
Bassta mengembuskan napas panjang. Menarik selimut sampai ke perut. Dia tak kunjung mengantuk, matanya begitu sulit untuk tertutup dengan tenang karena keberadaan orang tuanya. Besok pagi, Bassta berharap keduanya pergi karena dia tidak mau kelelahan berpura-pura di hadapan keduanya.
Bassta masih terjaga sementara Larisa sudah nyenyak dalam buaian mimpi. Wanita itu tidur di atas kasur, sementara Bassta mengalah dengan tidur beralaskan karpet di lantai. Keduanya tidak mungkin bisa tidur sekasur, Bassta juga merasa tidak akan nyaman apalagi bisa memejamkan matanya. Dan entah kenapa juga, Bassta merasa waktu begitu sulit berlalu. Dia sudah termenung kurang lebih dua jam tetapi begitu lama sekali untuk melihat fajar di esok pagi.
Paginya, Bassta dan Larisa sedang sarapan dengan Novia dan juga Arif. Larisa memasak dibantu oleh Asih. Dia sangat senang karena semuanya tampak lahap menyantap masakannya.
“Papa sebentar lagi pulang.” Arif bersuara, memecah hening yang merajai sejak tadi.
“Aku juga sebentar lagi berangkat kerja.” Bassta menyambung sambil kembali melahap sarapannya. Diam-diam, Larisa memerhatikannya.
“Mama nggak ikut pulang, ya, Pa. Mau nginep lagi beberapa hari, itung-itung nemenin Larisa kalau Bassta lagi kerja.” Novia ikut berbicara, dia tersenyum lebar setelahnya.
Bahu Bassta merosot loyo, melirik Larisa yang mendadak gelisah di sebelahnya mendengar niatan Novia.
“Ikut pulang, Ma. Jangan ganggu mereka,” kata Arif dan Novia mendesis.
“Papa ini apa-apaan, sih? Bukannya semalam Papa yang ngomong kalau Mama harus bisa menerima Larisa. Ya caranya harus sesekali menghabiskan waktu bersama,” kata Novia beralasan.
Bassta tak bersuara, diam dengan mulut mengunyah lembut. Bahaya jika ibunya terus-terusan ada di rumah, batinnya begitu rusuh.
“Aduh! Mana bisa aku tenang kalau Mamanya Bassta ada terus di rumah,” ucap Larisa dalam hati.
Arif menggeleng, ia condongkan tubuhnya ke arah Novia kemudian berbicara dengan berbisik. “Aku malah curiga dengan perubahan sikap kamu yang mendadak. Jangan buat anak dan menantu kita nggak nyaman. Pulang, nanti sebelum pulang kita belanja dulu. Terserah kamu mau beli apa aja.”
Arif membujuk dan Novia menolak dengan mengangkat bahu.
“Kalian nggak keberatan, kan, kalau Mama menginap lagi? Mama bahkan kepingin ajak Vivian juga,” tutur Novia dengan menatap Bassta dan Larisa.
Keduanya tersenyum hambar, saling menoleh dan memandang dengan tatapan mata yang sulit diartikan.
“Ya, ya, kita nggak keberatan, kok, Ma.” Bassta cengar-cengir. “Iya, kan, Ris?” Bassta bertanya sambil menyenggol lengan istrinya.
“Emmmm, ehmmm, iya.” Larisa gugup dan tersenyum gugup.
__ADS_1
Arif menggeleng kepala, tahu bahwa anak dan menantunya terpaksa mengiyakan keinginan Novia yang selalu seenaknya.
Setelah semuanya selesai sarapan. Arif pergi, Novia mengantarkannya sampai teras begitu juga dengan Larisa yang mengantarkan Bassta.
Bassta sudah akan masuk ke dalam mobil tetapi Larisa meraih tangannya. Bassta menoleh, menatap heran. Apa Larisa takut karena keberadaan ibunya? Sementara dirinya juga tak tahu harus berbuat apa. Terang-terangan mengusir ibunya sendiri sangat tidak mungkin untuk dia lakukan tetapi terus-terusan menuruti keinginan ibunya yang aneh juga membuatnya kewalahan.
“Kenapa?” ucap Bassta pelan.
Novia diam, memerhatikan keduanya yang berhadapan.
“Aku lupa belum sempat minta izin sama kamu. Nanti siang bakalan ada Nenden sama Nayla. Boleh nggak mereka main ke sini?” tutur Larisa takut-takut Bassta tidak membolehkan sahabatnya datang.
Tak diduga, Bassta mengangguk sembari tersenyum.
“Aku tahu kamu nggak nyaman karena ada Mama. Mungkin dengan keberadaan mereka, akan membuat kamu sedikit tenang.” Bassta berbicara sangat pelan dan Larisa tersenyum berbahagia.
Novia menyibak rambutnya kasar, memasang telinga lebar-lebar, tetap saja ia sulit mendengar apa yang dibicarakan keduanya.
Arif dan Novia memperhatikan keduanya, itu adalah kesempatan bagi Larisa yang langsung menahan tangan Bassta, beralih dari memegang pergelangan menjadi menggenggam tangan pria itu. Larisa menyalami tangan suaminya untuk kedua kali setelah di hari pernikahan. Saat bibir Larisa menyentuh punggung tangannya, Bassta jelas merasakannya.
“Hati-hati, setiap hari aku selalu khawatir nungguin kamu pulang kerja.” Larisa berbicara begitu tulus, tatapannya juga sangat meneduhkan, sampai-sampai membuat Bassta diam memandangnya.
Arif tersenyum melihat momen tersebut. Sementara Novia memilih masuk karena merasa muak.
“Iya,” balas Bassta singkat dan Larisa melepaskan tangannya.
Wanita itu mundur, kemudian Bassta berlalu pergi dan tak lama disusul dengan kepergian Arif.
Larisa tersenyum dan kemudian dia masuk ke dalam rumah di mana Novia sudah menunggu dengan raut wajah yang begitu menyeramkan.
Larisa mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
“Tante tahu kamu sama Bassta cuman pura-pura. Gerakan tubuh bisa direkayasa tetapi tatapan mata tak bisa dibohongi. Tante nggak melihat sorot mata kebahagiaan di mata Bassta ketika kamu berusaha bersikap manis di hadapannya. Binar itu nggak ada karena dia nggak suka sama kamu.” Novia mengecam Larisa tak main-main, Larisa sampai diam dengan wajah yang begitu sedih.
__ADS_1
“Entah siapa ayah dari bayi kamu ini. Yang jelas, Tante yakin itu bukan anaknya Bassta.”
Larisa perlahan mengangkat wajahnya yang dia tekuk.
“Kalau anak yang Larisa kandung bukan anak Bassta. Kenapa bisa dia menikahi Larisa, Tan?” kata Larisa lugas.
Novia mendengus, tersenyum angkuh.
“Kamu bisa aja menjebaknya. Bisa juga kamu mengetahui sesuatu yang membuat Bassta takut untuk menolak apa yang kamu mau.” Novia menimpali dengan begitu yakin.
Sadar bahwa ucapannya begitu mudah mempengaruhi Larisa. Dia pun kembali berbicara.
“Atau bisa saja...kamu melakukan hal yang rendah supaya Bassta meniduri kamu dalam keadaan nggak sadar!” tuding Novia dengan lancang dan Larisa mengeratkan gigi-giginya, ia emosi.
Novia maju selangkah ke hadapan Larisa.
“Semurah apa harga diri kamu yang ditutup dengan raut kepolosan?” bisik Novia mencela.
Larisa memalingkan muka, sekuat tenaga dia tahan untuk tidak meladeni ocehan mertuanya.
Tak disangka karena kesal merasa diabaikan. Kini Novia dengan kasar mencengkeram tulang pipi Larisa dan menariknya sampai wanita itu dengan dirinya bersitatap dengan jarang dekat.
“Tante akan pastikan kalau kamu sama Bassta nggak bakalan bertahan lama. Akan Tante cari tahu apa yang kamu rencanakan untuk menjerat Bassta,” ancamnya dengan mata menyalak emosi lalu Larisa menangkis tangannya kasar, Larisa merasakan pipinya ngilu karena tekanan yang dilakukan mertuanya.
“Coba apa pun yang Tante mau. Tapi Larisa yakin dan bisa memastikan kalau Larisa sama Bassta bakalan terus sama-sama. Apa pun keadaannya, niat Tante yang selalu buruk itu nggak bakalan terwujud!” tegas Larisa membalas dan Novia mengepalkan tangan.
Belum Novia menjawab celetukannya, Larisa memilih pergi, dia menaiki tangga sembari berpegangan.
Mata Larisa sudah memerah, hampir menangis, sakit juga hancur mendengar makian dan hinaan dari mertuanya.
__ADS_1