
“Meskipun semua orang menganggap kamu hina, mengecapmu sebagai anak haram tapi untuk ibu...kamu layak dan pantas untuk ibu sayangi juga ibu lindungi. Ibu yang salah tapi kamu bukan buah dari kesalahan, kamu anugerah untuk kehidupan ibumu yang berat ini.”
Larisa berbicara dengan lirih, mengelus dengan gerakan memutar pada perut besarnya. Menggeliat juga menendang bayi tak berdosa di dalam sana. Larisa terkikik geli, bersamaan pula dengan matanya yang kembali menjatuhkan air mata.
Sesak kala ingat kejadian semalam. Ungkapan Bassta yang begitu menyakitkan. Larisa tahu dia adalah beban tapi dia tidak mau dijadikan objek untuk disalahkan pada semua kejadian.
Iya hanya bosan, sama sekali tidak mencari perhatian. Kenapa juga Bassta perlu pulang hanya karena asisten rumah tangga mereka memberikan kabar tentang kepergiannya. Sepatutnya, Bassta yang merasa terbebani, merasa senang hati jika dia benar-benar pergi.
“Aku bakalan pergi, Bass. Nanti, kamu nggak bakalan melihat aku lagi. Tapi aku yakin, seluas apa pun kamu membencinya, dengan kepergian aku pasti kamu akan merasa kehilangan. Ini sumpahku, Bass. Sumpah seorang istri yang terang-terangan dikhianati, terus-terusan disakiti, juga setiap waktu kamu hina.”
Dia bergumam kemudian menyeka air matanya.
Fajar sudah menunjukkan sinarnya, tapi Larisa rasanya begitu malas untuk meninggalkan kamarnya. Ia belum siap untuk berhadapan kembali dengan suaminya. Takut kembali kena caci juga celaan.
Namun, Larisa merasa sangat lapar. Kemarin, seharian, dia tidak makan dengan benar. Dia tidak mau menyiksa bayinya lagi, sekarang ia melayangkan pandangan pada dinding. Dia lihat di sana, jarum jam sudah menunjukkan pukul tujuh. Sepertinya Bassta juga sudah pergi untuk bekerja, pikirnya.
Bukan hanya merasakan lapar juga dahaga tapi Larisa juga merasa pening karena kesulitan tidur semalaman. Malamnya hanya terisi dengan tangisan.
Larisa memutuskan keluar dari kamar, saat pintu terbuka dia melongok sekilas ke pintu kamar milik Bassta. Semakin yakin bahwa pria itu sudah pergi dan Larisa pun kembali melangkah.
Saat Larisa menutup pintu, pintu kamar Bassta terbuka. Keduanya berbarengan menoleh, saling menatap.
Larisa menunduk, Bassta membuang muka. Tanpa menunggu lama, Larisa pun melangkah melewatinya dan Bassta melirik, menatap kepergian istrinya.
***
__ADS_1
Di dapur, Larisa dan Asih sedang memasak sementara Bassta belum juga pergi bekerja. Entah apa yang dicari pria itu, mondar-mandir tidak jelas.
Asih terus melirik tetapi Larisa tampak cuek.
Bassta terlihat ingin bertanya tetapi ragu setelah pertengkarannya dengan Larisa.
“Mbak,” ucap Asih tiba-tiba lalu Larisa menoleh padanya. “Semalam, Bibi nggak sengaja mendengar semuanya. Maaf.” Asih menunduk, masih pagi tapi ia sudah berkeringat dingin, takut dengan kejadian semalam melihat kemurkaan majikan laki-lakinya.
Larisa mendengus pelan.
“Sama kayak sebelumnya. Aku minta Bibi buat diam aja, karena kalau Bibi keceplosan ngomong ke orang di luar sana. Bukan nggak mungkin mas Bassta bakalan ngelakuin hal yang lebih buruk dari apa yang saya alami semalam.” Larisa dengan tegas memperingatkan.
Asih menggeleng kuat-kuat.
“Nggak bakalan, Mbak. Bibi Janji, Bibi juga nggak berani.” Suara Asih memelan saat Bassta terlihat kembali turun dari lantai dua.
Bassta mendengus, bibirnya komat-kamit tak jelas melontarkan umpatan apa.
Setelah Bassta keluar dari rumah, Larisa menoleh. Sejujurnya ia tersiksa dengan situasi saat ini meskipun rasanya sama saja, Bassta tidak pernah peduli padanya.
***
Di kantor, Bassta berjalan dengan rahang mengetat. Matanya menyelia ke setiap sisi, mencari sesuatu. Tak jelas apa yang dia cari, Sultan sempat menghadang pun ia tak peduli. Sultan hanya diam dengan mulut menganga, biasanya Bassta akan selalu sedia meladeni pertengkaran dengannya tetapi kali ini, tampaknya ada hal lain yang membuat adiknya itu teralihkan.
“Adik perempuan saya ini beda, Nung. Tapi dia masih kuliah kalau kamu mau nunggu Alhamdulillah, itung-itung kalian saling mendalami satu sama lain dahulu sebelum menikah,” kata pria berbadan gemuk kepada Hanung yang hanya cengar-cengir mendengar rekan kerjanya itu terus-terusan membicarakan perihal adiknya.
__ADS_1
“Saya belum ada pikiran untuk menikah dalam waktu dekat, Pak.” Hanung tersenyum tipis.
Pria itu menyenggol lengannya cukup kuat.
“Jangan bohong. Kamu sebaiknya ngelihat adik saya dulu kalau dari cerita saya, mungkin kamu kurang percaya.” Pria itu mendesak dan Hanung menggeleng sembari terus menebarkan senyuman. Setelah patah hati karena gagalnya mengungkapkan perasaannya pada Larisa, Hanung merasa belum ingin kembali menargetkan sesuatu yang serius mengenai hubungan, ia juga tak mau seolah memberikan harapan kepada anak perempuan orang padahal hatinya belum kuasa sembuh dari kisah cintanya yang tak jelas kemarin.
Pria itu kembali ingin berbicara tapi terhenti saat melihat kemunculan Bassta.
Hanung diam, mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Melihat sorot mata Bassta saat ini, Hanung mampu menebak bahwa kawannya itu sedang dilingkupi amarah. Apa karena semalam?
“Pak Bassta,” sapa pria itu sembari membungkukkan kepala.
Bassta mengangguk kecil kemudian berkata, “Saya ada urusan sama Hanung.” Suara Bassta begitu tegas.
Hanung mengernyit, tak salah lagi, batinnya.
Pria itu mengangguk kuat-kuat, menatap Bassta dan Hanung bergantian kemudian tak lama ia lekas melenyapkan diri dari hadapan keduanya.
Sekarang, Hanung berjalan ke hadapan Bassta.
“Kenapa?” tanya Hanung santai.
Mata Hanung membulat saat Bassta menarik kerah kemeja birunya sampai kusut. Mata Bassta menatapnya penuh emosi.
Bassta benar-benar kesal dan tak suka melihat Larisa keluyuran sampai malam dengan Hanung, yang ia ketahui bahwa Hanung dulu memiliki gelagat seperti menaruh rasa pada istrinya itu. Bassta takut, rasa itu masih ada dan sama. Padahal, jelas sekali bahwa sekarang Larisa adalah istrinya.
__ADS_1