
Sally diam sembari memijit dahinya terus-menerus. Lelah melihat Jema yang sibuk menata apartemennya sedemikian rupa untuk menyambut kedatangan Bassta.
Sosok Ibra juga ada di apartemen tersebut, tetapi dia tidak ikut masuk melainkan menunggu di parkiran.
Jema terlihat sumringah, berbalut pakaian terbuka di bagian dada dan pahanya, warna cerah putih tulang pakaiannya membuatnya semakin menawan.
“Kamu nggak capek, Jema?” tanya Sally iseng.
Jema tersenyum, membalas, “Kalau kamu ketemu sama orang yang kamu cintai juga mencintai kamu. Nggak bakalan hadir kata lelah yang kamu pertanyakan, Sall.”
Sally mendesah mendengarnya, level bucin yang dialami Jema ternyata sudah melampaui batas.
“Awalnya kamu tertarik kepada Bassta bukannya karena dia kaya raya?” celetukan Sally sekarang membuat Jema menghentikan aktivitasnya.
“Ini cinta menguntungkan, Sally. Hidupmu terjamin, dan hatimu dibahagiakan.” Jema tersenyum lebar.
“Aku rasa kamu sekarang berlebihan, Jem. Sementara Bassta kayaknya mulai cuek.” Mata Sally memicing sinis.
“Dia sibuk bukan cuek,” sargah Jema dan Sally mengembuskan napas panjang.
Memang tidak ada gunanya berbicara dengan manusia yang sedang dimabuk cinta.
Jema kini beralih menyusun bunga mawar pada vas bunga bening di atas meja. Sally yang merasa bosan juga lelah sebagai penonton sejak tadi pun memilih pergi. Jema tidak peduli dengan kepergian Sally yang sedang cemberut. Jema yakin Sally hanya iri karena tak kunjung juga menemukan sosok yang mampu menerima serta mencintainya dengan tulus.
“Oke siap,” seru Jema setelah mengambil gambar ruangan tersebut dan dia kirimkan kepada Bassta.
Wanita ini begitu yakin bahwa kekasihnya sedang di perjalanan, siap untuk menemuinya dan menghabiskan waktu bersama.
***
Bassta dan Larisa sedang menikmati makan malam mereka. Keduanya tampak lahap dan sibuk dengan isi pikiran masing-masing. Sesekali Larisa menyentuh perutnya di bawah meja, bayinya di dalam sana juga tampak menikmati dalam bentuk tendangan lembut atau bisa juga janin tak berdosa itu menyukai suasana kebersamaan orang tuanya.
Kini, Larisa mengangkat wajah dan memandangi Bassta. Bassta yang sadar diperhatikan pun balik menatapnya.
“Kenapa? Nggak enak?”
__ADS_1
Larisa langsung menggeleng kepala.
“Ini enak, cuman aku mau ngomong sesuatu.” Larisa berbicara sangat pelan
“Apa?”
Larisa mengunyah makanannya lembut kemudian berujar, “Besok aku mau ke RS. Jadwal pemeriksaan.”
Larisa berbicara begitu hati-hati.
Bassta terdiam sejenak.
“Nanti aku transfer uangnya,” kata pria itu dan Larisa terdiam.
“Hmmm, sebenarnya aku masih punya uang.”
Bassta mengernyit heran. “Terus kamu ngomong kayak begitu butuh apa? Jangan bilang kalau kamu mau aku temenin, aku nggak bisa.”
Larisa menggeleng, membantah tetapi matanya berkaca-kaca.
Larisa menunduk dalam seusai berbicara.
Bassta mengembuskan napas berat, “Udah berapa bulan sekarang?” tanyanya sambil menyuap makanannya.
“Enam bulan.” Larisa tersenyum.
“Berarti tiga bulan lagi, kan?” kata Bassta begitu antusias dan senyuman Larisa perlahan memudar.
Dengan suara serak, Larisa membalas, “Iya tiga bulan lagi anak ini lahir dan tiga bulan lagi kita pisah. Kamu mau ngomong ini, kan?” Bibirnya mengukir senyuman lebar, berusaha menutupi raut kesedihan di wajah cantiknya.
Bassta termangu mendengarnya, ingin berbicara tapi bingung, diam saja terlihat lebih salah karena seolah dia menunggu anak itu lahir hanya karena ingin berpisah.
“Aku udah selesai. Aku tidur duluan,” kata Larisa pamit, bangkit sembari membawa piring bekasnya.
“Ris,” panggil Bassta dan Larisa hanya tersenyum kemudian beranjak pergi menjauhi Bassta yang terus memperhatikannya.
__ADS_1
Bassta mendesah frustrasi, menyuap makanannya kasar dan memperhatikan Larisa yang berlalu meninggalkan dapur.
***
Tangan Jema terkepal kuat, wajahnya sudah memerah menahan amarah. Sally yang semula akan pergi urung melakukannya karena Bassta tak kunjung datang, ia takut ada masalah yang akan menyulitkannya. Karena sering sekali Jema melakukan hal gila tanpa memikirkan konsekuensinya.
“Mungkin Bassta terjebak macet.” Sally bersuara dan melirik Ibra yang sekarang juga ikut masuk ke dalam apartemen.
“Kalau iya, dia pasti ngasih kabar.” Jema membalas dengan sewot.
Sally diam dan menyandarkan punggungnya kasar.
Jema kini bangkit, menelepon berulang kali, mondar-mandir tak karuan sampai membuat Sally dan Ibra terus saling menatap bingung.
“Biasanya Bassta suka datang tepat waktu,” bisik Sally pada Ibra.
“Mungkin dia lagi sibuk sama selingkuhannya,” balas Ibra dan Sally langsung menyikut dadanya.
Ibra diam, walaupun dadanya ngilu.
“Coba kamu yang telepon dia, Sall!” perintah Jema dengan keras.
“Oke!” Sally menurut, daripada membantah menambah masalah. Dia menelepon Bassta tapi tak kunjung ada jawaban.
Setelah tiga kali Sally melayangkan panggilan, Jema pun memintanya berhenti karena sudah terlalu muak.
“Bisa aja dia ketiduran, Jem.” Sally berusaha menenangkan.
Jema diam, melipat kedua tangannya di depan dada dan dia berdiri dengan sorot mata tajam ke luar jendela.
“Kita nggak tahu secapek apa jadi Bassta. Setelah ini, dia pasti bakalan minta maaf dan habis-habisan manjain kamu.” Sally mendekat, memegang bahu Jema tapi wanita itu tetap diam saja.
Sally yang bingung pun melirik Ibra yang tak kalah bingungnya.
"Sebucin ini Mbak Jema sama lelaki itu?" ucap Ibra dalam hati, ia terus memperhatikan kegelisahan bercampur emosi yang menghiasi wajah wanita pujaannya.
__ADS_1