
***
“Seharusnya tadi kamu jangan ngomong aneh-aneh tentang model seksi itu di depan Larisa. Kamu berlebihan, Nden.” Nayla menegur, Nenden di sebelahnya menoleh heran.
“Aku ngomong apa adanya, kok. Ada yang salah? Kamu sensitif terus dari tadi, uring-uringan sama aku, kamu mau datang palang merah, ya, Nay?” balas Nenden dan Nayla manyun.
“Aduh, kamu....” Nayla merasa gemas sendiri. “Kalau lagi nggak hamil, udah aku uyel-uyel.”
Nenden diam, memasang ekspresi aneh menanggapi ucapan Nayla.
“Larisa bisa aja ke pikiran karena semua kata-kata kamu tahu!” tegas Nayla sambil menatap ke luar kaca mobil taksi yang mereka tumpangi. Ia terlihat sedih dan Nenden menyadari itu, “Kamu nggak tahu situasi pelik apa yang lagi dihadapi sama sahabat kita.” Suaranya berubah serak.
Nenden langsung menarik bahu Nayla kasar agar berbalik padanya.
“Masalah pelik apa? Apa hubungannya juga sama model itu, sih?” gereget Nenden karena belum juga mengerti.
Nayla menggaruk kepala dan Nenden menunggu penjelasannya.
“Aduh gimana ya ngomongnya. Pokoknya jangan begitu lagi kalau di depan Larisa, jangan bahas model itu apalagi puji model itu di depan Larisa. Aku takut dia jadi minder, nggak percaya diri dan merasa nggak pantes sama Bassta.”
Nayla membuang napas panjang.
“Aku takut kata-kata nggak baik yang dia denger jadi efek buruk buat masa-masa kehamilannya. Kamu nurut aja apa yang aku bilang, ya?”
Nenden diam termenung.
“Kamu ngomong seolah-seolah model itu saingannya Larisa. Emang Larisa kenal sama model itu, ya?” kata Nenden begitu polos dan Nayla yang kesal langsung menangkup kedua pipinya.
“Nden, dengerin! Larisa bukan cuman kenal sama model itu. Tapi Bassta juga lebih kenal sama model yang sering kamu puji itu!!!!”
Nayla melepaskan kedua pipi Nenden kemudian menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Membeku, berpikir keras dengan apa yang dia dengar barusan dan tak lama kemudian Nenden memegang tangan Nayla erat-erat.
“Maksud kamu?” Keduanya bertatapan lekat dan Nayla mengangguk sambil menggigit bibirnya. “Haa.... maksud kamu Bassta sama model itu anu...” Nenden berhenti karena Nayla manggut-manggut mengiyakan.
“Nay, jangan bercanda kamu ah!” Nenden panik sendiri.
“Aku serius,” kata Nayla dan Nenden langsung menyandarkan punggungnya.
****
Tulang iga sapi sudah masuk ke dalam presto, aromanya beberapa menit kemudian mengudara mengisi seluruh ruangan dapur di rumah berlantai dua itu. Larisa dan Asih sedang memasak bersama, sebagai ajang melepas rindu karena beberapa hari tidak bertemu. Juga Larisa entah kenapa mendadak ingin menikmati makanan berkuah menyegarkan seperti sup iga sapi.
Sayuran wortel, kentang, bawang daun serta seledri sudah menunggu giliran untuk masuk ke dalam panci.
“Kayaknya itu mas Bassta, Mbak.” Asih berbicara ketika sekilas mendengar suara mobil.
Larisa menoleh dan apakah benar suaminya pulang secepat ini? Apa suaminya itu belum tahu perihal masalah yang sedang dihadapi kekasihnya?
Larisa bukan tak senang suaminya pulang cepat, tapi ini terasa aneh setelah waktu itu Bassta tidak jadi menemui Jema.
__ADS_1
“Biar aku lihat dulu,” kata Larisa sambil melepaskan celemek dari tubuhnya. Dia berlalu meninggalkan dapur, sempat menarik tisu untuk mengusap tangannya yang basah.
Sementara di luar, Bassta memerhatikan Fitria yang berdiri seraya menyapu sekitar. Memerhatikan rumahnya dengan Larisa begitu saksama. Untuk kesan pertama kedatangannya, Fitria merasa senang karena anaknya Tunggak di rumah yang begitu besar dan megah. Memperlihatkan jelas bahwa kehidupan anaknya setelah menikah menjadi lebih baik, tapi walaupun begitu, Fitria tidak melupakan kesalahan fatal anaknya.
“Ayo, Larisa pasti kaget sekaligus senang kalian datang,” kata Bassta sambil menjinjing tas bawaan ibu mertuanya.
“Kalian tinggal berdua?” kata Fitria pelan.
Bassta tersenyum lebar.
“Selama aku nggak ada, Larisa ditemani asisten rumah tangga kami.”
Fitria semakin melebarkan senyumannya dan mereka bertiga menoleh ketika pintu dibuka. Menampilkan sosok Larisa yang langsung diam membeku melihat wajah-wajah yang begitu dia rindukan sekarang ada di depan matanya.
Beberapa detik mereka saling menatap sampai kemudian Fitria dan Larisa sama-sama melangkah cepat kemudian saling memeluk.
“Ibu,” pekik Larisa dengan suara berat tertahan, air mata kebahagiaan luruh membasahi pipinya.
Tak henti-hentinya Fitria mengusap punggung yang semakin lebar dan rambut Larisa yang sedikit mengeluarkan aroma bawang. Dia sangat merindukan Larisa.
“Ibu datang, Nak.” Serak suara Fitria terucap.
Keduanya terus menangis dan Nurani melihat dengan kedua mata berair.
Sementara Bassta, melihat kebahagiaan yang dirasakan Larisa, dia ikut juga berbahagia.
Tak lama mereka semua masuk, Bassta berseru meminta Asih mempersiapkan jamuan spesial untuk ibu mertuanya. Jika perlu, dia akan memesan masakan terenak untuk menjamunya.
“Gimana masa-masa kehamilan kamu, Nak. Ini baru pertama kali, pasti sulit, kan?” bisik Fitria dan Larisa menggeleng dengan bibir menyimpulkan senyuman.
“Semuanya terasa mudah karena Bassta selalu jagain aku, Bu.” Larisa berkata sungguh-sungguh dan Bassta yang duduk memerhatikan merasa tersentuh mendengarnya. Mengingat banyak sekali kejadian buruk dari kekecewaannya yang dia lampiaskan pada Larisa.
Larisa memujinya begitu untuk menghargainya dan menjaga nama baiknya di depan keluarganya.
Tak bisa memungkiri, Bassta merasa semakin bersalah.
“Kata Bassta kamu habis USG. Berapa bulan sekarang?” ucap Fitria sambil melirik menantunya.
“Iya, Bu. Sekarang sudah enam bulan.” Larisa memegang perutnya.
Fitria merasa lega kemudian menggerakkan tangannya kepada Bassta, meminta Bassta mendekat.
Bassta saling melirik dan menatap dengan Larisa. Larisa sangat takut Bassta tidak mau dan membuat ibunya kecewa tetapi ketika pria itu bangkit, kekhawatirannya mendadak sirna.
Bassta duduk dan Fitria memandangi keduanya.
“Mana hasil USG-nya? Ibu mau lihat,” pinta Fitria dan Larisa mengeluarkan ponselnya.
“Ibu bisa melihat video rekamannya aja supaya lebih jelas,” katanya sambil membuka ponsel, menggeledah isi galery dan setelah ketemu, dia memperlihatkannya kepada Fitria.
“Mana, Bu. Aku mau lihat juga.” Nurani antusias mendekati ibunya.
__ADS_1
Suara detak jantung terus terdengar seiring video rekaman USG diputar. Fitria termangu memandangi calon cucunya.
“Perempuan atau laki-laki?” tanya Fitria tampak memandang, saking fokusnya melihat video.
“Dari hasil USG katanya perempuan tapi USG nggak bisa kita jadikan acuan untuk percaya seratus persen,” balas Larisa dan Bassta menatapnya.
Fitria mengangguk menanggapi.
“Hidungnya mancung, kecil kayak hidungnya Mas Bassta.” Nurani menyeletuk dan Bassta spontan meluruskan punggungnya, ia bertatapan lekat dengan Larisa.
“Bagaimana itu mungkin? Itu bukan anak aku, kok!” kata Bassta dalam hati.
“Ehmmm, emang iya?” timpal Larisa gugup dan Bassta menyandarkan punggungnya. “Kayaknya mirip aku, deh.” Sambung Larisa karena merasa takut Bassta tidak nyaman dengan celotehan adiknya.
“Mau mirip ibu atau ayahnya sama saja. Bayi ini buah cinta kalian, yang akan memperkuat dan menjadi pertimbangan ketika akan melakukan sesuatu hal yang besar dalam rumah tangga kalian,” terang Fitria dan Larisa dengan Bassta terlihat semakin kaku.
“Silakan diminum,” kata Asih meletakkan nampan berisi minuman dan kue seadanya.
Kedatangannya memecah ketegangan antara Larisa dengan suaminya.
“Terima kasih,” ucap Fitria tersenyum.
Asih membalas lalu kembali ke belakang.
“Ayo, Bu, Dek. Seadanya aja dulu ya, karena emang aku sama Bassta belum sempat belanja. Nggak tahu juga Ibu sama Nurani mau datang, kalau aku tahu, pasti udah aku siapin semua makanan kesukaan kalian.” Larisa berbicara dengan mata berbinar.
“Segini juga udah cukup.” Fitria tersenyum dan kembali menatap layar ponsel di tangannya.
Saking bahagianya ia, rasa lelah yang mendera pun mendadak sirna.
***
“Dia udah biasa, kan, suka seenaknya sama orang. Mentang-mentang artis kaya-raya, berkasus terus nggak jauh sama bapaknya.” @Netikepo
“*Tetep aja sih walaupun udah ada kasus beginian, kalau ke artis malah bikin namanya makin naik.” @Netijul*it
“Masih bingung kenapa biasa aja tapi dibilang cantik paripurna. Masih cantik artis lain.” @Netijuedess
“Good looking kalau bermasalah nggak ada pengaruh. Pasti bentar lagi masalahnya ilang karena cuan.” @Netihasyudd
Rahang Jema mengetat, genggaman tangannya begitu kuat. Sedetik kemudian ponselnya sudah melayang membentur dinding.
Di luar kamar Jema, Ibra dan Sally yang mendengar suara bising tersebut pun sama-sama bangkit dan saling menatap waspada.
"Suara apa itu?" kata Sally dan Ibra menatap lekat pintu kamar majikan tercintanya.
Setelah suara benturan keras, tak lama terdengar teriakan Jema yang begitu keras. Keduanya bergegas menuju kamar Jema, Sally yang membuka pintu dan melihat Jema sedang menangis histeris sambil bersandar pada ranjang tempat tidurnya.
Wanita itu begitu tampak lelah setelah membaca berbagai macam komentar jahara dari netizen. Sebuah konsekuensi bagi publik figur, tidak bermasalah saja seringkali dibanjiri hujatan apalagi sosok yang selalu bermasalah.
"Jema!" jerit Monica yang baru datang, menabrak tubuh Ibra yang berusaha untuk membantu Jema bangun.
__ADS_1
Jema tak mau dan akhirnya Monica memeluknya. Bukan kali ini ditimpa permasalahan, tetapi karena bermasalah tanpa dukungan dari kekasihnya, membuat Jema benar-benar terpuruk tak ada yang menghibur. Sosok kekasihnya yang begitu jema rindukan sedang sibuk mengurusi rumah tangga yang semula diabaikan.