
“Tadi siapa, Mbak?” Asih mengemukakan tanya setelah Larisa memasuki rumah. Rautnya tampak cemas.
Larisa tersenyum dan menjawab.
“Yang tadi itu kakak aku, Bi.”
Asih mengangguk, ia bernapas lega.
“Anu—takutnya mas Bassta ngamuk lagi kayak semalam sama Mbak Larisa. Jadi Bibi lancang nanya-nanya, syukurlah kalau itu kakaknya Mbak.” Asih tersenyum kecil dan Larisa mengangguk.
Asih berlalu untuk melanjutkan pekerjaannya, sementara Larisa menatap jam dinding karena Bassta ternyata belum pulang. Dalam benaknya dia sangat yakin dan menebak bahwa suaminya pasti sedang bersama model itu.
Larisa menyeka wajahnya kasar kemudian melangkah dengan malas untuk pergi ke kamarnya.
***
Raut wajah yang ditekuk, sementara wanita yang sedang mengapit lengannya begitu bernafsu untuk terus menggasak kartu kreditnya. Belanja ini dan itu bahkan juga membeli barang yang sama hanya karena berbeda warna.
Jema, ia begitu senang hari ini karena bisa menghabiskan waktu bersama dengan Bassta. Sementara Bassta banyak diam tidak terlalu menikmati suasana tersebut. Seharusnya dia senang bukan? Karena wanita yang dia cintai ada di sebelahnya kini, merangkul dan terus merengek meminta dan itu. Namun nyatanya, Bassta masih diliputi dengan rasa sebal dengan kejadian tadi pagi di kantor. Ketika dia dan Hanung terlibat keributan kecil. Hanung bahkan menghindarinya, dan Bassta yakin bahwa pria itu tidak menghiraukan ucapannya. Bisa juga dia hanya dianggap menebarkan gertakan sambal, tidak berpengaruh sama sekali.
“Nggak tahu diri. Aku yang kamu libatkan ke dalam masalahmu tapi kamu enak-enakan tebar pesona sama si Hanung,” gerutunya dalam hati.
“Bass, kamu nggak senang ya bisa jalan sama aku? Kamu diem terus dari tadi.” Jema protes, setelah terus-terusan mengamati sikap lain kekasihnya.
Bassta menoleh, membungkuk sedikit, kurang mendengar apa yang dikatakan Jema karena situasi teramat berisik di sekitar mereka.
__ADS_1
“Apa?” kata Bassta dan Jema mendesah.
“Enggak!” balas wanita itu jengkel.
Kedua alis tebal Bassta mengerut.
“Kenapa, Jem? Belanjaan kamu masih kurang? Kamu mau apalagi sekarang. Ayo atau kamu mau makan?” tawar Bassta tetapi Jema terlanjur kesal.
Jema mendongak, ia melepas kacamata hitamnya sesaat.
“Sikap kamu lain dari biasanya,” keluh Jema dan Bassta terkekeh-kekeh keras.
“Itu cuman perasaan kamu. Bisa jadi kamu gugup karena kita udah lama nggak ngabisin waktu berdua.”
Jema menggeleng, merasa yakin dengan apa yang dia rasakan atas perubahan sikap Bassta.
“Cewek itu punya sisi intuisi yang tinggi, loh, Bass.”
“Apa yang kamu rasakan sekarang bukan sebuah firasat tetapi kamu menuduh pacar kamu ini, Jema.” Bassta tersenyum hambar dan Jema menatapnya nanar. “Cuman kamu, selalu, selamanya akan tetap begitu.”
“Bass, jangan gila, deh!” Jema tersentak ketika Bassta mencondongkan wajahnya. Tidak mungkin, kan, mereka akan bercumbu di tengah keramaian?
Bassta tertawa keras-keras melihat wajah Jema memerah padam.
“Masih nyangka aku aneh-aneh? Aku kurang apalagi, Jem?” ucap Bassta kemudian meraih tangan Jema, merekatkan jari-jari mereka seolah tak mau ada perpisahan yang mendekati. “Kamu boleh menyangka aneh-aneh kalau kamu melihat sesuatu dengan mata kepala kamu sendiri. Kalau Cuma ngandelin firasat, lama-lama kita ribut cuman karena firasat yang selalu kamu Tuhankan itu.”
__ADS_1
Jema menggeleng kuat-kuat.
“Maafin aku, Bass.” Jema merengek dengan gemulainya.
Bassta mengangguk mengiyakan.
“Mending kita makan sekarang. Aku udah nggak tahan,” kata Bassta sambil menyentuh perut ratanya. Jema tersenyum kemudian ia mengangguk setuju.
Keduanya mempercepat langkah. Berhenti di sebuah restoran. Memesan menunggu kemudian setelah pesanan mereka datang. Mereka menikmati sembari saling menyuapi.
Bassta terlalu hanyut dalam kegembiraannya. Sementara di balik kaca restoran tersebut seorang gadis sedang mengamati dengan raut tak ramah. Bagaimana bisa suami dari kakaknya ada di restoran dengan wanita lain? Begitu mesra pula.
Nurani, gadis itu terus waspada memerhatikan. Merasa kasihan juga kepada Larisa karena pasti kakaknya itu belum tahu tentang pengkhianatan yang dilakukan Bassta.
Lantas kini, apa yang harus dia lakukan sebagai seorang adik? Mengadukannya kepada Larisa langsung atau berbicara lebih dulu kepada orang tuanya atau juga kepada Ganta?
“Gila bener Mas Bassta. Bini lagi hamil malah keluyuran sama cewek lain. Mana seksi banget lagi,” ucap Nurani pelan.
“Emang bener kata orang-orang, rumah tangga itu nggak enak. Lagi hamil banyak yang diselingkuhi, yang sudah melahirkan banyak yang diduakan tapi kenapa ini harus menimpa mbak Larisa?” tutur Nurani, dadanya terasa sesak tak terima kakaknya disakiti.
Sekarang Nurani melengos pergi karena dia sedang berada di Mal dengan teman-temannya. Setelah apa yang dia lihat barusan. Nurani merasa tidak mood lagi melanjutkan rencana untuk ke bioskop bersama teman-temannya.
Bassta dari dalam restoran terpaku ketika melihat punggung Nurani. Ia bahkan langsung kehilangan warna mukanya. Pucat dan tidak sebahagia tadi. Apa benar yang ia lihat itu adik iparnya atau hanya orang yang mirip dengan Nurani? Dari postur tubuh, rambut dan cara berjalan, itu benar, sangat percis seperti Larisa.
Bassta mendadak tak selera menikmati makan malamnya. Sepatutnya dia waspada karena bisa saja ketika dia bersama dengan Jema, ada orang yang dia kenal yang akan memergokinya. Dan sekarang bagaimana? Jika itu sungguh Nurani, apa dia akan kena damprat keluarga Larisa atau bisa saja lebih dari itu.
__ADS_1