Cinta Mas Sepupu

Cinta Mas Sepupu
Merasa bersalah?


__ADS_3

“Hanung, kapan kamu mau memperkenalkan Ibu sama perempuan yang namanya Larisa itu? Atau kalian udah putus? Kamu udah jarang cerita tentang Larisa sekarang.”


Seorang wanita paruh baya yakni Rini berbicara dengan pelan kepada Hanung yang sedang bersiap untuk pergi ke kantor.


Hanung diam, sedang bergulat dengan isi kepala untuk membuat alasan sempurna.


“Memangnya siapa yang ngomong kalau aku sama Larisa itu pacaran?” tanya Hanung sambil tersenyum.


Rini mengernyit, cengengesan lalu ia tepuk bahu anaknya itu sampai Hanung tersentak.


“Ibu juga pernah muda kali. Orang yang lagi kasmaran itu selalu menceritakan orang yang sama berulang kali, fokus pada kelebihannya juga. Secantik apa Larisa itu, Nung? Sampai kamu kesemsem banget sama dia.”


Hanung menggaruk kepala, menyesal karena terlalu banyak sesumbar perihal Larisa. Ia memang sudah berniat untuk menyatakan cinta, tetapi saat akan melakukannya, ia terlanjur mendengar kabar bahwa Larisa hamil dan akan menikah.


Bukan lagi kesemsem, tapi sekarang ia sedang berusaha untuk mengobati patah hatinya.


“Nggak tahu, deh, Bu.” Hanung langsung tidak bersemangat.


“Looooh, kenapa begitu, Nung?” Rini menatap jeli dan Hanung hanya mengangkat bahunya sekilas.


***


“Gimana keadaan bayinya, Dokter?” seru Larisa dan Bassta bersamaan, seketika keduanya saling menatap, bersemuka dalam diam.


“Baik-baik aja, nggak usah khawatir. Tapi jangan sampai kejadian ini terulang lagi, ya. Si ibu harus benar-benar menjaga kesehatan juga keselamatan diri dan calon bayi, juga Pak Suami jangan lupa untuk selalu siaga.”


Dokter menjelaskan dan membuat Larisa juga Bassta saling menatap kembali. Namun, tak lama Bassta memalingkan wajahnya.


Dokter tersenyum lalu berujar kembali. “Air ketuban, posisi, semuanya bagus. Nah ini kelaminnya.....”


Bassta menoleh, menatap fokus pada layar. Memerhatikan setiap gerakan, tendangan tangan dan kaki dari bayi Larisa yang begitu aktifnya. Untuk pertama kali, Bassta melihatnya. Dan ketika suara detak jantung bayi itu didengarkan, Bassta merasa terenyuh melihat dan mendengarnya sampai-sampai Larisa memergoki tatapan lain di netra pria itu. Sebuah tatapan penuh kasih juga sayang.


Larisa tersenyum penuh kebahagiaan.


Ia baru pertama kali melihat Bassta seperti itu, dan Larisa juga sudah lama tidak melihat wajah menyenangkan Bassta. Selama menikah, yang ia lihat selalu sorot mata membenci dan juga aura wajah yang selalu emosi saat Bassta berhadapan dengannya.


Jelas, Larisa berharap ini adalah awal mula hubungannya dengan Bassta bisa lebih baik.


Dokter bilang bayinya berjenis kelamin perempuan, Larisa dan Bassta mengembangkan senyuman bersamaan. Kemudian setelah selesai keduanya keluar, berjalan menuju farmasi, mengantre obat dan administrasi.


“Duduk, Larisa.” Bassta mengarahkan tangan pada kursi kosong, sisa satu.


Larisa menatap bingung.


“Terus kamu?” tanyanya.

__ADS_1


Bassta menggeleng lemah, “Aku mau ke toilet sebentar.”


“Oh, iya.” Larisa mengangguk dan Bassta berlalu pergi meninggalkannya.


Larisa diam, menatap kepergian suaminya sampai Bassta berbelok dan lenyap di baliknya.


Bassta sebenarnya hanya beralasan saja. Dia tidak ke toilet melainkan duduk termenung memikirkan kejadian pagi ini yang membuatnya takut juga panik bukan main.


Kasar, Bassta mengembuskan napasnya. Meremas rambutnya pula. Ia heran dan bertanya-tanya, apa yang salah pada dirinya sekarang?


“Kok bisa aku sekasar itu sama Larisa. Kalau dia sama bayi itu kenapa-kenapa, gimana?” lirihnya kemudian memejamkan mata beberapa detik, saat matanya kembali terbuka, ia mengumpat kesal. “Gue kayak orang gila sekarang kalau ngelihat Larisa. Kenapa sih, elu, Bassta! Kayak orang kesetanan, marah-marah terus, kasar juga. Apa gue perlu ya pergi ke psikiater? Takut gila.”


“Huh!” Bassta lalu membuang napas ke udara sembari bersandar di tembok dingin rumah sakit.


Berpikir terus berpikir, salah, itulah yang dia lakukan.


“Seharusnya aku nggak kasar sama Larisa. Dia salah tapi orang itu yang lebih salah. Larisa cewek bego yang cuman jadi korban tipu daya muslihat lelaki bejat!” gerak Bassta lalu mengepalkan tangannya.


Bassta diam, berpikir lagi lebih keras, terlintas juga untuk meminta maaf pada Larisa setelah ini.


Beberapa detik kemudian, ia kembali terbayang semua cemoohan, hinaan, dan semua hal negatif atas apa yang dilakukan Larisa padanya. Bukan hanya kehilangan harga diri tetapi juga jabatannya di perusahaan.


“Enggak! Emang Larisa yang salah. Kenapa juga dia pake tidur segala di kamar orang lain. Dasar tolol.”


Mata Bassta kembali mengilat emosi. Ia sekarang berdiri, berjalan untuk segera kembali ke farmasi.


“Sudah, Bass?” tanya Larisa lembut tapi Bassta tidak menggubris pertanyaannya. Bassta diam, berdiri, dan sibuk dengan ponselnya.


“Dia kenapa lagi, sih?” gumam Larisa dalam hati, terus mendongak menatap suaminya sambil menerawang apa yang terjadi di toilet sampai-sampai sikap Bassta kembali dingin. Padahal, dia sudah sangat senang dengan sikap perhatian Bassta juga kekhawatiran yang ditunjukkan suaminya itu.


Lima belas menit kemudian Larisa dan Bassta keluar dari gedung rumah sakit. Berjalan berjauhan, Larisa terus berusaha mensejajarkan diri dengan Bassta walaupun Bassta terus mempercepat langkahnya.


“Bass, tungguin!” suara Larisa keras.


Bassta menoleh, menatap jengkel.


“Lelet!” maki Bassta dan Larisa menunduk karena malu dengan orang-orang di sekeliling yang mendengar dan memperhatikan.


“Kamu kenapa, sih, Bass?” tanya Larisa berbisik. “Punggung aku masih sakit, loh, gara-gara kejadian tadi.”


Bassta tersenyum, senyuman kaku.


“Siapa yang salah? Aku? Kamu yang salah ngapain tidur di kamar orang lain coba? Heuh dasar! Begonya nggak ketulungan.” Dia toyor kepala Larisa cukup keras sampai helaian rambut Larisa berayun menutupi wajahnya.


Perlahan Larisa memegang kepalanya, dia tatap Bassta yang berlalu pergi setelah mempermalukannya.

__ADS_1


“Permisi, Mbak. Ada masalah?” tiba-tiba seorang satpam mendekat, Larisa menggeleng dan berusaha menahan air matanya.


Tak menunggu lama, Larisa pun menyusul Bassta. Saat Larisa sampai di sebelah Bassta, Bassta kembali mengomelinya dan memaki lagi dengan sebutan ‘lelet’. Di sini, Larisa tak kuasa menahan air matanya lagi. Jatuh, ia usap dan Bassta mendengus sebal.


“Cukup, Larisa. Jangan bikin aku malu, mau tetep nangis, serius? Gue tinggal ya, lu! Pulang sana pake taksi!” bentak Bassta emosi dan Larisa hanya bisa menunduk takut. “Bikin masalah aja pagi-pagi. Aku harus kerja.”


Larisa menatap, ikut kesal juga sakit hati.


“Oke, aku naik taksi aja.” Larisa melangkah dan Bassta terbelalak melihatnya.


Bassta tak menyangka Larisa bersungguh-sungguh mengiyakan ucapannya. Pria ini tidak sadar diri bahwa apa yang dia lakukan sangat kelewatan. Larisa masih bisa tahan jika di rumah, tapi jika di tengah-tengah keramaian seperti itu, dia malu dan juga sakit hati.


Larisa berdiri di tepi jalan, Bassta meraih tangannya dan juga menariknya.


“Lepas, Bass!”


“Nggak usah bertingkah!” balas Bassta sambil melotot dan akhirnya Larisa pasrah.


Bassta membuka pintu mobil, Larisa masuk dan sekarang Bassta membeku ketika melihat seorang wanita keluar dari mobil berwarna merah.


“Mampus!” umpat Bassta kemudian membungkuk tetapi wanita tersebut terlanjur melihatnya.


“Bass,” panggil Larisa.


Bassta melotot lalu berucap, “Diem kamu di dalam. Awas kalau keluar atau buka kaca mobil.”


Larisa heran dan hanya bisa mengangguk mengiyakan.


Bassta tersenyum, melangkah maju, menghindari wanita itu berada dekat-dekat dengan mobilnya. Sementara dari dalam, Larisa terus mengamati wanita asing yang baru ia lihat tersebut.


“Bassta, kamu kenapa di sini? Ada yang sakit?” tanya wanita itu, Monica, ibunya Jema.


“Nggak ada, Tante. Saya cuman jengukin temen.” Bassta tersenyum.


“Oh begitu....” Monica mangut-mangut, matanya turun naik melihat penampilan Bassta yang begitu berantakan.


Bassta mengusap rambutnya, sadar bahwa sekarang ia terlihat kacau.


“Kamu sehat, kan, Bass?” Monica cemas.


“Sehat, Tante. Nggak usah khawatir.” Bassta tersenyum lebar, berusaha meyakinkan Monica.


Dari dalam, Larisa terus menonton.


“Kenapa sikap Bassta berubah, ya? Itu siapa?” Larisa hanya bisa bergumam bertanya-tanya.

__ADS_1


 Melihat kedekatan Bassta dan Monica, Larisa tetap diam walaupun sebenarnya penasaran. Bassta juga terlihat terus menunduk, penuh hormat. Larisa yakin bahwa wanita itu adalah orang penting bagi Bassta. Tapi, jika wanita itu sangat dihormati oleh Bassta, bukannya ia juga perlu menyapa dan memperkenalkan diri bahwa sekarang Bassta sudah menikah dan dia adalah istrinya?


Larisa tersenyum, merapikan rambut, ia bersiap untuk turun.....


__ADS_2