Cinta Mas Sepupu

Cinta Mas Sepupu
Poster Model


__ADS_3

***


Pagi yang cerah, di sebuah rumah bercat kuning kombinasi putih masih tampak tenang belum terlihat ada aktivitas. Rumah yang dihuni tiga orang itu terletak tidak jauh dari kediaman orang tua Jema.


“Apa Ibra belum bangun? Dia bisa kesiangan. Sudah tahu kalau Bu Monica udah marah kayak apa. Bangunin dia, Pak.” Seorang wanita paruh baya bernama Mimin meminta kepada suaminya yaitu Yanto.


“Dia semalam pulang larut malam, Bu. Sebentar lagi, lah,” kata Yanto sambil mengasuh kopi hitam yang baru dia beri satu sendok gula.


Mimin mendesah, melangkah pergi untuk lekas membangunkan anak semata wayangnya.


“Eh, Ibra. Ternyata kamu udah bangun.” Wanita itu melebarkan senyuman dan Ibra yang sedang berdiri sembari menatap keluar jendela memutar tubuhnya. “Ayo siap-siap. Bukannya dari tadi,” ia menyambung dengan menggerutu.


“Iya, Bu.” Ibra mengiyakan dengan singkat. Keluar dari kamar, membiarkan ibunya yang sedang sibuk membereskan tempat tidurnya yang begitu kusut.


“Jangan sampai kamu bikin masalah.” Yanto di dapur bersuara ketika melihat Ibra muncul dengan handuk yang sudah menggantung di bahu.


“Tenang, Pak.” Ibra tersenyum miring, mendekati dispenser, mengisi satu gelas kemudian meneguknya terburu-buru.


Yanto menatap kemudian menggeleng kepala. Ibra pun berlalu untuk segera membersihkan diri.


Yanto tampak khawatir karena Ibra menggantikan pekerjaannya sebagai sopir selama sebulan ini. Yang semakin membuatnya tak tenang adalah ketika anak perempuan majikannya sudah kembali. Ia takut Ibra terlibat masalah karena Ibra selalu saja penasaran dengan kehidupan anak perempuan majikannya yang seorang model. Lebih tepatnya Ibra menyukai anak majikannya, pikir Yanto karena dia pernah memergoki Ibra memiliki poster-poster yang disembunyikan di bawah ranjang tempat tidurnya enam bulan yang lalu.


Yanto sudah memperingatkan, Ibra juga sadar diri dia siapa tetapi Ibra beralasan bahwa poster-poster itu dia dapatkan sebatas mengoleksi karena dia adalah salah satu fans model tersebut.


Semoga tidak ada masalah, harap Yanto yang terpaksa berhenti bekerja karena kondisi kesehatannya yang sudah lemah faktor umur.


***


Di kediaman Bassta, dia saling melirik dengan Larisa. Suasana canggung juga tegang memenuhi seisi meja makan. Keduanya tampak tak berselera menyantap sarapan yang disiapkan Asih. Sementara Novia tampak anteng dan lahap sembari sesekali memandangi anak dan menantunya.

__ADS_1


“Ekhem!” Bassta berdeham, kepalan tangan kanannya dia letakkan di dekat bibir.


Larisa mengira suaminya tersedak, dia sigap memberikan segelas air dan mata Bassta membelalak. Pria itu sedang menyiapkan ancang-ancang untuk bersuara, ingin bertanya kepada ibunya tentang kepulangan. Bassta merasa tak tenang dengan keberadaan ibunya sendiri yang seperti memata-matai.


“Ma—“ Suara pelan Bassta menggantung karena Novia juga berbicara.


“Bass, Mama mau ngajakin Vivian juga ya nginep di sini.” Dengan enteng dia bersuara.


Bassta memekik sementara Larisa mengerjapkan mata pelan.


Ada Novia saja sudah was-was apalagi jika ditambah dengan Vivian.


“Dia pasti sibuk sama kuliahnya. Nggak usah, lah, Ma.” Bassta terang-terangan mengemukakan ketidaksukaannya.


Novia mendengus sebal.


“Bukan begitu, Ma.” Bassta terbata-bata, melirik Larisa lalu menatap Novia kembali. “Anu...”


“Anu, anu! Jangan-jangan kamu sebenarnya juga nggak suka ya kalau Mama ada di rumah kamu?” Tuduhannya hampir saja diiyakan dengan anggukan kepala oleh Bassta. Saking gugup, Bassta tiba-tiba hampir saja latah.


“Mana bisa aku begitu, Ma. Aku seneng, kok.” Bassta menyengir lebar.


Mata Novia beralih, menyorot tajam ke arah Larisa.


“Iya jelas kamu yang nggak suka Tante ada di sini,” ketus Novia dan Larisa langsung tegang.


“Enggak, Tan. Eeeeh, Maaaa.” Larisa gugup.


“Aku sama Larisa bukan nggak suka Mama ada di sini. Cuman kasihan aja papa tidur sendirian, kesepian, mending Mama pulang aja nggak usah juga minta Vivian nginep segala.” Bassta tersenyum ketika menjelaskan.

__ADS_1


Novia meletakkan sendok serta garpu ke atas piring dengan kasar hingga menimbulkan suara nyaring. Dia tidak bodoh sampai tidak menyadari anaknya terang-terangan mengusirnya.


“Nggak! Pokoknya Mama mau Vivian datang. Papa nggak masalah, kok, sendirian untuk beberapa hari. Nanti juga Mama pulang,” kata Novia bersikeras dan Bassta mengurut keningnya.


Novia enggan melanjutkan sarapan, dia bangkit dan pergi. Sebelum itu dia meminta Asih membuatkan jus jeruk dan minta diantarkan ke kamar.


Tertinggal Bassta dan Larisa yang sama-sama bengong sekarang.


“Gimana, nih? Mama nggak mau pulang.” Bassta berbisik dan Larisa mengangkat bahu.


“Mana aku tahu. Yang jelas kalau ada Vivian, aku semakin nggak tenang kalau kamu lagi nggak ada.”


Bassta diam sejenak dan Larisa menikmati sarapannya kembali.


“Nanti aku ngomong sama Papa. Semoga aja Papa bisa bujukin mama buat pulang.”


“Yakin?” timpal Larisa cepat. “Keberadaan Mama kamu di sini itu buat melihat sesuatu yang aneh yang diadukan Vivian tentang kita, Bass.”


Bassta menggeleng keras. Memegang bahu Larisa dan Larisa kaget, ia menatap suaminya dengan mata membola.


“Pokoknya selama Mama ada di sini. Kita jangan ribut dulu,” pinta Bassta dan Larisa menaikkan sudut bibirnya. Dia tepis juga tangan Bassta dari bahunya.


“Tergantung,” kata Larisa sambil tersenyum.


“Tergantung apa?” Bassta menatap serius.


“Kan kamu yang selalu memancing keributan. Aku mana pernah,” kata Larisa dan Bassta mendengus sebal.


 

__ADS_1


__ADS_2