Cinta Mas Sepupu

Cinta Mas Sepupu
MENANTI


__ADS_3

Bassta terdiam di depan pintu kamar Larisa. Tangannya sudah terangkat berulang kali tapi urung untuk melakukan ketukan pada pintu tersebut. Sementara Larisa di dalam sudah berbaring untuk lekas beristirahat meskipun rasa kantuk tak kunjung menyergap.


“Apa dia udah tidur, ya?” kata Bassta dalam hati.


Tangan Bassta kembali turun dan kakinya bergerak untuk membawanya pergi tetapi rasa bersalah membuatnya tetap tertahan di sana. Ia merasa apa yang dia katakan tadi menyinggung sepupunya itu.


“Reaksiku tadi emang keterlaluan. Seharusnya nggak sebahagia itu juga, karena jelas setelah kita pisah pasti dia bingung harus mencari tempat bernaung ke mana dan kepada siapa.”


Isi kepala pria ini begitu berisik dan membuatnya semakin terniat untuk mendobrak masuk. Mungkin kata maaf akan menjadi penghibur bagi Larisa juga mengobati rasa bersalahnya.


Bassta tidak menyadari bahwa sekarang hubungannya dengan Larisa bukannya membaik? Tidak diisi melulu dengan pertengkaran juga caci maki seperti minggu-minggu sebelumnya. Karena memang amarah yang ditunjukkan Bassta hanya buah dari rasa kecewa bukan murni karena rasa benci.


Di dalam sana, Larisa berusaha memejamkan mata bersamaan dengan pintu yang terbuka serta didorong yang membuatnya tak jadi terpejam.


“Bass.” Larisa kebingungan.


Bassta tersenyum miring kemudian masuk, menutup pintu sekenanya.


“Apa? Ada apa?” tanya Larisa panik sekaligus gugup.


“Kamu nangis?” tanya Bassta setelah melihat kedua mata Larisa sembab.


Larisa menggeleng kepala kemudian menunduk.


“Aku tadi keterlaluan, ya?” kata Bassta begitu enteng dan Larisa mendengus.


“Nggak, kok, Bass. Aku emang nangis tapi bukan karena percakapan kita tadi, aku nangis karena lagi keinget keluarga aku,” ucap Larisa beralasan, tapi sungguh, alasannya juga bukan sebuah kebohongan. Setiap waktu dia merindukan keluarganya.


Bassta termangu mendengarnya dan Larisa terdiam dalam senyap.


“Mau aku anter ke sana?” tawar Bassta dan Larisa menggeleng kepala, ia menatap Bassta.


“Nggak bakalan baik aku ke sana dan nggak tahu juga aku masih bisa datang ke sana atau nggak,” tutur Larisa dengan suara serak.


Bassta mengembuskan napas berat. Bingung juga dengan keadaan yang mereka alami kini.


Larisa menatap Bassta yang terbengong-bengong entah memikirkan apa.


“Bass,” panggilnya dan Bassta menoleh. “Kamu malam ini nggak ke mana-mana, kan?”


Bassta terdiam, mendadak ingat dengan permintaan Jema yang menginginkannya datang ke apartemen.


“Bibi lagi nggak ada. Aku takut kalau di rumah sendirian, pak satpam di depan juga kan laki-laki.” Larisa berbicara dengan sorot mata yang teduh, membuat Bassta bingung untuk menjawabnya.


Bassta hanya mengangguk kecil setengah yakin.


Tak lama kemudian Bassta meninggalkan kamar Larisa untuk membiarkan wanita itu beristirahat. Setelah kembali ke kamarnya Bassta langsung memeriksa ponselnya yang berisi rentetan pesan juga panggilan dari Jema dan Sally.


Pesan terakhir dari kekasihnya itu pun membuat Bassta sangat was-was.


“Kamu mau datang atau kita nggak bakalan ketemu lagi selamanya?”


Gemeletuk gigi Bassta terdengar, emosi juga ketakutan bercampur menjadi satu tetapi dia juga tidak bisa meninggalkan Larisa sendiri. Ia harus bagaimana sekarang?


Bassta saat ini mencoba untuk menelepon Jema, syukur-syukur wanita itu mau dibujuk dan dia akan tetap tinggal di rumah menjaga Larisa. Bassta juga tak akan merasa nyaman jika meninggalkan istrinya yang sedang hamil.


“Sial!” dengus Bassta, Jema menolak panggilan darinya berulang kali.


Bassta melirik jam dinding, sudah pukul sepuluh malam lewat. Jika dia tetap tinggal pasti hubungannya dengan Jema terancam kandas. Jika dia meninggalkan Larisa sesaat untuk membujuk Jema rasa-rasanya itu bukanlah hal yang buruk.

__ADS_1


Bassta pun bangkit, menyambar jaketnya dengan gerakan cepat kemudian keluar tergesa-gesa meninggalkan kamarnya. Niat untuk pergi diam-diam pun terhenti ketika sesampainya di luar dia berpapasan dengan Larisa yang membawa botol air minumnya untuk diisi.


“Bass?” ucap Larisa dengan tatapan keheranan. “Mau ke mana?” Rautnya berubah tegang.


“Aku pergi sebentar. Ada urusan mendadak,” kata Bassta sambil memakai jaketnya.


“Ini udah malam, Bass. Apa nggak bisa perginya besok? Aku juga takut sendirian.” Larisa berbicara sembari melangkah mendekat.


Bassta menatap nanar.


“Aku nggak bakalan lama.” Bassta tampak begitu yakin.


“Urusan apa?” tanya Larisa penasaran tetapi Bassta enggan untuk menjawab.


“Aku pergi,” ucap Bassta pamit.


Bassta menuruni tangga dengan terburu-buru, Larisa berdiri di atas tangga kemudian berseru!


“Apa ini tentang kekasihmu itu, Bass?” seru Larisa lantang. Sampai di luar pak satpam celingak-celinguk mendengar suaranya.


Bassta terhenti, diam sejenak kemudian memutar tubuhnya dan bersitatap dengan Larisa.


“Iya,” kata Bassta pelan.


Larisa menarik napas dalam-dalam, hatinya terasa diremas. Dalam keadaan sendiri begini pun Bassta tak ragu meninggalkannya.


“Oh,” balas Larisa tanpa ekspresi.


“Ada satpam di luar. Aku nggak lama.”


Larisa tidak menjawab.


Keduanya bersitatap dalam diam sampai kemudian Bassta berbalik badan dan melanjutkan langkahnya tanpa keraguan.


***


Di apartemen, Sally memakaikan cardigan berwarna hitam ke tubuh kaku Jema. Jema diam dengan air mata yang terus berlinang. Bassta benar-benar tidak datang tanpa alasan yang pasti.


“Dia benar-benar sibuk sampai lupa kepada kekasihnya?” celetuk Jema dengan suara serak.


Sally diam dan Ibra sudah siap di dalam mobil.


“Kita cari tahu nanti penyebabnya. Sekarang kita pulang, ibumu khawatir, Jem.” Sally menarik bahu loyo Jema dan Jema bangun dengan mata yang menatap kosong.


Sally mengajak Jema berjalan dan Jema memperhatikan semua persiapan yang dia lakukan begitu sia-sia.


Sally membawa Jema keluar, keduanya berjalan di lorong senyap tanpa bicara sepatah kata pun. Ketika keduanya hendak masuk ke dalam lift, mereka berpapasan dengan Bassta yang baru sampai dengan raut wajah yang begitu lelah.


Mereka berdua bersitatap dengan sorot mata berbeda. Bassta yang takut sementara Jema yang murka.


Sally perlahan melepaskan rangkulan pada bahu Jema. Kemudian Bassta mendekat dan Jema mengalihkan pandangannya.


“Maaf aku telat, Jem.” Suara Bassta pelan.


“Bukan telat! Tapi kamu emang nggak ada niat buat datang,” timpal Jema dengan ketus.


Bassta membantah dengan menggelengkan kepalanya. Ia melirik Sally agar menyingkir lebih jauh kemudian dia melangkah mendekati Jema.


Jangankan menerima pelukan, sentuhan di tangan saja dia terus menepisnya.

__ADS_1


“Maaf, Jem.” Bassta terlihat sangat merasa bersalah.


Jema diam saja kemudian Bassta menggenggam tangannya.


“Ayo kita obrolin ini berdua aja,” tegas Bassta dan Sally yang merasa terusir pun menatap Jema kemudian mengangguk kecil. Dia pamit meskipun Jema tidak meresponsnya.


“Kita pergi,” kata Sally ketika Ibra datang.


Ibra malah diam, memandangi Bassta dan Jema.


Setelah melihat kemunculan Bassta, Ibra langsung meninggalkan mobil untuk meyakinkan bahwa Jema baik-baik saja.


“Ayo. Biarin mereka berdua.” Sally menarik tangan Ibra.


“Tapi—” Ibra tercekat.


Sally terus menarik Ibra dan Bassta dengan Jema pun sudah melangkah menuju apartemen.


Sesampainya di sana, Bassta semakin merasa bersalah setelah melihat semua yang dipersiapkan Jema.


Jema sekarang duduk dengan murung di atas sofa dan Bassta mendekat padanya.


“Maaf,” ucap Bassta.


Jema tak mau memandangnya.


“Alasan apalagi sekarang?” sentak Jema jengkel.


Bassta berpikir sejenak.


“Aku ketiduran,” ucap pria itu dan Jema menatapnya tajam.


“Semudah itu kamu tidur setelah tahu aku nungguin kamu?” tegas Jema dan Bassta terbelalak.


“Aku ini manusia, Jem. Ada lelahnya, ada lalainya. Aku minta maaf, yang penting sekarang aku udah datang. Aku di sini, buat kamu.”


Bassta menggenggam kedua tangan Jema, mengecup punggung tangannya pula.


Jangankan terenyuh luluh, Jema masih saja terlihat membara dengan emosinya.


“Aku udah di sini, Jem. Jangan dianggurin, dong!” Ia rangkul bahu Jema erat dan Jema hanya diam saja. “Aku beneran capek banget sampe ketiduran. Aku udah di sini, kamu mau kita ketemu, kan?”


“Udah nggak mood!” tegas Jema menimpali dengan bibir manyun.


“Ya udah, sebagai ucapan maaf dari aku. Aku bakalan nurutin apa pun yang kamu mau asal kamu nggak marah lagi,” kata Bassta sambil tersenyum.


Bujukannya kali ini berhasil membuat Jema memandangnya.


Paling-paling Jema minta Shopping atau barang branded, itu bukanlah hal susah untuk Bassta dapatkan.


“Aku nungguin kamu lama banget, Bass. Kamu nggak tahu, kan, sekacau apa aku nungguin kamu.” Jema merajuk dan Bassta memeluknya erat.


“Iya maaf, maaf.”


“Aku kangen, Bass.” Jema membalas pelukan Bassta.


Bassta pun tersenyum dan merasa lega.


Situasi genting teratasi. Apa pun dilakukan Bassta untuk membuat kekasihnya tak marah lagi.

__ADS_1


Keduanya saling bersandar dan merangkul. Menikmati malam yang serasa begitu romantis tetapi sebaliknya dengan apa yang dialami Larisa. Ia sendirian dalam keadaan menunggu, menanti suaminya yang sedang menghabiskan malam dengan wanita lain.


 


__ADS_2