Cinta Mas Sepupu

Cinta Mas Sepupu
Tangisnya Pecah


__ADS_3

“Apa Mbak bahagia dengan pernikahan ini?” celetukan Nurani membuat senyuman di bibir Larisa tenggelam sirna.


“Apa Tante Novia memperlakukan Mbak dengan baik? Sementara sebelum-sebelumnya kita paham bahwa Tante Novia begitu mudah menghina keluarga kita hanya karena kita kerabatnya yang miskin,” kata Nurani lagi dan Larisa merasa sedih mendengarnya.


Nurani terus menatap, mencari-cari letak ketenangan di wajah sang kakak yang sekarang sepenuhnya tegang karena ungkapannya.


“Kenapa bisa kamu bertanya kayak begitu, Dek?” balas Larisa.


Nurani tersenyum tipis. “Saudari yang tahu sesuatu tentang pasangan saudarinya pasti jelas akan melontarkan pertanyaan seperti itu, Mbak.”


Larisa memekik karena dirinya semakin yakin bahwa benar Nurani ingin membahas tentang Bassta dan Jema.


“Ehmmm, maksudnya?” kata Larisa gugup.


Nurani langsung menangkap tangan Larisa, menggenggamnya kuat-kuat.


“Jawab jujur, Mbak. Apa laki-laki itu memperlakukan Mbak dengan baik?” kata Nurani mendesak.


Larisa tersenyum kecut dan terus saling memandang dengan Nurani.


Larisa tampak gelisah dan dia tidak bisa menyembunyikan itu dari adiknya. Ditambah lagi tangannya yang dipegang Nurani begitu erat padahal tangannya sudah berkeringat saking tegangnya.


“Apa Mbak nggak yakin bisa buat menjawab pertanyaan dari aku? Apa itu artinya —” Kalimat Nurani menggantung karena Larisa menyela.


“Mbak sangat bahagia dengan pernikahan Mbak, Dek. Memang betul mulanya Mbak sama kakak ipar kamu melakukan kesalahan tapi kami sama-sama menanggung semua serta bertanggungjawab atas apa yang kami lakukan. Nggak ada yang perlu kamu khawatirkan sampai berpikiran yang aneh-aneh,” tutur Larisa yakin, lugas dan tenang agar Nurani puas dengan apa yang dia ungkapkan.


“Tapi Mbak nggak tahu kalau pria brengsek itu sama jahatnya kayak ibunya. Dia nyakitin, Mbak! Dia SELINGKUH!” jerit Nurani dalam hati. Emosi tapi segan untuk meluapkan.

__ADS_1


“Mereka ngomongin apaan, sih? Serius amat, gabung, yuk!” bisik Nenden kepada Nayla, kakinya sudah melayang tapi Nayla menarik sikunya.


“Biarin mereka ngobrol. Mereka udah lama nggak ketemu. Kamu tahu, kan, situasi di antara mereka berdua kayak apa? Sabar dulu,” balas Nurani pelan, memberikan paham kepada Nenden yang tetap saja memerhatikan Larisa dengan Nurani karena penasaran.


Nayla hanya bisa menggeleng kepala melihat tingkah sahabatnya.


“Terima kasih karena kamu udah begitu khawatir sama Mbak. Mbak seneng, Dek.” Mata Larisa berair. “Mbak baik-baik aja dan Mbak juga kepingin banget ketemu sama yang lain kalau ayah sudi menerima kedatangan Mbak lagi.” Ia menyambung dengan serak.


Nurani mendesis kemudian menarik napas.


“Apa Mbak nggak punya firasat sama sekali tentang sesuatu yang dilakukan mas Bassta di belakang, Mbak? Aku pernah mendengar kalau seorang istri pasti merasakan sesuatu jika suaminya bertindak bodoh di belakang!” tegasnya keras.


Larisa diam membeku.


“Aku ke sini bukan cuman untuk ingin memastikan Mbak baik-baik aja,” katanya dengan suara memelan.


“Aku ke sini karena aku melihat sesuatu,” kata Nurani berbisik.


“Apa?” balasnya.


Nurani diam sejenak, dia tatap muka kakaknya yang sudah tersaput warna pucat.


“Mbak harus kuat, ya, demi anak Mbak.” Tiba-tiba Nurani akan menangis. Larisa diam, menunggu dengan tegang apa yang sebenarnya ingin dikatakan Nurani.


“Aku pernah ngelihat mas Bassta sama wanita lain, Mbak. Laki-laki bajingan! Istri lagi hamil, kok, malah kayak begitu.” Dengan mata mengkilat marah Nurani mengadu.


Larisa menarik napas dalam-dalam.

__ADS_1


“Di muka umum bermesraan. Bodoh kalau dia beralasan itu teman kerja,” sambung Nurani semakin tersulut emosi.


Larisa menunduk sejenak. Ia lirik ke dalam rumah kemudian melirik juga pada Nayla dan Nenden. Sementara Nurani terus saja mengoceh tentang apa yang dia lihat waktu itu.


“Kita sebenarnya perlu mengadukan dia sama ayah dan ibu sekalian juga sama orang tuanya. Biar dia kapok!” kecam Nurani dengan keras.


Larisa menggeleng pelan.


“Kenapa ada manusia yang setega itu sama pasangannya,” lirih Nurani dan kini gantian Larisa yang menggenggam tangannya. Nurani terpaku, menatap wajah Larisa yang tampak biasa saja, apa kakaknya itu sudah tahu?


“Deeeeekkk.”


“Apa, Mbak? Jangan bilang kalau Mbak udah tahu dan Mbak diem aja!” tegas Nurani dan membuat perhatian Nayla serta Nenden semakin serius ke arah mereka.


Larisa menempelkan jari di bibirnya. “Shuttt!”


“Mbaaaak! Ih!” Nurani merasa gemas dan Larisa memegang kedua bahunya.


“Dengerin Mbak,” pinta Larisa.


“Nggak mau!” Nurani menolak keras, dia menggeleng kemudian tangisannya meledak. “Kenapa Mbak diem aja? Kenapa nggak pulang? Nggak mudah, kan, lagi hamil terus tahu suami selingkuh? Itu berat, aku tahu.” Nurani menatap kakaknya sendu.


Larisa menunduk, tangisnya juga pecah dan dia tak sanggup untuk mengeluarkan kata-kata lagi.


“Ya ampun, Mbaaaak!” Nurani mengubah posisi, menghadapkan tubuhnya ke arah lain karena kecewa dengan sikap diamnya Larisa.


Menjadi istri itu adalah posisi paling serba salah. Bercerai memikirkan malu yang akan dialami keluarga, belum lagi jika tidak memiliki penghasilan, ditambah lagi apabila memiliki keturunan. Menjadi seorang istri itu sulit, lebih memilih bertahan walaupun tahu dirinya dihadapkan pada pengkhianatan.

__ADS_1


 


 


__ADS_2