
“Lepas, Bass! Kalau Sultan melihat sikap kamu kayak begini. Bukan nggak mungkin dia bakalan mengadu sama pak Arif.”
Hanung berontak tapi jika dilawan, Bassta akan semakin kuat mencengkeramnya.
“Jangan mengalihkan perhatianku, Hanung. Jawab dengan jujur, kamu sama Larisa semalam dari mana, habis ngapain? Aku tahu kamu masih suka sama dia tapi apa kamu lupa kalau dia sekarang udah jadi istri aku?” sentak Bassta dan Hanung mengerutkan kening.
“Dengar, Bass. Apa yang aku jelaskan sama kamu semalam, itu adalah kejujuran. Aku sama Larisa nggak ke mana-mana apalagi ngapa-ngapain, kamu terlalu curiga sama aku. Justru, aku yang kepingin nanya sama kamu, kenapa bisa Larisa malam-malam ada di luar rumah? Dia itu lagi hamil, kalau dia dan bayinya kenapa-kenapa gimana?” balas Hanung kemudian melepaskan cengkeraman tangan Bassta yang mulai mengendur.
Bassta mendesis, tetap bersikukuh dengan kemelut isi pikirannya sendiri.
“Dia cari perhatian dengan keluyuran malam-malam supaya aku cepat pulang karena dia tahu aku lagi sama Jema.” Bassta menjelaskan dengan mata memicing.
Hanung terbeliak mendengarnya, menoleh kanan-kiri kemudian mendekati Bassta.
“Jadi, Larisa tahu tentang hubungan kamu sama Jema? Gila kamu, Bass!” Hanung yang sekarang tersulut emosi, merasa tidak tega dengan kondisi Larisa semalam yang sehabis menangis ternyata menangisi keadaannya yang terang-terangan dikhianati.
“Kamu berkhianat dan Larisa tahu itu?” kata Hanung lagi, ia tangkap bahu Bassta kuat.
Bassta menggeliat kasar, tak mau disentuh.
“Ada situasi di antara kami yang nggak perlu orang luar tahu. Aku cuman minta sama kamu, jauhi Larisa!” tegas Bassta kemudian merapikan jadi hitamnya.
Hanung terdiam, terheran-heran dengan apa yang ia dengar. Sebelum ia berbicara lagi, Bassta langsung pergi meninggalkannya.
Hanung termenung dengan banyaknya pertanyaan yang mengisi pikirannya. Larisa tahu tentang Jema dan Bassta tampak biasa saja?
****
Sore harinya, Larisa berjalan sendirian, melamun dan merenungi nasib. Ia menjinjing kantong plastik berisi camilan juga susu khusus ibu hamil. Larisa sempat ditawari untuk diantar Asih, ia menolak, karena kesendirian adalah teman terbaik baginya.
__ADS_1
Dari jauh, terlihat sebuah sepeda motor melaju dengan pelan ke arahnya. Larisa terpaku, ia membeku karena jelas ia mengenali siapa yang sekarang mendekatinya. Itu Ganta, memenuhi niatnya semalam untuk mengecek kondisi Larisa.
“Mas Ganta,” ucap Larisa serak, matanya langsung terasa panas kemudian berair.
Ganta turun dari motornya, menarik kaca helm ke atas kemudian melangkah mendekati adiknya.
“Mas,” panggil Larisa dengan wajah terus mendongak. Ia tak menyangka bahwa sekarang Ganta ada di hadapannya.
Ganta hanya diam, menatapi wajah pucat adiknya, lalu tak lama karena rasa rindu yang tak tertahan lagi, Larisa memeluknya.
Ganta diam, tak kunjung memberikan pelukan balasan.
“Mas Ganta—“ Larisa tercekat, terus menangis di dada pria itu. Keduanya sangat dekat, sama seperti Nurani, Ganta juga sangat menyayangi Larisa dan selalu melindungi adiknya yang polos itu.
Dan sekarang, Ganta merasa tidak melihat aura bahagia yang terpancar dari sorot juga raut adiknya. Adiknya terlihat sehabis menangis lama, bengkak matanya sangat kentara. Entahlah, Ganta merasa menyesal karena baru sekarang ia menjenguk Larisa.
“Mas, gimana kabar, Mas? Gimana, ibu, ayah dan Nurani?” lirih Larisa begitu serak.
***
Sekarang, Ganta dan Larisa berada di sebuah restoran. Ganta ingin menikmati makanan bersama adiknya, sudah lama ia dan Larisa tidak seperti ini. Duduk berseberangan, tetapi sekarang rasanya begitu berbeda dengan dulu. Tidak disertai gelak tawa juga canda. Semuanya berbeda, mungkin tak akan pernah sama lagi seperti situasi yang sudah berlalu itu. Situasi yang tertutup oleh kecanggungan karena kesalahan yang dilakukan Larisa.
Ganta memesankan makanan untuk adiknya. Larisa banyak diam dan melamun.
“Ayo dimakan,” perintah Ganta.
Larisa mengangkat wajahnya kemudian mengangguk pelan. Walaupun tak selera, Larisa berusaha menikmati karena tidak mau mengecewakan Ganta.
Ganta mengunyah makanannya sembari terus mengamati wajah Larisa, sampai akhirnya sebuah pertanyaan terlontar begitu saja.
__ADS_1
“Kamu beneran baik-baik aja, Dek?” kata Ganta.
Larisa menarik napas dalam-dalam, tersenyum lalu menjawab.
“Baik, Mas.” Dia berkata teramat yakin bahwa Ganta akan percaya tapi tetap saja tidak semudah itu.
“Suamimu kerja?” kata Ganta lagi dan Larisa mengangguk. “Jam berapa biasanya dia pulang? Mas mau ketemu sama dia, dia sekarang adik ipar Mas. Perlu ada percakapan di antara kami.”
Larisa menelan saliva mendengarnya, takut malah pertengkaran yang terjadi jika keduanya dipertemukan.
“Dia pulang selalu malam, Mas.” Larisa tersenyum hambar.
“Oh, ya sudah. Mungkin lain kali Mas bisa ketemu sama suami kamu, yang penting jawaban kamu barusan bukan kebohongan untuk menghindari pertemuan di antara kami.” Ganta menyambung dengan tenang tapi itu malah membuat Larisa gugup bahkan dia tersedak.
Ganta dengan cekatan langsung memberikan air minumnya. Larisa menerima, meneguknya dengan ragu-ragu sembari memerhatikan Ganta yang santai melahap makanannya.
“Susah banget bikin Mas Ganta percaya. Dia emang susah kalau mau dibohongin,” gumam Larisa dalam hati.
Setelah Larisa selesai minum, Ganta kembali bersuara, matanya fokus pada makanannya.
“Sama seperti dulu, kamu pasti bakalan Mas lindungi. Jadi, kalau ada apa-apa tolong kamu jujur. Mas datang bukan cuman karena Mas kangen, tapi Mas juga khawatir kamu kenapa-kenapa. Masih berasa mimpi ketika ingat kalau suami dari adik sendiri adalah anaknya Tante Novia. Dulu, membayangkannya aja Mas nggak pernah,” ucap Ganta dan Larisa diam.
“Ibu juga kepingin banget ketemu sama kamu tapi ayah belum juga ngasih izin. Mas ke sini tanpa seizin ayah,” katanya dan Larisa kaget mendengarnya.
“Kalau ayah tahu, Mas Ganta bisa kena marah. Larisa nggak mau Mas kena masalah,” kata Larisa merengek dan Ganta menggeleng sembari tersenyum.
“Nggak usah khawatir. Biar itu menjadi urusan Masmu,” kata Ganta dan Larisa mendadak tak tenang, takut Ganta ketahuan.
Keduanya berbincang cukup lama. Membicarakan hal-hal santai kemudian Ganta menawarkan diri untuk mengantar Larisa. Larisa sempat menolak tapi Ganta mendesak.
__ADS_1
Larisa hanya takut Ganta dan Bassta bertemu. Bassta pulang tak tentu, kadang sore kadang larut malam apalagi sekarang kekasihnya sudah kembali.
Ganta dan Larisa berlalu meninggalkan resto. Sepanjang perjalanan, Larisa terus menggasak air matanya yang jatuh tak tertahan. Dia senang Ganta datang, hal itu berhasil mengobati sedikit rasa sedihnya saat ini.