Cinta Mas Sepupu

Cinta Mas Sepupu
MASALAH LEBAM


__ADS_3

Bassta mendengus, ia tatap jam tangan yang melingkar di lengan kirinya. Sudah dua puluh menit ia menunggu, Larisa tak kunjung datang. Wanita itu tidak akan mengantarkannya ke teras pagi ini?


Wajahnya menggelembung jengkel, kaki panjangnya melangkah cepat dan masuk ke dalam mobil lalu membanting pintu cukup keras. Satpam hanya melirik melihat majikannya pagi-pagi sudah uring-uringan. Sementara di lantai dua, Larisa diam mengintip kepergian Bassta.


***


“Ibu mau ke rumah Bassta. Ibu udah nggak bisa nahan lagi kepingin ngelihat adik kamu, Gan.” Fitria berbicara dengan suara serak.


Ganta yang sedang memakai sepatunya itu diam, matanya menyorot kosong.


“Menunggu persetujuan dari ayah kamu, nggak tahu kapan. Kelamaan.” Fitria berbicara lagi.


Ganta berdiri, memutar tubuhnya kemudian meraih tas selempangnya.


“Kita cari waktu yang tepat, ya, Bu. Sabar dulu.” Ganta mengelus bahu loyo Fitria.


Fitria mendesah resah kemudian memalingkan wajahnya.


“Aku pergi dulu,” kata Ganta pamit.


Fitria memandang lalu mengangguk.


Setelah kepergian Ganta, Nurani yang mendengar segalanya pun merasa iba. Ia jelas melihat raut wajah ibunya yang selalu murung walaupun berusaha riang seolah tak merasakan dan memikirkan apa-apa.


Fitria menoleh ketika tangannya disentuh. Ia tatap sorot mata lain di netra putrinya.


“Ibu mau ketemu sama mbak Larisa?” kata Nurani pelan.


Fitria hanya diam, terheran-heran.


“Mbak Larisa juga kangen sama Ibu, sama ayah. Sama kita semua.” Nurani menyambung dengan bibir bergetar, ketika dia kembali teringat dengan pengkhianatan yang Bassta lakukan.


“Tapi ayahmu, kata masmu juga—” Kalimatnya menggantung karena Nurani menyela.


“Kita bisa pergi berdua. Aku juga pernah nemuin mbak Larisa sendirian karena nunggu izin dari ayah, nggak tahu kapan.” Nurani berbisik-bisik dan Fitria menariknya masuk ke dalam rumah. Mengajaknya duduk bersama.


“Apa yang kamu bilang tadi, Nurani?” selidik Fitria sambil menatap serius.


Nurani balas menatap, ia mengangguk meyakinkan ucapannya.


“Kalau ayah kamu tahu?” suara Fitria meninggi, dengan cepat Nurani menggenggam tangan ibunya erat.


“Nggak bakalan, Bu. Kalau Ibu mau, ayo kita pergi sama-sama.”


Tidak tampak sedikitpun keraguan pada anaknya, tetapi tetap saja itu membuat Fitria cemas. Membayangkan kemurkaan Sadi, dia sangat takut.


“Mbak Larisa baik-baik aja, Bu. Dia terus nanyain ibu sama ayah,” kata Nurani mendesak. “Nggak ada salahnya menemui anak walaupun harus dengan sembunyi-sembunyi dari ayah.”


Fitria diam mendengarkan.


“Kita nggak tahu apa yang dialami mbak Laris di keluarga Tante Novia yang sombongnya selangit itu. Bisa jadi mbak Laris membatin,” tutur Nurani kemudian mengangguk, ia sangat ingin sekali mengadukan Bassta, tapi dia tidak bisa ingkar pada janjinya kepada Larisa.


Fitria membuang napas kasar, kecemasan menyeruak menyelingkupi pikirannya.


Kebencian Novia bisa saja dilimpahkan kepada anak keduanya itu. Jika itu benar-benar terjadi, ia tak akan rela.


Hening cukup lama, Nurani tak bisa menunggu lagi, ia harus pergi ke sekolah.


“Iya, Nura. Ibu mau.” Fitria bersuara setelah Nurani bangkit untuk pergi. Nurani pun tersenyum dan akan lekas mengajak ibunya untuk menemui Larisa.


****


Waktu hari ini berlalu begitu cepat, terisi dengan emosi juga kemurungan. Jema benar-benar tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya, itu membuat Sally senewen harus berbusa melontarkan bujukan pada mereka yang merasa tidak puas dengan apa yang Jema berikan setelah mengeluarkan banyak uang untuk model tersebut.


“Kamu bisa terkena masalah, Jem. Bekerja secara profesional apa susahnya?” kata Sally yang sudah tahan lagi dengan sikap seenaknya Jema.


Jema mengangkat tangan, meminta wanita yang sedang memoles wajahnya berhenti. Matanya menyorot tajam kepada Sally.


“Kamu mau marah, Jem? Aku ngomong bukan sebagai manager, tapi sebagai sahabat yang takut karir sahabatnya lenyap setelah dirintis mati-matian.” Sally emosi dan Jema menatap ke depan, bayangannya dan Sally di hadapannya.


“Kamu nggak bakalan ngerti sesetres apa aku sekarang, Sall.”


“Jangan karena Bassta kamu rela kehilangan segalanya.” Sally membalas tegas.

__ADS_1


Jema menoleh dengan mata memicing, “Nyebelin kamu, Sall.”


“Terserah, deh. Yang penting aku udah ngingetin,” balas Sally kemudian pergi begitu saja.


Jema mendengus, mendelik dan kemudian meraih ponselnya untuk segera menelepon Bassta.


Panggilan tersambung mulus.


“Halo, Jem?”


Suara Bassta cukup keras, dia sedang berkendara menuju pulang.


“Ya, kamu di mana sekarang? Kita bisa ketemu, nggak?”


“Hmmm, apa?” balas Bassta yang kebingungan, bukan waktu yang tepat untuk bertemu dengan Jema disaat dia penasaran mengapa bisa ibunya menyakiti Larisa sementara Larisa pun seharian ini sulit sekali dia hubungi.


“Aku kangen, Bass. Aku juga lagi banyak pikiran, aku butuh ketemu sama kamu buat ngabisin waktu sama-sama.”


Jema memelas dan Bassta diam mendengarnya.


“Gimana kalau kita ke apartemen? Kamu nginep aja, aku juga lagi males pulang ke rumah.” Jema berbicara lagi dengan begitu riang, yakin berhasil membuat pria itu melontarkan persetujuan.


Pria mana yang akan menolak jika ditawari momen seperti itu?


“Emmm, aku hari ini lagi capek banget, Jem. Besok aja ya, aku juga sebentar lagi sampe ke rumah. Kamu juga tahu, kan, kalau buat ketemu mendadak. Aku pasti nggak bisa, banyak kerjaan.”


Jema mengatupkan rahang mendengar Bassta berani menolaknya.


“Bass, aku lagi butuh kamu.” Suaranya tegas.


Bassta terus menyetir, mengerjapkan mata saking bingungnya.


“Demi aku, kamu nggak bisa berkorban sedikit? Puter balik apa susahnya?” Jema mulai mengomel.


“Jem.”


“Aku nggak mau denger apa-apa kecuali kamu setuju!”


“Jem, aku beneran lagi capek. Kamu juga harus ngertiin aku dong. Besok kita ketemu, aku janji.”


Bassta mendengus sebal.


“Aku tunggu kamu di apartemen, kalau kamu nggak datang juga. Nggak usah datang-datang lagi aja selamanya!” tegas Jema mengancam, belum Bassta sempat menjawab, ia langsung memutus panggilan begitu saja.


Bassta meletakkan ponselnya kasar ke bangku sebelahnya. Muak dan sekarang dia sudah sampai di depan pintu gerbang rumahnya. Satpam membukakan pintu gerbang, Bassta sudah menurunkan kaca mobil untuk menolak tetapi dia mengurungkan niat ketika sekelebat melihat Larisa di balkon kamarnya. Wanita itu menunggunya? Lalu melengos begitu saja, menyebalkan!


Bassta hanya bisa menggerutu sebatas hati. Semakin kuat pula tekadnya untuk menanyai Larisa.


***


Larisa membuka piyama kimononya, merasa gerah dan ingin lekas beristirahat setelah lega melihat kepulangan suaminya. Belum sempat dia menjatuhkan diri ke atas kasur, Bassta masuk terburu-buru dan langsung berbalik badan saat mendapati Larisa dalam keadaan seperti itu.


“Bassta!” jerit Larisa, buru-buru menarik selimut.


“Maaf, maaf.” Bassta gugup, terus membelakangi Larisa.


“Keluar!” teriak Larisa lagi dan menghantamkan bantal ke punggung pria itu. “Nggak sopan kamu masuk kamar orang sembarangan.”


Bassta mendengus, menoleh jengkel, dia tersentak dan memalingkan wajah lagi saat Larisa belum menutupi dadanya.


“BASSTA! KELUAAAR!”


Larisa sudah memerah wajahnya, terus menyelimuti diri serapat mungkin.


“Heh! Catet! Kita suami-istri. Terserah aku mau masuk kapanpun ke kamar kamu, LARISA!” balas Bassta dan Larisa mendesis jengkel.


“Ngapain juga sih buka-bukaan? Pake baju yang bener, aku mau ngomong,” titahnya dengan posisi masih sama.


“Aku capek, mau istirahat. Besok aja.”


“Enggak, aku maunya sekarang.” Bassta berbalik dan Larisa memegangi selimutnya erat-erat.


“Nggak usah lihat-lihat!” sentak Larisa karena Bassta cengengesan melihatnya berbalut selimut.

__ADS_1


“Aku nggak bakalan macem-macem. Aku cuman mau tanya,” kata Bassta dan Larisa menatapnya. Kini Bassta mendekat, dan Larisa semakin mengeratkan genggaman tangannya pada selimut. “Nggak usah lebay, deh!” katanya sambil menarik selimut dan Larisa mendorong bahunya.


“Bass, kalau nggak penting mendingan kamu keluar.”


“Ini penting,” kata pria itu sudah duduk di tepi kasur.


Larisa mendengus dan menundukkan wajahnya.


“Sebelum mama aku pulang, kalian sempet ribut?” selidiknya dan Larisa refleks mengangkat wajahnya.


Larisa menggeleng kepala.


“Jangan bohong. Bibi udah ngomong sama aku, tangan kamu yang lebam itu gara-gara mama? Mama ngapain kamu, Ris?” Ia tampak cemas juga malu atas apa yang dilakukan ibunya.


Larisa diam, mengunci bibirnya rapat-rapat. Apa gunanya mengadu? Tidak akan pernah bisa mengubah keadaan juga perasaan, pikir Larisa.


“Masalahnya apa, hmmm?”


Bassta terus menatap.


“Aku nggak mau bahas soal itu,” ucap Larisa seraya membuang muka.


“Kenapa? Kamu ragu cuman karena itu mama aku?”


Larisa langsung menatap heran, “Emang kalau kamu tahu kamu mau ngapain? Udah nggak aneh juga, kan, tentang sikap mama kamu ke keluarga aku dari dulu. Aku udah biasa, nggak usah dibahas lagi.”


Larisa berbicara dengan cepat dan Bassta menarik selimut, Larisa kelabakan dan diam ketika lengannya ditatap Bassta.


“Tapi ini keterlaluan. Sampai lebam.” Bassta melirik sekilas. “Nanti aku ngomong sama mama. Ayo turun, kita obatin lebamnya biar cepat hilang.”


“Nggak usah,” tolak Larisa seraya menenggelamkan lengannya ke dalam selimut. “Keluar, Bass.”


Bassta menggeleng.


“Aku mau tidur.”


“Alasan banget. Ayo cepetan pake baju yang bener, aku tunggu di bawah.” Bassta bangkit, dia juga meraih kimono yang menggantung di bahu kursi. Larisa menangkapnya gelagapan dan cemberut menatap kepergian suaminya.


***


Larisa sampai di dapur, melihat Bassta sedang melongok seisi kulkas. Tidak ada yang menarik karena mereka belum berbelanja.


“Bibi nggak belanja?” tanya Bassta, menoleh singkat.


Larisa duduk sembari menggulung rambut panjangnya. “Bibi pulang cepet hari ini, nggak sempet. Kamu lapar? Makan mie aja dulu, pake telur.”


Bassta menggeleng lemah, ia menutup pintu kulkas.


Larisa memperhatikan Bassta ketika pria itu mendekat dengan mangkuk kecil berisi air hangat juga kain kompresan.


“Aku bisa sendiri,” kata Larisa dan Bassta mengangkat bahunya.


“Ya sudah, nih.” Bassta meletakkannya di meja.


Larisa mendengus. Pria memang tidak peka! Menolak bukan berarti tidak mau, iya kan?


Larisa akhirnya mengompres tangannya sendiri. Bassta memperhatikan sambil menggigiti apel merah.


“Bibi besok nggak masuk, Bass. Ada acara keluarga katanya.” Larisa berbicara untuk menghilangkan kegugupannya.


Pria itu tak membalas dan hanya manggut-manggut saja. Sekarang dia bahkan merogoh ponselnya, tak memeriksa rentetan pesan masuk dari Jema dan langsung membuka sebuah aplikasi untuk memesan makanan.


Tak tahu Jema sudah menunggu dengan segala macam persiapan.


“Kamu mau pesan apa, Ris?” Bassta memberikan ponselnya agar Larisa memilih.


“Aku nggak lapar,” kata Larisa ketus.


“Nggak usah bohong. Mau apa? Jangan kayak punya suami nggak punya duit, deh! Mau apa? Cepet, aku lapar.”


Larisa mendelik, “Nawarin tapi maksa.”


Bassta diam, masabodo dengan komentar Larisa.

__ADS_1


 


__ADS_2