
Mondar-mandir di atas balkon kamarnya. Menunggu sembari melipat tangan di depan dada. Larisa dengan setia dan juga dengan perasaan cemas terus melirik ke pintu gerbang. Suaminya belum juga pulang. Entah apa yang terjadi, dia merasa tidak enak hati. Perasaan risau yang dia rasakan dia yakini bahwa akan ada kejadian yang tidak mengenakkan.
Dalam kerisauan hati yang dia rasakan, mendadak suara dering ponsel dari kamarnya menarik perhatian. Larisa bergegas mendekat, melihat siapa yang menelepon. Namun ternyata, yang meneleponnya kini bukanlah orang yang dia khawatirkan.
“Iya, Nay?” ucap Larisa.
“Lagi ngapain kamu, Ris?” kata Nayla dengan enteng kemudian Larisa melangkah kembali ke balkon.
“Lagi diem aja. Kenapa? Atau itu—keluarga aku sama ibu kamu ribut lagi?” Suaranya meninggi, dan Nayla merespons dengan gelak tawa.
“Eh, bukan. Santai, Ris. Aku juga udah sering ngingetin ibu aku biar nggak terus-terusan gangguin keluarga kamu. Nggak ada apa-apa kok, aku cuman mau ngasih tahu kalau hari Minggu aku sama Nenden mau ke rumah kamu. Boleh, nggak?” balasnya dan Larisa mengembuskan napas panjang.
“Syukurlah kalau nggak ada yang aneh-aneh. Aku takut. Nanti aku minta izin dulu sama Bassta, ya, Nay.”
Larisa menengok lagi ke bawah, tetap, suaminya belum juga pulang.
“Oke! Oh iya, gimana kamu sama Bassta?”
Larisa terdiam cukup lama, hanya embusan napasnya yang Nayla dengar.
“Ris?” Nada suara Nayla berubah, tahu betul jika Larisa tidak menjawab, pasti ada kejadian aneh lagi dengan rumah tangga Bassta dan Larisa.
“Ya sama kayak sebelum-sebelumnya. Mungkin bakalan makin rusuh karena sekarang pacarnya udah balik. Sekarang aja dia belum pulang. Tadi pagi juga aku males kalau sampe papasan sama dia, ya aneh masa aku dikira macam-macam sama temennya,” tutur Larisa dan Nayla di seberang sana langsung menurunkan kedua kakinya dari tempat tidur. Penasaran apa yang terjadi kali ini di dalam rumah tangga sahabatnya.
“Temennya yang mana?”
“Itu, mas Hanung. Dia baik, dia nganterin aku pulang karena kita nggak sengaja ketemu di jalan tapi Bassta nuduh aneh-aneh. Terlebih lagi dia ngira kalau aku main gila sama mas Hanung, aku juga masih punya harga diri tapi emang kesalahan yang lalu nggak bisa dilupain begitu aja. Itu jadi alasan Bassta buat terus-terusan mengecam aku sama bayi ini.” Larisa bercerita dengan suara serak, Nayla terdiam mendengarkan dengan perasaan tak enak.
“Begitu banget, ya, sih Bassta. Atau jangan-jangan....” Nayla berhenti dan Larisa menjauhkan ponsel dari telinganya, mengira sambungan terputus. “Aku yakin Bassta cemburu.”
__ADS_1
“Apa?” sahut Larisa lantang. Lekas dia bekap mulutnya ketika sadar bahwa sekarang sudah sangat malam.
“Bassta cembokur!” kata Nayla. “Dia cemburu. Seburuk apa pun sikap dia sama kamu, tapi kamu kan sekarang istrinya. Getaran-getaran tak terima istrinya dekat-dekat sama pria lain pasti ada,” kata Nayla dan Larisa menggeleng-geleng kepala.
“Jangan menciptakan harapan semu buat aku, Nay. Bukan itu alasannya. Itu nggak mungkin dan nggak bakalan pernah kejadian, Bassta cuman nggak suka karena status suami-istri di antara kami. Dia mengira aku main-main sama cowok lain setelah menariknya masuk ke lubang masalah. Padahal, sedikitpun aku nggak ada niatan begitu.”
Nayla senyum-senyum di tempatnya.
“Si Bassta itu emang gengsian banget kayaknya, ya. Sekarang dia punya pacar yang cantik, yang seksi tapi tetep aja kamu sekarang istrinya. Sekarang Bassta begini kita nggak tahu di depan apa yang bakalan terjadi,” tutur Nayla penuh keyakinan.
Larisa menggeleng, mengurut keningnya yang cenat cenut. Ia tak mau hanyut pada sebuah harapan yang mustahil semacam itu, bahkan Bassta sendiri yang bilang bahwa dia akan diceraikan setelah melahirkan. Hanya itu yang Larisa percayai karena hanya itu yang nyata di hadapannya.
“Percaya sama aku, Ris,” pinta Nayla.
“Enggak ah,” kata Larisa dengan enteng kemudian dia melihat kedatangan mobil suaminya. “Sudah dulu, ya. Dia pulang.”
“Oke,” kata Nayla lalu tak panggilan berakhir.
***
Bassta mendengus ketika sesampainya dia di lantai dua, ada Larisa yang sudah menunggunya.
“Kenapa jam segini baru pulang? Apa nggak bisa ngasih kabar supaya yang di rumah nggak khawatir?” ucap Larisa dan Bassta hanya diam menatapnya.
Larisa melangkah lebih dekat, tangannya berayun untuk menyentuh pipi suaminya. Ingin memastikan bahwa pria itu baik-baik saja, tetapi belum jemarinya sampai di atas kulit pria itu, tangannya sudah ditangkis dengan begitu kasar.
“Nggak usah pegang-pegang, deh. Nggak usah banyak tanya, sok perhatian,” kecam Bassta dan Larisa mengalihkan pandangannya sejenak. Tahan, walaupun hatinya terasa diremas mendengar ucapan suaminya yang tidak ada bagus-bagusnya.
“Apa aku perlu jujur kalau aku sehabis pergi dengan Jema? Nggak mau sekalian nanya aku sama dia ngapain aja. Mau tahu?” tantang Bassta dan Larisa menunduk sedih.
__ADS_1
“Aku cuman takut kamu kenapa-kenapa di jalan. Terserah juga kamu mau ke mana sama siapa, mau ngapain juga terserah,” tandas Larisa jengkel dan Bassta terbahak, mengejek.
“Oh, ya? Nggak ada niat lagi buat cari perhatian di saat aku bersama dengan Jema atau sekarang kamu berhenti karena sudah ada Hanung?” katanya dengan memajukan langkah yang membuat Larisa mundur menjauh.
Larisa memandang tak percaya. “Jangan bawa-bawa orang yang nggak ada sangkut pautnya dengan masalah kita, Bass. Aku nanya apa kamu jawabnya ke mana-mana. Kamu mabuk?”
Bassta mendengus kemudian melepas jas dan melemparkannya tepat ke wajah Larisa. Larisa gelagapan, melepaskan jas itu dari wajahnya. Aroma khas langsung bisa dia menciumnya, aroma parfum perempuan di jas suaminya. Larisa diam, meremas apa yang dia pegang dan Bassta mengacungkan jari telunjuk penuh peringatan.
“Aku nggak mau debat lama-lama sama kamu, Ria. Dan juga bilang sama adik kamu Nurani jangan macam-macam kalau nggak mau aku kasih pelajaran,” katanya dan Larisa mengangkat wajahnya.
“Apa hubungannya sama adik aku? Setelah mas Hanung, kamu bawa-bawa adik aku, apaan sih?” sentak Larisa dan Bassta menatap tajam.
“Waktu aku sama Jema tadi, ada Nurani. Kasih tahu dia jangan bocor!” keras Bassta meminta dan Larisa langsung diam mendengarnya. Bingung dan takut Nurani mengadu.
Merasa sudah selesai, Bassta melangkah ke depan pintu kamarnya. Larisa menoleh dan berseru keras.
“Kamu juga, Bass. Apa kamu bisa lebih waspada, cari tempat yang aman untuk ketemuan sama Jema.”
Bassta langsung memutar tubuh mendengarnya.
“Kenapa ngatur? Ya terserah aku dong!”
“Karena keteledoran kamu, Nurani tahu tentang kamu sama Jema. Terus gimana?” rengek Larisa seraya mendekat.
“Nggak tahu! Pikirin aja sendiri.” Bassta membuka pintu, kakinya sudah masuk tapi Larisa menarik lengannya.
“Aku bingung jelasin sama Nuraninya gimana,” kata Larisa hampir menangis.
“Awas, ah! Aku capek!” Terus menepis tangan Larisa sampai akhirnya ia masuk kemudian membanting pintu.
__ADS_1
Larisa membeku di depan pintu. Matanya terpejam kemudian terbuka dalam keadaan berkaca-kaca. Jika Nurani mengadu kepada orang tuanya bagaimana? Adiknya itu masih polos. Jelas Nurani akan berpikiran bahwa Bassta berkhianat.