
Bassta melepaskan, kaget dengan reaksi Larisa.
“Aku megangnya nggak kenceng, sampe segitunya?” kata Bassta dan Larisa mengalihkan muka.
Larisa terkesiap ketika Bassta menarik tangannya.
“Lepas!” Larisa menepis tetapi Bassta memaksa.
Membiru, itu yang Bassta pertama kali lihat.
“Tangan kamu kenapa?” Bassta bertanya dengan terus-menerus menatap lebam itu.
Larisa menarik lengan pendek baju piyamanya.
“Nyenggol lemari,” katanya asal.
Kening Bassta menukik tajam.
“Nggak usah ceroboh mangkanya. Udah dikompres belum?” katanya lagi dan Larisa hanya mengangkat bahu. Karena diabaikan, Bassta mencolek bahu Larisa dan membuat Larisa menoleh. “Kompres sana.”
“Aku mau tidur, Bass. Nggak perlu dikompres juga, nanti juga hilang. Pergi sana, ah, jangan ganggu aku.”
Bassta mendengus sebal. “Justru kalau dikompres, nanti lebamnya lebih cepat hilang.”
“Aku males, Bass. Naik turun, capek.” Keluh Larisa kemudian menjejalkan potongan buah semangka ke dalam mulutnya.
Bassta mendesis kemudian berlalu pergi.
Larisa diam-diam tersenyum dan semakin antusias menikmati buah juga susunya.
“Dia pasti turun buat ngambilin kompresan,” batin Larisa berbahagia.
***
Hari sudah pagi, sudah banyak agenda pekerjaan yang menanti. Akan tetapi Jema masih setia di atas kasurnya. Ia mengalami insomnia setelah tak berhasil menyingkirkan sangkaan yang membebani pikirannya. Bukan pula dia tidak percaya dengan penjelasan Bassta, tetapi dia merasa perlu membuktikan segalanya sendiri agar tidak menyesal di kemudian hari.
“Jem, bangun. Sally udah nungguin kamu dari tadi.” Monica sudah kedua kalinya datang mengetuk pintu dan berseru memanggil.
Hanya melirik pintu, Jema merasa balas untuk beranjak dari tempat tidur. Sekarang Monica akhirnya menyelonong masuk setelah tanpa permisi membuka pintu. Tahu anaknya tak suka itu, tetapi jika tidak dia lakukan, anaknya akan mengalami banyak kerugian.
“Apaan, sih, Ma?” ketus Jema sambil menjatuhkan wajah ke atas bantal.
__ADS_1
“Ayo bangun siap-siap. Sally udah senewen dari tadi nungguin kamu nggak turun-turun.” Monica menarik selimut dan Jema duduk dengan malas. Rambutnya berantakan. “Ayo.”
“Hmmmmm.” Walaupun malas akhirnya Jema menurunkan kedua kakinya, melangkah pergi ke kamar mandi. Untuk mandi sekaligus meneruskan lamunannya tentang kejadian kemarin.
Setelah Jema mandi, bersiap, Monica datang kembali dengan segelas jus wortel dicampur tomat. Jema melirik sekilas dan Sally yang sudah ada di kamar Jema pun pergi setelah mendapatkan sebuah kode tatapan yang dilayangkan Monica.
“Kenapa Mama minta Sally buat pergi? Mama mau ngomong apa?” tanya wanita itu dengan menyandarkan pinggang ke pinggiran meja riasnya.
Monica menatap, melangkah mendekat.
“Kamu semalaman nggak tidur? Kalau kantung mata kamu berlipat-lipat, kamu mau? Honey, sebagai seorang model, penampilan itu nomor satu.” Monica mengingatkan sembari merapikan rambut Jema.
“Aku juga tahu, Ma.”
Jema menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
“Terus?” sahut Monica. Jema hanya diam. “Ada masalah lagi sama Bassta?”
Jema diam lagi.
“Sekarang masalah kalian itu apa, sih?” tanya Monica penasaran.
Jema yang awalnya menunduk lesu itu pun memandang ke arah ibunya.
Monica membelalak kaget mendengarnya.
“Serius?” Terselip nada jengkel dalam ungkapannya.
Jema mengangguk lemah.
“Dia beralasan apa?”
“Dari pakaian, postur tubuh, aku jelas yakin itu dia. Tapi dia bilang bisa aja itu orang lain yang punya pakaian kayak dia sekaligus postur tubuhnya juga kayak dia. Tapi apa bisa semirip itu?” Matanya menyipit, menunjukkan keraguan.
Monica termangu, terbayang kejadian waktu itu. Ia tak terima jika benar putrinya diduakan.
“Kamu yakin, Jem?” kata Monica memastikan.
“Yakin seratus persen, Mom.”
Monica termenung dan Jema diam melamun.
__ADS_1
Nekat, Monica merasa perlu mengatakannya.
“Sejujurnya, Mama pernah ketemu Bassta di rumah sakit dan mergokin dia lagi sama cewek. Tapi ceweknya kayak lagi hamil, Sayang.” Monica berbicara dengan pelan, Jema langsung menggeliatkan tubuhnya ketika mendengar hal tersebut. Tangannya yang semula terkepal lemah, kini terkepal begitu kuat.
“Alasannya mau menjenguk, tapi kenapa dia sama cewek? Mama belum pernah ngelihat cewek itu kalau semisal dia keluarganya Bassta.”
Jema semakin emosi mendengarnya.
“Bass—” Jema tercekat, rahangnya mengeras, kilatan matanya menyiratkan bahwa ia sangat murka.
“Tapi kita harus memastikan itu dulu dan Mama lagi berusaha cari waktu supaya bisa ketemu sama Tante Novia. Ingin menanyakan keseriusan tentang hubungan kalian,” kata Monica dan Jema melangkah menjauh. “Kamu jangan sampai gegabah,” katanya sembari mendekat, memegang bahu Jema yang menegang.
“Mama bakalan minta orang buat cari tahu semuanya,” bisik Monica tepat di telinga Jema. Jema hanya diam, tetapi pikirannya melanglang buana.
****
Di rumah Bassta, pria itu sedang menyantap sarapannya dengan lahap. Sesekali dia menatap Larisa yang terus diam dan berusaha menghindari kontak mata dengannya.
"Kamu kenapa manyun terus dari tadi?" jutek Bassta bertanya.
"Siapa juga yang manyun. Orang biasa aja juga," balas Larisa ketus.
"Nggak suka nyiapin sarapan dan sarapan bareng suami sendiri, hemm?" Bassta kesal.
Larisa menatap, memicingkan matanya.
"Tuh, tuh, mata kamu kayak begitu. kenapa? Butuh apa? Cewek kalau lagi sensi pasti lagi ada maunya," ujarnya sambil menyuap lagi dan Larisa bangkit. "Sarapan kamu belum habis. Jangan pergi sebelum suami kamu selesai makan, kamu denger? LARISAAAAAAA!" teriaknya keras tetapi Larisa berlalu begitu saja.
Larisa merasa sebal, semalam dia mengira Bassta akan kembali membawakan air hangat juga kompresan untuk lukanya. Tapi ternyata, setelah satu jam dia menunggu, Bassta tak kunjung kembali.
Terlalu berharap memang menyakitkan.
"Butuh apa, Mas? Mungkin Mbak Larisa lagi capek," kata Asih yang baru saja mendekat.
Bassta menggeleng, semua kebutuhannya sudah terhidang di atas meja.
"Dia pagi-pagi bikin emosi. Emosian melulu," gerutunya sembari melirik Larisa yang sudah lenyap menaiki tangga.
Asih bergeser mendekat kemudian berbisik, "Kasihan Mas mbak Larisa, jangan dimarahi terus. Kemarin waktu ada ibu, mbak Larisa kena omel melulu. Mbak Larisa kan tangannya juga lagi sakit, karena Bu Novia."
Bassta menghentikan aktivitasnya secara mendadak. Dia mendongak dan Asih mengangguk, bersungguh-sungguh dengan apa yang dia adukan.
__ADS_1
Lebam semalam melintas di pikiran pria itu. Apa itu akibat dari perselisihan Larisa dengan ibunya?
Bassta diam, selera makannya lenyap dan dia terus menatap tangga. Berharap wanita itu turun untuk mengantarkannya sampai teras dan di situlah dia akan menanyai Larisa.