
***
Novia langsung meradang saat melihat pesan masuk dari Vivian. Berbagai umpatan terlontar dengan liarnya, membuat para pelayan yang setia menunggunya yang sedang makan itu pun menciut takut, takut kena getahnya.
“Menantu tidak tahu diuntung! Nggak bisa dibilangin!” gerutu Novia kemudian melayangkan panggilan pada anaknya Sultan.
Novia ingin menegur Sultan yang dia rasa tak becus mengendalikan Fiona.
Sebetulnya Fiona ini istri atau alat sampai perlu dikendalikan? Padahal tepatnya, seorang suami mengarahkan dengan penuh jiwa kepemimpinan.
Itu tidak terpikir di otak Novia yang isinya gengsi juga gengsi. Juga takut terhina.
“Halo!” sentak Novia, membuat Sultan kaget di seberang sana.
“Kenapa, Mom?”
“Itu si Fiona,” kata Novia begitu bernafsu.
Sultan diam, terheran-heran mendengar celotehan ibunya.
“Kenapa sama Fiona, Ma?” tanya Sultan dengan suara serius.
Novia mendengus kemudian kembali berbicara.
“Tadi dia ke sini, bawa adikmu buat belanja tapi sekarang mereka malah ada di rumah Bassta. Dia ngajak Vivian ke sana, kenapa susah banget istri kamu itu mendengar peringatan dari Mama. Udah nggak bisa ngasih cucu, kerjaannya membangkang melulu.”
Sultan terhenyak, hanya bisa bungkam sembari memijat keningnya yang mendadak pening.
Sudah sangat sering ibunya mengeluhkan perihal kelakuan Fiona. Fiona terlalu baik untuk menjadi menantu dari Novia, percekcokan di antara keduanya selalu saja ada, karena tidak satu frekuensi.
“Kamu nikah pilih istri nggak bener, sekarang Bassta....stres Mama mikirin kalian berdua. Kayak perempuan nggak ada yang bener aja di muka bumi ini.”
Menggerutu lagi dan Sultan menjawab sekenanya. Iya, iya, iya.
“Kamu juga kenapa kayak yang males Mama telepon?” tegur Novia dan Sultan terperanjat kaget.
“Bukan begitu, Ma. Aku, kan, lagi dengerin Mama.”
“Alasan!” bentak Novia kemudian tanpa pikir panjang memutus panggilan. Ia terlanjur kesal pada Sultan juga sekarang.
Di kantor, Sultan yang kaget karena panggilan diputus pun berusaha menelepon balik tetapi Novia tak menjawabnya. Sultan pun hanya bisa pasrah sekarang.
***
Kembali ke kediamannya Bassta dan Larisa. Vivian dan Fiona masih di sana, Fiona dan Larisa sempat memasak bersama, makan sambil bercanda tetapi tidak dengan Vivian.
__ADS_1
Katanya Vivian sedang diet, gadis berusia 19 tahun ini memang berkeinginan untuk menjadi seorang model. Jema adalah panutannya, dan ia menyesali kandasnya hubungan Jema dengan Bassta hanya karena perempuan seperti Larisa.
Novia dan keluarga Bassta yang lain berpikir bahwa Bassta dan Jema sudah tidak menjalin hubungan.
Sekarang, Vivian sedang berada di ruang tamu, menikmati potongan buah semangka. Sementara Larisa dan Fiona ada di luar, keduanya sedang melihat semua tanaman yang sejak awal Larisa datang, ia sudah meminta izin Bassta untuk memelihara beberapa jenis bunga.
Larisa tampak tak nyaman, ia sesekali melihat ke arah pintu, takut di dalam rumah Vivian macam-macam. Tetapi tak lama, Vivian ikut keluar dan mendekatinya dengan Fiona.
“Rajin banget kamu, ya, Ris. Kalau Mbak, sih, belum bisa merawat tanaman karena Mbak orangnya nggak telaten.” Fiona senyum-senyum dan Larisa membalas.
“Beli aja tanaman yang mudah dirawat dulu, Mbak. Ini jadi bahan relaksasi aku pagi-pagi sebelum memulai aktivitas. Kelihatan seger juga kalau ada tanaman di sekitar rumah.” Larisa tersenyum dan Fiona mangut-mangut.
Keduanya berbincang dengan riang sementara Vivian banyak diam dengan ekspresi kaku.
Tak lama, Larisa mengeluarkan ponselnya, mengetikan pesan pendek kepada suaminya:
Larisa: Bass, di rumah ada adik kamu sama mbak Fiona.
Pesan terkirim.
Larisa memberitahu Bassta karena ia tak nyaman dengan sikap dingin dan ketus yang ditunjukkan Vivian sejak tadi. Vivian terus memandangnya, tepat ke perutnya, Vivian tampak sedang menerawang. Berpikir keras perihal bayi yang ada di dalam perut Larisa.
“Seriusan mas Bassta menghamili Larisa? Larisa sama Jema jauh banget perbandingannya. Seperti langit dan kerak bumi, ya ampuuuun mas Bassta. Dia mabuk atau kesurupan, sih, waktu tidur sama ini cewek?” gumam Vivian dalam hati.
“Oh iya, Larisa. Kehamilan kamu sehat, kan?” tanya Fiona sembari menatap perut Larisa sekilas.
“Alhamdulillah, Mbak.”
Larisa menyentuh perutnya.
“Nanti kalau anak itu lahir, kira-kira mirip kamu atau mirip Masku? Aku harap, sih, sepenuhnya mirip keluarga kami. Takutnya kalau mirip yang lain merusak nama baik silsilah Genetik keluarga kami yang selama ini terpandang jempolan.” Vivian berbicara lalu menggulung ujung rambutnya, ia tatap wajah Larisa yang mendadak tegang.
“Viviaaaaan,” tegur Fiona begitu gemas dan Vivian menoleh. “Kamu dari tadi kenapa, sih?” Fiona melotot sekarang.
“Mbak Fiona yang kenapa. Kenapa belain Larisa terus dan kenapa ngajak aku ke sini? Aku mendadak nggak mood tahu setelah ketemu dia, bawaannya emosi melulu.”
Vivian mendelik sebal, sementara Larisa tetap berusaha untuk sabar.
Tidak ada gunanya meladeni mulut jahat Vivian yang sebelas dua belas seperti Novia.
Hening, suasana menjadi canggung. Vivian pun akhirnya kembali masuk karena mendadak ingin ke kamar kecil.
Fiona menggeleng, lekas dia sentuh bahu Larisa, mengusap, menyalurkan sentuhan hangat nan lembut yang menenangkan kepada wanita yang sedang bersedih itu.
“Maafin Vivian, ya, Larisa. Kayaknya Mbak salah, deh, ngajak dia ke sini. Niat Mbak supaya kalian bisa deket, seperti kedekatan kita tapi ternyata....” Fiona begitu sedih dan Larisa langsung tersenyum, berusaha menguatkan diri.
__ADS_1
“Aku udah terbiasa menghadapi sikap yang ditunjukkan Vivian. Memang, pernikahan aku sama Bassta nggak banyak yang mendukung.”
Fiona langsung menggeleng keras.
“Mbak mendukung penuh hubungan kalian, Larisa. Nanti, setelah anak kalian lahir, pasti dia akan menjadi jalan pembuka untuk bersatunya keluarga kita. Kamu harus yakin itu, selain pembawa rezeki, anak juga selalu bisa memperbaiki ikatan silaturahmi.”
Larisa tersenyum kecil, matanya berair, andai Fiona tahu. Apakah ia masih bisa berbicara seperti itu?
Entah, Larisa merasa bersalah karena sudah membodohi banyak orang termasuk orang baik seperti wanita di hadapannya ini.
***
Di luar, Fiona dan Larisa semakin sibuk bercengkerama setelah Asih mengirimkan dua mangkuk SOP buah yang begitu menyegarkan. Sementara Vivian, ia merasa memiliki kesempatan untuk naik ke lantai dua, ia ingin pergi ke kamar Bassta. Biasanya, Vivian selalu datang untuk mengambil satu atau dua jaket milik Bassta yang model dan harganya selalu mahal.
Bukan untuk dirinya sendiri, tetapi Vivian ingin memberikan jaket itu untuk laki-laki pujaannya. Bassta selalu telat menyadari barangnya yang hilang karena diambil Vivian setelah berlalu lama.
“Mas Bassta pasti bakalan nggak sadar. Dia nyimpen uang cash juga nggak ya? Aku udah lama nggak dikasih jajan sama dia. Aku ambil dikit dia pasti nggak bakalan sadar.”
Vivian cengar-cengir, celingak-celinguk lalu masuk ke dalam kamar Bassta.
Setelah masuk, ia melakukan apa pun yang ia mau. Tapi, saat dia membuka lemari, dia tidak menemukan sesuatu yang ia bayangkan sebelumnya —pakaian Larisa. Di mana pakaian Larisa disimpan? Mengapa di lemari besar yang masih memungkinkan untuk memasukkan pakaian Larisa tapi tidak dia temukan barang sehelai pun.
“Kenapa nggak ada barang-barang wanita miskin itu di sini?” gumam Vivian penuh tanya.
Vivian tiba-tiba tertarik pada hal lain, lalu dia menutup lemari. Sekarang, ia menyapu sekeliling. Kamar kakaknya yang selalu rapi, kamar dengan nuansa monokrom seperti warna favorit Bassta.
Vivian benar-benar tidak menemukan tanda-tanda bahwa Larisa menetap di kamar yang sama dengan Bassta, sampai akhirnya kecurigaan pun muncul di benaknya. Apa keduanya tidak tidur bersama?
“Nggak mungkin di sini nggak ada barang Larisa satu pun. Seharusnya ada.”
Vivian semakin penasaran, menggeledah setiap sudut kamar tersebut dan terakhir dia masuk ke kamar mandi. Seperti dugaannya, ia juga tak menemukan shampoo, sabun, yang identik dengan perempuan di kamar mandi kamar Bassta. Hanya ada milik kakaknya.
“Mereka suami istri, kan?” kata Vivian sambil mengecek Bathtub. “Atau jangan-jangan beneran, mereka nggak tidur sekamar? Terus si Larisa tidur di mana, dong?”
Vivian menggigit kuku jari, langkah kakinya melaju meninggalkan kamar mandi. Vivian benar-benar tak paham, dan apa perlu dia adukan kepada ibunya perihal apa yang ia temukan tersebut?
Jika iya, Bassta dan Larisa akan terkena masalah pelik.
Vivian hanya dalam lamunannya, sembari terus menatapi ranjang tempat tidur Bassta.
Saat gagang pintu ditarik, disusul dengan derit, Vivian tersentak karena saat ia menoleh itu Larisa yang masuk dan memergoki keberadaannya.
Keduanya saling menatap tegang. Larisa sudah curiga karena Vivian tidak ada di lantai satu. Lantas sekarang bagaimana? Apa yang anak itu temukan yang sekiranya akan menimbulkan permasalahan? Larisa membeku, dilingkupi pertanyaan juga kekhawatiran.
__ADS_1