Cinta Mas Sepupu

Cinta Mas Sepupu
ISTRI DAN KEKASIH


__ADS_3

Larisa hanya bisa bungkam melihat apa yang tersiar di layar televisinya. Sesekali dia saling melirik dan menatap dengan Nayla. Sementara Nenden terus meracau, menebarkan pujian tentang cantik dan seksinya sosok Jema.


Nayla perlahan bergeser dan mendekatkan bibir ke telinga Larisa.


“Harusnya kita kasih tahu dia siapa wanita itu. Biar dia berhenti ngomong, kamu pasti nggak nyaman, kan?” bisik Nayla dan Larisa menggeleng kepala memintanya berhenti.


Biarkan saja walaupun pujian dari Nenden semakin membuat Larisa merasa minder. Merasa kalah dalam segi apa pun dengan Jema, terbersit perasaan tidak pantas pula dia memiliki Bassta yang sepenuhnya mencintai wanita itu.


“Dia nggak pernah makan kayaknya. Pinggangnya ramping bener,” ujar Nenden sambil menyuap makanan kering coklat yang dia bawa.


Larisa diam dan Nayla menarik napas cukup dalam.


“Beruntung banget yang jadi cowok perempuan secantik itu.” Nenden tersenyum dan Nayla menoleh padanya.


“Kamu dari tadi terus-terusan memuji fisiknya tapi mengabaikan perilakunya. Buat apa cakep, seksi, kalau buruk tingkah laku.” Nayla mencibir untuk menenangkan suasana hati galau Larisa. Juga apa yang dia katakan adalah kebenarannya.


Nenden memicingkan mata, membalas.


“Namanya manusia pasti punya kesalahan. Kita nggak tahu, kan, mungkin aja emang pegawai salonnya yang bikin kesalahan sampe bikin Jema marah,” tutur Nenden membela.


“Tapi sebagai publik figur, sikap dia itu harus diperhitungkan. Dia pusat perhatian, perlu mencontohkan yang baik,” kata Nayla bersikeras.


“Ah kamu..  pasti itu, kan, kepingin punya muka mulus dan badan ramping kayak begitu juga.” Nenden cengar-cengir.


Nayla membelalakkan matanya. “Dih ngapain juga kurus kering kayak kurang dana begitu. Aku, sih, nggak kepingin. Merasa cukup sama badan aku yang sekarang, sehat-sehat montok gemoy.”


Nenden terbahak mendengar ungkapan Nayla. Keduanya terus berdebat dan begitu berisik sementara Larisa hanya diam tanpa kata. Hanya sekali-sekali mendengus dan mendesah begitu putus asa. Baru tadi pagi dia buat bahagia dengan kata-kata manis Bassta, sekarang sudah disadarkan oleh ocehan sahabatnya.


“Emang kalau di pikir-pikir, aku sama Jema kayak bumi sama keraknya,” batin Larisa begitu merendahkan diri.


Obrolan Nenden dan Nayla berhenti ketika kedatangan Asih menarik perhatian mereka. Wanita itu kembali dan sontak saja membuat Larisa tersenyum tenang. Dia tidak akan kesepian lagi seumpamanya Bassta pergi mengabaikannya lagi, sepertinya dia perlu berpikiran realistis karena untuk mempertahankan dirinya yang tak sebanding jika dibandingkan dengan kekasih suaminya malah membuatnya semakin tersiksa.


****


Dua lembar foto melayang di depan muka seorang pria berwajah sangar. Wanita di hadapannya yaitu Monica mondar-mandir sembari bersiap memuncratkan segudang omelan. Bagaimana dia tidak merasa stress, setelah permasalahan yang dihadapi anaknya. Kini, orang yang dia minta untuk mengikuti Bassta pun tidak bisa bekerja dengan benar sesuai keinginannya.


“Saya bayar kamu bukan cuman untuk foto nggak jelas kayak begini!” teriak Monica sambil menunjuk dengan mata tajamnya ke lantai, di mana foto yang memperlihatkan Bassta sedang menikmati makan malam bersama seorang wanita. Sayangnya, pria itu mengambil gambar yang memperlihatkan jelas rupa Bassta saja, tidak dengan rupa si perempuannya.


“Kayaknya dia sadar kalau lagi diikuti, Bos.” Pria itu melontarkan alasan dan Monica semakin meradang murka.


“Saya tidak perlu alasan. Saya maunya terima beres karena kamu saya bayar! Kalau kamu tidak becus bekerja, bilang dari awal! Saya bisa cari orang lain.” Monica berbicara dengan mata yang membola memancarkan aura penuh emosi.


“Maaf, Bos.”

__ADS_1


“Itu kata-kata yang saya tidak suka. Kamu tidak berguna dan tidak becus apa-apa, ini terakhir kali kamu bekerja dengan saya!” sentak Monica dan pria itu mengangkat wajahnya. Masih ingin bekerja tapi mustahil untuk meminta.


“Keluar dari rumah saya sebelum saya meminta orang lain untuk menyeret kamu!” tegas Monica menunjuk pintu keluar dan pria itu mengangguk, mundur, memutar tubuhnya kemudian berlalu.


Monica sekarang menjatuhkan diri ke atas sofa, membuang napas ke udara dan terus berpikir bagaimana caranya menangkap basah Bassta yang sudah tercium mengkhianati anaknya. Dan bagaimana pula dia sekarang harus menangani masalah Jema yang lain?


Perlahan Monica melirik foto yang dia lempar tadi, menatapnya dengan penuh penghayatan. Merasa geram dan ingin membuat perhitungan kepada pria yang sudah menyakiti anaknya. Akan tetapi Monica perlu bukti yang cukup karena Jema yang sudah dimabuk cinta akan sulit disadarkan meskipun bukti sudah di depan mata.


“Jika Bassta bukan anaknya Arif. Mungkin aku sudah turun tangan sendiri untuk membuat perhitungan dengannya. Sialnya, dia adalah pria yang anakku cintai dan juga jaminan untuk kehidupannya,” ucap Monica sebatas hatinya.


Sementara di sudut rumah yang lain. Jema sedang diam merenung setelah menyesap jus jeruk dinginnya. Ada Sally yang setia menemaninya. Ada juga Ibra yang siap sedia jika dia membutuhkannya.


 “Apa dia sudah tahu dengan masalahku, Sall?” lirih Jema.


Sally menoleh kepadanya.


“Berita ini sudah tersebar ke mana-mana, Jem. Aku yakin bukan hanya Bassta tapi juga keluarganya. Aku sempat menghubungi Bassta, dia bilang akan datang kemari sore ini,” balas Sally dengan tenang dan Jema mengerjapkan mata.


“Aku takut masalah ini membuat keluarga Bassta percaya dan menilaiku dengan buruk,” kata Jema begitu lesu.


Sally mendekat, mengusap bahunya.


“Bermasalah di dunia seperti ini adalah hal wajar. Lagipula kamu punya alasan, pegawai salon itu bekerja dengan tidak benar. Jadi, jangan terlalu memikirkan hal yang tidak-tidak.” Sally menenangkan dan Jema diam, dia akan berusaha sabar sampai Bassta datang menemuinya.


****


Bassta tidak bisa melepaskan kekasihnya dan semakin berat untuk melepaskan Larisa. Terlebih, geliat kebahagiaan yang dia rasakan beberapa kali membuat nuraninya terketuk.


Pria ini malah semakin tidak sabar untuk melihat wujud dari bayi yang selalu menyambut sentuhannya dengan gerakan yang tidak disangka-sangka.


Sekarang, Bassta sedang dalam perjalanan menuju kediamannya Monica. Meskipun menghadapi Jema dan Monica sekaligus menciptakan kekhawatiran di benak Bassta.


Dalam kefokusannya mengemudi, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ia merogoh saku jasnya dan melihat nomor yang tak dia kenali. Beberapa detik Bassta berpikir apa dia perlu mengangkat atau mengabaikannya? Sampai akhirnya dia memutuskan untuk mengangkatnya karena mendadak teringat dengan Larisa.


“Halo—” Bassta tersendat ketika mendengar suara seorang gadis cempreng yang ia kenal. “Nurani, ini kamu?” Bibirnya menyimpul senyum ketika ingat terakhir kali bertemu gadis itu mengancamnya.


“Ya,” ketus Nurani terdengar begitu malas berbicara dengan Bassta tapi tak lama kemudian Bassta juga mendengar suara ibu mertuanya. Bassta diam mendengarkan.


“Mas Bassta lagi di mana?”


“Di jalan, baru keluar kantor. Kenapa?”


“Itu—“ Nurani mendengus dan Bassta mengernyit heran mendengar suara berisik di sekitar adik iparnya.

__ADS_1


“Cepetan ngomong. Mas lagi nyetir.”


Terdengar suara sekilas Fitria dan Nurani akhirnya berbicara.  


“Mas, aku sama ibu lagi di jalan mau ke rumah Mas Bassta. Ibu kepingin ketemu sama Mbak Larisa mumpung ayah lagi pergi, bisa jemput kita nggak? Soalnya taksi yang Nurani pesan tiba-tiba mogok.” Dia berbicara dengan cepat dan cukup keras.


Bassta terdiam sejenak karena sekarang arah mobilnya sudah menuju kediaman Jema. Tapi dia juga tidak mungkin bisa menolak hal itu karena akan menimbulkan banyak pertanyaan. Terlebih Nurani pernah memergokinya dengan Jema.


“Share lokasinya aja, Dek.” Suara Bassta terdengar ragu, dia benar-benar bingung sampai akhirnya terpikir untuk menemui Jema nanti malam saja.


Nurani mengiyakan lalu panggilan berakhir. Bassta meletakkan ponselnya di dashboard kemudian berputar arah.


Lima belas menit kemudian, Bassta memperlambat laju mobilnya ketika melihat Fitria dan Nurani yang sedang menunggu di depan sebuah minimarket. Ketika mobilnya mendekat, pandangan keduanya terkunci ke arah mobilnya.


Ketegangan menguasai sekujur tubuh Bassta, untuk pertama kali setelah menikah dia bertemu lagi dengan ibunya Larisa.


Nurani dan Fitria terlihat sempat saling berbisik kemudian keduanya berjalan mendekat. Bassta juga keluar dan menundukkan wajahnya, bingung harus melakukan apa pada pertemuan setegang ini.


“Bass,” sapa Fitria dengan lembut.


Bassta mengangkat wajahnya dan mendapati wajah Fitria terhias dengan senyuman hangat. Menyambutnya dan tanpa ragu Bassta mengulurkan tangan, meraih dan menyalami ibu mertuanya.


Sentuhan di kepalanya membuat Bassta berkeringat, setelah semua yang terjadi, sambutan hangat dari ibu istrinya masih dia dapatkan dan ini juga membuktikan bahwa Nurani sama sekali tidak mengadukan tingkah lakunya.


“Gimana kabar kamu?” tanya Fitria sambil memijat lengan besar menantunya. Bibirnya terus tersenyum tetapi matanya berkaca-kaca.


“Baik,” singkat Bassta menjawab dan suaranya sangat pelan. Tidak terdengar sama sekali karena tertutupi berisik kendaraan di sekitar, hanya gerakan bibirnya yang terbaca Fitria.


“Larisa?” kata Fitria lagi dengan suara bergetar.


Bassta terdiam melihat wajah seorang ibu di hadapannya yang diliputi kerinduan. Bassta tersenyum kecil.


“Dia sangat baik, beberapa waktu lalu dia baru saja USG. Larisa bakalan senang banget kalau Bibi datang” ujar Bassta dan Fitria refleks memperkeras tekanan pada lengan Bassta.


“Ini mertua kamu, Bassta.” Fitria menegaskan dan Bassta tersenyum lebar.


“Iya, Bu.” Bassta terlihat gugup. “Emmm, sebaiknya kita pergi sekarang. Takutnya nanti kejebak macet,” sambungnya dan Fitria mengangguk antusias.


Entah apa yang dibawa Fitria, sebuah tas besar dan Bassta mengambil alih. Nurani yang melihat pun mendelik sebal dan Bassta yang menyadari sikap jutek adik iparnya malah iseng mengacak-acak rambut Nurani.


“Nggak usah pegang-pegang!” ketus Nurani, menangkis tangan Bassta tapi tidak kena. Rambutnya sekarang kusut dan Bassta membuka pintu mobil tanpa memperlihatkan rasa bersalah setelah membuat Nurani jengkel.


Fitria menegur sikap ketus anaknya itu dengan melayangkan tatapan sedikit melotot. Nurani pun masuk dan duduk sambil membuang muka.

__ADS_1


 


__ADS_2