__ADS_3

“Iya aku datang sendiri,” kata Bassta dan Arif saling menatap dengan istrinya. Dia cemas tetapi Novia tampak bahagia.


Apakah Bassta sekarang sudah sadar dan memutuskan untuk kembali kepada keluarganya? Pikir Novia dan dia mendekati Bassta.


“Kamu serius mau kembali ke rumah ini lagi? Seharusnya kamu melakukan ini sejak lama. Kamu emang nggak bakalan bahagia menikah dengan si Larisa,” kata Novia begitu enteng dan Bassta mengernyit heran.


“Separah itu Mama membenci Larisa? Aku cuman mampir,” tegas Bassta membantah dan Novia langsung tegang mendengarnya.


“Kamu apa-apaan sih?” tegas Arif menegur Novia dan Novia bungkam seribu bahasa.


Bassta diam dan hanya bisa menggelengkan kepala tak menyangka.


“Gimana kabar Larisa sekarang?” tanya Arif dan Bassta menatapnya.


“Dia baik. Tapi kemarin dia habis pingsan, jadi aku mendadak harus pergi meninggalkan banyak pekerjaan, Pa. Kalau Sultan ada ngomong macam-macam, inilah alasannya,” ujar Bassta menjelaskan dan Arif dengan Novia sama-sama kaget mendengarnya. Bedanya, Arif begitu khawatir dan Novia jengkel karena Bassta sampai perlu meninggalkan pekerjaan hanya demi keponakannya yang dia nilai tidak terlalu penting dibandingkan dengan pekerjaan anaknya.


“Pingsan kenapa?” kata Arif panik.


“Kecapean,” kata Bassta berbohong. Ia tidak mungkin terang-terangan mengatakan apa faktor utama yang membuat Larisa tidak sadarkan diri. “Tapi sekarang dia sudah baikkan. Aku juga udah bilang sama dia kalau sekarang aku mau mampir dulu ke sini.”


“Jangan sampai kalian ribut terus. Wanita hamil emang sensitif parah, Bass. Papamu ini sudah berpengalaman soal ini jadi Papa kasih tahu kamu, semarah apa pun kamu sama istri kamu yang lagi hamil. Jangan sampai kelewatan dan bikin hubungan kalian berantakan,” tutur Arif panjang lebar dan Bassta hanya diam mendengarkan.


“Bassta nggak perlu kamu ingatkan soal itu, Mas. Kurang bertanggungjawab apalagi anak kita ini?” sinis Novia menyahuti.


Arif menoleh dan membalasnya.


“Tugas orang tua terhadap anak-anaknya yang sudah berumah tangga, ya, begini. Harus imbang, jangan jadi provokator, kalau bisa kita perlu menjadi orang tua yang menengahi setiap masalah anak dan menantu kita, Ma.” Arif menjelaskan begitu bijak dan Novia mendengus sebal.


Wanita itu akhirnya memilih pergi meninggalkan dua pria yang membuat suasana hatinya kacau balau karena tak satu pemikiran dengannya.


“Mama marah,” kata Bassta.


“Biarin,” singkat Arif membalas.


Bassta dan Arif berbincang hangat berdua saja. Ketika ada Vivian, Bassta berhenti sejenak karena adiknya itu mendekat padanya. Bassta sangat ingin menegur kesalahan Vivian tempo hari tetapi karena ada ayahnya, dia mengurungkannya. Berabe jika orang tuanya tahu, saling bela membela akan terjadi apalagi jika ibunya juga ikut campur.


Kurang lebih dua jam Bassta beristirahat di rumah orang tuanya. Terus meyakinkan diri bahwa orang yang mengikutinya sudah pergi. Bassta juga yakin bahwa Larisa di rumah tidak tenang karena menunggu kepulangannya.


Bassta akhirnya memutuskan untuk pulang sekarang, Arif mengizinkan dan Bassta yang melihat Novia berada di area kolam ikan pun mendekat untuk membicarakan sesuatu.


Novia sedang duduk, menyesap teh manis hangat dan camilan kering. Dia diam ketika menyadari kedatangan anaknya.


“Aku pulang dulu, Ma,” kata Bassta pamit.


“Ya,” singkat Novia begitu ketus.


Bassta melangkah lebih dekat.


“Sebelumnya, aku mau ngomong sesuatu sama Mama tentang kejadian waktu Mama menginap di rumah aku,” ujar Bassta dan Novia menatapnya bingung.

__ADS_1


“Apa itu, Bass? Istri tercintamu itu mengadu apa tentang ibu kamu ini?” sewot Novia dan Bassta mendesah pelan.


“Mama ribut sama Larisa. Tangan Larisa sampai lebam, Mama punya masalah apa sih sebenarnya sama dia?” kata Bassta dengan wajah yang begitu memperlihatkan ketidaksukaan.


Novia bangun, berdiri tepat di depan anaknya.


“Istri kamu mengadu? Mengadu yang aneh-aneh tentang Mama. Itu jelas fitnah dan kamu percaya?” kata Novia dengan wajah merengut sedih.


Bassta tak menyangka, ibunya masih saja menyempatkan diri untuk berpura-pura.


“Ma,,,,,” Suara Bassta halus. “Larisa sama sekali nggak pernah memfitnah Mama. Dia benar-benar menghargai keluarga kakak dari ibunya ini. Aku tahu karena bi Asih yang ngomong, bukan Larisa.” Bassta menyambung dengan tenang dan membuat Novia yang akan menangis pun tidak jadi.


“Emang bocor asisten rumah tangga di rumah kamu itu. Babu aja sok banget mau ikut campur!” Suara Novia meninggi.


Bassta mendelik, tak akan baik meladeni ibunya lebih lama, pikirnya.


“Mama terus aja nyalahin orang. Nggak sadar sama kesalahan sendiri,” celetuk Bassta kemudian melangkah pergi.


Jika Bassta menyempatkan diri untuk berbalik melihat ibunya sejenak. Pasti dia akan melihat bagaimana memerahnya wajah Novia karena ucapannya.


Novia sangat emosi, Bassta memang selalu membangkang padanya. Anaknya yang satu ini begitu mewarisi watak suaminya seratus lima puluh persen.


****


Larisa terus mondar-mandir di kamarnya, ingin menelepon Bassta tetapi dia ragu. Takut suaminya sedang sibuk di rumah orang tuanya.


Namun, ketika suara kedatangan sebuah mobil yang dia kenali membuat pikiran-pikiran buruk yang menghantui mendadak binasa dari pikirannya.


Di lantai satu, Bassta masuk dan melangkah dengan wajah tertunduk. Tangan kanannya sibuk mengendurkan dasi berwarna hitamnya. Ketika dia mendengar suara langkah kaki, dia mendongak dan mendapati Larisa sedang melangkah menuruni tangga.


“Bass,” kata wanita itu setelah berhadapan dengan Bassta.


“Kenapa? Ekspresi wajah kamu tegang begitu.” Bassta menahan senyumnya.


“Ada masalah, kan? Kamu minta aku buat diem di kamar, kamu juga minta satpam di rumah kita buat waspada. Ada apa? Kenapa juga kamu mendadak pulang ke rumah orang tua kamu? Ada yang sakit?” Larisa berbicara begitu cepatnya dan Bassta membungkam mulut istrinya itu yang begitu berisik.


Larisa meronta, menangkis tangan besar suaminya.


“Jawab dulu!” desak Larisa, menarik lengan Bassta, menahan pria itu yang sudah akan menaiki tangga.


Keduanya bersitatap sejenak.


“Jema udah curiga dari awal mula kembalinya dia dari Amerika. Dia kayaknya nyuruh orang buat memata-matai aku, aku pulang ke rumah orang tua aku dulu karena aku nggak mau penguntit itu tahu tentang rumah kita ini.” Bassta menjelaskan dengan tenang dan perlahan Larisa melepaskan tangannya.


“Kamu yakin Jema sampai sebegitunya?” tanya Larisa menatap.


“Iya. Kamu menduga kalau itu suruhan ayah dari bagimu, Ris? Nggak mungkin, kan? Karena aku dengan lelaki itu sama sekali nggak saling kenal ataupun pernah ketemu,” kata Bassta yakin dan membuat Larisa menunduk.


“Jangan banyak pikiran,” tegas Bassta memperingatkan. “Istirahat sana, kalau belum makan, makan dulu.”

__ADS_1


“Kamu udah makan?” tanya Larisa cepat, menahan langkah pria itu.


Bassta menggeleng kepala.


“Biar aku masakin nasi goreng, ya?”


“Nggak usah.”


“Ini sebagai bentuk ucapan maaf dari aku, Bass.”


Bassta menatap bingung.


“Kejadian kita berantem karena kamu nggak pulang malam itu—“ tutur Larisa setengah menjelaskan dan Bassta manggut-manggut.


“Oke. Buat nasi goreng sekarang, porsinya banyakin dikit. Aku jadi rakus akhir-akhir ini,” tawar pria itu dan Larisa mengangguk dengan senang hati.


Bassta pun pergi dan Larisa juga bergegas ke dapur.


Ia akan membuatkan nasi goreng paling lezat terkhusus untuk suaminya.


***


Pagi ini seisi rumah orang tua Bassta dibuat kaget dengan berita viral tentang Jema. Jema yang terlibat percekcokan di salon beberapa waktu yang lalu terlihat jelas begitu arogannya di rekaman cctv yang beredar, ditambah lagi dengan kabar dipecatnya pegawai salon tersebut menambah geram para netizen. Jema habis-habisan kena rujak netizen yang ketikannya tajam melebihi silet.


Mereka di luar sana yang memang tidak menyukai Jema begitu senang karena akhirnya watak asli dari model tersebut bisa diketahui banyak orang. Meskipun pasti awal akhir Jema Sisilia akan memberikan klarifikasinya yang entah akan menambah masalah atau menghentikan masalah.


Keluarga Bassta sangat kaget melihatnya, Novia yang paling merasa malu karena dia yang bernafsu untuk menjadikan Jema sebagai menantu. Sementara Arif begitu bangga karena akhirnya Bassta memiliki pendamping seperti Larisa.


Kegaduhan juga terjadi di kediaman Jema sendiri. Jema hanya diam termangu melihat berita pagi-pagi buta tentang dirinya. Video yang memperlihatkan kearoganannya viral dalam waktu semalam. Sampai pagi ini, rekaman tersebut sudah ditonton jutaan pasang mata.


Caci maki, sindiran, masalah sebelumnya juga terangkat kembali karena rekaman tersebut dan banyak pihak yang menyayangkan sikap pemilik salon yang begitu mudahnya memecat karyawan hanya karena diiming-imingi sejumlah uang.


“Di luar sudah banyak wartawan, Bu.” Sally berbisik pada Monica.


Monica meremas rambutnya kuat-kuat dan ditambah lagi dia pusing dengan Andrew yakni ayahnya Jema yang juga terbawa-bawa karena masalah anaknya.


“Awas saja dia,” geram Jema pada sosok Susan di dalam sebuah video yang menangis menceritakan betapa susahnya dia mencari kerja setelah dipecat karena bermasalah dengan sosok model ternama.


“Diam kamu, Jem. Jangan menambah masalah!” hardik Monica dan Jema menoleh kesal.


“Kenapa Mama marah?”


“Suasana lagi genting begini, bisa-bisanya kamu ke pikiran buat ngelakuin hal lain ke cewek yang bernama Susan itu.” Monica berbicara dengan penuh emosi.


“Sebaiknya kamu jangan gegabah. Takutnya masalah jadi bertambah, ini belum sehari tapi kontrak kerja udah banyak yang terancam dibatalkan dan kita rugi besar,” kata Sally mengingatkan.


Jema bangkit, tangannya dengan emosional menyapu sebuah meja.


Vas bunga, pigura foto, pajangan dan hiasan lainnya hancur berantakan setelah jatuh membentur lantai.

__ADS_1


Sally menutup matanya, Monica menutup telinganya. Jema mencak-mencak, berteriak, terkena masalah dan dia merasa orang-orang di sekelilingnya sekarang menambah stresnya.


__ADS_2