Cinta Mas Sepupu

Cinta Mas Sepupu
TUDUHAN


__ADS_3

Larisa menyandarkan kepala pada kaca mobil taksi yang setengah terbuka. Rambutnya yang terurai berhamburan tertiup angin. Dia biarkan, membiarkan pula air matanya jatuh tumpah membahasi pipi. Sakit dan kecewa adalah warna nyata dalam pernikahannya. Niatnya untuk mengubah warna itu dengan warna-warna indah seperti pelangi apa akan terkabulkan? Begitu keras hati dan sulit sekali untuk mendapatkan perhatian apalagi kasih sayang dari suaminya.


Bukan hanya ucapan, dia juga dibuat kecewa karena Bassta tak mau mengantarkannya pulang. Pria itu memesankan taksi, memintanya pulang sendiri.


Sopir taksi tak berhenti melirik spion, khawatir karena penumpangnya terus menangis tetapi untuk bertanya pun rasanya tak sopan. Dia hanya penyedia jasa, apa pun yang dilakukan penumpangnya selama tidak merugikan, itu adalah hak mereka.


Bassta tak mau mengantarkan Larisa karena dia harus merapikan diri dahulu ke barbershop. Waktunya cukup sekaligus juga ingin membelikan buket bunga untuk kekasihnya itu. Bassta tak tahu bahwa kekasihnya sedang dirundung rasa was-was dan siap menginterogasinya ketika bertemu nanti.


***


Jema menunduk murung menunggu kedatangan kekasihnya. Sementara Ibra tampak gusar karena Jema masih saja berhubungan dengan Bassta.


“Ibra, gimana kalau kita juga cari makan?” celetuk Sally dengan genit lalu Ibra menoleh.


“Enggak, Mbak. Saya masih kenyang.” Dia kembali memerhatikan Jema.


Sally tak pantang menyerah, lekas merangkul dengan kuat lengan kekar pria itu.


“Mbaaaaak.” Ibra kewalahan menghadapi Sally.


“Daripada di sini jadi kambing conge. Ayooooo.” Sally terus menarik sampai akhirnya Ibra pasrah kemudian mereka pergi dari ruangan VVIP restoran mewah tersebut.


Ketika ditengah jalan, Ibra dan Sally berpapasan dengan Bassta yang menenteng buket bunga serta tas belanjaan. Sally cengar-cengir dan Bassta dengan Ibra saling menatap lama.


“Dia di dalam. Udah nggak sabar mau ketemu sama kamu,” kata Sally dan Bassta tersenyum kecil.


“Ya sudah aku masuk dulu.” Bassta berlalu pergi dan sorot mata tajam Ibra tak berhenti menyalang pada Bassta.


Dalam langkahnya untuk menemui Jema. Bassta berusaha mengingat-ingat sesuatu.


“Aku merasa pernah ketemu sama itu cowok. Siapa, ya? Kenapa sama Sally? Atau itu pacarnya Sally? Kan si Sally cewek jadi-jadian. Apa itu cowok nggak tahu?” gumam Bassta seraya terus melayangkan kaki panjangnya.

__ADS_1


Sekejap kemudian kepalanya menggeleng, merasa tidak perlu mengurusi hal-hal remeh begituan.


Saat Bassta memasuki ruangan. Makanan baru saja terhidang, kebetulan. Jema meminta makanan disiapkan lebih cepat karena perutnya tak kuasa lagi menunggu lebih lama untuk diisi. Pekerjaannya yang padat begitu membuatnya sulit untuk mengisi perut di waktu yang tepat.


“Jem,” ucap Bassta dan Jema bangkit.


Keduanya berpelukan, Bassta memeluk dengan sangat erat.


“Ada kendala sedikit tadi. Maaf,” kata pria itu seraya mengendurkan pelukan. Ketika bibirnya hendak dia tempelkan ke bibir milik Jema, Jema menghindar dan hak tersebut membuat Bassta tampak bingung.


Jema menunduk, mengamati pakaian yang dikenakan Bassta. Benar saja, sangat mirip dengan pria yang dia lihat tadi. Hanya saja berbeda potongan rambutnya.


“Kamu potong rambut?” tanya Jema dan Bassta menyentuh rambutnya.


“Cuman dirapiin sedikit. Nggak enak mau ketemu sama kamu tapi rambut berantakan. Ayo duduk.” Bassta meraih pergelangan tangan Jema tapi Jema menangkisnya dengan keras. Seketika, keduanya saling memandang dengan tatapan berbeda.


Jema menatap begitu tajam, dan Bassta diam kebingungan.


“Kamu sebelum kita ketemu emang udah ada di Mal, kan? Kamu sama cewek, siapa itu, Bass? Jangan berusaha bohong, aku jelas ngelihat itu kamu. Paket baju ini.” Jema hampir menangis.


“Kamu ngomong apa, Sayang? Mana ada begitu? Aku baru datang.”


“Nggak usah bohong!” teriak Jema kalap.


Bassta termangu, mengamati sekitar. Malu dilihat orang sampai wajahnya memerah.


“Jema, kamu bisa nggak ngomong baik-baik. Nggak usah pake teriak. Malu.” Bassta berbisik.


Jema menggeleng kepala dengan keras. Mundur menjauhi Bassta.


“Kamu selingkuh, kan? Sialan kamu, Bass!” Satu pukulan melayang ke dada Bassta.

__ADS_1


Bassta diam walaupun dadanya ngilu.


“Duduk.” Bassta menekan bahu wanita itu dan tangisan Jema langsung tumpah.


Jema menangis sesenggukan, masa bodo dia ada di mana. Bassta kebingungan menenangkannya dan Jema malah terus mendesak meminta ia jujur. Mana bisa dia jujur tentang pernikahannya dengan Larisa? Dia tidak tahu hubungannya dengan Jema kandas karena itu. Ia ingin mempertahankan hubungan sampai ke jenjang pernikahan. Semarah apa pun Jema, dia harus bisa membuat kebohongan yang masuk akal agar Jema percaya.


"Lepassss." Jema tak mau disentuh.


"Malu. Kamu itu bukan orang biasa, kalau ada sesuatu nanti kamu juga yang repot. Bicarakan baik-baik jangan kebiasaan kebablasan emosi kamu itu."


Jema menyeka air matanya dan Bassta di sebelahnya terus memandang.


"Aku dari tadi sibuk di kantor. Ada waktu sedikit aku sempatkan buat beli ini." Dia menunjuk buket bunga dan hadiah sebuah tas untuk Jema. "Baju yang aku pakek ini banyak yang jual dan pakek. Bukan cuman aku doang yang punya."


"Tapi aku yakin banget itu kamu." Tunjuk Jema ke dada bidang Bassta.


Bassta meraih tangan Jema dengan lembut.


"Jangan berusaha buat nipu aku!" tegas Jema.


"Mana bisa aku begitu? Atau kamu cuman cari alasan yang nggak logis begini karena udah punya cowok lain. Begitu?"


Kening Jema terlipat mendengar tudingan yang malah berbalik padanya.


"Kenapa jadi aku? Nggak usah mengada-ngada, ya!" sentak Jema.


"Kamu yang mengada-ngada cuman karena pakaian aku kamu tuduh selingkuh. Itu orang lain, cuman karena kamu terus menyangka hal negatif tentang aku. Kamu merasa itu beneran aku, bukan sekali ini doang ya kamu nuduh begini." Suara Bassta meninggi, kini Jema yang was-was dengan sekitar. Bagaimana jadinya jika ada pemberitaan tentangnya yang dimaki-maki pacar sendiri, berita rendahan seperti itu dia tidak mau menanggungnya.


"Bass, diam." Jema melotot.


"Aku capek, loh, kamu tuduh terus." Bassta bangkit dan Jema meraih tangannya. Takut pria itu pergi meninggalkannya. "Nggak usah ngeributin hal rendah kayak begini, deh. Capek aku."

__ADS_1


Jema terus menangis dan Bassta sudah berdiri sambil menatap Jema. Terbersit perasaan tak tega, tapi mau bagaimana?


__ADS_2