Cinta Mas Sepupu

Cinta Mas Sepupu
Kerinduan Seorang Ibu


__ADS_3

***


Cuaca pagi ini begitu segar karena semalam turun hujan. Seorang pria bertubuh gempal yaitu Ganta baru pulang joging dan ia berhenti ketika berpapasan dengan Nayla yang baru pulang membeli sarapan. Keduanya saling melempar senyum, Nayla kemudian celingak-celinguk, takut ibunya memergoki.


Habislah dia kena sambit jika ketahuan berbincang dengan keluarga Larisa yang sekarang ini tengah menjadi pusat perhatian dan bahan bergunjing orang-orang di wilayah tersebut.


“Baru pulang, Nay?” kata Ganta gugup sambil memeras terus-menerus handuk kecil bekas keringatnya.


“Iya, Mas.” Nayla tersenyum, membuat lesung pipinya timbul dan Ganta lekas menunduk sejenak. “Eh iya, Mas...” Nayla mendekat dan Ganta mengerjapkan matanya.


“Kemarin aku habis ketemu sama Larisa,” ucap Nayla begitu pelan.


“Gimana, gimana kabar dia, Nay?” balas Ganta terbata-bata, ia sangat merindukan Larisa.


Nayla tersenyum simpul lalu berucap, “Dia baik tapi dukungan dari kita semua sangat dia butuhkan sekarang, Mas. Sampai kapan Mas Ganta mau jauhi Larisa? Iya dia emang salah tapi jangan sampai kita juga salah karena menelantarkan Larisa. Takutnya dia merasa sendirian dan berbuat nekat,” tutur Nayla dengan tenang dan Ganta langsung terdiam.


“Larisa udah jadi bahan celaan orang-orang. Hukum sosial udah jadi cambuk buat kesalahan dia, Mas.” Suara Nayla kali ini sumbang, ia sangat sedih atas peristiwa yang menimpa sahabatnya.


“Mas juga kepingin ketemu sama Larisa, Nay. Tapi Mas butuh waktu.” Ganta langsung memalingkan wajahnya ketika Nayla menatap.


Nayla tidak bisa memaksa dan akhirnya dia berhenti bersuara.


Lengang cukup lama sampai kemudian ada yang memergoki mereka.


“Mas Ganta!” seru Nurani memanggil. Ganta menoleh dan Nurani langsung datang menghampiri, mengapit tangannya erat-erat. “Ngapain Mas ngobrol sama dia? Kita udah sering diejek dan dihina, nggak perlu lagi Mas cari perhatian sama dia.” Dia menyambung dengan kasar.


Kening Nayla terlipat, tak paham dengan ungkapan Nurani yang kedua kali.


“Husttttt!” Ganta langsung melotot, tak lama kembali menatap Nayla sambil tersenyum.


“Ayo, Mas, pulang.” Nurani terus menarik tangan Ganta.


“Mas duluan ya, Nay.” Ganta pamit dan Nayla mengangguk.


Nayla diam, menatap kepergian keduanya. Nurani terlihat terus mencak-mencak sambil menyeret Ganta lekas menjauh.


Nayla paham betul dengan sikap Nurani, apa yang diucapkan ibunya akhir-akhir ini memang keterlaluan. Sejak lama tidak akur semakin renggang saja karena masalah keluarga Larisa dijadikan senjata oleh Seruni untuk terus mengganggu keluarga tersebut.


****


Jarum jam sudah menunjukkan pukul 05:30 tetapi Asih tidak menemukan tanda-tanda bahwa majikannya akan turun juga. Apa perlu dia bangunkan? Dia berani jika harus membangunkan Larisa tetapi untuk membangunkan Bassta, dia tidak memiliki nyali.


“Kenapa mas Bassta sama mbak Larisa belum juga turun, ya? Mereka barengan terlambat bangun hari ini?” kata Asih bertanya-tanya.


Akhirnya Asih memberanikan diri naik ke lantai dua, dua kamar yang bersebelahan, satu kamar Laila dan yang satu lagi kamar Bassta. Asih mendekatkan diri pada pintu kamar Larisa, jika Larisa bangun, biar Larisa saja yang membangunkan Bassta, pikirnya.


Ketukan pintu berulang kali terdengar, namun tidak ada sahutan dari dalam. Asih semakin bingung dan melirik lirik ke kamar Bassta lalu dia senyam-senyum.


“Apa sekarang mereka udah akur ya? Apa mereka sekarang udah tidur sekamar berdua?” Ungkapnya kemudian cengar-cengir, membayangkan apa yang terjadi di antara pasangan muda tersebut.


Takut mengganggu momen sakral itu, Asih berbalik badan, ia pergi kembali ke dapur dan ingin memasak sarapan lezat untuk kedua majikannya.

__ADS_1


Sementara di kamar Bassta, pria itu menggeliat, merasakan kepala yang pusing juga sesuatu menindih dadanya.


Tangan Larisa memeluk Bassta dengan erat, mungkin perempuan ini mengira ia tidur di kamarnya dan sedang memeluk bantal guling seperti biasanya.


“Aduuuuuh,” pekik Bassta karena ia kesulitan menggeliat, tenaganya begitu lemah efek lelah bermain-main semalam.


Karena penasaran, Bassta pun perlahan membuka matanya. Remang-remang, ia mengucek matanya perlahan sampai penglihatannya benar-benar jelas dan Bassta langsung membulatkan matanya ketika melihat siapa di sampingnya.


“Heh, culun!” bentak Bassta sambil mendorong tubuh Larisa, Larisa yang masih nyenyak pun tersentak. Larisa tidak bisa menahan dorongan kasar dari tangan Bassta, Bassta panik bukan main karena tangannya terlalu kasar dan membuat Larisa terguling ke atas lantai.


“Bass!” jerit Larisa kemudian meringis.


“Ris—“ Bassta tersendat, dia berguling turun dari tempat tidur dan langsung mendekati istrinya yang meringkuk kesakitan. “Maaf,” lirih Bassta merasa bersalah.


“Mana yang sakit?” tanya pria itu dengan wajah tegang.


“Bass, punggung aku sakit. Bayi aku nggak kenapa-kenapa, kan, Bass?” sahut Larisa sambil menangis, ia terus memeluk perutnya dengan kedua tangan.


“Biiiii! Bi Asiiiih!” teriak Bassta kalap, sekarang ia membungkuk dan menyelipkan tangan kiri ke punggung dan tangan kanannya ke belakang lutut Larisa. Ia angkat tubuh Larisa perlahan, ia tatap Larisa yang terus menangis dan meringis, ia memindahkannya ke atas kasur, juga terus berteriak memanggil Asih karena ia bingung harus melakukan apa.


Asih datang dengan raut wajah tegang karena mendengar Bassta memanggil dengan begitu kencang. Pasti ada masalah, tebaknya.


“Mbak Larisa kenapa?” Asih menatap Larisa lamat-lamat.


“Jatuh dari tempat tidur,” sahut Bassta sambil berkacak pinggang, terus menatap Larisa.


“Kamu yang dorong aku, Bass!” kesal Larisa berteriak dan terus menangis.


Asih yang mendengar pun menggeleng tak menyangka bahwa Bassta bisa Setega itu.


“Kita bawa aja ke rumah sakit, Mas. Takutnya kehamilan Mbak Larisa kenapa-kenapa, dari tempat tidur ke bawah, kan, lumayan tinggi.” Asih memberikan usul yang semakin membuat Bassta ketakutan.


“Nggak usah bikin takut, Bi!” balas Bassta dengan keras dan Asih langsung menciut.


“Bi,” lirih Larisa memanggil, terus menangis dan memegang perutnya.


“Iya udah ayo, ayo, kita ke rumah sakit.” Bassta mengacak rambutnya frustrasi, tidak memikirkan penampilan atau apa pun lagi, ia langsung meraih ponsel dan mencari kunci mobilnya.


Bassta kembali menggendong Larisa, Asih dari belakang terus komat-kamit berdoa untuk keselamatan Larisa dan juga bayinya.


Asih juga diam-diam memerhatikan wajah memerah Bassta yang seperti akan menangis.


“Jaga rumah, Bi. Nanti saya telepon kalau butuh sesuatu,” kata Bassta setelah membantu Larisa masuk ke dalam mobil.


Asih mengangguk dan bergegas membuka pintu gerbang.


***


Di tempat lain, Sadi diam merenung, banyak tetangga yang lalu lalang dan beberapa bertanya juga menyapa hanya dia balas dengan senyuman getir.


Larisa, isi pikirannya hanya terisi oleh anak itu. Anak yang sudah ia usir, sudah dia peringatkan pula agar tidak kembali menginjakkan kaki di rumahnya.

__ADS_1


Sesal, itulah yang dirasakan Sadi sekarang. Sekecewanya ia pada Larisa, Larisa tetaplah anaknya. Anak yang selalu dia banggakan, yang tak pernah dia sangka begitu mudahnya Larisa mencoreng namanya.


Sadi merasa Larisa menumpahkan kotoran ke wajahnya. Rasa malu itu entah akan seperti apa dia mengobatinya.


Meskipun Sadi merindukan Larisa, saat ia ingat dengan kesalahan anaknya itu, lagi-lagi keinginannya urung untuk mencari tahu kabar perihal anaknya yang entah dibawa ke mana oleh Bassta.


“Ayah kerjaannya melamun terus.” Dari dalam Nurani mengintip, ia berbicara kepada Fitria.


“Ibu juga bingung gimana caranya suasana rumah kita kembali seperti dulu. Ayah kamu sedih terus, kadang juga marah-marah tanpa sebab,” bisik Fitria dan Nurani menoleh.


“Suasana menyenangkan yang dulu udah hilang, Bu. Nggak akan pernah bisa kembali seperti semula.” Nurani mendelik karena merasa apa pun kesalahan yang dilakukan Larisa, itu tidak mengubah pandangan sempurna di mata ibunya pada sang kakak.


Fitria menunduk sedih mendengar ungkapan Nurani. Kemudian ia melangkah untuk mendekati suaminya.


Fitria urung untuk menemui Bassta dan Larisa ke alamat yang sudah diberikan oleh Arif. Mengganjal dan takut untuk melakukannya tanpa seizin dari suaminya. Lebih tepatnya takut kualat.


“Mas, sarapan,” tawar Fitria dan Sadi menoleh.


“Belum lapar,” jawabnya datar.


“Mau kopi?” tawar Fitria kembali, berusaha menyejukkan suasana hati suaminya yang sejak kejadian itu terus saja berapi-api.


Sadi merespon dengan menggelengkan kepala.


Fitria tersenyum hambar, kemudian ia menghembuskan napasnya pelan.


Fitria ingin membicarakan perihal Larisa, tetapi rasanya sekarang bukanlah waktu yang tepat tetapi ia juga tidak kuasa menahannya lebih lama.


“Mas Sadi lagi ke pikiran Larisa, ya? Mas Sadi pasti khawatir sama dia, apa kita jenguk saja Larisa, Mas?” tutur Fitria dan saat Sadi menoleh, Fitria langsung terdiam takut.


Sadi menatap tajam, kedua alisnya bahkan naik, menunjukkan ketidaksukaan pada apa yang diucapkan istrinya.


“Kamu selalu buta pada kesalahan anak-anakmu, Fitria,” singgung Sadi dan Fitria menunduk.


“Apa Larisa nggak pantas untuk kita maafkan, Mas? Kesempatan untuk memaafkannya apakah sebuah hal yang mustahil?” ucap Fitria serak.


Sadi mendelik, tangannya terkepal kuat di atas kedua lututnya.


“Dia aku besarkan, aku didik, aku banggakan tapi begitu mudahnya dia membuatku malu. Apa dia tidak bisa mempertimbangkan hal yang akan dia lakukan? Begitu mudahnya dia merelakan kesuciannya, entah dosa apa yang membuatku bisa memiliki anak seperti Larisa. Astaghfirullah hal adzim....” Suara Sadi tegas tetapi melemah di ujung kalimatnya.


Fitria diam, matanya berkaca-kaca.


“Tapi aku khawatir, Mas. Kepingin banget jengukin Larisa,” kata Fitria bersikukuh.


Sadi menarik napas dalam-dalam, ia tatap istrinya penuh emosi.


“Susul!” tegas Sadi, ”Tapi jangan harap kamu bisa kembali ke rumah,” katanya mengancam lalu bangkit dan berlalu pergi meninggalkan Fitria yang sudah basah wajahnya dengan air mata.


Bagaimana sekarang? Fitria sangat ingin bertemu Larisa tetapi jangankan sebuah izin, baru mengemukakan keinginan saja, suaminya sudah melontarkan ancaman padanya.


 

__ADS_1


__ADS_2