Cinta Mas Sepupu

Cinta Mas Sepupu
PRIA BERAMBUT PANJANG


__ADS_3

Larisa terus terpaku, memerhatikan suaminya yang begitu khusyuk merasakan belaian lembut dari bayinya. Saking fokusnya, Bassta belum juga sadar dengan terbangunnya Larisa yang kini sedang menatapnya.


Karena Larisa juga merasa aneh kenapa bayinya terus menggeliat di bawah sentuhan Bassta. Ia pun menggerakkan tangannya, menjatuhkan telapak tangannya tepat di punggung tangan suaminya.


Bassta seketika menoleh bersamaan dengan tangannya yang semula menempel mendadak dia jauhkan dengan gelagapan.


“Kamu lagi ngapain, Bass?” tanya Larisa dengan tatapan menyelidik, nadanya terdengar tak suka dengan apa yang dilakukan Bassta. Sementara Bassta malah terlihat kebingungan harus menjawab apa. “Kamu ngapain pegang-pegang perut aku tanpa izin?” Ia menyambung dengan ketus, kemudian mengubah posisi dengan duduk dan punggungnya bersandar.


Bassta bergeser menjauh dan bersiap menjawab.


“Aku cuman ngecek doang, perut kamu baik-baik aja atau enggak.”


Larisa mendengus sebal. Ia membuang muka.


“Nggak usah sok perhatian. Ini bayi aku, bukan bayi kita,” tegas Larisa dengan bibir bergetar dan matanya berkaca-kaca.


Rahang pria di hadapannya mengeras mendengar kelancangan dari ucapannya.


“Aku juga nggak ada niat untuk mengakui bayi kamu sebagai bayi kita,” balas Bassta dengan lebih tegas. Ia bangun, emosi mendengar ocehan Larisa yang begitu berani.


Bukan hanya karena kondisi Larisa yang sedang hamil yang membuatnya gampang emosi, tetapi juga rasa cemburu mendorongnya untuk berbicara seberani itu kepada Bassta.


Larisa menunduk, dadanya terasa menyempit mendengar ungkapan Bassta.


“Aku cuman ngecek, nggak lebih. Karena kalau ada apa-apa sama kamu dan bayi kamu, aku juga yang kena karena mereka di luar sana tahunya kamu mengandung anakku!” tegas Bassta kembali dan Larisa memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya yang sudah memerah.


“Ya udah, kamu ke luar aja sana. Aku pengen istirahat,” usir Larisa dengan halus.


Bassta mendengus dan menatap Larisa yang terus memalingkan wajahnya.


“Kamu tuh aneh, suami baru pulang udah marah-marah.”


Larisa membulatkan matanya, menatap Bassta tajam. “Kamu yang mancing-mancing. Janjinya mau pulang tapi mana buktinya? Jam segini baru pulang. Nggak tahu habis ngapain aja sama pacar kamu itu,” ucap Larisa serak. Air matanya terus menetes. Sesekali ia menyekanya.


“Aku mau pulang capek. Ada pak satpam juga, kan? Kamu juga baik-baik aja, kan? Belajar mandiri, dong. Aku nggak bisa setiap waktu ada buat kamu.” Bassta berbicara sambil berkacak pinggang.


“Aku nggak bakalan nungguin kamu kalau kamu nggak janji buat balik lagi. Aku nungguin kamu sampe nggak tidur, aku juga berusaha nelepon tapi kamu nggak angkat.” Larisa menangis sesenggukan dan Bassta terdiam, air mukanya berubah, mulai merasa bersalah.


Larisa perlahan turun dari tempat tidurnya dan Bassta diam memerhatikannya.


Larisa tak kuasa menahan air mata juga getar bibirnya. Dia benar-benar sakit mendapati suaminya lagi-lagi pulang pagi-pagi setelah menemui Jema.


“Seengaknya kalau kamu nggak mau lagi pulang ke rumah, kamu kasih kabar kalau kamu baik-baik aja. Sebagai seorang istri, aku semalaman khawatir dan juga cem—“ Larisa berbicara dengan cepat dan kalimatnya terputus, ia tidak mau mengatakan sebuah rasa yang sebetulnya tidak akan berpengaruh apa pun terhadap suaminya.

__ADS_1


Kening Bassta mengerut.


“Cem, Cem apa?” tanyanya penasaran.


Larisa menarik napas dalam-dalam, mengepalkan tangannya kuat-kuat, jengkel dengan pertanyaan yang seharusnya tidak keluar di situasinya yang sedang emosi. Malah membuatnya semakin emosi.


“Nggaaaaak!” bentak Larisa. Ia berjalan ke arah pintu, membuka, meminta Bassta lekas keluar.


“Dasar aneh. Oke maaf karena aku nggak bales chat sama telepon dari kamu. Aku sibuk semalam,” kata Bassta dengan enteng dan Larisa membuang muka


“Mending kamu keluar sekarang,” pinta Larisa tegas.


“Oke!” balas Bassta lebih tegas dan melangkah pada Larisa. Bassta sempat menatap sejenak wajah sembab istrinya sebelum dia pergi meninggalkan kamar Larisa.


Larisa membanting pintu, mengunci, tak mau pria itu masuk kembali. Larisa kembali menangis, terisak-isak, dan Bassta di luar kamarnya diam sejenak berusaha mendengar apa yang sedang Larisa lakukan setelah keluarnya dia.


Bassta tidak mendengar apa-apa, tak lama ponselnya berdering. Panggilan masuk dari Sultan, tak dia angkat dan akhirnya Sultan mengiriminya pesan untuk urusan pekerjaan yang membuat Bassta diwajibkan datang hari ini.


Bassta terpaksa harus meninggalkan Larisa dan berniat untuk menebus kesalahannya semalam nanti sepulang kerja, tapi sejujurnya dia juga sangat merasa sakit hati ketika Larisa menyinggung bayi itu bukanlah haknya.


Ketika Bassta sudah bersiap untuk pergi bekerja, Larisa tak kunjung keluar dari kamarnya. Bassta sudah mengetuk pintu tetapi tak ada balasan, akhirnya dia memutuskan untuk pergi dan sebelum itu, dia sempat mengirimkan pesan kepada Larisa.


****


Sadi mengangguk mengiyakan.


Sadi akan pergi ke kota Cirebon untuk menjenguk keluarganya yang sakit. Fitria semula akan ikut tapi tidak ada yang menjaga Nurani. Akhirnya dia diminta untuk tetap tinggal saja.


“Aku sudah meminta Ganta untuk tetap di rumah sepulang bekerja. Kalau nggak dibilangin, dia suka kelayapan.” Sadi bangkit sambil berbicara dan Fitria mengangguk kemudian meraih tangannya.


Setelah Fitria menyalami tangan Sadi, dia berseru memanggil Nurani.


“Ayahmu mau berangkat.” Fitria tersenyum.


“Oh iya.” Nurani membungkuk sedikit, menyalami tangan Sadi. “Hati-hati di jalannya, Ayah.”


“Iya. Sepulang sekolah langsung pulang, bantu ibumu kalau nggak belajar. Jangan main hp terus,” tegas Sadi memperingatkan dan Nurani manyun menanggapinya.


Fitria terkekeh, merangkul pinggang Nurani. Keduanya berdiri di dekat pagar rumah, menatap kepergian Sadi.


Setelah Sadi jauh, di seberang sana tetangga iseng Seruni keluar dengan raut penasaran.


“Bu Fitria, itu suaminya mau ke mana?” tanyanya dengan lantang.

__ADS_1


Fitria dan Nurani kompak memandangnya.


“Mau ke rumah saudara,” kata Fitria menjawab. “Mari, Bu, kamu masuk dulu.” Fitria menarik Nurani, memilih menghindar ketimbang berlama-lama meladeni tetangganya tersebut.


Seruni mendelik, meracau dalam hati kemudian masuk ke dalam rumahnya.


“Ayah lagi nggak ada, Bu. Kapan lagi, kan? Ayo kita ke rumahnya mbak Larisa.” Nurani bersuara dan menerima tas yang diberikan ibunya.


“Iya, Ibu juga ke pikiran itu. Kapan lagi kita bisa bebas pergi tanpa rasa takut ketahuan ayah kamu. Tapi hari ini Ibu sibuk di Laundry, besok saja kita ke sananya.” Fitria tersenyum, dia begitu senang karena akan bertemu dengan Larisa jika tidak ada kendala.


Nurani mengangguk kemudian ia pamit untuk pergi ke sekolah.


****


Siang harinya, Larisa pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kehamilannya. Ia merasa tegang karena takut ada masalah, tapi kabar baiknya adalah dia hanya membutuhkan banyak istirahat dan juga tidak stres.


Larisa pergi sendirian, seperti biasanya, dia menaiki taksi dan sekarang dia juga ada di dalam taksi untuk lekas pulang.


Larisa duduk dengan tenang dan terus memeriksa laporan kehamilannya serta hasil USG yang semakin memperlihatkan dengan jelas sosok calon bayinya.


Larisa mendesah, sudah enam bulan kehamilannya, begitu tidak terasa. Dan apakah tiga bulan ke depan dia akan berpisah dengan Bassta? Apakah dia mampu hidup sendirian menghidupi anaknya, dan bagaimana jika suatu saat nanti pria bejat yang meninggalkannya kembali?


Rasa-rasanya Larisa sangat ingin menentang jika takdir menggariskan bahwa dirinya dan ayah dari bayinya itu akan bertemu kembali. Ia tidak sudi.


“Belok ke kiri, ya, Pak.” Larisa bersuara seraya memasukkan semua yang ada di pangkuannya ke dalam tas.


Sopir taksi menanggapi dengan anggukan kepala dan juga deheman kecil.


Larisa tidak jadi langsung pulang, dia mendadak ingin mengunjungi sahabatnya Nenden. Larisa mengeluarkan ponselnya untuk mengirimkan pesan kepada Nenden tentang niatannya. Larisa juga baru melihat sebuah pesan yang dikirimkan Bassta tadi pagi tapi dia belum membukanya.


“Apaan sih?” gumam Larisa.


Telunjuknya akhirnya menekan pesan tersebut.


Sudut bibir kiri Larisa naik membaca pesan singkat dari suaminya.


“Bayi itu memang bukan terbentuk dari benihku, tapi aku yang pertamakali merasakan tendangannya bukan ayah kandungnya yang sekarang lari entah ke mana.”


Larisa mendengus, mematikan ponselnya. Kesal karena diingatkan lagi dengan pertengkarannya dengan Bassta tadi pagi.


Larisa sekarang diam melamun, menatap keluar kaca mobil. Mobil berhenti karena lampu merah menyala. Mobil taksi tersebut bersebelahan dengan sebuah mobil berwarna silver, isinya laki-laki semua, dan ketika kaca mobil barisan depan tersebut diturunkan. Mendadak pula lamunan Larisa buyar setelah melihat sosok pria berambut panjang seleher.


Wajah Larisa mendadak memerah, sekujur tubuhnya tiba-tiba didera hawa panas yang membuat dadanya terasa sesak.

__ADS_1


 


__ADS_2