
****
“Kamu pulang jam berapa hari ini?” Larisa bertanya, ia mengantar Bassta ke teras untuk berangkat kerja.
Bassta menatap dan membalas, “Kenapa?” tanyanya karena melihat ekspresi cemas yang tertahan di wajah Larisa.
Larisa menggigit bibir dan ragu untuk berbicara.
“Sebenarnya aku mau pergi ke rumah Nenden hari ini. Bosan di rumah terus,” ucap Larisa meminta izin.
Bassta terlihat tidak setuju setelah kejadian Larisa pingsan waktu itu.
“Minta mereka datang aja ke sini. Sediakan apa pun yang mereka mau, yang penting kamu jangan keluyuran. Aku takut kamu semaput lagi,” tutur Bassta dan Larisa menghela napas.
“Dan pria yang kamu lihat seperti pria brengsek itu mungkin bener, dia nyariin kamu,” kata Bassta menambahkan.
Larisa memaku pandangannya.
“Kalau kejadian aku ketemu sama dia gimana?” kata Larisa serak.
Mendadak rahang Bassta mengetat.
“Selama status pernikahan antara kita masih ada. Kamu dan anak ini tanggung jawab aku, belum tentu juga dia kembali dengan niatan yang baik. Kalau seumpamanya dia kembali karena mau macam-macam sama kamu gimana? Bukannya sebelum dia pergi, dia sendiri yang ngomong kalau kamu sama bayi ini adalah hambatan buat kariernya,” ujar Bassta mengingatkan kembali Larisa perihal kata-kata yang begitu merendahkan dari pria bernama Jordy itu.
Larisa membuang napas berat, dan tak lama kemudian dia mengangguk.
“Makasih, Bass, karena kamu udah khawatir sampai sebegitunya.”
“Aku nggak seburuk yang kamu pikirkan, Ris.”
Larisa tersenyum lebar.
“Iya, aku percaya.”
Larisa merasa tersentuh mendengar ungkapan dari Bassta yang semakin memedulikan dirinya dan bayinya. Apakah ini sebuah sinyal bahwa hubungannya dengan Bassta akan semakin membaik? Larisa berharap itu terjadi.
Setelah mereka selesai bicara, Bassta berlalu dan sebelum itu dia meminta Satpam untuk berjaga dengan lebih ketat. Bassta masih ke pikiran dengan orang yang mengikutinya.
__ADS_1
Dan Bassta belum tahu apa yang terjadi kepada kekasihnya saat ini...
****
Sebuah lukisan seorang wanita berambut panjang sepunggung menghiasi dinding kos-kosan seorang pria bernama Laye. Itu adalah hasil karyanya, karya yang paling indah dan selalu dia tolak berapa pun pembeli yang tertarik pada karyanya yang luar biasa tersebut.
Wanita dengan wajah simetris, beberapa helai rambut coklatnya menghiasi keningnya. Bibirnya yang tidak berwarna sengaja Laye tambahkan warna sesuka hatinya untuk memberi kesan yang semakin luar biasa.
Teman-temannya sering bertanya, siapakah gerangan sosok wanita yang ada pada lukisannya. Tetapi Laye tidak pernah menjawab, itu rahasia.
“Laye, sini!” tiba-tiba teriakan dari temannya membuat Laye menutup matanya.
Imajinasi dan fantasinya lenyap karena teriakan kencang Rodi.
“Bukanya ini Jema? Dia model yang akan kamu temui dalam waktu dekat ini?” tanya Rodi dan kening Laye mengerut, lekas berbalik dan melihat apa yang sedang ditonton oleh Rodi.
Berita viral terkini tentang sikap arogan seorang model ternama Jema Sisilia.
Laye melangkah pelan, mendengarkan dan memperhatikan. Tak lama kemudian dia mengusap rambut pendeknya.
Rodi langsung melayangkan tatapan pada Laye.
“Dia memang cantik dan seksi tapi dia juga memiliki masalah yang sangat banyak.” Laye terlihat tenang tidak seperti apa yang dia ucapkan. Perlahan kemudian dia malah tersenyum lebar dan merasa kasus yang membelit Jema akan semakin menambah pundi-pundi rupiahnya. Ia merasa bisa memanfaatkan situasi genting model tersebut.
“Serem banget kamu tuh kalau udah senyum-senyum begitu,” tegur Rodi dan Laye semakin mengembangkan senyumannya.
“Sesuatu yang viral mudah meredup. Situasi ini yang perlu kita manfaatkan, Rodi. Sesegera mungkin kamu hubungi managernya supaya pertemuan kamu dipercepat,” kata Laye yang sudah tidak sabaran dan Rodi mengangguk menurut meskipun sepenuhnya dia tak paham dengan niat sahabat sekaligus Bosnya.
****
“Dia butuh kamu, Bass. Dia lagi kena masalah, semalam aja dia uring-uringan karena gagal ketemu sama kamu. Kamu makin susah buat diajak ketemu, tolong banget, temenin Jema supaya dia bisa tenang.” Sally memohon-mohon di telepon, dia menghubungi Bassta bukan sekali dua kali dan Bassta yang sibuk baru sempat menerima panggilan darinya di jam makan siangnya.
“Kenapa bisa ada masalah kayak begini, sih? Apa Jema nggak belajar dari masalahnya yang dulu-dulu. Kalau dia begini terus, kariernya bisa terancam. Kamu tahu, kan, netizen itu ketikannya kayak apa? Kalau ada request Jema sebagai seorang model dan aktris tanah air untuk diboikot karena bermasalah terus gimana?” balas Bassta ikut stress memikirkan masalah kekasihnya.
“Aduh! Jangan bikin aku tambah pusing. Kita bahas itu nanti, sekarang kamu datang aja tenangin Jema.” Sally mendesak karena takut Jena yang sedang bermasalah nekat melakukan sesuatu hal yang gila.
“Aku masih di kantor, Sall.”
__ADS_1
“Apa susahnya ninggalin kantor kamu sebentar? Kamu itu Bos, kamu bisa pergi dan nyerahin pekerjaan kamu sebentar sama sekertaris kamu si Hanung.”
Bassta mendesis, andai Sally tahu bahwa sekarang dia yang menjadi sekertaris Sultan akan bagaimana jadinya?
“Aku memang Bos di sini. Tapi aku nggak bisa ninggalin pekerjaan begitu aja, bujuk Jema dan yakinin dia kalau sore nanti aku bakalan datang ke rumah orang tuanya buat nemuin dia.”
Sally mendengus dan Bassta bisa mendengarnya.
“Ya!” sentak Sally jengkel. Menelepon Bassta sama sekali tidak meringankan masalahnya dalam menangani Jema.
Bassta sekarang mengusap wajahnya begitu frustrasi, semakin frustrasi ketika Sultan datang ke hadapannya.
“Bass, kamu udah denger berita tentang mantan kamu belum?” kata Sultan dan Bassta membelalakkan matanya.
Bassta menggeleng kepala, bertingkah seolah-olah tidak peduli.
“Kasihan tuh si Jema.” Sultan berbicara lagi.
“Ya terus aku harus gimana?” sahut Bassta kesal.
“Jujur aja, deh. Kamu masih suka,kan, sama Jema? Kamu nggak bahagia, kan, sama si Larisa culun itu?” selidik Sultan dan Bassta menatapnya tajam.
“Jangan mulai, deh. Gue lagi males debat!” ketus Bassta dan berdiri.
Sultan menghalau jalannya, dia merasa belum afdol hidup jika tidak memancing emosi adiknya.
“Jema habis pulang dari Amerika makin cakep,” bisik Sultan sambil mesem-mesem.
“Awas!” sentak Bassta mendorong dada Sultan kemudian dia pergi.
“Nyesel kan lo ninggalin ratu cuman buat rakyat jelata!” teriak Sultan dan Bassta menggeram kesal.
Akan semakin bermasalah jika diladeni, Bassta tetap melanjutkan langkah untuk pergi.
__ADS_1