
Malam berangsur larut, Bassta keluar dari mobil dengan air muka kusut. Ia tampak letih setelah seharian disuruh ini dan itu oleh Sultan, tidak masuk akalnya adalah, ia juga didesak untuk membuatkan kopi bak pelayan. Bassta tidak bisa melawan, karena Sultan selalu mengancam akan mengadukannya pada sang Ayah.
Bassta berjalan dengan malas, melirik kanan-kiri juga sesempatnya, memeriksa situasi di sekitar rumahnya tersebut.
Saat ia mendekati pintu, pintu terbuka, Asih yang melakukannya dan mata Bassta menerawang ke belakang tubuh Asih. Ia mencari sosok Larisa yang biasanya setia menunggu kepulangannya. Entah ke mana wanita itu sekarang, Bassta mendadak penasaran, terlebih lagi saat ingat pertengkaran mereka pagi tadi.
“Mas,” ucap Asih sedikit takut.
“Kenapa?” balas Bassta lalu menggulung jas berwarna navynya pada lengan kiri.
“Mbak Larisa dari tadi nggak keluar-keluar, Bibi coba panggil juga nggak ada jawaban.” Asih mengadu dengan ragu-ragu, karena sepenglihatannya, Bassta tidak terlalu peduli pada istrinya itu meskipun sedang berbadan dua. Tetapi Asih juga takut, Larisa kenapa-kenapa di dalam sana. Wanita itu hanya meminta air tadi siang, itu saja padahal ia memerlukan asupan lebih karena kondisinya.
“Sejak kapan?” Mata Bassta membulat, kemudian dia menatap ke atas sana, lantai dua.
“Sejak pagi, tadi siang cuman minta segelas air. Nggak makan, Mas. Aduuuh! Mbak Larisa kan lagi hamil, takut kenapa-kena....”
Bassta langsung pergi sebelum Asih menyelesaikan kalimatnya. Asih jelas melihat bahwa Bassta sangat cemas.
Sesampainya di depan pintu kamar Larisa, Bassta menempelkan telinganya, tak ada suara sedikitpun. Semakin paniklah dia sampai akhirnya menggedor-gedor pintu.
“RIS! LARISA!” teriaknya antara emosi juga takut.
Terbayang waktu itu, saat Larisa hampir kehilangan nyawa setelah nekat ingin melompat dari atas gedung.
“Larisa! BUKA!”
“Dobrak aja, Mas.” Usul Asih.
“Mana saya kuat, Bi. Dua kamar ini pintunya nggak bisa didobrak,” balas Bassta kemudian berjalan mendekati lemari, ia mencari kunci cadangan gelagapan.
Asih diam, sesekali juga mengetuk pintu, menyerukan nama Larisa.
Saat pintu terbuka, kosong, sosok Larisa tidak dapat Bassta temukan. Bassta baru saja akan memanggil tapi saat ia lihat sosok itu sedang berdiri di balkon, ia lekas mengurungkan kemudian langsung berbalik, menatap Asih yang berdiri di bilah pintu.
“Siapkan makanan buat saya sama Larisa.” Perintah Bassta pelan.
Asih mengangguk, menjawab. “Susu hamil perlu juga, nggak, Mas? Mbak Larisa juga belum minuman vitamin kehamilannya.”
Bassta terdiam sejenak kemudian menjawab.
“Siapin semuanya aja, Bi.”
Asih mengangguk, berlalu pergi.
Sekarang, Bassta berjalan perlahan mendekati Larisa sambil sesekali mengamati sekelilingnya. Untuk pertama kali, ia melihat bagaimana kamar wanita itu, semuanya tersusun rapi. Semua barang Larisa yang dominan berwarna biru dan putih karena itu adalah warna kesukaan Larisa.
Larisa yang sadar dengan pendekatan yang dilakukan Bassta pun tetap diam di tempatnya. Matanya mengerjap, merasakan embusan angin malam yang membuatnya menggigil kedinginan.
__ADS_1
“Ngapain kamu di sini?” celetuk Bassta bertanya.
“Nggak boleh? Oh iya ini emang rumah kamu, perlu izin buat aku diam di sini?” sewot Larisa dan Bassta menelan saliva.
“Terus kenapa pake baju beginian?” tanyanya dengan jemari menjepit simpulan tali pita di baju piyama berwarna merah yang dipakai Larisa.
Sontak saja Larisa menepis tangan pria itu kasar.
“Terserah aku,” ketusnya.
“Nggak cocok,” cibir Bassta lalu menyejajarkan dirinya dengan Larisa.
“Biarin.”
Bassta terkekeh geli dan Larisa menoleh dengan mata memicing. “Sengaja mau bikin aku nafsu?”
“Kamu nafsu sama aku? Serius?” Larisa sangat ingin tertawa mendengarnya, tapi ia tahan.
“Ya enggak lah.”
“Iya nggak mungkin....aku pake baju ini buat menghormati yang ngasihnya aja.”
“Emang dari siapa?”
“Dari kakak ipar kamu.”
Bassta mangut-mangut kemudian menjatuhkan tangannya pada pagar balkon.
Larisa mengembuskan napas kasar, lalu menggeleng kepala.
“Buat apa cari perhatian sama orang yang nggak punya rasa empatik.”
Jleb, Bassta langsung terbungkam mendengarnya. Seburuk itukah ia di mata Larisa? Apa yang dia lakukan dan dia ucapkan tadi kelewatan sampai Larisa bisa berbicara seperti itu?
Bassta terus menerka-nerka, tak kunjung sadar juga. Entah pula sudah sadar tapi egonya lebih tinggi, gengsi untuk mengakui.
Sekarang lengang, keduanya diam dengan lamunan masing-masing. Larisa masih kesal, Bassta ingin bertanya perihal sikapnya tadi pagi tapi tidak jadi.
Diam terus diam sampai Bassta melihat Larisa mengusap-usap bulu tangannya yang berdiri karena embusan angin.
“Ayo masuk,” ajak Bassta.
“Ini kamar aku, kamu nggak sopan masuk kamar orang lain sembarangan.”
Bassta terbeliak mendengarnya.
“Makan, Larisaaaaaaa,” ucapnya penuh penekanan.
__ADS_1
“Males.”
Bassta mengerjapkan matanya, ia tak menyangka Larisa begitu sulit dibujuk.
“Mau aku bawa makanannya ke sini?” tanya Bassta dengan nada kesal dan Larisa menoleh, hanya menatap nanar. “Mau atau enggak? Aku nggak mau ada tawar-menawar atau harus nawarin kamu dua kali. Mau aku bawa ke sini atau aku pergi?” Ia menyambung dengan keras.
Larisa cepat-cepat mengangguk dan Bassta berdecak kemudian pergi. Larisa diam, menatap kepergian pria itu.
“Tadi marah-marah kayak orang kesetanan. Sekarang baru lihat aku mogok makan aja khawatir banget. Kamu beneran khawatir atau kamu emang cuman takut karena kita sepupu?” gumam Larisa. Sepengetahuannya, Bassta sangat takut pada ayahnya. Bisa jadi itu menjadi alasan pria itu menawarinya makan dan mengkhawatirkan keadaannya juga bayinya.
Larisa tidak mau menerka terlalu jauh, berangan-angan bahwa hubungannya dengan Bassta penuh kepastian.
***
Makanan siap disantap, Larisa terus menatap sementara Bassta sudah memulai menyuap. Bassta sangat lapar dan sejenak ia berhenti ketika menyadari Larisa tak kunjung menyendok nasi goreng ati ampela kesukaannya.
“Kenapa lagi?” ketus Bassta.
Larisa menggeleng dan perlahan-lahan meraih sendok.
Bassta menyuap lagi karena Larisa sudah memulai makan malamnya. Tanpa ia sadari, netra wanita itu merah dan memupuk air.
Terbayang kenangan indah sekaligus pahit ketika kecil yang Larisa alami perihal nasi goreng spesial pakai ati ampela. Berbanding terbalik, kehidupan Fitria dan Novia memang jauh berbeda.
Larisa sangat ingat jika dulu ayahnya belum memiliki usaha sampingan selain bekerja sebagai guru honorer di sebuah sekolah swasta. Sementara ia selalu lancang meminta diajak makan nasi goreng ati ampela setiap seminggu sekali. Itu murah untuk mereka yang punya, tapi bagi keluarga Larisa yang pas-pasan, itu berat.
Bukan hanya keinginan yang perlu mereka pikirkan, tetapi kebutuhan hidup sebulan yang dilingkupi beban.
Larisa ingat dia terus merengek meminta, sementara Sadi tidak memiliki uang lagi kala itu. Larisa marah, mogok makan seharian dan mengunci diri di kamarnya seperti yang ia lakukan karena marah pada Bassta sekarang ini.
Karena tidak tega dan cemas melihat anaknya merajuk, Sadi akhirnya membawa Larisa dan Nurani untuk makan nasi goreng ati ampela di malam Minggu. Larisa tidak pernah tahu uang dari mana yang didapat ayahnya, sampai akhirnya ketika dia dewasa, ibunya memberitahu bahwa ayahnya rela menjadi kuli panggul sepulang mengajar dari sekolah untuk memenuhi kebutuhan hidup yang kurang terpenuhi dengan gaji seorang guru honorer.
Kecewa pada dirinya sendiri karena Larisa tahu ketika ia sudah dewasa. Andai dia paham hidup sesulit itu, ia mungkin tidak akan berani merengek apalagi sampai merajuk.
“Huuuuuuuu...” Larisa mendadak menangis sesenggukan.
“Kenapa, hei, kenapa?” Bassta panik, langsung melirik Asih yang menatap curiga ke arahnya. Padahal ia merasa tidak melakukan apa-apa.
“Aku cuman kangen sama keluarga aku. Dan makanan ini, nasi goreng ati ampela adalah makanan mahal yang selalu aku mau waktu kecil padahal dulu ayah cuma punya uang pas-pasan.” Larisa tersenyum getir dan Bassta perlahan menurunkan sendoknya.
Mengapa ia tak pernah terpikirkan bahwa Larisa pasti merindukan keluarganya? Sementara keluarganya melarangnya untuk kembali datang.
“Bass.” Larisa terpaku saat Bassta memisahkan satu-persatu ati ampela dari piringnya, dia kumpulkan kemudian dia pindahkan ke atas piring milik Larisa.
Bassta selesai, kemudian membalas tatapan Larisa.
“Makan sampai habis. Kenang momen indah bersama keluarga kamu, sesukamu.”
__ADS_1
Larisa tersenyum tipis dan terus memperhatikan Bassta yang kembali menyuap nasi gorengnya.