Cinta Mas Sepupu

Cinta Mas Sepupu
HANUNG LARISA


__ADS_3

Bassta akhirnya ikut duduk, diam sejenak sampai kemudian merangkul bahu Jema lembut.


“Serius, Jem. Aku baru datang sekarang, nemuin kamu di sini. Kamu selalu curigaan terus, yang seperti itu bikin hubungan kita cekcok melulu.” Bassta menyisir rambut Jema. “Maaf kalau barusan aku kasar, ya.” Suaranya semakin melemah.


Jema menangis terisak, membayangkan sosok yang dia lihat tadi terus-menerus. Bersikukuh dengan apa yang dia lihat dan dengan isi pikirannya malah akan membuat pertengkaran di antara dirinya dan Bassta memanjang. Akhirnya, dia pun pasrah walaupun hal itu menjadi benalu di pikirannya.


“Jem, maaf.”


Jema masih diam.


“Aku udah bela-belain nyiapin semuanya cuman buat kamu. Kamu nggak tertarik buat ngelihat apa yang aku bawa?”


Bassta menatap lemah, kecewa karena Jema sulit dia taklukan.


Keduanya kini bersitatap dalam diam. Diam-diam juga dalam hatinya Bassta sedang dirasuki kecemasan, takut Jema tak percaya dengan bualannya.


“Beneran itu bukan kamu?” tanya Jema sekali lagi, ingin memastikan.


“Aku harus ngapain supaya kamu percaya? Aku berani, kok!” tantang pria itu.


Jema diam, Bassta menarik selembar itu dan menyeka air mata Jema. Jema membiarkan sampai Bassta menangkup kedua pipinya lembut. Kening mereka saling bersandar.


“Jangan nangis terus,” pinta Bassta. “Kamu percaya, kan, sama aku?”


Jema menatap nanar kemudian tak lama dia mengangguk.


Anggukan kepala wanita itu mampu membuat ketegangan yang Bassta rasa mendadak sirna.


“Bohong lagi, bohong terus. Aku janji, nanti bakalan jujur sama kamu kalau aku sebenarnya udah nikah. Aku cuman butuh waktu yang tepat. Aku juga yakin kamu bakalan ngerti, lagipula aku nikah karena terpaksa,” tutur Bassta dalam hati.


Bassta beringsut menjauhkan diri, mengambil apa yang dia bawa lalu memberikannya kepada Jema. Sebuah tas belanjaan berisi gaun berwarna putih tulang, harganya tak perlu disebutkan lagi, jelas Jema tak mau menerima barang murah dan Bassta sangat hafal kekasihnya tak bisa memakai barang sembarangan.


Suasana teratasi, keduanya menikmati waktu berdua. Jema memang menanggapi candaan dari Bassta dengan tawa yang ceria, tetapi sebetulnya dia sangat membatin. Ia merasa apa yang dia lihat tadi bukanlah perkara salah lihat atau kebetulan. Bisa jadi itu adalah signal yang memperlihatkan kejadian yang sengaja disembunyikan di belakangnya, pikir Jema.


****


“Kamu seneng, kan, karena Tante mau dijemput suami Tante?” seru Novia dengan nada tinggi.


Larisa yang sedang termenung setelah menyesap air putih di dapur itu pun terkesiap.


“Apa, Ma?” Kening Larisa mengerut.


Novia langsung melotot.


“Mama, mama, jangan panggil Tante kayak begitu. Nggak sopan!” hardiknya kembali dan Larisa menyesap bibirnya yang basah.


“Suami Tante lagi di perjalanan. Ngomong apa aja kamu sama suami Tante?”


“Aku sama Bassta nggak ngomong yang aneh-aneh kok.” Larisa terus menatap Novia.

__ADS_1


“Kamu pasti ngadu aneh-aneh.” Jari telunjuknya menunjuk dengan angkuh.


“Enggak, Tan.”


“Nggak mungkin kamu nggak ngadu macem-macem.” Novia menggerakkan tangan, menekan lengan Larisa kuat-kuat.


Larisa mengaduh kesakitan.


“Yang ketemu sama om Arif aku sama Bassta. Bassta yang banyak ngomong, aku mana berani, Tante. Sakiiiiiit.” Larisa hampir menangis, lelah di perjalanan, lelah pula dengan isi pikiran dan sekarang semakin sakit fisiknya dilukai.


“Jangan, Bu. Kasihan Mbak Larisa.” Asih yang baru masuk ke dapur karena mendengar suara ribut-ribut langsung berucap.


Novia melayangkan tatapan tajam kepadanya kemudian Asih mundur saking takutnya.


“Tante, sakit.” Larisa menggeliat untuk melepaskan diri tetapi Novia semakin memperkuat cengkeramannya.


“Kamu emang nggak suka Tante ada di rumah anak Tante sendiri. Dasar benalu! Bikin susah, bikin malu!” Makiannya diakhiri dengan hempasan tangan yang membuat Larisa hampir terjatuh dari kursinya.


“Ya Tuhan. Kenapa bisa aku punya mantu kayak begini!” jerit Novia frustrasi, dia menghentak kaki kemudian berlalu pergi untuk membereskan barang-barangnya. Arif mengancam, jika dia tidak segera bersiap, tidak ada jatah shopping selama setengah tahun. Hal yang paling ditakuti Novia walaupun sebenarnya Arif hanya bercanda.


Larisa yang kini menangis pun didekati oleh Asih. Asih memeluk wanita yang masih terduduk lemah itu.


“Sabar, Mbak.”


Larisa mengangguk pelan.


“Bibi seharusnya nggak usah ikut campur tadi. Aku takut Tante Novia macam-macam sama Bibi.” Larisa mempererat pelukan dan Asih menggeleng.


“Nggak bakalan, Mbak. Tenang aja.” Asih terus mengelus rambut Larisa kemudian Larisa memejamkan matanya.


Tak lama kemudian suara Bel pintu berbunyi. Larisa mendongak, dan Asih menunduk, keduanya saling memandang.


“Apa itu papanya Bassta, ya, Bi? Mau jemput Tante,” kata Larisa.


“Biar Bibi lihat dulu, Mbak.” Asih beranjak dari tempatnya berdiri dan Larisa mengangguk sembari menatap kepergian Asih.


Karena Asih tak kunjung kembali, Larisa mengira itu beneran Arif yang menjemput Novia. Dia pun meninggalkan dapur untuk mengeceknya, tetapi saat melihat siapa yang berjalan di sebelah Asih, Larisa langsung terpaku.


“Mas Hanung, Mbak. Katanya mau ketemu sama Mbak Larisa,” ucap Asih pelan.


Larisa mengernyit kemudian Hanung tersenyum hambar.


“Hanung?” Suara Novia melengking dari lantai dua, memerhatikan kedatangan sahabat anaknya.


Hanung mendongak, tersenyum dan mengangguk kecil.


“Bu Novia. Apa kabar, Bu?” kata Hanung dan Novia hanya mengangguk.


“Bassta belum pulang,” seru Novia.

__ADS_1


Hanung melirik Larisa kemudian menjawab, “Biar saya tunggu.”


“Oh, ya sudah.” Kini Novia beralih menatap Asih. “Buatkan dia minum,” perintahnya keras kemudian Asih berlalu.


Tertinggal Hanung dan Larisa sekarang. Larisa meremas jemari tangannya saat Hanung mendekat.


“Ada apa, Larisa? Lagi-lagi saya melihat kamu dengan mata yang sembah.” Celetukan pria itu langsung membuat Larisa spontan menyentuh matanya.


“Enggak, Mas.” Ia menggeleng.


“Saya ke sini bukan karena Bassta, tapi karena kamu. Bisa kita bicara?” pintanya lembut dan Larisa tanpa ragu menggeleng, ia menolak.


“Nggak enak sama ibu mertua kalau dalam keadaan suami nggak ada tapi terang-terangan mengobrol dengan lelaki lain. Maaf, ya, Mas.”


Setelah berbicara Larisa berjalan untuk pergi tetapi seruan Hanung menghentikannya.


“Kamu tahu tentang Jema dan Bassta?”


Larisa diam mematung. Balasannya itu berhasil membuat Hanung terpancing untuk berjalan mendekatinya.


Kini, Hanung sudah sampai di hadapan Larisa. Keduanya bersitatap.


“Kamu tahu?” Hanung merasa tidak percaya dan Larisa hanya diam saja. “Kamu tahu suami kamu selingkuh dan kamu cuman diam aja?”


Hanung mencondongkan tubuhnya sedikit. Larisa langsung membuang muka.


“Apa pun yang terjadi. Itu bukan hak Mas Hanung buat bertanya. Itu masalah aku sama Bassta.”


“Itu penting buat aku, Larisa.” Hanung menarik pergelangan tangan Larisa. Wanita itu sampai terhenyak kaget.


“Maksudnya?” Larisa menatap dengan teliti, mencari-cari raut bercanda wajah pria di hadapannya. Tetapi yang dia dapati malah wajah kaku yang berbalut keseriusan dengan semua ungkapannya.


“Karena aku suka sama kamu. Aku yakin kamu udah sadar, kita cukup deket waktu kamu masih bekerja di kantor. Pernikahan kamu dengan Bassta adalah hal yang paling memilukan apalagi ketika aku tahu kalau kamu terus disakiti.”


Larisa berusaha melepaskan tangan Hanung setelah mendengarnya, tetapi pria itu menahan.


“Mas,” lirih Larisa.


“Apa yang membuat kamu diam aja walaupun kamu tahu Bassta nggak setia?” tanyanya mendesak dan Larisa berhasil melepaskan tangannya.


“Tolong pergi, Mas.” Larisa melirik pintu. “Kedatangan Mas Hanung kali ini benar-benar mengganggu.”


“Ini karena aku capek ngelihat tingkah laku suami kamu, aku nggak bisa terus diam lebih lama lagi.” Suara Hanung memelan, ia begitu terlihat bimbang juga rapuh. “Buat datang ke sini, buat ngomong segalanya kayak begini sama kamu pun itu nggak mudah buat aku, Larisa.”


Larisa terus memandang dengan mata yang basah.


Hanung terus berbicara, meminta Larisa agar tidak diam saja dengan tingkah laku Bassta. Larisa sangat ingin menjelaskan agar pria itu diam, tetapi lagi dia teringat bahwa masalahnya dengan Bassta bukanlah masalah kecil yang akan mudah dipahami semua orang.


 

__ADS_1


__ADS_2