Cinta Mas Sepupu

Cinta Mas Sepupu
Percakapan sengit


__ADS_3

“Kita bisa ketemu lagi, kan, besok?” kata Jema dengan mengeratkan genggaman tangannya.


“Kita atur lagi besok,” balas Bassta sembari tersenyum.


Jema membalas senyumannya kemudian berujar, “Kamu pasti kecapekan karena harus mengurus perusahaan keluarga kamu. Apa kehadiran aku sekarang menjadi obat buat kamu, Bass?”


Bassta tersenyum lebar, jari telunjuknya iseng menjawil pipi tirus Jema. Jema cemberut, ia tak suka disentuh seperti itu, takut riasannya rusak. Berbeda jika Bassta menjatuhkan sebuah kecupan. 


“Jangan begitu,” protes Jema.


Bassta terkekeh pelan melihat kekasihnya cemberut.


“Mengurus perusahan lebih mudah ketimbang mengurus semua masalahku,” tutur Bassta dan Jema mengerutkan keningnya.


“Masalah apa itu, Bass?” tanyanya dan menatapi Bassta yang kini melamun. Pria itu diam, mendadak terbayang Larisa yang entah sedang apa di rumah.


Melihat kekasihnya mematung, Jema menggoyangkan lengan kekasihnya itu dan akhirnya Bassta menoleh kaku.


“Kamu melamun?” tanya Jema, Bassta menggeleng keras. “Aku tanya, masalah apa itu? Kamu nggak mau berbagi tentang masalah yang kamu maksud?”


Bassta menunduk sejenak, berpikir keras untuk melontarkan bualan atas kekeliruannya berbicara barusan.


“Masalahku lenyap kalau ada kamu,” kata Bassta kemudian mengelus pucuk kepala Jema.


Jema tersenyum, tetapi tetap saja dia sangat penasaran dengan masalah yang dimaksud Bassta.


Beberapa saat kemudian, Bassta menawarkan diri untuk mengantar Jema pulang. Jema mengangguk karena dia ada shooting satu jam lagi. Tidak bisa terus-terusan menghabiskan waktu bersama Bassta.


Bassta mengantarkan Jema ke lokasi shooting, Jema langsung disambut Sally saat dia keluar dari mobil. Bassta memilih menatap di dalam karena dia melihat ada beberapa wartawan. Dulu, dia memang selalu ingin Jema memperkenalkan dirinya kepada semua orang tetapi sekarang, Bassta harus menunda keinginannya tersebut demi menghindari permasalahan baru.


Sudah pukul delapan malam ketika Bassta menatap pergelangan tangannya. Waktunya istirahat, tetapi rasanya dia malas jika di rumah harus berhadapan dengan Larisa. Berhadapan dengan wanita itu malah selalu memancing emosinya. Dan efek dari dia yang sering marah-marah kepada Larisa, ia selalu mengalami sakit kepala juga terbersit perasaan tak tega jika melihat wajah polos Larisa tersaput kesedihan karena kata-katanya. Bassta tak sanggup mengontrol diri ketika berhadapan dengan istrinya.


Tiga puluh menit kemudian, mobil Bassta sudah sampai di depan pintu gerbang rumahnya. Bassta menautkan kedua alisnya tatkala melihat mobil sang ayah terparkir di sana.


Bassta langsung menurunkan kaca mobil dan menggerakkan tangannya. Satpam langsung mendekat, tubuhnya sedikit membungkuk.


“Sejak kapan ada tamu?” tanyanya panik.

__ADS_1


“Dari sore, Mas.” Satpam menunduk kecil.


Bassta mendesah kemudian kembali melajukan kendaraannya.


“Jangan sampai kamu bikin masalah, Ris!” kata Bassta dalam hati. Dia bergegas turun, berjalan cepat dan memasuki rumahnya dengan raut diliputi kepanikan.


Arif tersenyum, ia yang baru saja keluar dari dapur merasa senang karena akhirnya anaknya itu pulang.


Bassta mengukir senyuman tipis, menyapa dan berpelukan dengan Arif.


“Kenapa Papa datang mendadak? Kata satpam sejak sore, kenapa nggak ngasih kabar aku langsung?” ujar Bassta, matanya melirik sekilas ke lantai dua, mencari-cari keberadaan istrinya.


Arif mengajak Bassta berjalan bersama, keduanya kini duduk bersebelahan di atas sofa.


“Sengaja karena Papa mau melihat Larisa, memastikan keadaannya. Papa yakin kamu sibuk, itu sebabnya nggak Papa telepon dan Papa di sini nggak sendiri, Papa sama mama kamu.” Arif menerangkan dengan tenang, tetapi Bassta langsung tegang ketika mendengar ibunya juga ada di rumahnya.


“Oh, emmm, di mana mama sekarang?” tanya Bassta.


Arif menunjuk lantai dua dengan matanya. Bassta pun pamit undur diri untuk lekas menemui ibunya. Arif mengizinkan, pria itu lebih memilih menyesap teh manis hangatnya, tidak mau mengganggu Bassta dan Novia yang baru bertemu setelah sekian lama.


***


“Gimana kabar kamu, Bass?” ucap Novia lirih.


Bassta mengangkat wajah, menjawab.


“Baik, Ma. Mama sendiri?”


Novia menyunggingkan senyuman sinis.


“Kamu nggak melihat atau pura-pura buta dengan depresi yang terpatri di wajah ibumu ini? Cukup, Bass. Coba kamu jujur sekarang, ceritakan yang sebenarnya,” kata Novia meminta dengan raut menyedihkan.


Bassta mengerutkan kening, bingung.


“Apa yang harus aku ceritakan, Ma?”


Novia merasa gemas mendengar jawaban anaknya itu. Bahunya membungkuk sedikit, kedua tangannya tetap setia di depan dada, dan kaki kirinya yang memangku yang kanan.

__ADS_1


“Kamu dengan Larisa,” kata Novia tegas.


Bassta terkekeh, “Iya, kami suami istri dan Mama belum bisa menerima itu.”


Novia mendesis, bangkit, ia berpindah tempat duduk. Mendekati Bassta agar lebih mudah membujuknya.


Belaian lembut Novia membuat Bassta diam termangu.


“Kamu tersiksa, kan, dengan pernikahan ini? Kamu nggak pernah menginginkan pernikahan konyol dengan anak si Fitria itu. Lantas kenapa kamu mau menikahinya? Jujur sama Mama, kamu dijebak, kan? Kamu nggak perlu melindungi Larisa, Sayaaaaaang.”


Novia mengusap-usap rambut Bassta. Bassta bergeser menjauh, dia merasa terlalu tua untuk diperlakukan seperti itu.


“Aku menikahinya dengan sadar, Ma. Nggak ada paksaan atau apa pun itu.”


Novia menggeleng keras, ia cengkeram tangan Bassta kuat-kuat.


“Kamu dijebak. Mama tahu!” ucapnya keras dan Bassta terdiam. “Bukan kamu, kan, yang meniduri Larisa sampai hamil? Anak dalam rahim perempuan itu bukan calon cucu Mama, kan, Bass? Mama nggak mau.” Novia merengek-rengek dan Bassta melepaskan tangannya.


“Sayangnya, hal yang Mama nggak suka itu benar-benar terjadi. Aku dan Larisa suami istri, tolong, Ma. Jangan buat aku pusing dengan sangkaan Mama yang nggak beralasan itu!” kecam Bassta dan Novia diam dengan rahang mengeras.


“Mama terlalu rendah memandang keluarga Larisa. Apa salah mereka? Nggak pernah mengganggu, nggak pernah memanfaatkan kita yang satu-satunya kerabat yang kaya raya karena itu bisa saja mereka lakukan kalau mereka mata duitan,” tegas Bassta dan Novia menyandarkan punggungnya.


Novia tersenyum miring.


“Tapi Mama tahu kalian nggak tidur sekamar. Kenapa bisa begitu? Jelasin, ayo!!” tantang Novia dan Bassta menelan ludahnya kasar.


“Sialan kamu, Vi,” umpan Bassta dalam hati. Vivian benar-benar membuat ulah, membuat situasi semakin runyam.


Obrolan terjeda dengan kehadiran Asih yang mengantarkan apa yang Bassta minta tadi. Air sirop dingin dan Bassta menerima satu gelas kemudian meneguknya dalam tiga tegukan.


Melihat gelagat putranya, Novia pun semakin yakin bahwa Bassta dan Larisa tengah membuat drama. Drama yang membuat malu juga menyengsarakan.


Setelah Asih pergi, Novia sudah siap untuk kembali mencerca Bassta yang kini sedang bingung harus menjelaskan apa tentang ia dan Larisa yang kepergok Vivian tidak satu kamar.


Sumpah, dia akan menjawil telinga Vivian sampai merah jika bertemu, batin pria itu.


Bassta sangat ingin menghilangkan diri sekarang juga untuk menghentikan percakapan sengit dengan ibunya. Ibunya tidak akan berhenti sebelum jawaban yang dia dengar memenuhi rasa penasarannya.

__ADS_1


 


__ADS_2