Cinta Mas Sepupu

Cinta Mas Sepupu
Kepulangan Jema


__ADS_3

Ketika malam, Larisa keluar dari kamar untuk mengisi botol minumnya. Saat ia melewati kamar Bassta, ia sempat memperhatikannya cukup lama. Tidak terdengar apa-apa, Larisa berpikir bahwa Bassta sudah tidur. Padahal, pria itu pergi untuk melakukan sesuatu.


Sesampainya di dapur, Larisa melihat minuman yang dia buatkan untuk Bassta masih utuh juga dengan kue buatannya. Bassta benar-benar tidak mencicipi sedikitpun apa yang dia berikan. Kini, Larisa membawa nampan ke atas meja, kemudian dia duduk dan mengamati apa yang baru saja dia letakan itu.


Entah bagaimana caranya membuat Bassta luluh atau dirinyalah yang berharap terlalu tinggi?


"Aku benar-benar harus menyerah?" kata Larisa kemudian menangis. "Awalnya kamu mengulurkan bantuan, Bass. Walaupun sikap kamu kasar sama aku tapi aku nggak pernah bisa benci walaupun sakit hati, cuman kamu yang mau bantuin aku, lindungin aku sampai detik ini. Terima kasih tapi maaf, aku menginginkan hal lebih, Bass."


Larisa membungkukkan kepalanya, ia terus menangis sesenggukan. Dengan tidak tersentuhnya apa yang dia sajikan untuk Bassta, itu jelas membuatnya sangat kecewa. Tapi, Larisa tak kuasa mengubur harapannya. Sebuah harapan jika rumah tangganya bisa diperbaiki, dijalani senormal mungkin, walaupun rasanya itu memang mustahil.


Di sini, Larisa sedang menangis sementara di tempat lain, Bassta sedang antusias mempersiapkan kejutan untuk kekasihnya Jema. Pergi dari rumah begitu saja tanpa perlu memberitahu Larisa adalah hal yang biasa bagi Bassta. Pria ini tidak peduli dengan status suami yang ia sandang, karena baginya, status tidak berlaku jika tidak terjalinnya sebuah rasa.


***


Esok paginya di rumah keluarga Bassta. Semua orang sedang menikmati sarapan mereka. Novia menikmati makanannya, terlihat mengunyah sembari berpikir keras. Terus terngiang perihal aduan yang dia dengar dari Vivian. Bassta dan Larisa tidak tidur sekamar?


"Apa yang sebenarnya disembunyikan dua anak ini?" gumam Novia dalam hati, terus mengunyah makanannya dengan lembut.


Arif yang menyadari sikap Novia yang berbeda pun tampak was-was. Apa yang sedang dipikirkan atau direncanakan istrinya itu?


"Aku udah selesai," kata Vivian dengan riang. Ia harus segera pergi untuk bertemu dengan kekasihnya.


"Hati-hati, Nak." Arif mengingatkan dan Vivian mengangguk kemudian berlalu begitu saja.


Sekarang, tertinggal Arif dengan Novia. Arif merasa ia bisa mengemukakan tanya.


"Apa yang membuat kamu gelisah, Novia?" tanya Arif dan membuat Novia menoleh.


Wanita berbalut dress mocca polos itu pun langsung menurunkan sendok serta garpu ke atas piring. Ia tatap suaminya, sampai akhirnya berbicara.


"Aku ke pikiran tentang Bassta dan Larisa. Ada yang aneh, Mas. Saat Vivian dan Fiona ke sana, Vivian menemukan sesuatu." Novia berbicara dengan begitu waspada.


Arif mengernyit heran.


"Apa maksud kamu, Novia? Jangan mengganggu Bassta dan Larisa. Biarkan keduanya belajar menjalani rumah tangga mereka yang baru seumur jagung, jangan kamu ganggu," tegur Arif dan Novia mendengus.

__ADS_1


"Sekarang aku tanya...Kita udah berapa lama berumah tangga?" kata Novia.


Arif terkekeh-kekeh pelan mendengarnya, "Mana bisa aku lupa. Sudah sangat lama kita sama-sama, Novia. Kamu ini...." Arif terus menggeleng sambil tertawa kecil.


"Di kamar kita lebih banyak barang kamu atau barang aku?" tanya Novia lagi dan Arif langsung berhenti. "Lebih banyak barang punyaku, kan? Tapi waktu Vivian masuk ke kamar Bassta, nggak ada satupun barang Larisa di sana. Bisa jadi dua anak ini emang nggak tidur sekamar." Novia menjelaskan dengan begitu bernafsu.


Arif termenung mendengarnya, benarkah itu?


"Apa jangan-jangan mereka ribut terus pisah ranjang?" kata Arif, hanya itu yang dia pikirkan, Novia mendengus jengkel mendengarnya.


"Bukan ituuuuuu...." Novia kesal.


"Terus apa maksud kamu, Novia?"


"Keduanya emang nggak mau sama-sama. Bassta juga nggak kelihatan bahagia setelah menikah, dia kayak tertekan. Aku semakin yakin kalau Bassta kita dijebak, Mas. Malangnya nasib anak kita, kena malu karena terus deket-deket sama cewek miskin kayak begitu. Kalau dulu Bassta bisa nurut sama aku, jangan deket-deket keluarga Fitria, kejadian ini pasti nggak bakalan terjadi." Bibir Novia sampai monyong-monyong mencela kerabatnya sendiri.


Arif sampai pusing mendengarnya.


"Nov, jangan sampai kamu menutup mata atas kesalahan yang dibuat sama anak kita. Bassta sama Larisa saling suka, kebablasan nganuuu sampai akhirnya hamil. Anak kita salah, Larisa juga salah, kita sebagai orang tua juga salah karena kurang memantau. Jadikan kejadian ini sebagai pelajaran, jangan kebanyakan mencela, inget, anak bungsu kita perempuan." Setelah panjang lebar berbicara, Arif menyuap sarapan terakhirnya.


"Nanti aku jenguk mereka berdua. Kalau bisa kamu juga ikut, kita tanya baik-baik, kenapa bisa apa yang dilihat Vivian itu kejadian." Arif memberikan usul yang langsung ditolak dengan gelengan kepala oleh Novia. Novia tidak mau bertemu dengan Larisa lagi apalagi sekarang Larisa sedang berbadan dua, ia masih belum bisa percaya, perut besar wanita itu terisi oleh bibit dari anaknya.


"Susah ngomong sama kamu, Mas," kata Novia emosi.


Arif diam dan tidak peduli dengan apa yang diucapkan Novia. Dan dia akan benar-benar datang untuk menanyakan serta melihat bagaimana kabar menantu keduanya itu.


***


Suara ketukan pintu terdengar, berulang kali Larisa mengetuk pintu kamar Bassta tetapi tidak ada jawaban. Sudah pukul tujuh, pria itu tak kunjung keluar. Larisa khawatir suaminya sakit atau terjadi hal-hal lain yang tidak diinginkan.


"Bass, ini udah siang. Kamu nggak kerja?" seru Larisa, dia ketuk lagi tapi tetap saja Bassta tak menyahutinya.


"Apa dia nggak ada di dalam?" gumam Larisa dan berhenti mengetuk pintu.


Kini, Larisa menurunkan tangannya, meraih gagang pintu lalu memutar serta menariknya. Tidak dikunci, dan saat Larisa melihat ke dalam, Bassta tidak ada di kamarnya.

__ADS_1


Larisa terus memanggil, tetap tidak ada sahutan. Tidak salah lagi bahwa suaminya memang tidak ada, entah kapan pergi, dan apa yang membuatnya pergi sampai lupa untuk kembali.


Karena cemas, Larisa mengeluarkan ponsel, melayangkan panggilan kepada Bassta. Dering pertama tidak dijawab, sampai akhirnya dering yang kedua kali, suara Bassta terdengar.


"Kamu di mana, Bass?" tanya Larisa. Keningnya mengerut saat mendengar suara gemuruh di sekitar Bassta. "Kamu di mana?"


"Aku pergi semalam, ada urusan." Balasan Bassta terdengar patah-patah, mungkin terkendala sinyal.


"Di mana? Ngapain? Aku panik di rumah, nungguin kamu keluar dari kamar dari tadi," keluh Larisa dan Bassta hening beberapa detik.


"Aku hampir sampai di Bandara."


Larisa langsung membulatkan matanya.


"Mau ke mana?" tanyanya serak, apa Bassta marah sampai ingin pergi sejauh itu? Lantas dia bagaimana? Larisa mendadak risau memikirkan jika Bassta benar-benar jauh dari hidupnya.


"Aku harus jemput Jema," ucap Bassta dengan entengnya.


Larisa langsung membeku, merasa lemas juga loyo. Dia di rumah sedang khawatir sementara suaminya sedang berbahagia karena akan bertemu dengan kekasihnya. Hubungan macam apa ini? Terasa sulit, mencekik sekaligus menyengsarakannya setiap waktu.


"Oh," balas Larisa dengan suara sedikit sumbang.


Larisa lekas menyeka air matanya. Buliran itu entah kenapa begitu lancang menetes tanpa ia sadari.


Ketika merasa sakit juga kecewa, air mata memang selalu mudah menampakkan wujudnya.


"Semoga lancar," kata Larisa kembali, suaranya mengecil karena mendadak ia merasa tenggorokannya tercekik.


"Ya, terima kasih." Bassta membalas dengan suara teramat ceria, menambah rasa sakit yang Larisa rasa.


Panggilan usai, Larisa yang mematikannya. Ia tak mau mendengar lebih banyak lagi suara berbahagia Bassta karena akan bertemu wanita lain.


Sakit juga bimbang, dua rasa yang belum pernah Larisa rasakan sebelumnya. Ia mendadak merasa tak rela Bassta akan bertemu dengan Jema. Sementara hubungannya dengan Bassta tidak jelas akan dibawa ke mana.


Lalu sekarang, setelah Jema kembali. Akan seperti apa hubungan Bassta dan Larisa? Akan semakin rumit atau sebaliknya? Sementara Larisa saja masih bingung dengan perasaannya. Ia dan Bassta hanya menikah untuk menutupi aib juga melindunginya, tetapi kenapa perasaan tidak rela juga cemburu mendadak muncul dalam benaknya. Terlebih sosok Jema dengan dirinya bak langit dan bumi, tanpa perlu diminta memilih pun, Bassta sudah jelas menjatuhkan pilihannya pada Jema.

__ADS_1


Hadirnya perasaan cinta memang selalu tidak bisa ditebak dan disangka-sangka berlabuhnya pada siapa;)


__ADS_2