Cinta Mas Sepupu

Cinta Mas Sepupu
PENGORBANAN


__ADS_3

“Heh,” ketus Bassta memanggil.


Larisa yang berjalan di sebelah kirinya hanya diam mengunci bibir.


“Heh!” Bassta menarik pergelangan tangan Larisa dan keduanya saling menatap jengkel.


“Lepasin!” Larisa menggerakkan tangan dan Bassta menahan.


“Sengaja, kan, kamu bertingkah di depan papa? Kenapa tadi pergi? Udah jelas kita mau ketemu papa sama-sama malah keluyuran. Kamu nggak tahu aku nyariin kamu kayak orang gila?”


Larisa mendengus sebal.


Bassta mengembuskan napas panjang. Melepaskan tangan Larisa.


“Jangan kayak begitu, Ris. Jangan bikin orang tua aku menganggap aku ini anak yang bandel dan nggak bisa bertanggung jawab.”


“Sejak kapan kamu bertanggungjawab?” balas Larisa cepat. “Selama kamu nikahin aku. Sikap kamu kasar terus, apa kamu udah lupa apa yang papa bilang tadi? Bersikap dewasa yang papa maksud itu bukan cuman ngasih makan tetapi dalam bersikap.”


Bassta diam dengan sorot mata tajam.


“Aku sebagai istri juga kepingin dihargai. Dianggap ada, contohnya kayak tadi di toko. Kamu cuek banget, fokus terus sama hp. Aku pergi karena aku malu sama mereka di sana yang ketawa-ketawa ngelihatin seorang istri yang lagi hamil dianggurin suaminya.” Larisa meradang, mengeluarkan seperempat unek-unek yang membuatnya sakit hati.


Tetapi, Bassta malah semakin menatap dengan mata yang lebih tajam lagi.


“Nikahin kamu apa itu nggak cukup? Apa itu hanya pengorbanan kecil dan nggak bisa kamu anggap sebuah pertanggungjawaban yang luar biasa? Coba kamu tanya di luar sana, pria mana yang sudi menikahi perempuan yang dihamili orang lain?” tegas Bassta dan Larisa langsung diam membeku.


Dadanya terasa menyempit mendengar celetukan tanpa beban barusan.

__ADS_1


“Jangan seenaknya dan jangan terus-terusan menuntut. Pernikahan kita cuman status bukan berdasarkan suka sama suka. Kalau kamu mau hubungan rumah tangga yang sewajarnya, kenapa kamu nggak minta pria itu aja buat nikahin kamu?” sentak Bassta lagi, menarik perhatian sekitar.


Larisa menundukkan wajahnya yang tersaput murung.


Air mata wanita itu perlahan jatuh, kemudian tangannya dengan cepat berayun menggasak air matanya.  Tak mau semakin menarik perhatian sekitar.


Netra milik pria di hadapannya masih menyalang murka. Larisa tak berani menatap lebih lama sampai kemudian Bassta menyadari keributan barusan menjadi tontonan.


Dengan cepat Bassta berusaha menetralkan wajahnya yang menggelembung jengkel. Lalu dia menarik tangan Larisa agar lekas pergi. Sementara tak jauh dari mereka Jema terus berusaha untuk melihat sosok pria yang tampak seperti Bassta. Sialnya, dia hanya bisa melihat punggungnya saja di balik kerumunan manusia berlalu lalang.


“Jem!” panggil Sally. Mengangkat tangan dan membuat Jema dan Ibra memandang. “Ke mana? Di sini.” Sally menggerakkan tangan.


“Emmmm.” Jema bingung, antara menemui Sally atau menyusul sosok pria itu yang sudah lenyap dalam kerumunan.


“Ayo, Jem. Teman kamu sudah menunggu,” kata Sally lagi kemudian Jema mengangguk. Melangkah dan Ibra menyusul dari belakang.


****


Kue sus terhidang di atas meja. Menamani suasana hangat di rumah orang tua Larisa. Sudah lama momen ini hilang. Di atas sofa tengah ada Sadi dan Fitria, sementara Nurani dengan Ganta selonjoran beralaskan karpet lipat bercorak batik. Televisi menyiarkan berita artis tanah air, dalam berita hangat urutan pertama ada kabar tentang kembalinya sosok wanita terkenal yaitu Jema.


Mata Nurani hampir mencelos melihat sosok itu. Selingkuhan kakak iparnya, terus itu yang dia katakan dalam hati. Tak selera lagi menyantap kue sus mini terenak buatan ibunya.


“Emang dia artis ya?” ketus Nurani dan Ganta menyambung.


“Dia pernah main film layar lebar. Laku keras, loh. Mungkin karena seksoooy!” Ganta nyengir.


“Ekhem!” tegur Sadi dengan berdeham.

__ADS_1


Ganta menoleh dan mendapati ibunya sedang melotot padanya.


“Bicara yang baik kalau di depan adikmu, Gan,” ucap Fitria tegas.


Ganta manggut-manggut acuh tak acuh.


“Jelek. Pake baju kurang bahan terus, apa nggak takut masuk angin? Apa nggak sekalian aja pakek daun pisang biar kayak lemper!” ketus Nurani dan semua mata tertuju padanya.


“Bening begitu dibilang jelek. Gimana kalau kamu ngaca ngelihat diri kamu sendiri, Nur?” kata Ganta lalu terbahak keras dan Nurani menyiksanya dengan kepalan tangan. “SAKIT!”


“Nyebelin!” Nurani memonyongkan bibirnya dan Ganta tersenyum. “Aku emang nggak cantik-cantik amat tapi aku nggak murahan.” Nurani berbisik.


“Jangan mulai, deh!” hardik Ganta dengan raut dingin karena mengira Nurani menyinggung kembali soal Larisa.


Nurani diam dan meraih ponselnya di atas meja. Malas melihat televisi yang menyiarkan wanita murahan selingkuhan kakak iparnya.


Melihat kebersamaan anak pertama dan anak bungsunya. Mendadak saja Fitria menoleh menatapi wajah suaminya tapi yang dia dapati malah mata suaminya memupuk air.


"Mas," panggil Fitria kemudian Sadi membuang muka.


"Coba kamu ambil kue sus lagi di dapur sekalian bikinkan kopi susu. Mendadak aku kepingin kopi susu, jangan hitam terus." Sadi berbicara tanpa mau memandang istrinya.


Fitria mengangguk, bangkit dan melirik kedua anaknya yang diam memerhatikan. Fitria mengangkat tangan, menekan telunjuk ke bibir agar kedua anaknya tak banyak bertanya. Keduanya mengangguk paham lalu Fitria pergi.


Sebesar apa pun kemarahan orang tua, seburuk apa pun kata-kata yang sudah dilontarkan, itu hanya sebatas amarah yang merajai. Tetap saja sejatinya orang tua sangat menyayangi anak-anaknya, apalagi yang jauh, selalu dirindukan dan didambakan kepulangannya.


Apa Sadi sekarang sudah mulai luluh pada takdir? karena terus menuruti hawa nafsu tak akan ada habisnya, malah membuatnya dengan Larisa semakin jauh tak bertegur sapa apalagi saling mencari tahu kabar secara terang-terangan. Apa sekarang Larisa bisa kembali berkumpul dengan keluarganya?

__ADS_1


__ADS_2