Cinta Mas Sepupu

Cinta Mas Sepupu
PINGSAN


__ADS_3

***


Bassta membeku sejenak ketika dia memasuki toilet dan ternyata ada Hanung di sana. Hanung hanya melemparkan tatapan sekilas, acuh tak acuh dengan kedatangan sahabatnya.


Bassta melangkah mendekat, ke sebelah Hanung yang sedang mencuci tangannya.


“Kamu ngehindar terus, Nung! Takut gue tanya soal kedatangan lo tempo hari buat nemuin Larisa?” celetuk Bassta dan Hanung menyimpul senyum samar.


“Kamu cemburu, Bass? Pasti nggak, kan? Mana bisa seorang suami yang berselingkuh secara terang-terangan kepada istrinya merasa cemburu karena istrinya didekati pria lain,” ujar Hanung dan berhasil membuat Bassta yang emosian itu terpancing.


“Nggak bisa, ya, berhenti ngurusin rumah tangga orang?” ketus Bassta kemudian menghadapkan tubuhnya pada Hanung.


Hanung menoleh, tersenyum lebar seperti mengejek.


“Kamu bertahan sama Larisa hanya karena dia sedang hamil, kan?” ucap Hanung teramat yakin.


Bassta menarik napas panjang.


“Penyiksaan terhadap psikis seorang istri juga merupakan tindak kriminal, Bass. Bebasin Larisa dari hubungan nggak jelas ini, aku dari awal udah yakin kalau dia sama sekali nggak bahagia menikah sama kamu.”


“Jangan menguliahi aku tentang sesuatu yang sama sekali nggak kamu pahami,” tegas Bassta. Amarahnya sudah di ubun-ubun.


Hanung mendengus, melangkah untuk pergi tapi Bassta menangkap sikunya begitu kuat. Menghalau jalannya.


“Dan kita lihat sampai kapan Larisa akan bertahan. Kamu terlalu sibuk dengan wanita lain sampai-sampai kamu nggak bisa melihat wanita yang lebih baik di depan mata kamu, Bass!” Hanung menepis tangan Bassta dengan kasar. Bassta menggeram jengkel dan dia tidak menahan Hanung lagi setelah ponselnya berdering.


Bassta mengerutkan kening, tak seperti biasanya Larisa menelepon di jam segini, Larisa sangat takut mengganggu waktunya bekerja. Jika ada hal yang penting sekali pun pasti wanita itu akan mengiriminya pesan terlebih dahulu. Tanpa berpikir panjang, Bassta lekas menerima panggilan.


“Halo, Ris?” katanya pelan, tetapi berhasil ditangkap oleh Indra pendengarannya Hanung yang sontak saja menghentikan langkahnya.


“Ini siapa?” Suara Bassta meninggi ketika yang berbicara adalah seorang laki-laki.


Hanung berbalik badan, penasaran.


“Saya suaminya. Istri saya pingsan di mana? Kenapa bisa?” Bassta berbalik badan, berbicara dengan paniknya, menabrak tubuh Hanung pun dia tidak peduli. Bergegas pergi untuk segera melihat keadaan Larisa.


“Larisa pingsan?” lirih Hanung, mukanya mendadak cemas, dengan cepat dia melangkah menyusul Bassta untuk ikut mengecek kondisi Larisa.


Dua pria ini didera perasaan khawatir yang sama. Mereka meninggalkan begitu saja, tak peduli walaupun melewatkan jam istirahat.


***


Larisa pingsan setelah melihat sesuatu yang membuatnya syok di lampu merah tadi. Sopir taksi yang panik pun memilih lekas membawa wanita hamil itu ke rumah sakit dan mencari nomor kontak keluarga penumpangnya. Hanya nomor Bassta yang sering Larisa hubungi, membuat si sopir taksi yakin bahwa itu adalah nomor suami dari penumpangnya.


Di rumah sakit, Larisa berada di ruangan UGD. Dia sedang dalam penanganan.


Setibanya Bassta di rumah sakit tersebut, dia langsung menelepon nomor Larisa yang dipegang sopir taksi. Bassta langsung ditujukan ke ruangan UGD. Tak lama setelah kehadiran Bassta, Hanung sampai.


Larisa terbaring lemas dengan wajah yang tersaput warna pucat. Bassta langsung mendekat dengan gerakan loyo ketika melihat pemandangan di hadapannya.


Perlahan Bassta membungkuk di sebelah ranjang tempat larisa berbaring.


“Larisa,” bisik Bassta dan Larisa langsung membuka kedua matanya.


Tangis Larisa pecah dan Bassta menatapnya dengan bingung.


“Bass,” lirih Larisa serak. Hanya itu yang terlontar kemudian Larisa menarik lengan Bassta dan memeluknya.


Tubuh Bassta mendadak kaku sementara Larisa terus menangis sesenggukan.


“Kamu kenapa, Larisa?” tanya Bassta pelan.


Larisa mendongak, menatap dengan mata yang basah. Bassta menundukkan wajah, keduanya saling bertatapan.


“Aku....” Larisa tersendat ketika tirai dibuka dan menampilkan sosok Hanung.

__ADS_1


Bassta mendesis, tak suka dengan kemunculan pria itu.


“Larisa,” kata Hanung seraya mendekatkan diri. Tangannya terulur dan pelukan Larisa pada pinggang Bassta hampir terlepas, tetapi Bassta buru-buru menarik tubuh Larisa kembali ke dalam dekapannya.


Larisa diam, hanya suara isak tangis yang terdengar.


“Ada aku sekarang. Kamu jangan takut lagi,” ucap Bassta dengan sorot mata tertuju pada Hanung.


Larisa diam, membalas pelukan Bassta yang membuat Hanung akhirnya tak tahan dan memilih menundukkan wajahnya.


“Dia kenapa?” ucap Hanung memberanikan diri berbicara kepada Bassta.


Bassta menanggapi dengan gelengan kepala karena dia juga belum tahu apa yang sebenarnya terjadi.


“Kalau begitu aku tunggu di luar,” kata Hanung pamit dan Bassta mengangguk kecil.


Larisa terus menangis, dokter tak lama datang untuk memberitahukan apa yang terjadi kepada Bassta. Bassta merasa lega karena tidak ada hal serius yang terjadi pada Larisa maupun kandungannya. Larisa hanya saja terlalu stress dan juga kurang istirahat. Setelah itu, Bassta hanya diminta untuk mengambil obat di bagian Farmasi.


Setelah Larisa merasa tenang, dia hanya diam dan Bassta duduk di atas kursi sembari memerhatikannya.


“Kamu kenapa bisa pingsan? Kamu habis ngapain?” tanya Bassta dan Larisa menggeleng lemah.


“Aku kepingin pulang, Bass.”


Bassta mendesah, karena Larisa sama sekali tidak menjawab pertanyaan darinya.


“Kamu beneran kuat buat jalan? Dirawat aja, deh, kalau nggak kuat.”


Larisa memandang, menolak dengan menggelengkan kepalanya keras-keras..


“Aku nggak apa-apa, Bass. Kata dokter juga, kan, aku nggak perlu dirawat.” Larisa menatap dengan tatapan sendu.


Bassta terdiam sejenak sampai kemudian dia membuang napas, setuju.


Larisa mengangguk dan Bassta pun pergi meninggalkannya.


Larisa menghela napas panjang, kembali memikirkan apa yang dia lihat tadi. Itu sungguhan atau hanya halusinasinya? Jika benar dia salah lihat, kenapa bisa sama, serupa, itulah pria terkutuk yang sudah membuatnya hidup dalam belenggu hubungan aneh dengan Bassta saat ini.


“Kalau beneran itu dia, apa dia kembali karena berubah pikiran? Apa dia mau bertanggungjawab? Tapi, kenapa baru sekarang dia kembali setelah semua kekacauan ini terjadi?” gumam Larisa dalam hati, disusul dengan air mata yang kembali membasahi pipinya.


Larisa mengusap air matanya ketika Hanung datang.


“Kamu baik-baik aja, Larisa?” tanya Hanung kemudian memberikan satu botol air mineral.


“Aku baik, Mas. Makasih,” balas Larisa dan menerimanya.


“Di mana Bassta?” tanya Hanung sambil celingak-celinguk.


“Dia pergi untuk mengurus administrasi.” Larisa tersenyum samar, berusaha tampil baik-baik saja.


“Oh,” singkat Hanung kemudian lebih jeli lagi memerhatikan wajah pucat Larisa. “Serius kamu baik-baik aja? Kalau kamu ngerasa nggak baik, minta dirawat aja.”


Larisa menggeleng lemah, “Aku nggak apa-apa, kok , Mas. Kata dokter juga nggak perlu sampai dirawat.”


Hanung manggut-manggut walaupun tetap saja penjelasan Larisa tak membuat rasa khawatirnya mereda.


Keduanya kini sama-sama diam, semula sering canggung ketika bertemu, sekarang tambah canggung setelah kejadian waktu itu ketika Hanung mengakui isi hatinya.


Larisa berharap suaminya lekas kembali karena dia ingin segera beristirahat di rumah.


Tak lama Bassta kembali dan mengajak Larisa untuk segera pulang.


“Kamu balik aja ke kantor.” Perintah Bassta dengan ketus.


Hanung diam tak menanggapi.

__ADS_1


“Iya, sebaiknya Mas Hanung balik lagi aja ke kantor. Maaf jadi bikin repot,” tambah Larisa yang juga sangat ingin pria itu pergi meninggalkannya dengan Bassta.


Bassta diam-diam tersenyum kecil karena Larisa seperti ikut-ikutan mengusir Hanung.


“Ya sudah kalau begitu. Semoga cepet baikkan ya, Larisa.” Hanung tersenyum lebar dan Larisa membalasnya. “Bass,” kata Hanung kembali lalu menepuk bahu Bassta sampai kemudian ia pergi.


Bassta mendengus sebal dan melirik Larisa di sebelahnya.


“Kamu kuat jalan, gak?” tanyanya pelan.


“Iya, bisa.” Larisa terlihat tidak yakin karena kepalanya terus berdenyut. “Tapi aku pusing sedikit, Bass.”


Bassta diam menatap kemudian seorang perawat bersuara.


“Dirangkul aja, Pak, istrinya.” Ia memberikan usul dan Bassta pun merapat dengan ragu.


Tangan Bassta merangkul bahu Larisa begitu kaku. Tak apa, itu sangat cukup bagi Larisa yang langsung terlihat merona wajahnya. Keduanya berjalan bersama, menjadi pusat perhatian sampai akhirnya berhenti di parkiran.


Bassta dan Larisa menyempatkan diri berterima kasih kepada sopir taksi yang sudah sigap mengantarkan Larisa dan menjaga sampai Bassta datang. Setelah itu Bassta pergi membawa Larisa pulang.


****


Malam harinya, Bassta sedang selonjoran di atas sofa. Sementara Larisa ada di kamarnya. Bassta terlihat lebih dari dua kali melirik jam dinding, sudah pukul 7 malam lewat dan ponselnya di atas meja terus menyala. Menampilkan panggilan masuk dari kekasihnya yang ingin menagih untuk diajak jalan-jalan malam ini.


Bassta tidak bisa meninggalkan Larisa yang sedang sakit, ditambah Asih yang juga belum kembali. Meninggalkan Larisa semalam dan ditambah istrinya itu pingsan tadi siang, membuat Bassta semakin ragu untuk meninggalkan Larisa meskipun dia tahu pasti Jema akan kembali marah dan dia akan sulit mengontrolnya.


“Haduh, gimana ya?” gumam Bassta seraya terus memperhatikan ponselnya.


Di lantai dua, Larisa keluar dari kamar, sudah memakai jaket dan menggenggam dompet. Terlihat akan pergi dan dia berhenti melangkah ketika melihat Bassta sedang menelepon. Bassta mau tak mau akhirnya mengangkat panggilan dari Jema.


“Aku nggak bisa, Jem. Besok aja kita perginya, malam ini aku nggak bisa,” ucap Bassta dan Larisa yang mendengar pun kembali berhenti melangkahkan kakinya. Dia berhenti di atas tangga.


“Kamu sekarang hobi banget telat, ingkar janji juga. Makin aneh kamu tuh!” bentak Jema di seberang sana. Emosi karena dia sudah bersiap untuk pergi.


“Sayang, jangan marah-marah terus dong. Kalau bisa juga kita selalu pergi, kan? Malam ini beneran aku nggak bisa, aku ada acara keluarga.” Bassta menggigit lidahnya, kebohongan yang dia buat semakin banyak dan semakin aneh.


Larisa mengernyit kemudian menggeleng kepala mendengar kebohongan suaminya.


“Banyak alasan!” sentak Jema kemudian memutus panggilan.


“Halo, Jem, Jem.” Bassta menjauhkan ponsel dari telinganya, dia mendengus setelah melihat panggilan berakhir.


Larisa kembali melangkahkan kaki dan Bassta pun menoleh ke arahnya.


“Heh!” tegur Bassta dan Larisa pun berhenti. “Mau ke mana?” selidiknya heran melihat Larisa memakai jaket.


“Aku mau ke luar, cari makan.”


“Sama siapa?”


“Sendirian.”


“Sendiri? Terus cowok ganteng di depan kamu ini kamu anggap apa?” balasnya sambil berjalan mendekat ke hadapan Larisa.


Mata Larisa memicing sinis mendengar pria itu memuji dirinya sendiri.


“Tadinya aku mau minta anter sama kamu. Tapi kamu mau pergi, kan, sama Jema?” ucap Larisa ketus.


“Nggak usah pura-pura, deh! Kamu denger, kan, kalau aku nggak jadi pergi?” timpal Bassta cepat.


“Kenapa kamu nggak jadi pergi? Jangan aneh-aneh jadiin aku penyebab kamu gagal kencan sama pacar kamu itu, ya,” kata Larisa yang sudah lelah sering disalahkan.


“Ya mana bisa aku pergi setelah tadi kamu pingsan. Bibi juga lagi nggak ada, nggak usah kegeeran juga aku mau nganterin kamu cari makan. Aku juga laper, aku juga butuh makan,” ucapnya panjang lebar dan Larisa mendelik tidak peduli. “Tunggu di sini, kita pergi sama-sama.”


Bassta melenggang pergi untuk mengambil kunci mobil dan dompetnya. Larisa diam, menunggu sembari memperhatikan suaminya dengan bibir dihiasi senyuman manis. Larisa merasa senang karena Bassta memilih pergi dengannya ketimbang dengan Jema, tetapi dia juga tidak tahu apakah perasaannya sekarang adalah sebuah tindakan yang salah atau hal yang wajar.

__ADS_1


__ADS_2