
Awan hitam menggulung di atas langit sana. Hanung yang sedang termenung di teras rumahnya dengan rebahan di atas kursi rotan panjang pun terus menelisik kegelapan di hadapannya.
‘Dia penyelamat. Apa pun yang dia lakukan, aku enggak berhak menuntut apalagi untuk marah’
Terngiang lagi ungkapan terakhir Larisa tadi sore yang membuatnya kecewa sampai kemudian memutuskan pergi meninggalkan rumah itu.
“Apa yang sudah Bassta lakukan sampai-sampai kamu disakiti pun, kamu tetap menerimanya?” gumam Hanung lalu menarik selimut tipis yang dia gunakan untuk melindungi betisnya dari nyamuk.
“Nung, kamu mau tidur jam berapa?” seru ibunya dari dalam.
Hanung bangkit kemudian berjalan masuk dengan raut wajah tak bersemangat.
***
“Papa bawa pulang mama tapi kalian janji jangan terus ribut apalagi sampai pisah ranjang.” Ungkapan Arif membuat Bassta dan Larisa saling melirik.
Novia yang duduk sendiri membuatk delikan mata yang sinis.
“Iya, Pa.” Bassta membalas dengan singkat.
“Ya sudah karena sudah malam juga. Papa sama Mama mau pulang.” Arif bangkit disusul oleh Novia. Novia berjalan pergi duluan dengan raut menggelembung jengkel.
“Mama kayaknya marah,” kata Larisa pelan.
“Nanti juga sembuh kalau udah diajak belanja.” Arif cengengesan dan Larisa tersenyum. “Jagain Larisa.” Kini Arif beralih kepada Bassta dan memberikan tepukan kecil di bahu putranya.
Bassta mengangguk kemudian meraih tas milik ibunya. Mereka semua pergi ke luar. Bassta dan Larisa berdiri menatap kepergian keduanya dari teras.
Setelah mobil jauh, Larisa berbalik badan dan masuk ke dalam rumah. Bassta menyusul dan ketika baru saja mengangkat kakinya ke anak tangga, pria itu berseru;
“Heh!”
Larisa berhenti, memutar tubuhnya, menatap suaminya nanar.
__ADS_1
“Apa?” singkatnya.
“Beresin barang-barang kamu dari kamar!” tegas Bassta meminta.
Larisa mengembuskan napas panjang.
“Enggak usah kamu suruh juga aku tahu!” balas Larisa ketus kemudian melanjutkan langkahnya.
Bassta mendengus melihat balasan Larisa yang begitu sinis.
Sesampainya Larisa di dalam kamar suaminya. Ia tak langsung membereskan barang-barangnya. Wanita itu terdiam, terngiang dengan aduan Hanung tadi sore.
“Kalau pernikahan aku sama Bassta normal sedari awal kayak pernikahan yang lainnya. Mungkin aku punya hak untuk menuntut atas pengkhianatan yang dia lakukan tapi kami beda, aku dari awal sudah harus siap dengan apa pun yang Bassta ingin lakukan. Dia yang nggak pernah menganggap pernikahan ini,” tutur Larisa sebatas hati.
Ia termenung lagi kemudian tak lama dia bergegas untuk membereskan semua sebelum Bassta datang dan mengeluarkan omelan.
Wajtu berlalu, jarum jam terus melaju menjelang pagi, Bassta belum juga tidur di kamarnya. Ia masih terjaga dengan posisi miring ke sebelah kiri, di mana Larisa biasa tidur meringkuk selama Novia ada di rumah mereka.
“Kok aneh, ya, nggak ngelihat dia di sini. Dia bisa tidur nggak ya? Biasanya dia suka bangun gara-gara sakit pinggang, perutnya makin besar, posisi tidurnya udah nggak enak. Apa dia sekarang belum tidur?” gumam Bassta.
Selama mereka tidur di kamar yang sama, sedikitnya Bassta tahu apa yang sering dilakukan wanita hamil itu. Terkadang bangun untuk ke kamar mandi, atau bahkan menikmati camilan karena nafsu makan yang semakin meningkat seiring dengan bertambahnya umur kehamilannya.
Bassta yang penasaran pun akhirnya melompat turun dari tempat tidur. Dia memakai sandal karet berwarna coklat kemudian berjalan keluar meninggalkan kamarnya. Sesampainya ia di depan pintu kamar istrinya, dia termenung, pikiran liarnya lagi-lagi memprovokasi dan mengingkatkan bahwa sepatutnya dia tidak berlebihan dengan istrinya, lagipula istrinya bukan mengandung anak darinya. Itu anak pria lain, tidak sepatutnya peduli.
Akan tetapi nuraninya lagi-lagi berbisik, mendorongnya terus-menerus agar mendekat kepada istrinya karena sepatutnya memang begitu. Dia yang mau menikahi, dia juga yang harus siap menerima apa pun yang terjadi.
Tangan kanan Bassta kini sudah menarik gagang pintu. Memutarnya perlahan sampai pintu itu terbuka. Matanya membelalak ketika Larisa tidak dia dapati di tempat tidur, hanya ada gulungan selimut kusut di sana. Kakinya masuk dengan tergesa, ia memutar tubuh dan menyelia sekitar.
“Larisa,” panggilnya.
Tak ada jawaban, Bassta akhirnya memaksakan diri membuka pintu kamar mandi. Larisa tak ada di sana.
“Dia ke mana, sih?” Mulai mengomel dengan air muka yang cemas.
__ADS_1
Kakinya kini melangkah untuk pergi mengecek seisi rumah, tetapi dia berhenti ketika Larisa masuk dengan nampan berisi potongan buah juga segelas susu rasa vanilla.
“Bass?” Larisa bingung dan Bassta mendelik.
“Kamu dari mana? Bikin orang panik aja.”
Larisa menjawab dengan gugup, “Aku lapar jadi ke dapur. Kamu ngapain di sini?”
Larisa meletakkan nampan.
Bassta terus memandang.
“Cuman ngecek,” katanya beralasan dan Larisa mengernyit. Larisa menatap Bassta heran. “Nggak usah ngelihatin kayak begitu. Aku tahu kalau aku bener-bener karismatik.” Ia menyisir rambut tebalnya ke belakang.
“Dih!” Larisa membulatkan matanya. “Keluar sana, aku mau tidur.”
Bassta mengangkat bahu dan duduk di tepi kasur.
“Aku nggak bisa tidur.”
“Itu urusan kamu.” Larisa terus dan Bassta memperhatikan punggung Larisa.
“Aku mau tanya,” celetuk Bassta dan Larisa mengangkat wajahnya. Terdengar serius, apa itu tentang Hanung?
“Si Hanung kesini tadi? Kenapa kamu nggak bilang? Ngapain dia nemuin kamu?” tuturnya dan Larisa mendesah pelan.
“Dia jelek-jelekin suami kamu, ya, Larisa?” tanyanya lagi kesal. “Dasar, usil banget sama rumah tangga orang. Kenapa nggak bikin rumah tangga sendiri?” ucapnya jengkel.
“Dia mengadu tentang kamu sama Jema,” jawab Larisa dan Bassta terdiam. “Dia heran kenapa bisa aku pasrah sementara suami aku berselingkuh.”
Bassta berdecak sinis.
“Urusannya sama dia apa coba?”
__ADS_1
“Karena dia suka sama aku dan karena dia peduli lebih dari kamu, Bass. Dia khawatir dengan kondisi aku bahkan bayi yang ada dalam rahimku ini. Mungkin bagi kamu itu ikut campur, tetapi itu sebuah kepedulian dan nggak semua orang bisa ngelakuin hal yang sama. Bisa aja dia berusaha melindungi kamu sahabatnya meskipun dia punya rasa,” ujar Larisa panjang lebar. Bassta mengatupkan rahang kemudian bangkit dan mendekati Larisa.
“Kamu seneng?” Bassta membentak, menarik tangan Larisa kasar dan Larisa mengaduh merasakan sakit di tangannya.